Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggerebekan Malam Hari
Udara Jakart menjelang subuh selalu menyisakan hawa dingin yang lembap, berselimut kabut tipis dan polusi yang belum sempat mengendap.
Jalanan aspal di kawasan elit Jakarta Selatan yang biasanya padat, kini tampak sepi dan mati.
Di tengah keheningan paruh waktu itu, seiring dengan kumandang azan subuh yang baru samar-samar terdengar dari kejauhan, tiga buah mobil SUV mewah berjenis Cadillac Escalade berwarna hitam legam meluncur tanpa suara, membelah kegelapan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pagar besi berkarat dari sebuah rumah bergaya kolonial usang.
Pintu mobil barisan tengah terbuka. Sepasang sepatu pantofel kulit buatan karya desainer Italia sewarna arang menginjak permukaan aspal yang basah.
Elvano Lucane Salvatore melangkah keluar dari mobil.
Dia baru saja sampai setelah terbang langsung dari Bogota ke Indonesia menggunakan jet pribadi malam tadi, Mantel panjang hitamnya berkibar pelan ditiup angin malam yang berembus pelan.
Wajahnya yang tampan tampak luar biasa dingin, dengan rahang yang mengeras dan sepasang mata cokelat gelap yang memancarkan aura mematikan.
Elvano sengaja turun tangan langsung subuh ini. Tekanan dari kakeknya di Sisilia mengenai pewaris takhta serta vonis kemandulannya telah menyisakan gumpalan energi kemarahan yang menyiksa di dalam dadanya.
Ia membutuhkan pelampiasan.
Ia membutuhkan seseorang untuk dihancurkan, dan Albert Gracellyn adalah target yang sangat sempurna.
Dari pintu mobil sebelah, Kaiven Axel Moretti melompat turun dengan gerakan lincah.
Jas abu-abu mahalnya masih tampak necis, namun sepasang mata birunya langsung berbinar jenaka saat menatap rumah usang di depan mereka.
Di tangan kanannya, Kaiven memegangi sebotol air mineral, sementara tangan kirinya masih sempat menyelipkan sisa camilan Bogota ke dalam saku jasnya.
"Rumahnya lumayan besar untuk ukuran penipu kelas teri, El," cetus Kaiven sambil meregangkan lehernya hingga berbunyi kletuk.
"Tapi eksteriornya agak menyedihkan. Seleranya buruk sekali."
Elvano tidak menyahut. Ia hanya memberikan isyarat kecil dengan lambaian dua jarinya.
Empat orang pengawal berbadan tegap dengan setelan hitam langsung bergerak maju menembus pagar halaman.
Mereka tidak berniat mengetuk pintu dengan sopan. Dua orang di antaranya mengambil posisi, lalu dengan gerakan yang sempurna, mereka menghantamkan kaki mereka secara brutal ke arah pintu utama kayu jati rumah tersebut.
BRAAAKKK!
Suara kayu yang hancur berantakan dan engsel besi yang jebol menggelegar memecah keheningan subuh.
Pintu besar itu terdorong ke dalam, menghantam lantai keramik dengan dentuman keras, menyisakan debu-debu kayu yang beterbangan di udara.
"Siapa itu?! Rampok! Ada rampok!"
Jeritan histeris seorang wanita paruh baya, Bibi Sarah langsung menggema dari arah kamar utama di lantai bawah.
Tak lama kemudian, Albert Gracellyn, yang wajahnya masih dipenuhi lebam sisa interogasi di kasino semalam, diseret paksa keluar dari kamarnya oleh dua pengawal Salvatore yang sudah menyusup lewat pintu samping.
"Tolong! Jangan bunuh saya! Saya punya uang! Saya akan bayar!" ratap Albert dengan suara melengking ketakutan.
Tubuhnya yang gemuk hanya dibalut kaos kutang putih dan celana pendek longgar, membuatnya tampak sangat menyedihkan saat terjatuh dengan lutut membentur lantai ruang tamu.
Bibi Sarah yang menyusul keluar dengan daster batiknya seketika membeku, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat ketika melihat ruang tamunya telah dikepung oleh pria-pria berbadan tegap yang memegang senjata api terselip di balik jas mereka.
Wanita itu menjerit, langsung berlutut di samping suaminya sambil menangis histeris.
Elvano melangkah masuk melewati puing-puing pintu yang hancur dengan pesona seorang bos besar.
Ia sama sekali tidak memandang pasang suami istri yang sedang bersimpuh ketakutan di lantai.
Matanya menyapu ruang tamu yang dipenuhi perabotan usang berdebu.
