NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Berikan hape lo."

Suara Rindu terdengar begitu dingin dan flat, namun atmosfer di sekitar lobi mendadak turun drastis hingga mencapai titik beku. Ia berdiri tepat di hadapan Tria dengan tatapan mata yang menghunus tajam, mengabaikan tiga teman Tria yang langsung mundur teratur karena ketakutan melihat aura sang Ratu Lintasan.

Tria tersentak, refleks mendekap ponselnya erat-erat di depan dada. "Apa-apan sih lo?! Datang-datang langsung malak! Gak punya sopan santun ya?"

"Gue bilang, kasih hape lo ke gue sekarang," ulang Rindu, kali ini setingkat lebih tegas. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka, tepat di depan wajah Tria.

"Rin, lo jangan macam-macam ya! Ini tempat umum!" gertak Tria, mencoba berani walau suaranya mulai bergetar. "Gue gak ada urusan ya sama lo!"

Rindu tersenyum sinis, senyuman yang membuat nyali Tria makin mencicit.

"Gak ada urusan lo bilang? Lo baru aja ngefoto gue tanpa izin, berniat nyebarin fitnah pakai foto itu, dan lo bilang gak ada urusan?" Rindu maju satu langkah, memaksa Tria mundur hingga punggungnya membentur mesin minuman otomatis.

"Hapus foto itu di depan mata gue sekarang, atau gue panggil pengacara bokap gue malam ini juga buat urus kasus pelanggaran UU ITE dan pencemaran nama baik. Pilih mana, Tria? Hapus fotonya, atau lo mau ngerasain tidur di sel?" ancam Rindu tanpa keraguan sedikit pun di matanya.

"Lo pikir gue takut sama lo, haaahhh?!" teriak Tria histeris, wajahnya memerah padam menahan malu sekaligus takut yang teramat sangat. Ia mencoba mendongakkan kepalanya, berlagak berani di depan teman-temannya yang kini justru diam seribu bahasa. "Gak usah sok berkuasa ya lo! Punya duit bukan berarti lo bisa ngatur-ngatur gue!"

Rindu tidak membalas teriakan itu dengan emosi. Ia justru menurunkan tangannya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang teramat dingin sejenis senyuman yang biasa ia berikan pada lawan tandingnya di lintasan sebelum ia babat habis.

"Ok, kalau itu mau lo," ucap Rindu tenang, namun setiap katanya terdengar seperti vonis mutlak. "Jangan nangis ntar kalau masuk sel."

Tanpa membuang waktu lagi, Rindu langsung memutar tubuhnya dan melangkah lebar-lebar meninggalkan geng Tria yang mendadak diselimuti keheningan mencekam. Tria yang tadinya berlagak sombong, kini mulai panik sendiri melihat ketegasan

Rindu yang sama sekali tidak main-main. Rindu berjalan cepat menuju parkiran, jemarinya dengan cekatan langsung mendial nomor asisten pribadi bokapnya.

“Halo, Pak. Tolong siapkan tim hukum terbaik kita malam ini. Ada akun medsos yang mau saya tuntut atas pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi.”

Rindu menutup teleponnya dengan helaan napas panjang. Matanya menatap tajam ke depan. Ia tahu betul reputasinya sebagai atlet nasional bisa ikut terseret jika foto itu tersebar, tapi yang membuat darahnya mendidih bukan itu. Ia sama sekali tidak sudi melihat Kenzo pria yang baru saja melompat ke dalam air tanpa ragu demi menyelamatkan nyawanya dihancurkan oleh drama picisan mantan kekasihnya.

Hari ini, sang Ratu Lintasan memutuskan untuk pasang badan. Siapa pun yang berani menyentuh pelatihnya, harus berhadapan dengan dirinya terlebih dahulu.

**

Suara petikan gitar akustik Kenzo yang mengalun santai di udara malam balkon kosannya mendadak terhenti.

BRAKK!

"NZO! GILA, NZO! LO LIHAT INI, NZO!"

Gani, teman sekamar sekaligus sahabat kentalnya, mendobrak pintu balkon dengan napas memburu seolah habis dikejar hantu. Wajah cowok itu panik setengah mati, matanya melotot tajam sambil menyodorkan layar ponselnya tepat beberapa senti di depan hidung Kenzo.

