NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 (Sandiwara yang sempurna)

Mobil Rolls-Royce hitam milik Mike membelah jalanan protokol menuju kawasan Menteng dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin yang sejuk dan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu kontras. Mike duduk dengan santai sembari sesekali memeriksa laporan pasar saham di tabletnya, sementara Alisha memilih merapat ke dekat pintu mobil, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Jarak beberapa puluh sentimeter di antara mereka di atas jok kulit mewah itu terasa seperti jurang pemisah yang tak kasat mata.

Alisha meremas tas tangan kecilnya. Pikirannya berkecamuk. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, dunianya jungkir balik. Kemarin dia melangkah ke altar dengan dada yang dipenuhi rasa haru, mengira dirinya adalah seorang pahlawan yang mengorbankan masa muda demi menyelamatkan pria malang yang telah berjasa bagi keluarganya. Namun pagi ini, dia sadar bahwa dia hanyalah seekor burung pipit yang dengan sukarela terbang masuk ke dalam sangkar emas yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka oleh sang pemikat.

"Hapus ekspresi mendung itu dari wajahmu, Alisha," suara bariton Mike memecah keheningan tanpa pria itu mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Kita hampir sampai di kediaman utama. Kakek memiliki insting yang sangat tajam. Sedikit saja kamu menunjukkan gurat keterpaksaan, beliau akan mulai mempertanyakan segalanya."

Alisha menoleh, menatap profil samping wajah Mike yang tampak begitu tegas dan tanpa cela. "Kamu bisa memanipulasi seluruh dunia dengan skenariomu, Mike. Tapi kamu tidak bisa memaksaku untuk tersenyum tulus setelah semua kebohongan ini."

Mike meletakkan tabletnya di jok tengah, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Alisha. Matanya yang tajam mengunci pergerakan gadis itu. "Aku tidak memintamu tersenyum demi aku, tapi demi ibumu. Ingat, Ibu Sarah melepasmu dengan air mata haru karena mengira putrinya melakukan tindakan mulia. Apa kamu mau ibumu tahu bahwa pernikahan ini adalah hasil dari jebakanku, lalu membuatnya jatuh sakit karena syok dan rasa bersalah pada mendiang Aryo?"

Mendengar nama ibunya disebut, Alisha seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. *Selalu saja begitu,* batin Alisha dengan rasa perih yang mendalam. Mike selalu tahu persis di mana titik kelemahannya berada. Pria itu mengunci setiap celah untuknya memberontak dengan menggunakan keselamatan dan kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.

"Kamu benar-benar iblis, Mike," bisik Alisha, matanya kembali berkaca-kaca karena kombinasi antara rasa marah dan ketidakberdayaan.

Mike tidak membantah. Ia justru memajukan tubuhnya, mengulurkan tangan untuk mengusap setitik air mata yang nyaris jatuh di pipi Alisha. Sentuhannya begitu lembut, sangat kontras dengan kata-katanya yang dingin dan mengikat. "Sebut aku apa saja sesukamu, Sayang. Tapi begitu pintu mobil ini terbuka, kamu adalah Nyonya Raharja yang paling bahagia di dunia. Mengerti?"

Sebelum Alisha sempat menjawab, mobil perlahan berhenti tepat di depan lobi utama kediaman megah keluarga Raharja. Pengawal pribadi dengan sigap membuka pintu mobil dari luar.

Mike turun terlebih dahulu, mengancingkan satu kancing jas tuksedo kasualnya, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya pada Alisha. Alisha menatap telapak tangan yang luas itu dengan ragu. Namun, mengingat ancaman Mike tentang ibunya, Alisha menarik napas panjang, memasang senyuman tipis yang dipaksakan, lalu menyambut uluran tangan suaminya.

Begitu jemari mereka bertautan, Mike menggenggamnya dengan sangat erat, membawa lengan Alisha untuk menggelayut manja di lengannya yang kokoh.

Di dalam ruang makan utama yang bernuansa klasik Eropa, Kakek Surya sudah menunggu di balik meja makan jati panjang yang penuh dengan hidangan mewah. Ketika melihat kedatangan cucu dan cucu menantunya, wajah tua yang biasanya kaku itu langsung berbinar cerah.

"Ah, ini dia pengantin baru kita!" seru Surya, suaranya terdengar jauh lebih bertenaga dibandingkan sebulan lalu. Pria tua itu menggerakkan kursi rodanya sedikit maju. "Kemari, Alisha, Nak. Duduk di sebelah Kakek."

Alisha melepaskan lengannya dari Mike dan berjalan mendekati Surya dengan langkah anggun yang telah ia latih semalaman. Ia mencium punggung tangan pria tua itu dengan takzim. "Selamat siang, Kakek. Maaf membuat Kakek menunggu."

"Tidak, tidak sama sekali. Kakek yang terlalu tidak sabar melihat menantu kesayangan Kakek ini," Surya menggenggam tangan Alisha, menatap wajah gadis itu dengan pandangan penuh rasa syukur. "Bagaimana malam pertamamu di vila Sentul? Mike tidak mendiamkanmu karena sibuk bekerja, kan? Pria gila kerja itu kalau tidak diingatkan bisa lupa kalau dia sudah punya istri cantik."

