NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Atmosfer sakral di dalam Katedral Santo Wijaya mendadak lenyap, digantikan oleh ketegangan pekat yang membuat bulu kuduk Milly meremang. Genggaman tangan Arkan pada jam tangannya mengencang, sementara tatapan matanya langsung berubah setajam silet saat menoleh ke arah Bara.

"Berapa banyak titik pergerakan yang terdeteksi, Bara?" tanya Arkan, suaranya beralih ke nada rendah yang dingin dan penuh otoritas.

"Tiga kendaraan tak dikenal terparkir di area buta kamera pengawas belakang, Tuan," jawab Bara cepat sembari jemarinya menari di atas layar gawai taktisnya. "Sinyal radio mereka menggunakan enkripsi militer yang biasa digunakan oleh tentara bayaran bayaran sisa-sisa Wijaya. Mereka tidak berniat melakukan negosiasi."

Milly menelan ludah, refleks melangkah mundur hingga punggungnya nyaris menabrak altar batu di belakangnya. "Tuan... mereka tahu kita ada di sini? Bagaimana bisa?"

Arkan tidak menjawab pertanyaan Milly. Ia bergerak cepat, menarik pergelangan tangan Milly dan menyembunyikan tubuh gadis itu di balik punggung tegapnya. "Keluarga Wijaya sedang sekarat, Milly. Dan tikus yang terpojok akan melakukan apa saja untuk menggigit sebelum mereka mati."

Pria itu kemudian menatap lurus ke arah pintu masuk katedral yang setengah terbuka. "Bara, kunci semua akses masuk utama. Aktifkan protokol pembersihan perimeter. Aku akan membawa Milly lewat jalur evakuasi bawah tanah."

"Siap, Tuan," Bara langsung menempelkan jemarinya ke interkom di telinganya, memberikan perintah sandi kepada seluruh personel yang berjaga di luar.

Belum sempat mereka melangkah, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu belakang katedral, disusul oleh gema tembakan yang diredam. Langkah kaki yang terburu-buru mulai terdengar mendekat ke arah aula utama.

"Mereka sudah masuk lewat koridor pastori!" seru salah satu anak buah Bara yang berjaga di dekat sayap kiri katedral.

"Bergerak, Milly!" perintah Arkan tegas. Ia menarik Milly berlari menuju sebuah pintu kayu kecil yang tersembunyi di balik dekorasi altar.

Milly berusaha menyamakan langkah besarnya dengan Arkan, mengabaikan rasa perih di kakinya akibat sepatu yang ia kenakan. Kacamata bulatnya berguncang hebat, hampir terlepas jika ia tidak menahannya dengan satu tangan bebasnya. Di tengah kepanikan itu, ia bisa merasakan betapa erat dan protektifnya cengkeraman tangan Arkan pada jemarinya. Pria itu sama sekali tidak melepaskannya.

Arkan mendorong pintu kayu tersebut, memperlihatkan tangga batu sempit yang menurun menuju kegelapan lorong bawah tanah katedral sebuah jalur kuno yang sengaja dipertahankan untuk situasi darurat seperti ini.

"Turun duluan, Milly. Pegangan pada dinding," ucap Arkan, matanya tetap waspada mengawasi koridor di belakang mereka.

Milly melangkah turun dengan hati-hati namun cepat. Begitu Arkan masuk di belakangnya, pria itu langsung menutup pintu baja berlapis kayu tersebut dan memutar kunci pengaman ganda dengan gerakan presisi tanpa cela.

Di dalam lorong yang hanya diterangi oleh lampu remang-remang darurat, Arkan menarik napas dalam-dalam, merapikan kemeja linen hitamnya yang sedikit kusut akibat gerakan mendadak tadi. Ia menatap Milly yang masih terengah-engah di undakan tangga.

"Kau terluka, Gadis Ceroboh?" tanya Arkan, suaranya melembut satu desibel, meski wajahnya tetap datar.

Milly menggeleng cepat, membetulkan letak kacamatanya dengan tangan gemetar. "T-Tidak, Tuan. Saya aman. Tapi... bagaimana dengan keluarga saya di paviliun barat mansion? Mereka tidak dalam bahaya, kan?"

Arkan berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka di dalam lorong yang sempit. Ia mengulurkan tangannya, membetulkan posisi kacamata bulat Milly yang miring dengan gerakan lembut yang sangat kontras dengan situasi mencekam di atas mereka.

"Mansion utama memiliki sistem pertahanan lapis tiga, Milly. Jangankan sisa-sisa pengikut Wijaya, bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa menembus paviliun barat tanpa persetujuanku," ucap Arkan tenang, matanya mengunci pandangan Milly. "Fokus saja pada keselamatan dirimu sendiri. Ingat kontrak kita? Jika kau terluka, efisiensi sandiwara ini akan hancur, dan aku tidak suka investasi waktuku sia-sia."

Milly menatap sepasang mata elang di hadapannya. Di balik kata-kata bernada bisnis dan kalkulasi dingin itu, ia tahu Arkan sedang berusaha menenangkan badai ketakutan di dalam dirinya.

