NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisya Merasa Bersalah

Sejak pagi, pikiran Elisya terasa penuh oleh berbagai hal yang terus berputar tanpa henti.

"Elisya...... Fokus!!!!" ucapnya pada dirinya sendiri sebelum masuk ke kelasnya.

Ia merapikan rambutnya sedikit, berusaha memasang wajah ceria dan senyum khasnya seperti biasa.

"Selamat pagi, Anak-anak......" sapanya masuk ke kelas.

"Selamat pagi, Bu....." sapa siswa serentak sambil berdiri.

Wajah- wajah ceria itu membuat hatinya meleleh. Tak sanggup jika harus mengubah wajah anak anak itu.

Selama di kelas, ia tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Senyumnya tetap ada suaranya tetap terdengar ceria saat menjelaskan pelajaran, dan anak anaknya tidak menyadari apapun.

"Baik, siapa yang bisa menjawab soal nomor tiga?"

Beberapa tangan langsung terangkat.

"Saya, Bu!"

"Saya juga!"

Elisya tersenyum dan menunjuk salah satu murid.

"Silakan, Nak...."

Di depan anak-anaknya, ia tetap menjadi guru yang profesional.

Namun begitu bel istirahat berbunyi dan kelas mulai kosong, senyum itu perlahan memudar. Elisya duduk di kursinya sambil memandangi halaman sekolah dari balik jendela. Suara anak-anak yang bermain di luar terdengar riuh. Tetapi pikirannya sedang berada jauh dari sana. Ia teringat teleponnya ke kampung semalam. Sampai sekarang belum ada jawaban pasti.

Elisya menghela napas pelan. Ponselnya yang terletak di atas meja kembali ia ambil. Tidak ada panggilan masuk. Tidak ada pesan baru dari kampung.

"Belum ada juga......"

Biasanya keluarganya tidak pernah selama ini memberi kabar. Ada rasa khawatir yang mulai muncul.

"Bu Elisya?"

Suara kecil membuatnya tersentak. Elisya menoleh, ternyata salah satu muridnya berdiri di depan meja sambil membawa kotak bekal.

"Kenapa, Nak?"

"Ibu belum makan?"

Elisya tersenyum kecil, "belum, Nak."

"Mama bilang kalau tidak makan nanti sakit, Bu......"

Elisya terkekeh pelan.

"Iya, Nak..... Itu benar."

"Ini biskuit, Bu." Anak itu menyodorkan satu bungkus kecil biskuit dari bekalnya.

Hati Elisya langsung terharu, menghangat.

"Untuk ibu?"

Anak itu mengangguk. Melihat itu, Elisya menerimanya dengan senyum tulus.

"Terimakasih"

"Sama-sama, Bu...."

Anak itu berlari kembali ke halaman, Elisya menatap biskuit di tangannya. Dan perlahan senyum kecil itu kembali muncul.

Suara ruang guru yang tadinya cukup sepi perlahan mulai ramai. Satu per satu guru masuk sambil membawa buku, botol minum atau bekal makan siang mereka.

Ada yang langsung duduk sambil memeriksa tugas murid. Ada yang mengobrol dengan guru lain. Ada pula yang sibuk menikmati kopi hangat sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai.

Di salah satu meja, Elora sudah berada di sana sejak les kedua selesai. Karna jam mengajarnya kosong, jadi ia menghabiskan waktu di ruang guru sambil menyelesaikan beberapa administrasi kelas.

"Bu Elora les kosong ya?" tanya seorang guru.

"Oh iya, Bu...." jawab Elora sambil tersenyum.

Saat itu juga ia memperhatikan meja sahabatnya. Masih kosong.

"Apa dia engga minum?" tanya Elora sendiri ketika melihat botol minum Elisya di atas mejanya dan masih penuh.

Bahkan beberapa guru yang ruang jelasnya jauh sudah lebih dulu tiba.

Elora akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Apa dia di ruang kepala sekolah?" tanyanya lagi.

Saat Elora hendak keluar, salah seorang guru yang ruang kelasnya harus melewati ruang kelas Elisya baru saja masuk sambil membawa beberapa buku.

"Bu Rani," panggil Elora cepat.

Guru itu menoleh.

"Ibu lihat Bu Elisya tidak?"

"Oh, lihat Bu....."

"Dimana?" tanya Elora cepat.

"Tadi saya lewat kelasnya, ibu itu sendirian di dalam kelas."

"Bukannya sedang mengajar anak-anak?"

Bu Rani menggeleng, "Tidak. Saya lihat beliau sedang duduk saja di meja guru."