Kenzo mengernyitkan dahi, refleks memundurkan kepalanya karena silau. "Apaan sih, Gan? Datang-datang kayak kesurupan. Rusak nih lagu gue."

"Lagu lo gak penting sekarang! Nih, lo liat sendiri! Akun gosip kampus baru aja nge-post ini lima menit yang lalu!" seru Gani heboh, jarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel.

Kenzo akhirnya mengalah dan membaca tulisan di layar tersebut. Sebuah foto buram namun cukup jelas untuk mengenali siluet dirinya dan Rindu di dalam kolam renang tadi sore terpampang nyata. Di foto itu, Kenzo memang terlihat sedang merengkuh tubuh Rindu dari belakang dengan posisi yang jika dilihat dari sudut pandang jahat, terkesan sangat intim.

[SKANDAL KAMPUS]: OKNUM PELATIH OLAHRAGA MEMANFAATKAN ATLET BARUNYA DI KOLAM RENANG?

Baru putus kemarin, oknum pelatih berinisial K ini diduga langsung 'pindah haluan' ke atlet nasional kaya raya. Modus latihan atau modus mesum berkedok kuras dompet? Mantan pacar sampai nangis-nangis di lokasi kejadian!

Membaca caption sampah itu, Kenzo tidak langsung mengamuk. Ia justru terdiam, rahangnya mengetat keras dan matanya menatap tajam ke arah foto tersebut. Ia tahu persis siapa dalang di balik semua ini. Tria benar-benar nekat menepati ancamannya.

"Gila kan, Nzo? Ini netizen kampus langsung pada nge-hujat lo di kolom komentar!" Gani mengusap wajahnya frustrasi. "Mereka bilang lo pelatih mokondo-lah, pelatih mesum-lah. Gimana nih? Nama lo bisa hancur di fakultas, Nzo!"

Kenzo meletakkan gitarnya perlahan di samping kursi. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba meredam amarahnya yang mulai menyulut dada. Namun sebelum Kenzo sempat membalas ucapan Gani, ponselnya sendiri yang tergeletak di meja mendadak bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.

Kenzo menatap layar ponselnya yang terus bergetar memunculkan nomor tidak dikenal itu. Bukannya panik atau terburu-buru mengangkatnya, Kenzo justru mendengus pelan. Ia tahu betul, itu pasti panggilan dari orang-orang kepo atau bahkan Tria yang ingin menertawakan posisinya sekarang.

Dengan gerakan tenang namun sarat akan ketegasan, Kenzo menolak panggilan tersebut. Jarinya kemudian menggeser layar, mencari sebuah kontak yang sangat jarang ia hubungi kecuali dalam kondisi darurat.

"Gan, balik ke dalem. Gue mau telepon bentar," ujar Kenzo pada Gani, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berwibawa sisi lain dari Kenzo yang hampir tidak pernah diperlihatkan di kampus.

Gani yang paham situasi langsung mengangguk patuh dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan Kenzo sendirian di balkon yang sunyi. Kenzo langsung mendial nomor tersebut. Begitu panggilan tersambung pada nada kedua, suara seorang pria paruh baya yang terdengar sangat profesional menyahut di seberang sana.

"Selamat malam, Tuan Muda."

"Malam, Pak Danu," sahut Kenzo tanpa basa-basi. "Ada akun gosip kampus yang baru saja menyebarkan foto privasi saya dengan narasi fitnah. Saya mau malam ini juga tim hukum Papa bergerak. Tuntut pemilik akun dan penyebar foto atas pasal pencemaran nama baik dan UU ITE."

"Baik, Tuan Muda. Ada instruksi tambahan?"

"Hubungi juga tim IT Papa. Saya mau berita dan foto itu di-take down total dari semua platform media sosial dalam waktu kurang dari satu jam. Jangan sampai ada jejak digital yang tersisa," perintah Kenzo mutlak. Rahangnya mengetat keras saat mengingat wajah Rindu. "Dan satu lagi... lacak pemilik asli akun tersebut. Saya tahu siapa dalangnya, tapi saya butuh bukti digital yang sah untuk menjebloskannya ke penjara."

