NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas Latihan Berat

Pagi itu, udara masih basah oleh embun ketika Kenzie berdiri di depan Arvendel. Tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa rasa sakit dari latihan sebelumnya, namun hari ini tatapan gurunya terlihat berbeda—lebih berat… lebih menuntut.

Arvendel menancapkan sebuah pedang kayu ke tanah. Bentuknya masih sederhana, tetapi kini ada celah kecil di bagian tengah bilahnya, tempat sebuah kristal transparan tertanam.

“Kenzie,” ucap Arvendel sambil menepuk pedang itu, “mulai hari ini, kau akan menggunakan pedang gravitasi.”

Kenzie memiringkan kepala. “Pedang… gravitasi?”

Arvendel menarik pedang kayu itu dan mengayunkannya sekali. Udara di sekitar bilah tampak bergetar.

“Crystal Gravitas. Memberikan bobot seratus kali lipat dari wujudnya.”

Kenzie menelan ludah ketika menerima pedang kayu tersebut dari tangan gurunya. Tepat ketika jari-jari Kenzie menggenggamnya—

BRUK!

Seluruh lengannya langsung tertarik ke bawah seperti dihantam palu raksasa.

“A-Apa ini…?!” seru Kenzie dengan mata membelalak. “T-Tuan Arvendel… berapa berat pedang ini?”

Arvendel menjawab tenang. “Lima belas kilolombar.”

Kenzie terpaku.

15 KL.

Bobot yang bahkan tidak dapat diangkat oleh orang dewasa normal tanpa Ki. Namun ia diminta mengayunkannya?

“T-Tuan… ini bahkan tidak masuk akal…”

“Latihan tidak pernah masuk akal,” jawab Arvendel santai. “Sekarang, pasang posisi kuda-kudamu.”

Kenzie mengatur napas, membuka kuda-kuda rendah seperti yang diajarkan sebelumnya. Lututnya goyah, tanah di bawah kakinya sedikit retak oleh tekanan dari pedang itu.

“Sekarang ayunkan,” perintah Arvendel.

Kenzie menggertakkan gigi dan mengangkat pedang itu dengan kedua tangan—

“AAARGH—!”

Bahkan hanya untuk mengangkatnya saja, seluruh otot punggungnya terasa seperti dicabik.

Namun ia tetap mengayun.

Satu kali…

Dua kali…

Tiga kali…

Begitu memasuki menit-menit awal, keringatnya sudah mengalir seperti hujan. Tangan terasa mati rasa. Napas tersengal-sengal.

Namun Arvendel hanya memandangnya tanpa belas kasihan.

“Teruskan.”

Matahari mulai naik. Jam semakin berjalan.

Kenzie terus mengayun.

Dan mengayun.

Dan mengayun.

Sampai tanah di sekitarnya tampak tertebas puluhan kali, sampai lengannya sudah seperti tidak miliknya sendiri.

Tepat ketika matahari mencapai puncak langit—pukul 12:00—

Kenzie jatuh berlutut, pedang kayu tergeletak di tanah dengan dentaman berat.

“Hah… hah… hah… Ini gila… Ini lebih gila dari kemarin…”

Arvendel mengangguk. “Istirahat. Makan siang. Setelah itu, kita lanjut.”

Kenzie memakan roti keras dan buah liar yang disediakan gurunya. Sambil mengunyah, ia bergumam lelah:

“Latihan kemarin… terasa seperti neraka. Tapi… ini juga tidak kalah berat… Walau… setidaknya… tidak membuatku hampir mati…”

Ia memegangi lengannya yang bergetar.

“Aku… masih harus mempertahankan kuda-kuda sambil mengayun… itu membuatku yakin… Tuan Arvendel ingin mematahkan kakiku…”

Arvendel mendengar itu, tapi hanya tersenyum tipis.

Setelah istirahat, latihan berikutnya dimulai.

“Kenzie,” ucap Arvendel, “duduk bersila. Kau harus belajar mengontrol Ki.”

Kenzie mengikuti. Arvendel meletakkan telapak tangan di punggungnya.

“Fokus pada dantianmu. Rasakan Ki-mu berputar. Jangan biarkan pusaran itu pecah.”

Kenzie menutup mata. Perlahan ia mencoba memvisualkan pusaran energi kecil yang berputar di pusat tubuhnya. Namun setiap kali ia mencoba menstabilkan Ki—

DUAK!

Pusaran itu mengguncang, dan tubuh Kenzie tersentak.

“A-Ah…!”

“Tenang. Fokus. Kendalikan napasmu.”

Latihan mengontrol Ki berlangsung selama berjam-jam, hingga langit memerah di barat.

Dan setelah itu—

“Sekarang kembali mengayunkan pedang,” ucap Arvendel.

Kenzie menghela napas panjang.

“Hari ini… belum berakhir rupanya…”

Dan begitu lah rutinitas itu dimulai.

Berminggu-Minggu Terlewati

Hari demi hari, minggu demi minggu…

Kenzie menjalani rutinitas yang tidak manusiawi:

Pagi hingga siang: mengayunkan pedang gravitasi sambil mempertahankan kuda-kuda.

Siang: makan dan istirahat sebentar.

Sore: latihan Ki sampai pusaran energi di dantiannya stabil.

Malam: mengayunkan pedang lagi sampai tubuhnya tak mampu bergerak.

Setiap kali Kenzie sudah terbiasa dengan bobot pedangnya…

Crystal Gravitas akan menambah bebannya sendiri.