Alisha merasakan tenggorokannya mendadak kering saat mendengar frasa 'malam pertama'. Ia melirik Mike yang kini duduk di kursi seberangnya dengan ekspresi wajah yang tampak begitu polos dan berwibawa—sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya di atas ranjang semalam.

"M-Mike sangat baik, Kek. Dia menemani saya sepanjang malam," jawab Alisha, berusaha menjaga intonasi suaranya agar tidak bergetar. Kebohongan itu terasa seperti menelan kerikil tajam bagi harga dirinya, namun ia tidak punya pilihan.

Surya mengangguk-angguk puas, matanya berkaca-kaca kembali. "Kakek sangat bahagia, Alisha. Sejak rumor buruk tentang Mike menyebar, Kakek mengira garis keturunan kita akan berakhir dalam kesepian. Tapi melihat ketulusanmu... melihat bagaimana kamu bersedia mendampingi Mike terlepas dari segala kekurangannya..." Surya menoleh pada Mike, menatap cucunya dengan pandangan iba sekaligus bangga. "Mike, kamu harus memperlakukan Alisha seperti ratu seumur hidupmu. Wanita setulus dia tidak akan kamu temukan dua kali di dunia ini."

"Aku tahu, Kek," jawab Mike dengan nada suara yang dalam, sarat akan penekanan emosional yang murni. Pria itu menatap Alisha dari seberang meja dengan binar mata yang berkilat intens—sebuah tatapan yang membuat Alisha tahu bahwa Mike sedang menikmati setiap detik dari sandiwara ini. "Alisha adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan pernah membiarkannya lepas atau pergi dariku."

Mendengar kalimat posesif yang dikemas sebagai ucapan romantis itu, Kakek Surya tertawa haru, mengira cucunya sedang mabuk kepayang oleh cinta yang tulus. Sementara Alisha hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk merapikan serbet di pangkuannya untuk menyembunyikan kepalan tangannya yang gemetar di bawah meja.

Jamuan makan siang yang penuh dengan kepalsuan itu akhirnya selesai setelah dua jam yang terasa seperti siksaan abadi bagi Alisha. Kakek Surya pamit untuk beristirahat siang di kamarnya, meninggalkan Mike dan Alisha di koridor tengah rumah utama yang sepi, menghadap ke taman dalam yang asri.

Begitu sosok Surya menghilang di balik lift khusus, Alisha langsung menarik tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Mike. Ia melangkah mundur, menatap Mike dengan napas yang memburu.

"Kamu puas, Mike? Kamu puas melihat Kakekmu yang sudah tua memujamu dan mengasihanimu atas kebohongan yang kamu ciptakan sendiri?" tanya Alisha dengan nada berbisik yang tajam.

Mike memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Alisha dengan ekspresi tenang yang menyebalkan. "Aku sangat puas, Alisha. Kakek bahagia, posisiku sebagai CEO Raharja Group kini mutlak tanpa ada intervensi perjodohan lagi, dan yang paling penting... kamu sekarang ada di sini, di sisiku, sebagai istriku yang sah."

"Aku ada di sisimu karena terpaksa!"

"Awalnya mungkin iya," Mike melangkah maju, memotong jarak di antara mereka hingga Alisha bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu kembali mengintimidasinya. Mike mengulurkan tangannya, dengan lembut merapikan seuntai rambut Alisha yang jatuh di pelipisnya. "Tapi aku punya waktu seumur hidup untuk membuat rasa terpaksamu itu berubah menjadi rasa cinta, Alisha. Empat tahun aku menunggumu dalam sunyi, membiarkan wanita lain menjadi tamengku hanya agar kamu bisa tumbuh dewasa tanpa terluka. Menurutmu, setelah semua pengorbanan itu, apakah aku akan membiarkanmu membenciku selamanya?"

Alisha menepis tangan Mike dari wajahnya, matanya menatap tajam ke sepasang mata elang di depannya. "Aku tidak akan pernah mencintai seorang pembohong dan manipulator sepertimu, Mike."

Mike tidak terkejut, tidak juga marah. Pria itu justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat seksi namun sarat akan bahaya—senyuman seorang penguasa yang tahu betul bahwa kemenangan akhir berada di tangannya.

"Kita lihat saja nanti, Nyonya Raharja," bisik Mike, wajahnya merunduk hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Alisha, mengembuskan napas hangat yang membuat seluruh tubuh gadis itu meremang. "Karena di dalam sangkar yang kubangun ini, tidak ada satu pun sudut yang bisa menyembunyikanmu dari cintaku. Dan cepat atau lambat... kamu sendiri yang akan memohon padaku untuk tidak pernah melepaskanmu."

Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya kembali, berbalik dengan langkah mantap menuju mobil, meninggalkan Alisha yang berdiri mematung di koridor sunyi dengan jantung yang berdegup gila—bukan lagi karena rasa bersalah, melainkan karena rasa takut yang bercampur dengan debaran aneh yang mulai menyusup ke dalam hatinya yang paling dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!