NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Atas Fondasi Rapuh

Bagi Viona, hujan sore ini terasa seperti tangisan langit yang tertahan selama tiga hari terakhir. Tiga hari sejak jantung ayahnya, Nugroho, berhenti berdetak di tengah ruang tamu sederhana mereka, meninggalkan keheningan yang lebih bising daripada teriakan mana pun.

Viona, gadis berusia sembilan belas tahun dengan mata yang masih membengkak, duduk bersila di atas karpet usang. Di tangannya, ia memeluk bantal guling yang masih menyimpan aroma rokok kretek dan minyak kayu putih—aroma khas ayahnya.

Ia merasa dunianya bukan hanya runtuh, tetapi hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak bisa disatukan kembali.

"Vion," suara Rani memecah lamunan putrinya. Ibu Viona tampak jauh lebih tua dari usia empat puluh limanya. Kerudung cokelatnya sedikit miring, dan garis-garis halus di wajahnya terlihat semakin dalam, seperti peta penderitaan yang baru saja digambar oleh nasib.

"Ibu perlu bicara. Ini penting."

Viona tidak menoleh. Ia tahu apa yang akan dikatakan ibunya. Tagihan listrik yang belum lunas, uang kuliah semester depan yang belum terbayar, dan kenyataan pahit bahwa mereka kini hidup sebatang kara tanpa penopang ekonomi.

"Ayah baru saja pergi, Bu," bisik Viona, suaranya serak. "Biarkan aku berduka. Jangan bicarakan soal uang sekarang."

"Bukan hanya soal uang, Nak," Rani duduk di samping Viona, tangannya gemetar saat meraih tangan putrinya yang dingin.

"Pak Wahyu...Teman lama Ayahmu... dia datang kemarin malam. Dia menawarkan sesuatu yang bisa menyelamatkan kita."

Viona akhirnya menoleh, "Pak Wahyu?"

Sosok samar yang sesekali disebut ayahnya sebagai rekan bisnis masa muda, namun jarang sekali terlihat.

"Menyelamatkan kita? Bagaimana caranya?"

Rani menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya.

"Dia melamar Ibu, Vion. Dan dia ingin kita pindah ke rumahnya. Rumah besar di daerah Candisari. Dia bilang... Dia tidak ingin melihat kita menderita. Dia juga bersedia menanggung biaya kuliahmu sampai lulus."

Dunia Viona berhenti berputar sejenak. Kata-kata ibunya bergema di kepalanya.

"Melamar? Belum genap empat puluh hari jenazah ayahnya dikuburkan Bu, dan sekarang Ibu sudah menerima lamaran pria lain?"

Rasa sedih yang tadinya tulus seketika bercampur dengan amarah dan rasa kemustahilan.

"Ibu menjual diri?" tanya Viona tajam, melepaskan genggamannya dari tangan ibunya. Ia berdiri, kakinya gemetar karena emosi.

"Ayah masih hangat di liang kubur, Bu! Dan Ibu sudah siap menjadi istri orang lain? Apa rasa cinta Ibu pada Ayah semudah itu hilang?"

"Jangan bicara sembarangan!" Rani meninggi, air matanya tumpah deras. "Ini bukan tentang cinta atau tidak cinta! Ini tentang bertahan hidup! Lihat sekelilingmu, Vion! Kita tidak punya apa-apa. Rumah ini sewa. Utang ayahmu menumpuk. Aku tidak mau kamu putus kuliah hanya karena kebanggaan palsu!

Pak Wahyu baik, Vion. Dia mapan. Dan dia punya anak laki-laki, Zidan. Umurnya dua puluh sembilan tahun, sepuluh tahun lebih tua darimu. Dia tinggal di Jakarta, tapi akan sering pulang ke Semarang. Kita akan punya keluarga baru, tempat berlindung yang aman."

Viona tertawa miris, tawa yang penuh sinis dan luka.

"Keluarga baru? Dengan orang asing? Jadi sekarang aku harus memanggil pria yang tidak aku kenal sebagai 'Kakak'? Aku harus hidup di bawah atap pria asing itu? Bu, rasanya seperti aku barang bekas yang dipindahkan dari satu gudang ke gudang lain agar tidak busuk!"

"Viona!" tegur Rani, namun suaranya pecah oleh isakan.

"Tolong mengerti posisi Ibu. Aku melakukan ini untukmu."

Sebelum Viona berdebat dan semakin marah lagi, bunyi bel pintu terdengar.

Ting-tong.

Ting -tongg...

Suara itu terdengar asing, mengganggu, dan terlalu tegas untuk suasana duka yang seharusnya hening.

Rani segera mengusap wajahnya, merapikan kerudungnya dengan tangan yang masih gemetar.

"Mereka sudah datang. Tolong, Vion. Untuk hari ini... bersikaplah sopan. Jangan buat Ibu malu."

Viona menghela napas kasar, merasakan dada yang sesak. Ia berjalan menuju pintu depan seolah setiap langkahnya membawa beban yang begitu berat.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berdoa dalam hati agar pria di balik pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa yang akan mengakhiri semua kekacauan ini.

Namun, yang ia temukan bukanlah malaikat, melainkan dua sosok pria yang basah kuyup oleh hujan.

