Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Koridor luar ruang perawatan intensif Adhitama Medical Center kembali diselimuti keheningan yang mencekam. Waktu terus berputar dengan kejam, mengikis menit demi menit yang sangat berharga bagi hidup Leo.
Setelah penjelasan mengejutkan dari Dr. Adrian mengenai jenis rhesus negatif Leo yang sangat langka serta penolakan antibodinya terhadap sampel bank darah, situasi mendadak berubah menjadi kepanikan massal yang terselubung.
Alana duduk bersandar di kursi tunggu dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya.
Napasnya tersengal-sengal, sementara pikirannya melayang ke mana-mana, mencari segala kemungkinan yang bisa menyelamatkan nyawa putranya.
"Reno! Bagaimana dengan daftar asosiasi rhesus negatif internasional yang saya minta?" Alana mendongak dengan mata yang sembap, menatap asisten pribadi Devran yang sejak tadi sibuk dengan tiga ponsel di tangannya.
"Saya sudah menghubungi perwakilan pusat di Jakarta dan Singapura, Nona Alana," jawab Reno dengan wajah tegang dan peluh yang membanjiri pelipisnya.
"Tetapi untuk tipe antibodi spesifik yang cocok dengan Master Leo... stok terdekat baru bisa diterbangkan dari rumah sakit militer di Bangkok."
"Masalahnya, pengiriman paling cepat memakan waktu empat jam karena prosedur bea cukai darurat."
"Empat jam?!" Alana bangkit berdiri, suaranya melengking frustrasi.
"Dokter bilang Leo hanya punya waktu kurang dari satu jam sebelum organ dalamnya kekurangan oksigen! Kita tidak punya waktu empat jam, Reno!"
"Nona, kami sedang mencoba menghubungi beberapa donor personal di sekitar Jakarta yang terdaftar di database kami..."
"Lakukan sekarang! Tolong, bayar mereka berapa saja! Berikan mereka saham, rumah, apa pun yang mereka inginkan! Aku mohon, Reno!" Alana mencengkeram lengan jas Reno, air matanya kembali tumpah membasahi pipi.
Di tengah keputusasaan Alana yang hampir menyerah dan terdesak oleh waktu, sebuah langkah kaki yang mantap terdengar menggema di sepanjang koridor privat tersebut.
Devran Adhitama, yang sejak tadi berdiri diam mengamati putranya dari balik dinding kaca dengan sejuta pergolakan batin, akhirnya bergerak.
Pria itu melangkah maju, memotong kepanikan yang sedang terjadi di antara Alana dan Reno.
Aura keangkuhan dan keraguan yang sempat menyelimutinya beberapa saat lalu kini lenyap total, digantikan oleh ketegasan seorang pria yang tahu persis apa yang harus ia lakukan.
"Reno, hentikan semua panggilan telepon itu," perintah Devran, suaranya berat, tenang, namun memiliki wibawa yang mutlak yang tidak bisa didebat.
Alana menoleh dengan cepat, menatap Devran dengan tatapan tidak percaya sekaligus marah. "Hentikan? Devran, apa kamu sudah gila?!"
"Anakmu sedang sekarat di dalam sana dan kamu menyuruh Reno berhenti mencari pendonor?!"
Devran tidak menjawab sindiran Alana. Ia mengalihkan pandangannya langsung kepada Dr. Adrian yang baru saja keluar dari ruang laboratorium dengan membawa berkas hasil uji silang yang baru.
"Adrian," panggil Devran tegas.
"Ya, Tuan Besar?" Dr. Adrian menunduk hormat, menanti instruksi.
Tanpa mengucapkan banyak kata, Devran mengangkat tangan kanannya.
Dengan gerakan yang lambat namun sangat mantap, ia membuka kancing manset pergelangan kemeja putihnya, lalu melipat lengan kemeja tersebut ke atas hingga melewati siku, menampilkan urat-urat tangannya yang kekar dan kokoh.
Pria itu langsung menyodorkan lengannya yang terbuka tepat di hadapan Dr. Adrian dan Alana tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Gunakan darahku," ucap Devran pendek, namun setiap suku katanya sarat akan penegasan yang mutlak.
Alana tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak menatap lengan Devran, lalu beralih menatap wajah tegap pria itu.
"Devran... kamu... golongan darahmu..."
"Aku tahu jenis darahku sendiri, Alana," potong Devran, matanya menatap Alana dengan kilat protektif yang teramat dalam.
"Rhesus negatif. Struktur antibodi murni. Sesuatu yang diturunkan oleh ibuku, dan kini mengalir di dalam tubuh Leo."
"Kamu tidak perlu mengemis pada donor di Bangkok atau Singapura. Penyelamat yang dicari anakku ada di sini."
Dr. Adrian langsung memeriksa berkas di tangannya dengan tergesa-gesa, lalu mendongak dengan wajah yang mendadak cerah.
"Tuan Besar... jika Anda bersedia, ini adalah skenario terbaik! Transfusi langsung dari ayah kandung yang memiliki kecocokan genetik seratus persen akan meminimalkan risiko penolakan antibodi hingga nol persen! Ini akan langsung menstabilkan kondisi Master Leo!"
"Lalu tunggu apa lagi? Ambil darahku sebanyak yang dia butuhkan," ujar Devran dingin, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Alana melangkah mendekati Devran, dadanya bergemuruh oleh campuran rasa bersalah, haru, dan lega yang luar biasa.
"Devran... maafkan aku. Tadi aku mengira kamu... aku mengira kamu tidak peduli padanya karena egomu."
Devran menghentikan langkahnya sejenak sebelum memasuki ruang tindakan. Ia menoleh ke arah Alana, menatap wanita itu dengan intens yang membuat jantung Alana berdesir.
"Alana, dengarkan aku baik-baik," bisik Devran, suaranya melembut hanya untuk didengar oleh wanita itu.
"Aku mungkin seorang pebisnis yang kejam di luar sana, dan aku mungkin menahanmu di sini dengan alasan proyek yang egois."
"Tapi jika ini menyangkut nyawa anakku,anak kita, aku akan memberikan seluruh hidupku tanpa berpikir dua kali. Jangan pernah ragukan hal itu lagi."
Alana menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir lagi, namun kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan karena rasa aman yang mendalam yang tiba-tiba melingkupi hatinya.
"Terima kasih, Devran... tolong selamatkan dia."
Devran mengangguk kecil, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Dr. Adrian yang sudah mempersiapkan jarum dan kantong steril di dalam ruang tindakan.
"Lakukan sekarang, Adrian. Dan pastikan anakku tidak merasakan sakit sedikit pun saat dia terbangun nanti."
"Baik, Tuan Besar. Silakan berbaring di brankar sebelah Master Leo," sahut Dr. Adrian dengan sigap.
Pintu ruang tindakan medis khusus itu pun tertutup rapat, menyisakan Alana yang berdiri di luar dengan perasaan yang campur aduk, menatap dari balik kaca besar bagaimana Devran berbaring di samping ranjang kecil Leo.
Lengan sang ayah dan lengan sang anak kini terhubung oleh selang bening yang perlahan mulai dialiri oleh cairan merah pekat, sebuah simbol pengikat yang tak terbantahkan bahwa mulai malam ini, takdir mereka bertiga telah terkunci menjadi satu kesatuan yang utuh.