Mendengar jawaban itu, Elora langsung berdiri dari kursinya. Cepat sekali. Sampai Bu Rani sedikit terkejut.

"Loh??" serunya.

Koridor sekolah cukup ramai oleh suara anak-anak yang sedang menikmati waktu istirahat. Beberapa murid menyapa Elora saat ia berjalan melewati mereka.

"Selamat siang, Bu!"

"Siang," jawabnya singkat sambil terus berjalan.

Langkahnya sedikit dipercepat. Sesampainya di depan kelas, ia melambat. Pintu kelas terbuka. Dan dari luar ia bisa melihat sosok Elisya.

Benar saja, perempuan itu duduk sendiri di kursi guru. Tidak sedang memeriksa buku. Tidak sedang menulis. Tidak juga bermain ponsel. Hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela. Entah memikirkan apa.

Melihat itu, Elora menghela napas panjang.

"Benar-benar ada yang dipikirkan rupanya....." ucap Elora sambil melangkah masuk perlahan.

Elisya sebenarnya tersentak melihat Elora berdiri di depan kelasnya. Tapi ia berusaha tersenyum seperti biasa.

"Kau rupanya......"

"Iya, aku."

Elora berjalan mendekat lalu menarik kursi dan duduk tepat di samping mejanya.

"Kau ngapain disini sendirian?"

"Istirahat....." jawab Elisya santai.

"Bohong!! Jadi sekarang kau mau cerita atau tidak?"

"Aku baik-baik saja,"

"Bohong lagi!!"

"Aku serius....." balas Elisya tetap santai.

"Elisya....!"

Nada suara Elora kali ini berbeda. Tidak bercanda. Tidak menggoda seperti biasanya. Justru terdengar sedikit kesal.

"Kau pikir aku tidak kenal kau?"

Elisya perlahan menarik senyumnya.

"Ada apa?" tanya Elisya pelan.

"Aku yang harusnya tanya begitu!!" tegas Elora sambil menatapnya lurus.

"Masih sempat ke kantin nggak ya??"

Elisya masih mencoba terlihat biasa saja dan mencoba mengalihkan pandangannya dan pembicaraan.

Suasana mendadak hening. Tak ada jawaban dari Elora.

"Oh, sekarang tidak mau cerita lagi?" ucap Elora terdengar serius. Dia sudah tak membiarkan sahabatnya menghindar lagi.

Nada suara Elora itu membuat Elisya terdiam.

Elisya menunduk. Pundaknya sedikit turun.

"Maaf......" ucapnya.

Melihat sahabatnya begitu dan mendengar suaranya. Elora langsung melunak.

"Aku khawatir....." ucap Elora pelan.

Elisya mengangkat wajahnya menatap sahabatnya.

"Aku merasa tidak enak sama keluargaku."

"Karna kemarin?" tanya Elora langsung memperhatikan ekspresinya.

Elisya mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca kaca.

"Itu acara penting." jawabnya. Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi aku tidak bisa datang....."

Elora terdiam mendengarkan.

"Aku sudah berusaha mengurus izin. Tapi sekolah juga sedang sibuk."

Suara Elisya semakin pelan.

"Dan sekarang aku terus kepikiran," lanjutnya.

"Kepikiran apa?" tanya Elora.

"Aku takut mereka kecewa....."

Mendengar itu, Elora langsung mengerti. Bukan soal acara yang terlewat semata. Tetapi rasa bersalah yang selama ini dipendam Elisya.

"Aku menelpon kampung semalam."

"Lalu?"

"Katanya mereka semua sedang sibuk. Dan aku paham itu. Tapi...... Sampai sekarang belum juga dikabari apa-apa."

Elora meraih tangan Elisya, mencoba menenangkannya.

"Bagaimana kalau mereka marah?"

"Sya....."

"Aku bahkan tidak tau apa-apa soal acara itu...."

Elora menggenggam tangan sahabatnya erat.

"Kalau mereka berpikir aku tidak peduli, bagaimana?"

"Elisya......" panggil Elora. "Kau terlalu banyak berpikir."

Elora mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Keluarga mu kenal kau pastinya....."

"Tapi......."

Elora langsung memotongnya, "Mereka pasti tau kan, kau tidak datang bukan karna tidak mau."

"Tapi telponku tidak diangkat!!" tegas Elisya.

"Bisa jadi mereka sibuk. Apalagi habis acara keluarga besar."

Elisya memang perempuan yang selalu berusaha terlihat tenang. Tapi jika sudah menyangkut orangtuanya, dia tidak bisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!