Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Sejak kapan aku mengatakan pendonornya adalah Viona?" tanya Dylan dengan tatapan dingin.
Delvin mengerutkan kening.
"Kalau bukan dia, siapa lagi? Hanya Viona yang cocok menjadi pendonor untuk Sanny."
Tanpa menjawab, Dylan mengambil pulpen di atas mejanya lalu melemparkannya ke arah Delvin hingga pulpen itu jatuh tepat di depan kakinya.
"Jangan pernah menyebut nama Viona lagi. Papaku yang baik," ucap Dylan dengan nada sinis. "Aku sudah cukup bermurah hati karena membiarkan putrimu kembali menerima perawatan. Jangan meminta lebih dari itu."
Ia berdiri perlahan.
"Viona memiliki kehidupannya sendiri. Kau tidak punya hak mengatur hidupnya."
Tatapan Dylan semakin tajam.
"Dan satu hal lagi... Viona sudah menjadi orangku. Termasuk tubuh dan organ tubuhnya berada di bawah perlindunganku. Jadi berhentilah berharap bisa memanfaatkannya lagi."
Delvin mengepalkan kedua tangannya.
"Dylan..."
"Jay."
"Ya, Tuan."
"Antarkan Tuan Jiang keluar."
Jay segera berjalan ke arah Delvin.
"Tuan Jiang, silakan."
Delvin menatap Dylan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik meninggalkan ruangan.
Begitu keluar dari gedung Yu Group, Delvin menghela napas panjang.
"Tidak kusangka..." gumamnya pelan.
"Viona yang dulu hanya dianggap pembantu, sekarang justru menjadi orang yang paling dilindungi Dylan."
Ia mengepalkan tangannya.
"Sepertinya, di mata Dylan, nilai Viona bahkan jauh lebih tinggi daripada seluruh Jiang Group."
Di sisi lain...
Viona sedang berjalan keluar dari sebuah pusat perbelanjaan.
Kedua tangannya dipenuhi kantong belanja berisi kebutuhan rumah.
"Tuan Muda pasti segera pulang. Aku harus cepat kembali," gumamnya sambil tersenyum kecil.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah dalam mal.
Kerumunan orang langsung berhamburan ke segala arah.
Viona terkejut.
"Ada apa?"
Ia berjinjit mencoba melihat ke arah keributan.
Namun karena orang-orang terus berlari, ia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Mungkin hanya promo atau keributan biasa," gumamnya, berusaha menenangkan diri.
"Aku sebaiknya segera pulang."
Malam itu.
Dylan baru saja tiba di mansion.
Bibi Ma segera menyambutnya.
"Tuan, Anda sudah pulang. Makan malam sudah siap."
Dylan mengangguk pelan.
"Di mana Viona?"
" Viona pergi berbelanja. Katanya akan pulang sebelum makan malam."
Dylan langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Viona.
Nada sambung...
Namun tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak tersambung.
Tatapan Dylan perlahan berubah suram.
"Keluar membawa ponsel, tetapi tidak bisa dihubungi."
Ia kembali menekan tombol panggil.
Masih sama.
"Kalau tahu begitu, aku seharusnya tidak membelikan dia ponsel." gumamnya pelan.
"Sudah berapa lama dia keluar?" tanyanya kepada Bibi Ma.
"Kurang lebih dua jam, Tuan. Mungkin jalanan sedang macet atau dia masih memilih-milih barang."
Dylan tidak menjawab.
Ia kembali mencoba menghubungi Viona.
Tetap tidak bisa tersambung.
Pukul tujuh malam.
Pintu mansion akhirnya terbuka.
"Bibi Ma, aku pulang!" seru Viona sambil membawa beberapa kantong belanja. "Tadi jalanan macet, lalu sempat terjadi kericuhan di pusat perbelanjaan."
Ia sama sekali tidak menyadari Dylan sedang duduk di ruang tamu dengan tatapan dingin yang sejak tadi mengarah kepadanya.
Baru setelah meletakkan pandangannya ke depan, Viona tersentak.
"T-Tuan Muda... Anda sudah pulang."
Ia buru-buru membawa belanjaannya ke dapur.