"Dimengerti, Muda. Tim akan langsung bekerja sekarang juga." Panggilan terputus. Kenzo menurunkan ponselnya, menatap lurus ke arah kegelapan malam dari atas balkon. Ia tersenyum tipis, senyuman yang kali ini terlihat sangat berbahaya. Tria benar-benar telah membangunkan singa yang salah. Cewek itu mengira Kenzo hanyalah mahasiswa biasa yang miskin, tanpa tahu kalau dengan satu sentilan jari, Kenzo bisa menghancurkan masa depannya dalam semalam.

Sementara itu, di sebuah kamar mewah yang luasnya hampir menyamai rumah kos Kenzo, Rindu sedang berjalan bolak-balik seperti setrikaan. Rambutnya yang masih agak lembap sehabis mandi dibiarkan tergerai, dan sepasang matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang ia genggam erat.

"Cih! Kenapa gak diangkat sih, Coach?!" umpat Rindu kesal, melempar ponselnya ke atas kasur king size-nya sebelum akhirnya ia pungut lagi karena rasa cemas yang tak tertahankan.

Rindu baru saja mencoba menelepon Kenzo menggunakan nomor baru nomor privat miliknya yang sengaja ia pakai agar tidak ada orang luar yang tahu. Tapi sialnya, panggilan itu justru ditolak mentah-mentah oleh si pelatih tengil.

Rindu menghentakkan kakinya ke lantai dengan dongkol. "Awas ya lo, Nzo! Orang panik mikirin nasib lo, lo-nya malah sok sibuk!"

Rindu kembali menatap layar ponselnya, membuka kembali tangkapan layar postingan akun gosip kampus yang dikirimkan oleh asisten pribadinya tadi. Kolom komentarnya benar-benar mengerikan.

Netizen yang tidak tahu apa-apa mulai menghujat Kenzo dengan kata-kata kasar, menuduhnya sebagai pelatih mesum tak tahu diri. Melihat kalimat-kalimat itu, dada Rindu kembali berdesir panas. Ada rasa bersalah yang besar menyergap hatinya. Kenzo kena masalah ini murni karena menolong dirinya yang terkena serangan panik. Kalau saja sore tadi ia tidak memaksakan ego setinggi langitnya, Kenzo pasti masih aman memetik gitar di kosannya sekarang.

Rindu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu cepat. Kali ini bukan karena trauma air, tapi karena amarah dan rasa tidak terima.

"Tria, lo bener-bener cari masalah sama orang yang salah," desis Rindu tajam.

Gadis itu langsung mendial kembali nomor asisten pribadinya. Begitu tersambung, suara Rindu terdengar begitu dingin dan mutlak. "Pak, gimana progres tim hukum kita? Saya gak mau nunggu besok. Malam ini juga, saya mau surat tuntutan resmi dari keluarga kita sudah sampai ke tangan cewek bernama Tria itu!"

"Hah?!"

Rindu terbelalak. Ibu jarinya yang tadinya bersiap melakukan refresh pada laman akun gosip tersebut mendadak membeku. Baru saja ia berniat mengomandani tim hukum keluarganya untuk bertindak, sebuah notifikasi eror muncul di layarnya. Postingan tidak ditemukan. Rindu mencoba membuka profil akun gosip kampus itu lagi, namun kosong melompong. Bahkan, seluruh repost dan cuitan di platform lain yang baru saja memanas beberapa menit lalu, lenyap tak bersisa seperti menguap ditelan bumi.

"Bentar... kok udah ilang semua?" gumam Rindu, keningnya mengernyit dalam.

Ia memeriksa log sistem digital yang dikirimkan oleh asisten pribadinya melalui pesan singkat. Di sana tertera sebuah laporan singkat dari tim IT-nya:

“Nona Rindu, tim kami baru saja hendak bergerak, namun mendeteksi adanya intervensi cyber tingkat tinggi yang jauh lebih cepat. Seluruh data, foto, dan akun penyebar sudah dibersihkan total dari server. Berdasarkan pelacakan enkripsinya, tampaknya ini dilakukan oleh tim IT raksasa milik keluarga Elvaro.”

