NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Pagi yang Kembali Hangat

Pagi itu rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya matahari masuk lembut melalui jendela dapur, memantul di meja makan yang masih kosong.

Diara sudah berada di dapur sejak pagi. Ia mengenakan pakaian santai dengan rambut diikat sederhana. Tangannya sibuk menyiapkan bahan makanan tanpa bantuan siapa pun.

Ia tidak pernah membiarkan ART memasak.

Bukan karena tidak percaya, tetapi karena ada ketenangan yang ia rasakan saat memasak sendiri—sesuatu yang membuat rumah terasa lebih “hidup”.

ART hanya bertugas membersihkan rumah dan mencuci pakaian, sementara dapur adalah ruang Diara.

Di atas kompor, wajan mulai panas.

Aroma bawang yang ditumis pelan memenuhi ruangan.

“Masak apa hari ini…” gumam Diara pelan sambil mengaduk nasi.

“Nasi goreng saja cukup.”

Tiba-tiba terdengar langkah dari belakang.

Pelan.

Semakin dekat.

Sebelum Diara sempat menoleh—

sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.

Diara langsung terdiam.

“Mas…” suaranya kecil, refleks.

Jifan menempelkan kepalanya sedikit di bahu Diara.

“Sayang,” panggilnya pelan.

Satu kata itu langsung membuat tubuh Diara kaku sesaat.

“…Mas Jifan,” jawabnya pelan, tapi sudah mulai terdengar berbeda—lebih lembut, lebih gugup.

Jifan tidak melepaskan pelukannya.

“Masak apa?”

“Nasi goreng,” jawab Diara sambil mencoba tetap fokus mengaduk nasi, meskipun tangannya sedikit tidak stabil.

Jifan tersenyum tipis.

“Wangi.”

Diara langsung menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

“Jangan ganggu…”

“Tapi aku cuma mau dekat,” jawab Jifan santai.

Diara menghela napas kecil.

“Mas, nanti gosong.”

Jifan akhirnya tertawa pelan, lalu melepaskan pelukannya perlahan.

“Baik, aku duduk di sana saja.”

Beberapa menit kemudian, sarapan sudah siap.

Nasi goreng sederhana dengan telur ceplok di atasnya tersaji di meja makan.

Jifan sudah duduk lebih dulu, menunggu dengan tenang.

Diara meletakkan dua piring.

“Silakan makan,” ucapnya.

Jifan menatapnya sebentar.

“Bareng.”

Diara mengangguk kecil.

Mereka mulai makan bersama.

Suasana terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya—tidak tegang, tidak dingin, tidak jauh.

Hanya sederhana.

Dan hangat.

Jifan mengambil suapan pertama, lalu mengangguk kecil.

“Enak.”

Diara meliriknya.

“Serius?”

“Serius,” jawab Jifan singkat, lalu menatapnya. “Kalau kamu yang masak, selalu enak.”

Diara langsung memalingkan wajah sedikit.

“…lebay.”

Jifan tersenyum kecil.

“Sayang.”

Diara langsung berhenti makan sejenak.

“…Mas,” ucapnya pelan, “jangan panggil begitu terus.”

“Kenapa?”

“Bikin aku tidak fokus makan.”

Jifan tertawa kecil.

“Berarti aku berhasil.”

Diara langsung menatapnya tajam, tapi pipinya jelas tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.

Setelah sarapan selesai, suasana rumah kembali dipenuhi aktivitas kecil khas pagi hari. Diara membereskan sisa piring di dapur, sementara Jifan sudah siap di ruang tamu dengan pakaian kerjanya yang rapi.

Namun kali ini ada yang berbeda.

Tidak ada jarak seperti dulu.

Tidak ada diam yang terlalu dingin.

Yang ada justru Jifan yang beberapa kali melirik ke arah dapur sambil tersenyum kecil.

Diara keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan.

“Mas sudah siap?” tanyanya.

Jifan mengangguk.

“Sudah. Tapi aku nunggu kamu.”

Diara menatapnya sekilas.

“Nunggu apa?”

Jifan mendekat sedikit, lalu dengan nada santai berkata,

“Nunggu kamu biar bisa aku ganggu dulu sebelum kerja.”

Diara langsung berhenti.

“…Mas Jifan.”

Jifan tersenyum kecil, lalu mencondongkan tubuh sedikit.

“Kenapa?”

Diara langsung memalingkan wajah.

“Sekarang Mas jadi aneh.”

Jifan tertawa pelan.

“Aneh yang bagaimana?”

“Bukan dingin seperti dulu,” jawab Diara pelan. “Sekarang… terlalu banyak ngomong.”

Jifan mengangguk.

“Lebih baik begitu?”

Diara terdiam sebentar.

“…lebih baik,” jawabnya akhirnya pelan.

Jifan menatapnya lama, lalu tanpa peringatan ia mendekat dan mencium kening Diara singkat.

Diara langsung membeku.

“…Mas!”

Jifan sudah mundur sedikit, seperti tidak terjadi apa-apa.

“Biar semangat kerja.”

Diara langsung menatapnya tajam.

“Ini di rumah, Mas.”

“Rumah kita,” koreksi Jifan cepat.

Diara langsung kehilangan kata-kata.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di depan pintu.

Jifan mengambil tasnya, lalu menatap Diara.

“Pergi bareng aku saja,” ucapnya santai.

Diara mengerutkan kening.

“Bukannya Mas ada mobil sendiri?”

“Ada,” jawab Jifan. “Tapi hari ini aku mau bareng kamu.”

Diara diam.

