NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Jejak Penghianatan di Masa Lalu

Nara tidak langsung pulang setelah pertemuannya dengan Adrian malam itu.

Ia hanya duduk diam di dalam mobil taksi yang membawanya pulang.

Pikirannya kosong.

Atau mungkin terlalu penuh.

Foto tua itu masih tersimpan di dalam tasnya.

Foto yang seolah mengubah seluruh pemahamannya tentang hidup.

Tentang ayahnya.

Tentang Damar.

Dan tentang masa lalu yang selama ini terkubur rapat.

---

Sesampainya di rumah, Nara kembali mengeluarkan foto tersebut.

Ia meletakkannya di atas meja.

Lalu memandanginya lama.

Ayahnya terlihat sangat muda.

Tersenyum lebar.

Bahagia.

Sementara pria di sebelahnya, ayah Damar, tampak merangkul bahu ayahnya dengan akrab.

Tidak ada tanda-tanda permusuhan.

Tidak ada tanda-tanda tragedi.

Mereka terlihat seperti sahabat sejati.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

---

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Adrian masuk.

> Jangan ceritakan apa pun kepada Damar dulu.

Aku masih mengumpulkan bukti.

Nara menggigit bibir bawahnya.

Semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Namun semakin sedikit jawaban yang ia dapatkan.

---

Malam itu ia kembali gagal tidur.

Dan keesokan paginya, ia datang ke kantor dengan kepala yang terasa berat.

---

Begitu memasuki ruang kerja, Siska langsung menyadarinya.

"Kamu kenapa lagi?"

tanya wanita itu.

---

"Tidak apa-apa."

---

"Kalau begitu aku Presiden Republik Indonesia."

---

Nara tertawa kecil.

Meski suasana hatinya sedang buruk, tingkah Siska tetap berhasil membuatnya tersenyum.

---

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Karena beberapa menit kemudian, Damar muncul.

---

Pria itu berjalan masuk ke ruangan proyek.

Tatapan beberapa karyawan langsung mengikuti.

Seperti biasa.

Namun kali ini, mata Damar langsung tertuju pada Nara.

---

"Nara."

---

"Iya, Pak?"

---

"Ke ruanganku."

---

Siska langsung menatap Nara dengan ekspresi penasaran.

Sementara Raka yang kebetulan lewat langsung berbisik,

"Semoga sukses."

---

Nara ingin melempar map ke wajah pria itu.

---

Beberapa menit kemudian.

Ia sudah berada di ruang kerja Damar.

---

"Ada apa?"

tanyanya.

---

Damar tidak langsung menjawab.

Ia justru mengeluarkan sebuah map tua dari laci meja.

---

"Aku ingin menanyakan sesuatu."

---

Nara merasakan firasat buruk.

---

"Tentang apa?"

---

"Tentang ayahmu."

---

Jantungnya langsung berdebar keras.

---

"Ayahku?"

---

Damar mengangguk.

---

"Kemarin aku menemukan beberapa arsip lama."

---

Ia membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen lama.

Beberapa surat.

Laporan.

Dan foto-foto.

---

Nara langsung mengenali salah satu foto.

Foto yang sama dengan yang diberikan Adrian.

---

Tubuhnya menegang.

---

"Kenapa kamu terlihat terkejut?"

tanya Damar.

---

"Ti-tidak."

---

Damar menyipitkan mata.

Jelas tidak percaya.

---

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ponselnya berdering.

Panggilan dari direksi.

---

Damar menghela napas.

"Lanjut nanti."

---

Nara diam-diam mengembuskan napas lega.

Untuk sementara, ia berhasil menyembunyikan sesuatu.

Namun entah sampai kapan.

---

Siang harinya.

Adrian kembali datang ke perusahaan.

Kali ini untuk rapat tertutup dengan para pemegang saham.

---

Kedatangannya langsung menarik perhatian.

Termasuk perhatian Bianca.

---

Wanita itu mulai menyadari bahwa investor tersebut memiliki ketertarikan khusus terhadap Nara.

Dan itu membuatnya semakin tidak tenang.

---

"Apa sebenarnya hubungan mereka?"

gumam Bianca.

---

Sore hari.

Saat semua orang sibuk bekerja.

Bianca diam-diam mengikuti Adrian yang keluar dari ruang rapat.

---

Namun sebelum ia berhasil mendekat, seseorang menghadangnya.

---

Raka.

---

"Mau ke mana?"

tanya pria itu santai.

---

"Bukan urusanmu."

---

"Kalau begitu kenapa wajahmu seperti detektif gagal?"

---

Bianca langsung kesal.

---

"Pergi."

---

"Baik."

jawab Raka.

"Tapi jangan buat masalah lagi."

---

Untuk sesaat, Bianca membeku.