Tak lama kemudian, Dylan ikut masuk ke dapur.
"Mana ponselmu?" tanyanya datar.
Viona segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan menyerahkannya.
Dylan menekan tombol daya.
Layar tetap gelap.
"Kenapa tidak menjawab teleponku?" tanyanya sambil mengangkat pandangan.
Viona menundukkan kepala.
"Baterainya habis, Tuan Muda."
Dylan menghela napas panjang.
"Apa kau tahu kenapa aku membelikan ponsel untukmu? Agar aku bisa menghubungimu kapan pun."
Dylan melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.
"Kalau aku menelepon atau mengirim pesan, kau harus segera menjawab."
Nada suaranya terdengar tegas, tetapi terselip rasa khawatir yang sulit disembunyikan.
"Aku mengerti, Tuan Muda." Viona menggigit bibirnya pelan. "Maaf... semalam aku lupa mengisi daya, jadi baterainya habis."
Dylan menatap wajah Viona beberapa saat.
"Aku menghubungimu belasan kali."
Viona terkejut.
"Belasan kali?"
"Ya."
"Maaf, Tuan Muda. Aku benar-benar tidak sengaja."
"Ingat satu hal," ujar Dylan dengan nada tegas sambil mengembalikan ponselnya. "Mulai hari ini, ke mana pun kau pergi, kau harus memberi tahu aku."
Viona menggenggam ponselnya erat.
"Baik, Tuan Muda."
Tatapan Dylan kemudian jatuh ke telapak tangan Viona yang tampak memerah dan sedikit lecet.
Keningnya langsung berkerut.
"Ada apa dengan tanganmu?"
Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Viona dengan hati-hati.
Viona sedikit terkejut.
"Tadi... aku terjatuh di mal."
"Jatuh?"
"Iya. Waktu terjadi kericuhan, ada banyak orang berlari. Aku tidak sengaja tertabrak hingga terjatuh."
Wajah Dylan langsung berubah dingin.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang?"
"Karena hanya luka kecil."
Belum sempat Viona bereaksi, Dylan tiba-tiba membungkuk dan mengangkat tubuhnya dengan gaya bridal carry.
"A-ah... Tuan Muda!"
Viona refleks melingkarkan tangannya di leher Dylan agar tidak terjatuh.
"Turunkan aku. Aku masih bisa berjalan sendiri."
Dylan tetap melangkah menuju lantai dua tanpa sedikit pun mengendurkan pelukannya.
"Aku tidak suka mengulang perkataan."
Sesampainya di kamar, Dylan mendudukkan Viona perlahan di tepi ranjang.
Ia membuka kotak P3K, mengambil cairan antiseptik dan salep luka.
Viona hendak menarik tangannya.
"Tuan Muda, aku bisa melakukannya sendiri."
Dylan menatapnya sekilas.
"Diam."
Dengan sangat hati-hati, ia membersihkan luka di telapak tangan Viona.
Sesekali ia meniup pelan bagian yang terasa perih agar rasa sakitnya berkurang.
Viona hanya bisa memandangi wajah Dylan dari jarak dekat.
Pria itu tampak begitu fokus mengobati lukanya.
Selesai mengoleskan salep, Dylan membalut luka itu dengan perban tipis.
"Jangan bergerak sembarangan."
Viona tersenyum tipis.
"Padahal hanya luka kecil."
Dylan langsung menatapnya.
"Bagiku, luka sekecil apa pun yang ada padamu bukanlah hal sepele."
Ia menggenggam tangan Viona dengan lembut.
"Bersamaku, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun."
Tatapannya semakin serius.
"Bahkan kehilangan sehelai rambutmu pun tidak kuizinkan."
Mendengar itu, pipi Viona langsung memerah.
"Kehilangan sehelai rambut?" batinnya.
"Padahal rambutku rontok setiap hari. Mana mungkin tidak kehilangan sehelai rambut."
Membayangkan Dylan mengawasi rambutnya yang rontok, Viona hampir tertawa, tetapi buru-buru menahannya.
Melihat sudut bibir Viona yang terangkat, Dylan mengernyit.
"Apa yang lucu?"
Viona segera menggeleng cepat.
"T-tidak ada."