NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Rumah yang Terlalu Sunyi

Mobil Shaka berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri di kawasan tenang, tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Jenna menatap rumah itu dari balik kaca mobil.

Rumah itu tidak sebesar kediaman keluarga Kalandra. Tidak juga semegah rumah keluarga Nirankara. Namun justru karena itu, rumah tersebut terasa lebih hangat. Bangunannya bergaya modern minimalis, dengan dinding putih tulang, aksen kayu gelap, dan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk dengan leluasa.

Halaman depannya luas, dipenuhi rumput hijau yang terawat. Di sisi kanan rumah, Jenna melihat taman bunga kecil yang tertata rapi. Ada mawar putih, lavender, krisan, dan beberapa bunga berwarna lembut yang tumbuh indah di sana.

Di belakang rumah, samar-samar terlihat kebun sayur kecil dengan bedengan yang tersusun rapi.

Jenna terdiam cukup lama.

Ia tidak menyangka rumah baru mereka akan memiliki taman bunga dan kebun sayur.

Shaka mematikan mesin mobil, lalu menoleh sekilas ke arah Jenna.

“Kita sudah sampai.”

Jenna mengangguk pelan.

“Iya.”

Shaka keluar lebih dulu, kemudian berjalan ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk Jenna.

Jenna turun dengan hati-hati. Beberapa pekerja rumah sudah menunggu di depan pintu. Mereka menyambut Shaka dan Jenna dengan sopan, lalu membantu membawa barang-barang dari mobil.

Jenna masih menatap taman bunga di samping rumah.

Shaka menyadarinya.

“Taman itu sudah ada sejak rumah ini selesai disiapkan,” ucapnya datar.

Jenna menoleh sedikit.

“Mas Shaka yang meminta dibuatkan taman bunga?”

Shaka diam sesaat.

“Iya.”

Jenna menatapnya lebih lama.

“Kenapa?”

Shaka tidak langsung menjawab. Ia menatap taman itu sebentar, lalu berkata singkat, “Saya pikir kamu akan menyukainya.”

Jenna terdiam.

Kalimat itu terdengar datar, tanpa nada manis, tanpa senyum. Tetapi tetap saja, ada sesuatu yang bergerak kecil di dadanya.

Ia segera menahannya.

Tidak.

Ia tidak boleh mudah luluh.

Laki-laki itu sudah berkata dengan jelas bahwa ia menikah karena keinginan ibunya. Ia juga sudah membuat batas, seolah Jenna adalah seseorang yang harus tahu diri agar tidak terlalu masuk ke hidupnya.

Mungkin taman bunga ini hanya bagian dari tanggung jawabnya.

Bukan perhatian.

Bukan kasih sayang.

Hanya tanggung jawab.

“Terima kasih,” ucap Jenna pelan.

Shaka mendengar nada datar itu.

Ia ingin bertanya apakah Jenna benar-benar menyukai taman itu. Namun kalimat itu berhenti begitu saja di tenggorokannya.

Mereka masuk ke dalam rumah.

Interior rumah itu hangat dan rapi. Ruang tamunya tidak terlalu luas, tetapi nyaman. Sofa krem menghadap meja kayu rendah. Beberapa tanaman indoor diletakkan di sudut ruangan. Ruang makan berada tidak jauh dari dapur terbuka yang bersih dan tertata.

Jenna memperhatikan setiap sudut dalam diam.

Rumah itu indah.

Sederhana, tetapi dipikirkan dengan baik.

Namun tetap saja, ada rasa asing yang memenuhi hatinya.

Ini rumahnya sekarang.

Rumah yang akan ia tinggali bersama suaminya.

Suami yang bahkan belum benar-benar memberinya ruang untuk merasa aman.

“Saya tunjukkan rumahnya,” ujar Shaka.

Jenna mengangguk.

Shaka berjalan lebih dulu, memperlihatkan ruang tamu, ruang makan, dapur, ruang keluarga kecil, dan ruang kerja di lantai bawah. Setelah itu, ia membuka pintu kaca yang mengarah ke halaman belakang.

Dari sana, kebun sayur terlihat lebih jelas.

Ada bayam, selada, cabai, tomat, daun bawang, dan beberapa tanaman herbal. Semua tersusun rapi, seolah benar-benar disiapkan untuk seseorang yang menyukai kehidupan tenang.

Jenna berhenti cukup lama.

“Kebun sayur juga?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Mas Shaka suka berkebun?”

“Tidak.”

Jenna menoleh.

Shaka menjawab tanpa menatapnya, “Saya hanya berpikir kamu mungkin ingin punya ruang seperti ini.”

Jenna kembali diam.

Lagi-lagi, hatinya bergerak.

Taman bunga.

Kebun sayur.

Rumah yang tidak terlalu besar.

Lokasi yang tidak terlalu jauh dari keluarganya.

Semua itu terasa seperti sesuatu yang disiapkan dengan mempertimbangkan dirinya.

Tapi kenapa laki-laki yang sama bisa begitu dingin kepadanya?