Dengan gerakan santai, Elvano mendudukkan tubuh tegapnya di atas sebuah sofa kain berwarna cokelat pudar yang tampak agak reyot.
Ia menyilangkan kaki panjangnya, lalu mengeluarkan sebuah pemantik emas dari saku mantelnya.
Dengan tenang, Elvano menyalakan sebatang rokok premium, menyesapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap putih tebal ke udara, menciptakan pemandangan yang terlampau mencekam bagi Albert dan Sarah.
"T-Tuan Salvatore... demi Tuhan, berikan saya waktu beberapa hari lagi," tangis Albert dengan tubuh gemetar hebat hingga giginya bergelatuk.
"Sertifikat rumah ini... rumah ini asli! Nilainya sangat mahal, cukup untuk mencicil utang saya!"
Kaiven, yang berdiri di samping sofa Elvano, justru berjalan mendekati sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Matanya menangkap sebuah toples kaca besar berisi kerupuk putih sisa makan malam keluarga tersebut.
Tanpa rasa canggung sedikit pun, Kaiven membuka tutup toples itu, mengambil sebulat besar kerupuk, lalu menggigitnya dengan suara renyah yang terdengar sangat keras di tengah keheningan yang menegangkan itu.
KREK.
"Wah, kerupuknya agak alot, El. Kurang higienis," komentar Kaiven dengan nada konyol sambil mengunyah.
Ia kemudian berjalan mendekati Albert yang sedang menangis, lalu tanpa peringatan apa pun, ujung sepatu pantofel mahal Kaiven mendarat dengan sentakan pelan namun bertenaga tepat di bahu Albert.
DUK!
"Aakh!" Albert tersungkur ke depan, wajahnya mencium lantai keramik yang dingin.
"Heh, Orang Tua," kata Kaiven sambil menunjuk Albert menggunakan sisa kerupuk di tangannya.
"Bos kami tidak suka barang cicilan, apalagi sertifikat tanah bodong yang hak kuasanya atas nama orang mati. Kamu pikir kasino Salvatore itu tempat pegadaian syariah? Berani-beraninya menipu kami."
"Ampun, Tuan! Ampun!" Bibi Sarah menjerit, memeluk suaminya yang mengerang kesakitan.
"Kami tidak bermaksud menipu! Kami... kami yang merawat rumah ini sejak lama! Kami punya hak!"
Elvano mematikan rokoknya di asbak kaca usang yang terletak di meja kopi depan sofa.
Gerakannya begitu pelan, namun getaran mengancam yang dipancarkannya membuat Bibi Sarah seketika mengunci mulutnya rapat-rapat karena ketakutan.
Elvano mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menatap Albert dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang tak menyiratkan sedikit pun rasa kemanusiaan.
"Empat puluh miliar rupiah," ucap Elvano, suaranya sangat rendah, bariton, namun bergema dingin menusuk tulang.
"Dalam dunia bisnisku, Albert, nyawa seekor tikus sepertimu bahkan tidak berharga satu miliar. Kamu menunggak, kamu memalsukan dokumen jaminan, dan kamu mencoba lari dari tempatku. Menurutmu, apa eksekusi yang pantas untuk seonggok daging tak berguna sepertimu?"
Albert menangis sejadi-jadinya, dahinya berkali-kali dihantamkan ke lantai untuk memohon belas kasihan.
"Tolong, Tuan Salvatore! Lakukan apa saja pada saya, tapi jangan bunuh saya! Saya akan menyerahkan apa pun... apa pun yang ada di rumah ini!"
Kaiven kembali menggigit kerupuknya dengan santai.
KREK.
Ia melirik jam tangan Rolex-nya yang mewah.
"Aduh, sudah jam lima pagi lewat. Sebentar lagi matahari terbit, El. Kita harus cepat mengeksekusi mereka sebelum lingkungan ini ramai. Mau aku bawa pria gendut ini ke gudang pelabuhan untuk dijadikan umpan kepiting?" tanya Kaiven dengan nada seringan menanyakan menu sarapan pagi.
Albert dan Sarah semakin histeris, meratapi nasib mereka yang berada di ujung tanduk di bawah cengkeraman sang raja mafia Asia.
Ketegangan di dalam ruangan itu telah mencapai puncaknya, bersiap untuk sebuah akhir yang berdarah.
Namun, tepat pada detik itu, sebuah suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah pintu luar yang hancur tiba-tiba memecah suasana mencekam tersebut.
Seseorang yang baru saja kembali dari kerasnya malam Jakarta melangkah masuk ke dalam jebakan takdir yang telah disiapkan untuknya.