NovelToon NovelToon
OBSESSION OF THE SEVEN

OBSESSION OF THE SEVEN

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Harem
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.

Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.

Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.

Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario di Bawah Cahaya Purnama

Dua hari berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Althea. Setiap detik yang berdetak di jam dinding kamarnya terasa seperti langkah kaki malaikat maut yang semakin mendekat.

Di bawah pengawasan ketat ratusan lensa kamera J-Hope yang tak kasat mata, Althea terpaksa berpura-pura patuh. Dia tetap pergi ke ruang arsip, tetap menghabiskan sarapan buatan Jin yang terasa hambar di lidahnya, dan tetap memakai jas Jimin yang sengaja ia biarkan melekat di bahunya sebagai tameng agar pria-pria lain tidak terlalu mendekat.

Namun di dalam otaknya, sebuah rencana pelarian nekat sedang dirajut.

Malam yang ditakutkan itu akhirnya tiba. Bulan purnama bersinar sempurna di langit malam, memancarkan cahaya perak yang begitu terang, menembus kaca-kaca jendela mansion dan menyinari koridor seperti panggung teatrikal.

Pukul delapan malam, pintu kamar Althea diketuk. Bukan ketukan kasar, melainkan ketukan berirama tiga kali yang sangat anggun.

Saat Althea membuka pintu, Kim Taehyung sudah berdiri di sana. Pria itu tidak mengenakan kemeja berlumur cat lagi, melainkan setelan mewah berupa kemeja sutra hitam dengan sulaman benang emas berbentuk sulur mawar di kerah bajunya. Ketampanan klasiknya malam ini terlihat begitu magis, sekaligus mematikan.

"Malam yang indah untuk sebuah keabadian, Althea ku," Taehyung membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya yang panjang dengan jemari lentik yang terbuka. "Semua orang sudah menunggumu di galeri seni. Singgasanamu sudah siap."

Althea menelan ludah, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. Dia meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Taehyung yang terasa sedingin es. "Mari pergi, Tuan Taehyung."

Taehyung menuntun Althea menyusuri koridor lantai dua sayap timur yang kini telah diterangi oleh ratusan lilin putih di sepanjang dinding. Suasana koridor itu terasa seperti lorong menuju altar suci atau tempat pembantaian psikologis.

Ketika pintu ganda galeri seni terbuka, Althea bisa melihat ketujuh pria itu sudah berdiri melingkar di tengah ruangan.

Di pusat lingkaran mereka, sebuah kursi kayu besar yang diukir menyerupai singgasana gotik telah diletakkan. Di sekeliling kursi itu, ratusan kelopak mawar hitam berserakan di atas lantai, memancarkan aroma wewangian yang pekat dan memabukkan.

Di belakang singgasana itu, sebuah kanvas raksasa yang masih ditutupi kain putih berdiri kokoh.

"Kau tepat waktu, Taehyung ," Rm bersuara dari kegelapan sudut ruangan. Dia melangkah maju, diikuti oleh Jin, Suga, J-Hope, Jimin, dan Jungkook. Mereka semua memakai setelan jas hitam formal yang senada, membuat mereka tampak seperti sekte pemujaan yang siap mengklaim objek obsesi mereka.

"Duduklah, Althea," Jin tersenyum sangat manis, namun matanya terpaku pada gaun beludru hijau tua gaun yang sama seperti di foto lama mereka yang malam ini sengaja Althea pakai atas permintaannya. "Biarkan kami mengabadikan kecantikanmu malam ini."

Althea berjalan perlahan menuju singgasana tersebut. Di bawah tatapan intens dari tujuh pasang mata yang lapar akan kehadirannya, dia mendudukkan diri. Tangannya mencengkeram erat sandaran kursi kayu yang dingin.

Jungkook melangkah mendekat, berlutut di sebelah kanan kursi Althea, lalu meletakkan tangannya di atas lutut gadis itu dengan cengkeraman yang posesif.

"Jangan takut. Setelah malam ini, tidak akan ada satu pun orang luar yang bisa menyentuhmu lagi. Kau aman di sini, bersamaku... bersama kami."

Taehyung berjalan ke arah kanvas raksasa. Dengan satu gerakan dramatis, dia menarik kain putih yang menutupi kanvas tersebut.