Rindu mengerjapkan matanya berulang kali, membaca nama yang tertulis di sana. "Elvaro? Konglomerat properti dan teknologi itu?"

Otak cerdas Rindu langsung berputar cepat, menghubungkan benang merah yang ada. Kenzo... Elvaro...

"Tunggu. Kenzo Adhyaksa... Elvaro?" Rindu menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan, matanya melebar sempurna karena syok. "Jangan-jangan si pelatih tengil itu..."

Rindu langsung meraih ponselnya lagi, rasa kesal dan cemasnya kini berganti menjadi rasa penasaran yang luar biasa. Pantas saja Kenzo tidak mengangkat teleponnya dan malah mereject panggilannya dengan santai. Ternyata, di balik gaya sederhananya yang sok miskin dan dicap 'mokondo' oleh mantannya, cowok itu punya back-up kekuatan yang bisa meratakan akun gosip kampus dalam hitungan menit.

Rindu langsung mengetik sebuah pesan singkat dengan cepat dan mengirimkannya ke nomor Kenzo:

Rindu: Lo berutang penjelasan ke gue, Coach. Ternyata lo bukan pelatih mokondo, tapi anak Elvaro?!

**

Rindu langsung melempar ponselnya ke atas kasur, lalu berlari menuju laptopnya yang ada di meja belajar. Jemarinya menari dengan sangat cepat di atas kibor, mengetikkan nama lengkap yang selama ini hanya ia ketahui sekilas: Kenzo Adhyaksa.

Enter.

Ribuan artikel dan dokumentasi digital langsung memenuhi layar monitornya. Rindu menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua matanya melebar sempurna dengan tangan yang spontan menutup mulut karena terlalu syok.

Di layar laptopnya, terpampang foto Kenzo beberapa tahun lalu. Bukan dengan kaos oblong hitam atau kemeja flanel lusuh yang sering ia pakai saat melatih Rindu, melainkan setelan jas resmi dan jersey tim nasional dengan medali emas yang melingkar tebal di lehernya.

[ARSIP OLAHRAGA]: REKOR DUNIA YANG BELUM TEPECMAHKAN, KENZO ADHYAKSA ELVARO MEMBAWA PULANG EMAS OLIMPIADE.

Julukan 'The Poseidon' tampaknya memang layak disematkan pada Kenzo. Atlet legendaris kebanggaan Indonesia ini resmi mencetak rekor tak terkalahkan di kancah nasional maupun internasional sebelum akhirnya memilih mundur dari sorotan media di puncak kariernya.

Rindu membaca baris demi baris artikel tersebut dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, kali ini murni karena rasa takjub yang luar biasa. Cowok tengil yang tadi sore melompat ke kolam untuk menyelamatkannya dari serangan panik, cowok yang dicaci maki sebagai "mokondo" oleh mantan pacarnya sendiri, ternyata adalah seorang maestro, legenda hidup dunia renang yang catatan waktunya bahkan menjadi kiblat bagi seluruh atlet di Asia!

"Gila..." gumam Rindu pelan, matanya masih terpaku pada deretan trofi internasional yang pernah diraih Kenzo. Pantas saja analisis Kenzo sore tadi begitu presisi. Pantas saja instingnya begitu tajam saat membaca tanda-tanda serangan panik Rindu sebelum Rindu sendiri menyadarinya. Rindu selama ini tidak sedang dilatih oleh mahasiswa biasa yang butuh uang saku tambahan, melainkan oleh seorang predator puncak di lintasan kolam renang dunia.

Drrt... drrt...

Ponsel Rindu di atas kasur bergetar, memotong rasa syoknya. Sebuah pesan balasan masuk dari Kenzo.

Coach Kenzo: Wah, ketahuan ya? 😄 Padahal branding 'pelatih mokondo' gue udah keren banget tadi sore. Udah malem, buruan tidur, Nona Rindu. Besok latihan jam 8 pagi, jangan telat atau gue hukum nambah 50 meter.

Rindu menatap pesan itu sambil mendengus, namun sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum. Misteri tentang pelatih barunya kini sudah terjawab, dan entah kenapa, fakta ini membuat Rindu merasa jauh lebih aman dan tertantang untuk kembali menaklukkan rasa takutnya besok pagi.

__bersambung__

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!