Karena cara Raka mengatakannya terdengar seperti peringatan.

---

Malam mulai turun.

Dan sekali lagi Nara bertemu Adrian.

Kali ini di sebuah kantor pribadi milik pria tersebut.

---

Ruangan itu dipenuhi rak buku dan dokumen tua.

Terlihat seperti tempat yang menyimpan banyak rahasia.

---

"Aku menemukan beberapa berkas tambahan."

kata Adrian.

---

Nara langsung duduk.

Jantungnya kembali berdebar.

---

Adrian membuka sebuah map tua.

Warnanya sudah mulai menguning dimakan usia.

---

"Ini dokumen yang berkaitan dengan kasus ayahmu."

---

Nara menatap berkas itu tanpa berkedip.

---

"Selama ini aku berusaha mencarinya."

lanjut Adrian.

"Karena aku tidak pernah percaya Arman bersalah."

---

Mata Nara mulai memanas.

---

"Ayah memang tidak bersalah."

ucapnya pelan.

---

"Aku tahu."

jawab Adrian.

---

Pria itu lalu mengeluarkan beberapa lembar fotokopi.

---

"Lihat ini."

---

Nara mulai membaca.

Semakin lama wajahnya semakin pucat.

---

Karena isi dokumen itu menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.

---

Beberapa laporan penting ternyata telah diubah sebelum diserahkan kepada penyidik.

---

Tanda tangan yang seharusnya milik ayahnya ternyata dipalsukan.

---

Dan lebih mengejutkan lagi...

Ada nama seseorang yang berulang kali muncul dalam dokumen tersebut.

---

"Nugroho Wijaya."

---

Nara langsung mengangkat kepala.

---

"Itu..."

---

"Ayah Damar."

jawab Adrian pelan.

---

Dunia Nara seakan runtuh.

---

"Tidak mungkin."

---

"Aku juga berharap begitu."

ucap Adrian.

---

"Tapi semua jejak mengarah ke sana."

---

Nara langsung berdiri.

---

"Tidak."

---

Ia menggeleng keras.

---

Damar mungkin menyebalkan.

Keras kepala.

Terlalu dingin.

---

Namun pria itu bukan orang jahat.

Dan entah kenapa...

Ia sulit menerima bahwa ayah Damar mungkin terlibat dalam kehancuran ayahnya.

---

Adrian memperhatikan reaksinya.

Lalu menghela napas.

---

"Aku belum mengatakan beliau pelakunya."

---

Nara menatapnya.

---

"Maksud Bapak?"

---

"Nama Nugroho muncul dalam berkas."

jawab Adrian.

"Tapi aku belum tahu apakah dia dalang, korban, atau seseorang yang juga dimanfaatkan."

---

Nara perlahan duduk kembali.

---

Dadanya masih terasa sesak.

---

Karena apa pun jawabannya nanti...

Hubungannya dengan Damar tidak akan pernah sama lagi.

---

Sementara itu.

Di rumah keluarga Wijaya.

---

Damar sedang membuka lemari arsip lama milik ayahnya.

---

Entah kenapa.

Sejak menemukan foto tersebut, ia tidak bisa berhenti mencari.

---

Ada sesuatu yang terasa janggal.

---

Dan malam itu.

Ia akhirnya menemukan sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di bagian belakang lemari.

---

Kotak tersebut terkunci.

Namun setelah beberapa usaha, ia berhasil membukanya.

---

Di dalamnya hanya ada satu amplop.

---

Dengan tulisan tangan yang sudah memudar.

---

Untuk Arman.

---

Jantung Damar langsung berdetak lebih cepat.

---

Perlahan ia membuka amplop tersebut.

---

Lalu mengeluarkan surat di dalamnya.

---

Dan saat membaca beberapa baris pertama...

Wajahnya langsung berubah.

---

Karena surat itu diawali dengan kalimat:

> Jika sesuatu terjadi padaku, tolong lindungi keluargaku.

---

Damar membeku.

---

Karena tanda tangan di bagian bawah surat itu bukan milik ayahnya.

---

Melainkan milik ayah Nara.

---

Di saat yang sama.

Jauh di tempat lain.

Seseorang sedang memperhatikan foto-foto lama yang baru saja dicuri dari sebuah arsip pribadi.

---

Pria itu tersenyum tipis.

---

"Jadi mereka mulai menemukan kebenaran."

---

Ia lalu menyalakan korek api.

Dan membakar salah satu dokumen penting yang tersisa.

---

"Kalian terlambat."

---

Api perlahan membesar.

Menghanguskan bukti yang selama bertahun-tahun disembunyikan.

---

Sementara tanpa mereka sadari...

Bahaya yang sebenarnya baru saja dimulai.

Bersambung ke Bab

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!