NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum yang Menanti Redam

Satu bulan telah berlalu sejak badai kebenaran runtuh di selasar Rumah Sakit Jiwa Pakem. Universitas Airrawan akhirnya kembali membuka gerbang besarnya setelah masa renovasi total selesai. Suasana kampus pagi itu tampak begitu hidup; hilir mudik mahasiswa baru dan lama berbaur di bawah rindangnya pohon-pohon peneduh, menciptakan riuh rendah yang kontras dengan sunyinya hari-hari libur panjang kemarin.

Glen melangkah melintasi pelataran gedung Sastra dengan bahu yang tak lagi setegang dulu. Ia berjalan beriringan dengan Thone, yang sejak pagi tadi setia menjemputnya di kost untuk berangkat bersama. Meskipun Glen masih mengenakan jaket denim andalannya dan pembawaannya tetap tenang, ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Kilatan elang yang dulu selalu menyala penuh amarah kini berganti menjadi redup kabut yang dalam, menyiratkan jiwa yang sedang dipaksa berdamai dengan kenyataan.

Novel Thornless Red Rose di NovelToon miliknya telah ia biarkan menggantung tanpa pembaruan bab sejak hari itu. Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan baris kalimat kejam tentang kehancuran sang mawar, jika kenyataan telah menamparnya bahwa ia selama ini menyerang orang yang salah?

"Bagaimana administrasi ayahmu untuk bulan ini, Glen?" tanya Thone pelan, memecah keheningan di antara derap langkah kaki mereka.

Glen menghela napas pendek, tatapannya lurus ke depan. "Sudah beres. Sisa uang dari royalti beberapa bab awal kemarin dan bantuan dari Bik Sisi cukup untuk mengamankan ruang rawatnya sampai akhir bulan."

"Syukurlah," balas Thone lembut.

Namun, langkah kaki kedua sahabat itu mendadak melambat saat mereka berbelok di koridor utama menuju ruang teater. Dari arah berlawanan, dua orang gadis sedang berjalan bersama sembari membawa beberapa diktat kuliah.

Melanie dan Diandra.

Seketika itu juga, atmosfer di sekitar koridor terasa membeku bagi Glen. Jantungnya berdegup kencang, memicu sebuah letupan emosi lama yang mendadak naik ke tenggorokan. Glen ingin marah. Demi Tuhan, ada rasa sesak yang luar biasa yang menuntut untuk diluapkan atas takdir keluarganya yang hancur berantakan hingga ayahnya kehilangan kewarasan.

Namun, saat matanya menatap kedua gadis itu, jemarinya di dalam saku jaket justru melemas. Glen ingin marah... tapi pada siapa?

Kepada Melanie? Gadis itu sama sekali tidak bersalah, melainkan korban dari caci maki salah sasaran yang Glen muntahkan selama ini. Kepada Diandra? Gadis periang itu berjalan dengan langkah ringan, sama sekali tidak tahu-menahu bahwa ayahnya, Hermawan, adalah dalang sesungguhnya yang telah merampas kebahagiaan masa kecil Glen hingga keluarganya jatuh miskin. Diandra adalah lembaran putih yang bersih dari dosa masa lalu orang tuanya.

Saat jarak mereka kian mengikis, Diandra mendongak dan menyadari kehadiran Glen dan Thone. Dengan ketulusan yang murni tanpa beban masa lalu, Diandra langsung mengulas senyum manisnya yang khas ke arah mereka.

"Pagi, kak Thone! Pagi, kak Glen!" sapa Diandra ceria seperti biasanya, seolah dunia ini tidak pernah menyimpan rahasia kelam apa pun di balik punggung mereka.

Melihat senyuman tanpa dosa itu, Glen terpaku. Kemarahannya menguap, digantikan oleh rasa perih yang teramat dalam di dada. Ia tidak sanggup bersuara, hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya demi menahan guncangan batin.

Sementara itu, Melanie yang berjalan di sebelah Diandra perlahan menghentikan langkahnya sejenak.

