Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
Bibi Liu mengedarkan pandangannya dengan panik begitu mendengar langkah kaki yang menggema di dalam ruangan. Sembari memegangi tangannya yang terluka, gurat wajahnya berubah pias dengan bibir meringis menahan sakit.
"Tuan He Si... Ini ada apa? Aku hanya sedang mencari arak untuk Tuan Wang," gumamnya pelan, mencoba membela diri.
Ia melangkah mundur dua langkah begitu tatapan tajam He Si terlihat semakin mendekat. Pelayan tua itu bahkan hampir terjatuh ke belakang jika saja tubuhnya tidak ditangkap dengan kasar oleh sosok yang tadinya tergeletak tak berdaya di dalam sel.
Bibi Liu menoleh ke belakang dengan cepat. Ia mendongakkan kepalanya dan seketika terperangah; sosok yang tergeletak tadi sama sekali bukanlah orang suruhannya semalam! Pria itu adalah salah seorang pengawal setia Kediaman Shen yang sengaja menyamar. Sebelum Bibi Liu sempat berteriak, tangannya yang masih meneteskan darah segar langsung dikunci dengan kuat ke belakang punggungnya.
Pandangan wanita tua itu kian panik di dalam kegelapan penjara yang mencekam.
"Bibi Liu, tahukah kamu bahwa orang suruhanmu yang senilai seratus tael perak itu sebenarnya telah mati tadi malam?" bisik pengawal yang menguncinya, terdengar dingin di telinganya.
Wanita tua itu menggeleng kuat-kuat dengan wajah pias. "A... a... aku tidak mengerti apa maksud kalian!"
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang teratur kembali terdengar dari arah tangga batu, memecah kegelapan yang amat pekat. Shen Mufeng dan istrinya berjalan masuk ke dalam area penjara. Jika sang Jenderal memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi bak predator, hal itu tentu berbeda dengan Gu Mingyue yang justru melangkah anggun sembari menyunggingkan senyuman puas.
"He Si, ada kekacauan apa ini?" tanya Gu Mingyue dengan nada suara yang teramat lembut, seolah ia tidak tahu apa-apa.
Mendengar hal itu, Bibi Liu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nyonya Besar, kurasa ada kesalahpahaman yang besar di sini!"
Gu Mingyue mengerutkan dahinya, lalu menoleh ke arah He Si dengan raut wajah bingung yang dibuat-buat. "Tuan He Si, tolong jelaskan apa yang terjadi. Di luar kita sedang menjamu tamu, tidak elok jika ada keributan seperti ini."
He Si melangkah maju ke hadapan Tuan dan Nyonya Besar kediaman Shen. Ia mengepalkan tangannya, memberikan penghormatan militer yang tegas ke arah Shen Mufeng.
"Lapor, Jenderal. Dalang yang menyabotase karpet dan menyewa seseorang untuk menyelinap masuk demi melecehkan Nyonya Besar di dalam kamar pengantin semalam telah ditangkap, lengkap beserta saksi dan bukti," lapor pria itu, lalu melirik tajam ke arah Bibi Liu yang kini langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kita sudah mengamankan saksi kunci, bukti belati yang baru saja ia gunakan, serta pengakuannya sendiri tentang uang bayaran senilai seratus tael perak."
Bibi Liu meronta, menggerakkan tubuhnya yang terkunci dengan paksa. "Jenderal! Ini salah! He Si memfitnahku! Dia menuduhku tanpa bukti yang sah!"
Gu Mingyue melangkah mendekat dengan anggun, lalu—Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bibi Liu hingga wanita tua itu terpaksa membalikkan mukanya ke samping.
Wajah Bibi Liu memerah padam menahan perih dan dongkol. Ia menatap Gu Mingyue dengan sorot mata tajam yang sarat akan kebencian. "Nyonya! Anda berani memukulku?!" tuntutnya dengan suara meninggi.
Gu Mingyue menyunggingkan senyuman puas seraya mengibaskan pelan jemarinya yang sedikit memerah. "Tenu saja aku berani. Lagipula, aku merasa sudah cukup bersabar menghadapi tingkahmu sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini."