"Terima kasih, Tuan Perfeksionis," bisik Milly pelan, akhirnya bisa mengulas senyum tipis di tengah kegelapan lorong bawah tanah.

Derap langkah kaki mereka bergema samar di sepanjang lorong bawah tanah yang lembap. Meskipun tempat itu asing dan mencekam, keberadaan Arkan yang berjalan satu langkah di depannya entah mengapa membuat debaran panik di dada Milly perlahan mereda. Pria itu menembus kegelapan dengan ketenangan absolut, seolah seluruh skenario terburuk ini sudah masuk ke dalam salah satu algoritma di kepalanya.

"Kita hampir sampai di titik ekstraksi," ucap Arkan memecah keheningan, matanya melirik sekilas ke arah gawai taktis di pergelangan tangannya. "Bara baru saja mengirim laporan. Tiga menit lagi, kendaraan evakuasi cadangan akan merapat di pintu keluar selokan kota dekat vegetasi luar katedral."

Milly mempercepat langkah kecilnya, menatap punggung lebar Arkan. "Tuan... jika area seketat katedral ini saja bisa bocor, apakah itu berarti ada mata-mata di dalam internal Mahendra Group?"

Arkan menghentikan langkahnya mendadak, membuat Milly nyaris menabrak punggungnya untuk yang kesekian kali. Pria itu berbalik, sorot matanya berkilat tajam di bawah remang lampu darurat.

"Tidak ada yang bisa bocor dari sistemku, Milly. Kecuali..." Arkan menjeda kalimatnya, merapatkan tubuhnya hingga bayangannya mengurung Milly di dinding lorong. "...jika kebocoran itu adalah bagian dari umpanku untuk memancing seluruh sisa tikus Keluarga Wijaya keluar ke permukaan."

Milly terbelalak, menatap tidak percaya pada pria di hadapannya. "Jadi... Anda sengaja menjadikan gladi bersih ini sebagai umpan? Anda menaruh nyawa saya dan nyawa Anda sendiri dalam risiko hanya untuk sebuah kalkulasi?!"

Arkan tidak membantah. Senyuman tipisnya yang dingin kembali terkembang. "Persentase keberhasilan eliminasi ancaman meningkat hingga sembilan puluh delapan persen jika kita memancing mereka di medan yang sudah kita kuasai penuh seperti katedral ini. Dan seperti yang kubilang, kau berada di bawah yurisdiksiku. Aku tidak akan membiarkan 'aset' berhargaku rusak sebelum kontrak sembilan tahun kita selesai."

Milly mendengus sebal, rasa haru yang sempat muncul beberapa menit lalu menguap begitu saja digantikan oleh kejengkelan akibat logika kejam sang CEO. "Anda benar-benar monster korporat kaku tanpa perasaan, Tuan Arkananta!"

Sebuah pintu besi berkarat di ujung lorong didorong paksa oleh Arkan, membawa mereka keluar ke area vegetasi rimbun yang tertutup kabut tipis pagi. Sebuah mobil SUV lapis baja berwarna hitam legam sudah menyala dengan dua anak buah Bara yang berdiri siaga di samping pintu.

Tanpa membuang waktu, Arkan menuntun Milly masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara sebelum ikut masuk dan menutup pintu dengan bantingan tegas. Begitu mobil melaju membelah jalanan setapak yang sepi, Arkan langsung membuka kembali buku catatan kecil bersampul kulit hitam miliknya.

Milly yang masih mencoba mengatur napas di kursi penumpang melirik sinis ke arah buku itu. "Apalagi sekarang, Tuan? Mau menambah denda draf kontrak karena saya sempat mengumpat Anda di dalam lorong tadi?"

Arkan menarik pena mewahnya, mengabaikan sindiran Milly, lalu menuliskan beberapa baris rumus baru di atas kertas.

"Kau berhasil menuntaskan jalur evakuasi bawah tanah sepanjang empat ratus meter dalam waktu empat menit dua belas detik. Detak jantungmu memang tidak stabil, tapi kau tidak pingsan atau memperlambat pergerakan taktisku," ujar Arkan dengan nada datar, seolah sedang membaca laporan performa tahunan karyawan.

Ia mengarahkan buku catatan itu ke hadapan Milly, memperlihatkan deretan angka yang baru saja ia coret:

Arkan menarik kembali bukunya dan memasukkannya ke dalam saku jas. "Dua bulan potongan langsung atas kontribusimu menjadi umpan yang kooperatif. Sisa kontrakmu kini berada di bawah angka sembilan tahun."

Milly menatap tak percaya pada angka baru itu, lalu beralih menatap wajah tampan Arkan yang kini kembali sibuk memantau tablet taktisnya. Di balik segala kekakuan, ancaman denda, dan skema umpan yang berbahaya, pria ini baru saja memotong masa kontraknya lagi dengan alasan yang dicari-cari.

"Delapan tahun sepuluh bulan ya..." gumam Milly pelan, menyandarkan punggungnya di kursi kulit mobil yang empuk. Ia menatap keluar jendela, ke arah jalanan kota yang mulai ramai. "Ternyata, menghadapi tentara bayaran di katedral jauh lebih mudah diprediksi daripada memahami jalan pikiran Anda, Tuan Presdir."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!