Kenapa Shaka bisa menyiapkan rumah yang nyaman untuknya, tetapi juga membuatnya merasa tidak boleh terlalu dekat?

Jenna tidak mengerti.

Dan karena tidak mengerti, ia memilih diam.

Setelah melihat lantai bawah, mereka naik ke lantai dua.

Di sana ada beberapa kamar. Satu kamar tamu, satu ruang keluarga kecil, satu ruangan kosong yang bisa dijadikan ruang kerja pribadi, dan satu kamar utama di ujung lorong.

Shaka berhenti di depan kamar utama.

“Ini kamar kita.”

Kata kita membuat Jenna menegang.

Shaka membuka pintu.

Kamar itu luas, bersih, dan hangat. Ranjang besar berada di tengah ruangan dengan seprai putih polos. Di sisi kanan ada meja rias sederhana, sementara di sisi kiri ada lemari besar yang sudah disiapkan untuk pakaian mereka. Jendela kamar menghadap langsung ke taman bunga di samping rumah.

Di atas meja kecil dekat jendela, ada vas berisi bunga putih segar.

Jenna menatap kamar itu beberapa detik.

Lalu ia mundur satu langkah.

“Jenna tidak akan tidur di sini.”

Shaka menoleh.

“Apa?”

Jenna menjaga suaranya tetap tenang.

“Jenna akan menempati kamar lain.”

Rahang Shaka mengeras tipis.

“Kenapa?”

Jenna menatapnya. Matanya tenang, tetapi tidak lagi sehangat dulu.

“Takut Jenna melewati batas.”

Shaka terdiam.

Kalimat itu langsung menghantamnya.

Batas.

Kata yang ia gunakan sendiri setelah akad.

Kata yang ia ucapkan dengan dingin kepada Jenna.

Kini Jenna mengembalikannya dengan cara yang sangat tenang.

“Saya tidak bermaksud begitu,” ucap Shaka rendah.

“Tapi Mas sudah mengatakannya.”

Shaka diam.

Jenna melanjutkan, “Mas Shaka tidak ingin hidupnya diatur. Tidak ingin urusannya dicampuri. Tidak ingin Jenna merasa punya hak terlalu banyak. Jadi lebih baik Jenna tahu diri dari awal.”

“Jenna.”

“Jenna akan tinggal di kamar tamu.”

Shaka menatapnya dalam.

“Kita sudah menikah.”

Jenna tersenyum tipis dari matanya, tetapi senyum itu tidak terasa hangat.

“Jenna tahu. Tapi Mas sendiri yang membuat pernikahan ini terasa seperti kesepakatan tanggung jawab, bukan rumah tangga.”

Shaka tidak langsung menjawab.

Karena Jenna benar.

Dan kebenaran itu terasa tidak nyaman.

Ia seharusnya menjadi pihak yang dingin. Seharusnya ia yang menjaga jarak. Seharusnya Jenna yang mencoba mendekat, sementara dirinya menolak.

Namun kini keadaan berbalik.

Jenna tidak marah.

Tidak menangis.

Tidak menuntut.

Ia hanya diam, menjauh, dan menjaga batas yang Shaka ciptakan sendiri.

Anehnya, itu membuat Shaka tidak tenang.

“Kamar tamu belum tentu nyaman,” ucap Shaka.

“Tidak apa-apa.”

“Barang-barangmu sudah diletakkan di kamar ini.”

“Nanti Jenna pindahkan sendiri.”

“Akan saya minta staf memindahkan.”

“Tidak perlu. Jenna bisa sendiri.”

Nada Jenna tetap datar.

Shaka menghela napas pelan. Untuk beberapa detik, ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya.

Kemudian matanya bergerak ke arah pintu kamar yang masih terbuka.

Di luar sana, beberapa pekerja rumah masih membantu membereskan barang-barang. Ada dua asisten rumah tangga yang baru saja menata koper di dekat ruang keluarga atas. Mereka memang tidak sedang mendengarkan, tetapi keberadaan mereka cukup membuat Shaka berpikir cepat.

“Tidak bisa,” kata Shaka akhirnya.

Jenna mengangkat wajah.

“Kenapa tidak bisa?”

“Karena pembantu di rumah ini bisa melihat.”

Jenna mengernyit sedikit. “Melihat apa?”

“Melihat kalau kita tidur terpisah.”

Jenna diam.

Shaka menatapnya dengan wajah tetap datar.

“Kalau mereka tahu, cepat atau lambat Mama juga akan tahu.”

Jenna masih terdiam, mencoba mencerna alasan itu.

Shaka melanjutkan, “Dan kalau Mama tahu, dia akan datang ke sini. Mungkin menangis. Mungkin bertanya macam-macam. Mungkin menelepon Ibu Zahra. Setelah itu dua keluarga akan tahu bahwa di hari pertama menikah, kita sudah tidur terpisah.”

Wajah Jenna berubah sedikit.

Bukan karena takut kepada Aruna atau Zahra, tetapi karena ia tidak ingin membuat orang tua mereka khawatir. Ia tidak ingin masalah rumah tangganya menjadi pembicaraan keluarga besar bahkan sebelum mereka belajar menjalaninya.