Bibi Liu menggeram kesal, harga dirinya runtuh seketika di depan para pengawal. "Anda hanyalah orang baru di kediaman ini! Anda tidak berhak—"
"Bibi Liu, jaga ucapanmu," potong Gu Mingyue dingin, tatapan matanya seketika berubah setajam silet. "Anda sendiri hanyalah seekor tikus busuk di rumah ini! Mulai dari sengaja menaburkan pecahan kaca di balik karpet tradisi menginjak teratai saat kedatangan tandu pengantinku, menyewa orang untuk melecehkanku di dalam kamar pengantin semalam, hingga memanggil Keluarga Wang kemari untuk menjebakku... Apakah kamu pikir aku benar-benar buta dan bodoh?"
Bibi Liu menatapnya penuh kebencian. "Saya adalah pelayan senior di sini! Bahkan saya jauh lebih lama melayani Mendiang Nyonya Besar daripada usia Anda!"
Gu Mingyue menahan tawanya, terdengar sangat meremehkan. "Dan justru itulah yang menjadi alasan utamamu untuk bertindak serakah dan melunjak!"
"Aku tidak serakah! Shen Mufeng seharusnya menikah dengan keponakanku!" teriak Bibi Liu, akhirnya melontarkan motif busuknya yang selama ini tersembunyi.
"Atas dasar apa?" tanya Gu Mingyue tenang namun menuntut.
Pertanyaan telak itu sama sekali tak terjawab. Napas Bibi Liu memburu cepat akibat kombinasi antara rasa dongkol, malu, dan kebencian yang membakar dadanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan penjara yang suram, menatap He Si, para pengawal, lalu ke arah Shen Mufeng yang sejak tadi diam memperhatikan seperti malaikat pencabut nyawa.
Saat itulah, pelayan tua itu akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan.
"Kalian... kalian sengaja menjebakku!"
"Tentu saja. Tapi ingat, kau sendiri yang menabur benihnya, Bibi Liu!" ucap Gu Mingyue tajam tanpa ampun.
Bibi Liu menggeram kesal. Ia memberontak sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kokoh pengawal di belakangnya.
"Kalian pikir Keluarga Wang akan tinggal diam dan membiarkan pelayan senior mereka diperlakukan seperti ini?!" ancam Bibi Liu, mencoba menggunakan nama besar Wangsa Wang sebagai kartu as terakhirnya.
"Kenapa tidak?!" tanya Gu Mingyue sarkas. Gadis itu melipat tangannya di dada, menatap Bibi Liu dengan pandangan iba yang dibuat-buat. "Bibi Liu, bangunlah dari mimpi tebalmu. Apakah kamu pikir setelah kekacauan memalukan yang dibuat Paman Wang di aula depan, Bibi Wang masih punya muka untuk membelamu? Saat ini, mereka bahkan terlalu sibuk menyelamatkan harga diri mereka sendiri daripada memikirkan nasib seekor tikus yang tertangkap basah di ruang jagal."
"Kau benar-benar gadis yang licik!" desis Bibi Liu dengan tatapan menghunus.
Gu Mingyue serta-merta menoleh ke arah suaminya, memasang raut wajah terluka yang dibuat-buat. "Suamiku, dengar itu. Aku dikatai licik olehnya."
Shen Mufeng yang sejak tadi berdiri diam dalam kegelapan akhirnya melangkah maju. Tatapannya masih sedingin es saat menatap Bibi Liu, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius.
"Nyonya, Anda memang licik," ucap Shen Mufeng dengan nada rendah, alih-alih membela, ia justru menyetujui ucapan Bibi Liu dengan gaya dinginnya yang khas—sebuah pujian terselubung untuk kecerdasan istrinya.
Mendengar tidak ada celah sedikit pun untuk memecah belah pasangan itu, pertahanan Bibi Liu runtuh sepenuhnya. Wanita tua itu menggeleng cepat dengan air mata yang mulai merebak panik. "Tuan... Nyonya Besar... ampuni saya. Tolong ampuni saya!"
Gu Mingyue melangkah mendekat ke arah wanita tua itu, lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbisik pelan tepat di telinga Bibi Liu. "Bukankah suamiku sudah pernah berkata kepadamu... bahwa segala hal akan kembali ke tempat yang seharusnya sebelum fajar menyingsing?"
Napas Bibi Liu kian memburu cepat. Seluruh tubuhnya mendadak kaku dan membeku mendengar kalimat teror psikologis itu.
Gu Mingyue kembali menegakkan tubuhnya, menatap sang pelayan tua dari atas ke bawah dengan senyuman kemenangan yang mutlak. "Kami memang sengaja memasang jebakan licik, karena itulah satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi orang yang licik!"
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya