NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Pertemuan Tanpa Hangat

Restoran itu tidak seperti tempat makan pada umumnya.

Bukan karena kemewahan yang berlebihan, melainkan karena ketenangan yang sengaja dibangun di setiap sudutnya. Dinding berlapis kayu gelap, lampu gantung berwarna hangat yang tidak terlalu terang, serta meja-meja yang diberi jarak cukup jauh seolah memastikan tidak ada percakapan yang saling mengganggu.

Diara melangkah masuk dengan langkah pelan.

Abaya hitam yang ia kenakan jatuh dengan rapi mengikuti gerak tubuhnya. Jilbab syar’i warna ivory membingkai wajahnya yang tenang, meski di dalam dirinya ada sesuatu yang tidak benar-benar stabil. Tangannya memegang tas kecil, sementara pandangannya menatap lurus ke arah meja paling dalam.

Keluarga Syahrezan sudah berada di sana.

Kinnas duduk dengan sikap lembut seperti biasa, sementara Biantara tampak tenang namun tegas, tatapannya memperhatikan setiap detail ruangan seperti seseorang yang terbiasa menilai situasi sebelum berbicara.

Di sisi lain meja, dua sosok yang berbeda dunia sedang menunggu.

Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut—Aishani—tersenyum kecil saat melihat kedatangan mereka. Di sampingnya, seorang pria dengan aura kuat dan berwibawa—Idrissa—mengangguk hormat singkat kepada Biantara.

Dan di ujung meja itu…

Jifan Artha Syahrezan.

Diara langsung tahu siapa dia tanpa perlu diperkenalkan.

Sikap duduknya tenang, punggung tegak, tangan bersandar ringan di meja. Jas hitamnya rapi tanpa cela. Wajahnya tampan secara objektif—kulit putih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal yang memberi kesan tajam. Rambutnya ditata comma hair yang membuat kesan dingin itu semakin jelas.

Namun yang paling mengganggu Diara bukan wajah itu.

Melainkan ekspresinya.

Datar.

Terlalu datar.

Seolah pertemuan ini bukan sesuatu yang penting.

Seolah dirinya hanya bagian kecil dari agenda yang bisa dilupakan setelah selesai.

Diara menahan napas singkat sebelum duduk di kursi yang telah disiapkan.

“Assalamualaikum,” ucap Kinnas lembut lebih dulu.

“Waalaikumsalam,” jawab Aishani dengan hangat, diikuti senyum yang tidak dibuat-buat.

Diara mengikuti, suaranya pelan tapi jelas. “Waalaikumsalam.”

Jifan tidak langsung menjawab. Baru setelah beberapa detik, suaranya keluar.

“Waalaikumsalam.”

Singkat.

Seperti formalitas yang wajib diucapkan, bukan sambutan.

Diara menangkap itu.

Dan entah kenapa, ia tidak menyukainya sejak detik pertama.

Percakapan awal dimulai dengan hal-hal ringan.

Aishani berbicara tentang cuaca, tentang perjalanan, tentang harapan agar pertemuan ini berjalan baik. Kinnas merespons dengan lembut, sesekali tersenyum kecil. Idrissa menambahkan beberapa kalimat sopan yang membuat suasana tetap terkendali.

Biantara, seperti biasa, tidak banyak berbicara. Namun setiap kalimatnya memiliki bobot yang membuat orang lain berhati-hati sebelum menanggapi.

Diara duduk dengan sikap tenang.

Tangannya berada di pangkuan, jari-jarinya saling bertaut. Ia menjaga ekspresi wajahnya tetap netral, sebagaimana ia diajarkan: tidak terlalu menunjukkan emosi, tetapi juga tidak terlihat dingin.

Namun di seberang meja, Jifan hampir tidak bergerak.

Ia mendengarkan.

Tapi tidak benar-benar terlibat.

Kadang hanya mengangguk kecil.

Kadang hanya menatap ke arah meja, bukan ke orang yang berbicara.

Diara memperhatikannya diam-diam.

Pria itu tidak tampak gugup.

Tidak tampak tertarik.

Dan yang paling aneh—tidak tampak peduli.

Seolah-olah perjodohan ini hanya sesuatu yang sudah selesai secara administratif, bukan sesuatu yang melibatkan hidup manusia.

“Jadi,” suara Idrissa akhirnya memecah suasana, “kita bisa mulai membahas rencana ke depan.”

Aishani mengangguk pelan. “Iya, mungkin kita bisa mulai dari mengenal satu sama lain lebih dalam dulu.”

Kinnas melirik Diara sekilas, lalu tersenyum kecil. “Kami menyerahkan semuanya pada proses yang baik.”