Napas Althea tercekat. Lukisan itu hampir selesai. Di atas kanvas, gambar dirinya yang sedang duduk di singgasana dikelilingi oleh siluet ketujuh pria berjas hitam tergambar dengan sangat detail dan hidup. Hanya ada satu bagian yang belum diwarnai: bagian jantung di dada lukisan Althea.

Taehyung mengambil palet dan kuasnya, mencelupkan ujung kuas ke dalam cat warna merah pekat seperti darah. "Satu sentuhan terakhir pada warna merah ini, dan kau akan menjadi milik kami selamanya, Althea."

Saat Taehyung mengangkat kuasnya, Althea tahu inilah satu-satunya kesempatan yang ia miliki.

"Tunggu," suara Althea memecah keheningan yang khusyuk itu. Dia menatap ketujuh pria itu bergantian, memaksakan sebuah senyuman manis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya—sebuah senyuman yang persis seperti anak perempuan di foto tahun 2010.

"Sebelum Anda menyelesaikan lukisan itu, Tuan Taehyung... bolehkah saya meminta secangkir teh hangat dari Tuan Jin? Tenggorokanku sangat kering karena gugup."

Permintaan sederhana dan senyuman itu seketika memicu getaran aneh di dalam ruangan. Efek dari "trauma masa lalu" mereka mendadak teraktifkan kembali.

"Tentu saja, Malaikat Kecil. Aku akan menyiapkannya khusus untukmu," Jin langsung menjawab dengan patuh, insting merawatnya mengalahkan akal sehatnya. Dia berbalik dengan cepat menuju pintu keluar.

"Aku akan menemanimu, Jin *Hyung*. Aku ingin memastikan tidak ada debu yang masuk ke tehnya," Jimin menyela, tidak rela jika Jin mendapatkan poin lebih dari Althea malam itu. Dia ikut melangkah keluar dari galeri.

Melihat fokus mereka yang mulai terpecah akibat kecemburuan, Althea melirik ke arah J-Hope yang sedang memegang ponselnya.

"Tuan J-Hope... lampu di sudut kiri atas itu agak terlalu terang, membuat mataku silau. Bisakah Anda mematikannya sedikit lewat sistem mu?"

J-Hope terkekeh manis, merasa tersanjung karena Althea meminta bantuannya. Dia menunduk, memfokuskan seluruh perhatian jemarinya pada layar ponsel lipatnya untuk mengatur pencahayaan ruangan melalui aplikasi keamanan, mengabaikan pengawasan pada kamera lainnya selama beberapa detik.

Pada detik itulah, saat Jin dan Jimin berada di luar lorong, J-Hope sedang menatap ponsel, dan Taehyung serta Suga sedang terpaku pada palet cat... Althea melirik ke arah Jungkook yang berada paling dekat dengannya.

Althea dengan sengaja menjatuhkan buku tua yang sejak tadi dipegangnya ke lantai, tepat di dekat kaki Jungkook.

*BUK.*

Saat Jungkook refleks menunduk untuk mengambil buku tersebut, Althea menarik sebuah pin rambut perak tajam yang sudah ia sembunyikan di balik lengan gaunnya. Tanpa ragu, dengan sisa keberanian terakhirnya, Althea menusukkan ujung pin rambut itu kuat-kuat ke arah kabel utama papan 'synthesizer' dan saklar lampu cadangan di dekat dinding belakang singgasana yang berhasil ia pelajari dari dokumen keamanan kemarin.

Zap! PRANG!...

Percikan api listrik meledak dari saklar utama yang korslet. Seketika itu juga, seluruh aliran listrik di sayap timur padam total. Ruang galeri seni yang semula terang benderang langsung terjerumus ke dalam kegelapan yang pekat.

"Sialan! Kameraku mati!" bentak J-Hope di tengah kegelapan.

"Jungkook! Amankan Althea!" teriak Rm dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh kepanikan.

Namun, Althea tidak menunggu. Begitu lampu padam, dia langsung melompat dari singgasana, mengabaikan rasa perih di tangannya yang terkena percikan api, dan berlari sekencang mungkin di dalam kegelapan menuju pintu rahasia di balik pintu utilitas tua yang terhubung langsung dengan saluran pembuangan air taman labirin belakang.

Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki yang masif dan teriakan kemarahan dari ketujuh pria yang menyadari bahwa buruan mereka telah lepas dari sangkar emas malam itu.

 

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!