Jifan melanjutkan, lebih pelan,

“Nanti pulang, aku jemput kamu.”

Diara masih ragu.

“Kenapa tiba-tiba?”

Jifan mengangkat bahu.

“Tidak ada alasan khusus.”

Lalu ia menatap Diara sebentar.

“…aku cuma mau.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi membuat Diara terdiam cukup lama.

Akhirnya Diara menghela napas kecil.

“…ya sudah.”

Jifan langsung mengangguk.

“Bagus.”

Di dalam mobil, suasana awalnya tenang.

Namun tidak bertahan lama.

Jifan sesekali melirik Diara.

“Kalau kamu capek nanti, bilang.”

Diara menoleh.

“Memangnya Mas tidak kerja?”

“Aku kerja,” jawab Jifan. “Tapi aku masih bisa mikirin kamu.”

Diara langsung menatapnya.

“…itu terdengar tidak profesional.”

Jifan tersenyum tipis.

“Memang aku tidak sedang di kantor sekarang.”

Diara mendengus kecil.

“Tetap saja aneh.”

Jifan menghela napas ringan, lalu berkata pelan,

“Tapi kamu suka, kan?”

Diara langsung diam.

Dia menghadap kaca mobil untuk menyembunyikan rasa saltingnya.

Tapi telinganya perlahan memerah.

Dan Jifan hanya tersenyum kecil melihatnya.

Sementara mobil terus melaju, membawa mereka bukan hanya menuju kantor—tapi menuju rutinitas baru yang perlahan mulai terasa lebih hangat dari sebelumnya.

🪻🪻🪻🪻

Mobil berhenti tepat di depan gedung kantor Diara.

Suasana pagi masih sibuk seperti biasa—pegawai lalu-lalang, suara kendaraan, dan aktivitas kota yang mulai padat.

Diara menoleh ke samping.

“Mas, aku turun di sini ya.”

Ia sudah membuka pintu mobil sedikit ketika tangan Jifan menahan lembut pergelangan tangannya.

“Sebentar.”

Diara menoleh.

“Apa lagi?”

Jifan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Diara sebentar, lalu menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat.

“Salim dulu.”

Diara langsung terdiam.

“…Mas Jifan, ini di depan kantor.”

“Memangnya kenapa kita kan suami istri, bukan selingkuhan,” jawab Jifan santai.

Diara menatapnya tidak percaya.

“Kamu sekarang makin tidak tahu malu.”

Jifan tersenyum kecil.

“Bukan tidak tahu malu.”

Ia menatap Diara lebih lama.

“Cuma tidak mau kamu pergi tanpa ini.”

Sebelum Diara sempat membalas, Jifan sudah lebih dulu mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Diara dengan lembut.

Singkat.

Hangat.

Tapi cukup membuat Diara langsung membeku di tempat.

“…Mas,” suara Diara pelan, hampir tidak terdengar.

Jifan mundur sedikit, lalu menatapnya dengan ekspresi yang berbeda dari dulu—lebih hidup, lebih ringan.

“Semangat kerja sayang,” ucapnya.

Diara masih diam beberapa detik.

Lalu akhirnya mengangguk kecil.

“…iya kamu juga semangat kerjanya mas.”

Namun pipinya tidak bisa berbohong.

Merah tipis.

Dan matanya menghindar.

Jifan tersenyum kecil melihat itu.

“Kalau capek, bilang aku, kalau perlu tidak usah bekerja, kamu main aja ke kantorku.”

Diara melirik sekilas.

“Nggak ah, takut ganggu mas kerja.”

“Aku lebih semangat kalau kerja di temani kamu,” jawab Jifan santai.

Diara langsung memalingkan wajah.

“…lebay.”

Tapi tidak ada nada kesal yang benar-benar kuat di sana.

Diara akhirnya turun dari mobil.

Sebelum menutup pintu, ia menatap Jifan sebentar.

“…terima kasih,” ucapnya pelan.

Jifan mengangguk.

“Pergi sana.”

Diara menutup pintu, lalu berjalan masuk ke gedung.

Namun langkahnya sedikit lebih ringan dari biasanya.

Di dalam mobil, Jifan masih duduk beberapa detik.

Ia menatap ke arah Diara yang perlahan menghilang di balik pintu kaca kantor.

Lalu tanpa sadar—

ia tersenyum sendiri.

“Gila…” gumamnya pelan.

Tapi senyum itu tidak hilang.

🪻🪻

Sesampainya di kantor, suasana langsung berubah formal.

Para karyawan menyambut seperti biasa.

“Selamat pagi, Pak Jifan.”

“Pagi.”

Namun ada yang berbeda hari ini.

Salah satu staf wanita berbisik pelan ke rekannya.

“Pak Jifan kok… senyum terus ya?”

Rekannya mengangguk bingung.

“Iya… aneh banget. Biasanya kan dingin.”

Di ruang lobby, beberapa karyawan lain juga memperhatikan hal yang sama.

CEO mereka berjalan melewati lorong kantor dengan ekspresi yang… terlalu ringan untuk seseorang yang dikenal tegas dan kaku.

Seorang manajer akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Pak, ada kabar baik ya hari ini?”

Jifan berhenti sebentar.

Ia berpikir.

Lalu menjawab singkat,

“…mungkin.”

Dan kemudian berjalan lagi.

Dengan senyum kecil yang kembali muncul tanpa ia sadari.

Hari itu, seluruh kantor Jifan Artha Syahrezan sepakat pada satu hal:

CEO mereka sedang berubah.

Dan entah kenapa—

perubahan itu dimulai dari satu nama yang sama.

Diara.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!