15 KL…

Menjadi 18 KL…

20 KL…

25 KL…

35 KL…

Sampai akhirnya pedang kayu itu tak lagi terasa seperti kayu—lebih seperti pilar logam yang tak masuk akal beratnya.

Namun Kenzie terus memaksa tubuhnya.

“Tuan Arvendel… kenapa pedangnya semakin berat…?”

“Karena kau semakin kuat.”

Kenzie hanya bisa tertawa pahit.

Latihan Baru — Lari Menanjak Sambil Menebas Batu

Setelah dua bulan, Arvendel memperkenalkan latihan baru.

“Hari ini, kita naik dan turun bukit seperti sebelumnya…” kata Arvendel.

Kenzie mengangguk, mengira latihan itu yang lama.

“…sambil berlari.”

Kenzie mematung.

“…dan sambil mengayunkan pedang gravitasi.”

Kenzie semakin mematung.

“…dan setiap batu besar di sepanjang jalur harus kau tebas.”

Kenzie menoleh perlahan.

“T-Tuan… Anda ingin membunuh saya…?”

Arvendel menepuk bahunya. “Jika kau mati di sini, maka kau memang tidak layak menjadi muridku.”

Dengan putus asa Kenzie mulai berlari menanjak, pedang gravitasi di tangan. Setiap tebasan mengguncang tulangnya.

CRAACK!

Batu pertama terbelah.

CRAACK!

Batu kedua pecah.

Latihan ini berlangsung berminggu-minggu. Tubuh Kenzie penuh luka, namun kekuatannya meningkat tajam.

Latihan Hingga 7 Tahun

Waktu pun berjalan.

1 bulan…

3 bulan…

1 tahun…

2 tahun…

5 tahun…

Hingga akhirnya—

7 tahun berlalu.

Rutinitas Kenzie menjadi seperti ini:

Dini hari (04.00): naik-turun bukit sambil menebas batu hingga fajar.

Pagi: makan sebentar.

Pagi menjelang siang: mengayunkan pedang gravitasi (yang kini beratnya mencapai ratusan KL).

Siang: latihan mengontrol Ki, menstabilkan pusaran energi dantiannya.

Sore: latihan berlari menanjak dan menuruni bukit lagi.

Malam: belajar jurus baru dari Arvendel dan mengulanginya ribuan kali.

Seiring waktu, tubuh Kenzie berubah total.

Bahunya melebar, otot-ototnya mengunci rapat seperti baja, mata merahnya semakin fokus, dan Ki di dantiannya berputar seperti pusaran badai.

Arvendel suatu hari berkata, “Kini Ki-mu sudah dapat menopang tubuhmu sendiri. Kau telah melewati batas manusia.”

Kenzie menerima ucapan itu tanpa tersenyum—ia terlalu lelah. Tapi hatinya bangga.

Plot Akhir — Monolog Kenzie (Usia 22 Tahun)

Malam itu sunyi.

Kenzie yang kini telah berusia 22 tahun berdiri di tengah hutan, memegang sebuah ranting pohon.

Tidak ada pedang gravitasi di tangannya.

Hanya ranting.

Ia menatapnya… kemudian tersenyum tipis.

“Dulu… aku bahkan tidak bisa angkat pedang kayu itu,” gumam Kenzie pelan. “Tujuh tahun… tujuh tahun aku berulang-ulang jatuh… menangis… merintih… dan berkali-kali ingin berhenti…”

Ia memejamkan mata.

“Setiap hari aku pikir aku akan mati… Tapi setiap kali aku bangkit, aku semakin kuat…”

Angin malam menyapu rambut peraknya yang sudah lebih panjang, lebih dewasa.

“Aku pernah ingin menyerah… Saat kaki patah… Saat pundakku tak bisa digerakkan… Saat Ki-ku pecah dan membuatku pingsan berhari-hari…”

Ia membuka mata perlahan.

“Tapi aku bertahan.”

Ia menggenggam ranting itu. Ki mengalir ke telapak tangannya, membungkus ranting tipis itu seperti aliran energi kecil.

“Dan sekarang…”

Kenzie mengayunkan ranting itu ke arah batu besar di depannya.

Satu tebasan.

BUAAAARRRR!!

Batu selebar dua meter—

terbelah sempurna.

Ranting itu bahkan tidak patah.

Kenzie menatap belahan batu itu dengan napas tenang.

“Sekarang aku mengerti… kenapa tuan Arvendel memaksaku melewati semua itu…”

Ia menatap langit malam.

“…karena inilah jalanku.”

Kemudian ia menurunkan tubuh, memasang kuda-kuda. Ki-nya berputar, stabil, dan mengalir sempurna.

Ia mengayunkan ranting itu lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Mengulangi jurus yang dilatihnya selama bertahun-tahun.

Di malam sunyi itu—

di bawah cahaya bulan—

Kenzie Laurent, murid Arvendel, penerus takdir yang belum disadarinya—

menempah dirinya sekali lagi.

Latihan tak pernah berhenti.

Karena perjalanan Kenzie yang baru…

Akan dimulai.

1
Ibar, {iba'rat Askar}
singgungan para petinggi istana yang tak ingin hasil bumi di sembunyikan🤭
Ibar, {iba'rat Askar}
lelucon hirarki para petani menanam hasil panen atau barang untuk di jual kembali jika harga melonjak naik
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
Ibar, {iba'rat Askar}
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!