Biantara menambahkan, tegas namun tidak kasar. “Selama tidak ada paksaan dan tetap dalam batas yang diridhai, kami mengikuti.”

Semua mata kemudian perlahan mengarah pada Diara dan Jifan.

Hening singkat terjadi.

Jifan yang pertama berbicara.

“Tidak ada yang perlu dibahas terlalu jauh.”

Kalimat itu jatuh datar.

Tanpa emosi.

Tanpa penjelasan.

Idrissa menatapnya sekilas, seperti memperingatkan tanpa kata.

Aishani tetap tersenyum, meski sedikit memudar.

Diara menoleh pelan.

“Tidak perlu dibahas?” ulangnya, suaranya tenang.

Jifan akhirnya menatapnya untuk pertama kali.

Tatapan itu tajam, dingin, dan terlalu stabil.

“Ini hanya perjodohan,” jawabnya. “Semua akan berjalan sesuai kesepakatan keluarga.”

Diara menahan reaksi yang hampir keluar.

Ada sesuatu dalam cara bicara itu yang membuatnya tidak nyaman.

Bukan karena ketegasan.

Tetapi karena cara Jifan memposisikan manusia sebagai bagian dari kesepakatan, bukan sebagai perasaan.

“Kesepakatan keluarga,” Diara mengulang pelan, “bukan berarti menghilangkan proses mengenal.”

Jifan tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

“Proses tidak selalu diperlukan jika tujuannya sudah jelas,” katanya akhirnya.

Diara mengerutkan halus alisnya.

Kalimat itu terlalu dingin.

Terlalu efisien.

Terlalu… tidak manusiawi.

Percakapan mulai kembali dilanjutkan oleh orang tua mereka.

Namun suasana sudah berubah.

Lebih kaku.

Lebih berhati-hati.

Diara tidak lagi fokus pada makanan di depannya. Pikirannya tertahan pada sosok di seberang meja itu.

Jifan Artha Syahrezan.

Pria yang disebut-sebut dingin.

Ternyata benar adanya.

Tapi yang tidak ia sukai bukan dinginnya.

Melainkan sikapnya yang seolah-olah semua ini tidak memiliki nilai emosional sedikit pun.

Seolah pernikahan hanyalah kontrak bisnis.

Seolah dirinya hanyalah variabel dalam sebuah kesepakatan.

Diara mengangkat pandangannya lagi.

Dan tanpa sadar, matanya bertemu dengan mata Jifan.

Sekilas.

Tapi cukup lama untuk membuat keduanya sadar bahwa mereka saling memperhatikan.

Namun Jifan yang pertama memutus kontak itu.

Bukan dengan emosi.

Bukan dengan reaksi.

Hanya dengan mengalihkan pandangan seperti biasa.

Dan itu justru membuat Diara merasa… diabaikan.

Setelah beberapa waktu, percakapan mulai ditutup secara perlahan.

Keluarga besar mulai berdiri satu per satu.

Aishani tersenyum kepada Diara dengan hangat saat berpamitan. “Semoga kita bisa bertemu lagi dengan suasana yang lebih baik.”

Diara membalas dengan sopan. “Aamiin, terima kasih.”

Kinnas memegang tangan Diara sejenak, menguatkan tanpa kata.

Biantara hanya berkata singkat, “Kita pulang.”

Diara mengangguk.

Namun sebelum benar-benar berbalik, langkahnya terhenti sesaat.

Ia kembali menatap Jifan.

Pria itu juga sudah berdiri.

Tinggi, tenang, dan tetap dengan ekspresi yang tidak berubah sejak awal.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kesan hangat.

Hanya ketenangan yang terlalu jauh.

Diara tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang ingin bertanya.

Namun ia menahan diri.

Sebagai gantinya, ia hanya berkata pelan namun tegas,

“Kalau memang ini hanya kesepakatan, setidaknya kita tidak perlu memperlakukan ini seperti sesuatu yang tidak penting.”

Jifan menatapnya lagi.

Lebih lama dari sebelumnya.

Namun jawabannya tetap sama.

“Bagi saya, ini memang tidak emosional.”

Kalimat itu jatuh tanpa beban.

Tapi justru itulah yang membuat udara di antara mereka terasa lebih dingin.

Diara tidak menjawab lagi.

Ia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik.

Langkahnya menjauh.

Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak ia inginkan untuk ia akui terlalu cepat:

Pria itu tidak membencinya.

Tidak juga menyukainya.

Yang lebih buruk…

Pria itu belum benar-benar melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dirasakan.

Dan entah kenapa, itu justru lebih mengganggu daripada penolakan.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!