Ia tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata Glen. Dengan jemari yang meremas erat tepi buku diktatnya, Melanie menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan gurat kesedihan dan rasa bersalah yang salah alamat yang masih tersisa di wajah ayunya. Ia memilih untuk melindungi ketidaktahuan Diandra sekaligus memberi ruang bagi Glen yang ia tahu sedang terluka hebat.

Thone yang menangkap seluruh ketegangan itu segera mengambil alih kendali situasi. Ia melirik Glen sekilas sebelum akhirnya menatap Diandra dengan binar mata yang hangat.

"Pagi, Diandra," balas Thone, menyunggingkan senyuman tulus yang sengaja ia berikan untuk mencairkan kebekuan di antara mereka sekaligus membalas sapaan gadis itu agar kecurigaan tidak timbul.

Kedua kelompok itu akhirnya berpapasan dan saling melewati dalam hitungan detik yang terasa berjalan begitu lambat. Saat punggung Melanie dan Diandra mulai menjauh di ujung koridor, Glen sempat menoleh ke belakang sekilas, menatap siluet rambut Melanie yang tertiup angin kampus. Tak ada lagi kata caci maki, tak ada lagi imajinasi belati. Di koridor yang ramai itu, Glen sadar bahwa perang di dalam hatinya belum sepenuhnya usai, namun setidaknya, ia kini tahu bahwa mawar yang pernah ia benci itu sedang menunggunya dengan sabar di ujung waktu yang entah kapan akan menyembuhkan mereka berdua.

1
Filan
langsung nembak aja nih Melanie
Filan
terlalu kejam untuk Melanie? untukmu kali
Xlyzy
sadarkan teman mu itu thone
Xlyzy
Kamu fikir naskah mu sudah rapih namun kamu lupa kamu membuat naskah dengan manusia yang memiliki akal dan sifat yang berbeda kamu tidak bisa mengatur mereka sesuai dengan alur yang kamu mau seharus nya kamu punya naskah cadangan antisipasi kalau naskah pertama tidak sukses di eksekusi
-Thiea-
perlahan, tanpa kamu sadari, niatmu itu sudah melenceng dari tujuan aslinya.
-Thiea-
ditantangin langsung sama Melani tuh Glen. kamu melampiaskan kekesalan pada orang yang gak tahu apa-apa. Apakah itu adil?
Mingyu gf😘
wahhh ada apa nih
Three Flowers
kayaknya kehidupan Glen ini ngeri banget sampai dia selalu ngehalu jadi pahlawan, mungkin dia pingin banget menyelamatkan keluarganya tapi tidak berdaya
Mingyu gf😘
iya kalau di pikir pikir buat apa begitu
Mingyu gf😘
Aduhh para cogan kampus🤭
Three Flowers
dia habis ngadepin penjahat terselubung 🤣
Filan
Kok Thone tahu segalanya? Kasihan juga Glen sok misterius padahal semua orang bisa baca dia 😅
Cimol krispy
panjang lebar banget kalimat Melanie dan itu langsung kena ke hati sih harusnya
Cimol krispy
Kenapa Glen? Kamu berfikir Melanie akan terus menjadi kelinci ketakutan yang tidak akan melawanmu
Sarifah_Aini97: Kelinci penakutnya sekarang udah berubah jadi penantang paling telak buat Glen 🤭 Makasih banget ya Kak Cimol udah selalu ngikutin perkembangan karakter Melanie dan Glen sejauh ini 🤭
total 1 replies
Miu.Nuha
selamatkan Glen, Melanie...
dia kayaknya gk benar2 jahat, tapi tersesat 😭😭
Miu.Nuha
karna melanie bukan wanita yang mudah kamu pikirkan bahkan kamu permainkan...
mau dicoba? entar kamu kena mental lagi malah 🤭🤭🤭
Mega Siregar
memang benar... walaupun Melanie tidak tahu apa2, tapi hati Glen pasti sakit melihat kehidupan yg hancur karena orang tua Melanie sedangkan Melanie hidup dengan kecemewahan diatas air mata orang tua Glen..
Mega Siregar
akhirnya, kamu jujur juga, Glen...
pasti beran memendam semuanya sendiri...
ginevra
inikah awal Glen menyukai melanie
ginevra
makjleb banget melanie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!