Shaka melihat perubahan itu.

“Jadi mau tidak mau, kamu tetap satu kamar dengan saya.”

Jenna menatapnya.

“Mas Shaka memakai alasan Mama?”

“Ya.”

Jawaban itu terlalu jujur sampai Jenna hampir tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Shaka menambahkan, “Kamu tidak perlu khawatir. Saya tidak akan melakukan apa pun. Sama seperti semalam. Kamu bisa tidur di ranjang. Kalau kamu tidak nyaman, saya tidur di sofa kamar.”

Jenna mengalihkan pandangan ke arah sofa kecil di sudut kamar.

Sofa itu memang ada, tetapi tidak terlalu besar. Jelas tidak nyaman untuk tubuh Shaka yang tinggi.

“Mas mau tidur di sofa lagi?”

“Kalau itu membuatmu lebih tenang.”

Jenna terdiam.

Ada bagian dari dirinya yang ingin tetap menolak.

Namun alasan Shaka tidak sepenuhnya salah.

Kalau ia memaksa pindah kamar, para pekerja rumah pasti akan menyadari. Dan dalam rumah sebesar keluarga Kalandra, kabar kecil bisa bergerak lebih cepat dari yang diinginkan. Aruna bisa tahu. Zahra bisa khawatir. Abizar bisa marah. Reza dan Aditya bisa ikut bertanya.

Jenna tidak ingin itu.

Masalah ini masalah rumah tangganya.

Ia sudah memutuskan untuk tidak membawanya keluar.

Maka ia menarik napas pelan.

“Baik,” ucapnya akhirnya.

Shaka menatapnya.

“Jenna akan tetap di kamar ini.”

Ada sesuatu yang terasa lega di dada Shaka, meski ia tidak menunjukkannya.

“Tapi,” lanjut Jenna, membuat Shaka kembali menatapnya serius, “Jenna tetap ingin ada batas.”

Shaka mengangguk singkat.

“Saya mengerti.”

“Jenna tidur di sisi kanan. Mas Shaka di sisi kiri atau di sofa. Terserah Mas.”

“Baik.”

“Dan Jenna tidak ingin dipaksa untuk membuka cadar atau jilbab sebelum Jenna siap.”

Shaka menatapnya cukup lama.

Ada sedikit rasa sesak di dadanya ketika mendengar kalimat itu. Bukan karena ia merasa ditolak, tetapi karena ia sadar Jenna belum merasa aman bahkan di hadapannya sebagai suami.

Dan ia tahu, itu salahnya.

“Saya tidak akan memaksa,” ucap Shaka pelan.

Jenna mengangguk.

“Terima kasih.”

Lagi-lagi kata itu.

Sopan.

Datar.

Berjarak.

Shaka mulai membenci suara terima kasih itu, bukan karena katanya buruk, tetapi karena setiap kali Jenna mengucapkannya, ia merasa semakin jauh dari perempuan itu.

Jenna berjalan masuk ke kamar. Ia menatap sekeliling sebentar, lalu mulai membuka koper kecilnya.

Shaka berdiri di dekat pintu, memperhatikannya tanpa bicara.

Seharusnya ia senang.

Jenna setuju satu kamar dengannya.

Masalah di depan pekerja rumah selesai.

Aruna tidak akan curiga.

Zahra tidak akan khawatir.

Keluarga mereka tidak akan bertanya macam-macam.

Namun tetap saja, Shaka tidak merasa menang.

Karena Jenna berada di kamar itu bukan karena ingin.

Melainkan karena terpaksa menjaga keadaan.

Ia berjalan ke jendela dan menatap taman bunga di bawah sana.

Seharusnya dia yang dingin kepada Jenna.

Seharusnya dia yang menciptakan jarak.

Seharusnya dia yang membuat perempuan itu mengerti bahwa pernikahan ini tidak akan berjalan seperti kisah cinta yang manis.

Tetapi kenapa justru sekarang Jenna yang mendiamkannya?

Kenapa diam Jenna terasa lebih mengganggu daripada semua pertanyaan yang mungkin ia ajukan?

Kenapa ketika Jenna menjaga batas yang ia minta, Shaka justru merasa tidak nyaman?

Di belakangnya, Jenna memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari dengan gerakan tenang. Tidak ada keluhan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada usaha membuka percakapan.

Hanya diam.

Diam yang sopan.

Diam yang dingin.

Diam yang membuat Shaka sadar bahwa jarak bukan hanya bisa dibuat dengan kata-kata kasar.

Jarak juga bisa dibuat dengan kesabaran seseorang yang memilih berhenti berharap.

Shaka mengencangkan rahangnya.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah oleh aturan yang ia buat sendiri.

Dan di kamar utama rumah baru mereka, di antara ranjang besar, vas bunga putih, dan dua koper yang baru dibuka, kehidupan rumah tangga Shaka dan Jenna dimulai bukan dengan kehangatan.

Melainkan dengan satu kesepakatan sunyi.

Mereka akan tinggal di kamar yang sama.

Tetapi belum tentu saling dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!