Di belakang berdiri Pak Wahyu, pria paruh baya dengan wajah ramah namun terlihat canggung memegang payung hitam besar. Namun, fokus Viona langsung terkunci pada pria muda yang berdiri di sampingnya.

Zidan.

Pria itu tinggi, mungkin mencapai 185 sentimeter, membuatnya tampak menjulang di ambang pintu rumah sederhana mereka. Ia mengenakan kemeja flanel berwarna abu-abu gelap yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot yang tegang. Celana jeans hitamnya sedikit basah di bagian bawah, namun sepatunya tetap terlihat bersih dan mewah. Wajahnya tampan dengan struktur rahang yang tegas dan hidung mancung, namun matanya—berwarna cokelat gelap yang dalam—menatap Viona dengan dingin.

Tidak ada sapaan di sana. Tidak ada senyuman simpati. Hanya tatapan menilai, analitis, dan dingin. Seperti seorang arsitek yang sedang memeriksa fondasi rumah yang retak sebelum memutuskan apakah rumah itu layak diperbaiki atau harus dihancurkan.

"Assalamualaikum," ucap Zidan. Suaranya berat, dan terdengar sangat wibawa untuk seseorang yang baru menginjak usia tiga dekade.

"Waalaikumsalam," jawab Rani dari belakang Viona, suaranya kecil dan ragu.

Zidan melangkah masuk, Gerakan tubuhnya luwes namun dominan. Sepatu kulitnya yang mewah menginjak lantai keramik putih yang sudah mulai kusam, menciptakan kontras. Pria itu menatap sekeliling ruangan sekilas, matanya menyapu sofa tua, meja kayu yang catnya mengelupas, dan akhirnya berhenti sejenak pada foto hitam-putih Nugroho di dinding.

Ekspresi Zidan tidak berubah. Datar. Kosong.

"Rumah ini lebih kecil dari yang saya bayangkan," komentar Zidan datar.

Ia menoleh ke arah Viona yang masih berdiri kaku di dekat pintu, menghalangi jalan masuk sepenuhnya.

"Kau pasti Viona."

"Ya," Dan ini adalah rumah duka, Tuan. Bukan showroom properti yang bisa Anda kritik semaunya. Jika Bapak Wahyu ingin masuk, silakan. Tapi tolong tunjukkan rasa hormat minimal pada arwah Ayah saya yang fotonya masih tergantung di sana."

Pak Wahyu tampak panik, keringat dingin bercampur dengan air hujan di dahinya.

"Ah, maaf, Nak Viona. Zidan hanya... dia biasanya blak-blakan. Maksudnya tidak buruk..."

"Tidak apa-apa, Yah," potong Zidan tenang. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari Viona. Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat, mengurangi jarak pribadi di antara mereka hingga Viona bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam, berpadu dengan scent hujan dan tanah basah. Aroma yang mahal, rumit, dan mengintimidasi.

"Saya hanya ingin memastikan calon adik saya ini paham dengan situasi."

Suaranya rendah sehingga hanya Viona yang bisa mendengarnya dengan jelas di tengah keriuhan hujan di luar.

"Karena mulai besok, kita akan berbagi atap yang sama. Dan saya tidak suka kejutan."

Viona merasa napasnya tercekat. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena kombinasi kemarahan dan sesuatu yang lain—sesuatu yang berbahaya dan tidak ia kenali. Ada daya tarik magnetis yang aneh dari ketenangan dingin Zidan, sebuah tantangan yang membuat darah mudanya mendidih.

"Kejutan?" Viona menatap lurus ke mata Zidan, menantang kedalaman warna cokelat itu.

"Satu-satunya kejutan di sini adalah betapa cepatnya Ibu saya mengganti suami, dan betapa cepatnya Anda menganggap diri Anda berhak mengatur hidup kami. Selamat datang di neraka kecil kami, Kakak Tiri."

Untuk pertama kalinya, ekspresi datar Zidan retak. Sudut bibirnya tertarik naik membentuk senyuman tipis, hampir tak terlihat. Senyuman yang tidak ramah, melainkan senyuman sinis.

"Neraka?" gumam Zidan pelan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, meneliti wajah Viona seperti sedang mempelajari spesies langka.

"Menarik. Saya pikir kita akan cocok, Viona. Kita sama-sama tidak suka kepalsuan. Dan saya yakin... kau akan belajar untuk tidak membenci hal-hal yang belum kau pahami."

Ia berbalik, melewati Viona dengan bahu yang hampir bersentuhan, dan berjalan menuju ruang tengah untuk menemui Rani yang sudah menyiapkan kursi. Kehadirannya mengisi ruangan sempit itu, membuat udara terasa lebih tipis, lebih sulit dihirup.

Viona tetap berdiri di ambang pintu, memandang punggung lebar Zidan yang kini duduk dengan santai di sofa tuanya. Hujan di luar semakin deras, menyamarkan suara deru mesin mobil mewah yang terparkir di depan rumah mereka. Badai di luar mungkin akan reda besok pagi, tetapi Viona menyadari dengan ngeri bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai di dalam rumahnya.

Dan pria bernama Zidan itu adalah pusat badai tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!