Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Besar
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Wira keluar menuju ruang tamu.
Di atas meja, sudah terhidang makanan yang masih hangat dan mengepulkan uap. Hanya terlihat Sinta saja yang sudah menunggunya.
"Di mana kakek?" tanya Wira seusai pandanganya menyapu ruangan mencari keberadaan Ki Anom.
Sinta memandang Wira tanpa berkedip. Ketampanan pemuda itu benar-benar sudah membuatnya terpikat. Wira yang dulu sering dilihatnya di pasar dan berpenampilan layaknya seorang gelandangan, ternyata memiliki wajah yang sangat tampan.
Cukup lama gadis cantik itu menikmati ketampanan Wira sampai suara pemuda itu mengagetkannya, "Ada yang salah denganku? Apa wajahku ini membuatmu teringat seseorang?"
"Anu ... Ah, tidak. Ayo kita makan selagi hangat," balas Sinta mengalihkan pertanyaan Wira. Gadis cantik itu merasa malu karena tanpa sadar telah memandang wajah pemuda tampan itu begitu lama.
Setelah makan, mereka terlibat pembicaraan panjang sambil menunggu kedatangan Ki Anom yang sedang keluar.
Hingga menjelang malam hari, sesepuh desa tersebut sudah kembali ke rumah. Dia menjelaskan bahwa baru saja menyelesaikan persoalan desa setelah meninggalnya Subarda. Ki Anom juga menyampaikan permintaan maaf penduduk desa karena telah terpengaruh oleh Subarda yang telah memfitnah kedua orang tua Wira hingga mengakibatkan kematian mereka berdua.
Tak lupa pula dia juga memberitahu Wira bahwa rumah dan harta Subarda berhak untuk dia miliki. Namun Wira dengan tegas menolaknya. Pemuda itu malah meminta kepada Ki Anom untuk membagi harta Subarda dan memberikannya kepada penduduk desa yang hidupnya kekurangan.
Keesokan paginya, Wira berpamitan kepada Ki Anom dan Sinta untuk kembali ke gubuk Arisuta.
"Kakek, Sinta, aku harus kembali menemui Kakek Arisuta. Beliau menyuruhku segera kembali setelah menyelesaikan masalahku."
"Apa kau tidak akan kembali ke sini?" tanya Sinta. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca karena akan segera berpisah dengan pemuda yang sudah menarik rasa simpatinya.
"Aku nanti akan kembali ke sini setelah menemui kakek Arisuta," jawab Wira. Senyum hangatnya mengembang di bibir, dan itu membuat gadis cantik tersebut semakin sulit untuk berpisah dengannya.
"Kakek, Sinta, aku berangkat sekarang!" Wira melangkah keluar dari rumah Ki Anom. Sepanjang jalan desa, setiap penduduk yang berpapasan dengannya selalu menundukkan kepalanya. Rasa bersalah mereka terlihat begitu besar kepada pemuda tampan itu.
Beberapa lama kemudian, Wira sudah sampai di gubuk kecil Arisuta. Dia langsung masuk ke dalam gubuk itu untuk mencari gurunya tersebut. Namun Arisuta sudah tidak terlihat lagi di tempat itu.
Wira menduga, lelaki tua yang mengajarinya ilmu kanuragan itu sedang ada urusan di luar. Dia pun berinisiatif untuk menunggu kedatangan Arisuta.
Namun sampai keesokan harinya, Arisuta tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Wira terlihat mulai gelisah. Dia berjalan mondar mandir di dalam gubuk kecil berulang kali.
Tanpa sengaja, matanya melihat sebuah gulungan kain yang berada di atas sebuah meja. Merasa penasaran, pemuda itupun mengambilnya dan membukanya.
Pemuda itu terkejut begitu tahu bahwa gulungan kain itu adalah sebuah surat dari Arisuta yang ditujukan kepadanya.
'Cucuku Wira, saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah berada di tempat yang jauh. Kakek minta maaf tidak bisa berpamitan langsung kepadamu. Mungkin cara seperti ini saja yang bisa membuat kakek tidak terlalu menderita harus berpisah denganmu.
Wira, ada sebuah rahasia besar yang harus kau ketahui. Sebenarnya sudah sejak kedua orang tuamu meninggal, kakek mengikuti kehidupanmu. Kau mungkin tidak tahu, tapi Kakek setiap hari mengamati perkembanganmu, hingga akhirnya kakek menyelamatkanmu'
Pemuda tampan itu berhenti membaca surat yang dipegangnya. Pikirannya kembali kepada saat-saat dia hidup sendiri sepeninggal kedua orang tuanya. Sebagai anak dari pasangan yang dituduh pencuri, tidak ada satupun penduduk desa yang bersimpati kepadanya. Hampir setiap hari dia menerima cacian dan hinaan dari penduduk yang masih menaruh rasa benci kepada kedua orang tuanya.
Wira kemudian melanjutkan membaca surat itu.
'Mengenai rahasia besar yang kakek maksud di atas, menurut kakek, sudah saatnya kau mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Kakek sudah bisa menilai jika kau yang sekarang sudah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari tingkah, sifat, dan cara berpikirmu.
Wira, sebenarnya ibumu adalah putri satu-satunya dari seorang raja di sebuah kerajaan besar yang bernama kerajaan Sanggawana. Kakekmu bernama Raja Dharmawangsa, dan kau sebenarnya adalah pewaris tahta kerajaan Sanggawana.
Untuk lebih jelasnya mengenai kedua orang tuamu, kau bisa bertanya kepada Ki Anom. Kakek sudah menceritakan semua kepada dia.
Yang terakhir, ambillah sebuah benda di dalam kotak yang kakek letakkan di bawah ranjang tidurmu. Benda itu adalah milik ibumu dan satu-satunya tanda bahwa kau benar cucu dari Raja Dharmawangsa.
Berangkatlah menuju kerajaan Sanggawana dan tunjukkan benda itu kepada Raja Dharmawangsa. Sudah saatnya kau kembali kepada kehidupanmu yang sebenarnya.
Kakek berdoa, semoga suatu saat Dewata memberi kakek umur panjang sehingga bisa bertemu kembali denganmu.
Wira terkejut setelah membaca surat dari Arisuta. Dia tertegun dan tidak percaya jika ibunya adalah anak dari seorang raja. Sebuah pertanyaan besar pun muncul di pikirannya, jika benar ibunya adalah seorang putri, kenapa kehidupan ibunya jauh dari kemewahan istana?
Cukup lama pemuda tampan itu terhanyut dalam pikirannya. Sampai pada akhirnya dia beranjak menuju kamarnya untuk mengambil benda yang dimaksud Arisuta.
Di bawah ranjang tidurnya, Wira mengambil sebuah kotak kecil terbuat dari kayu. Ditatapnya kotak tersebut dan dibersihkannya dari debu-debu yang menempel. Setelah mengambil nafas panjang, dia pun membukanya perlahan.
Pemuda itu tidak bisa untuk tidak membelalakkan matanya. Dia melihat sebuah kalung emas dengan liontin yang cukup besar terdalam kotak tersebut. Dan liontin yang juga terbuat dari emas itu, terdapat sebuah ukiran yang dia tidak pernah melihatnya.
Untuk mengobati rasa penasarannya, Wira akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa. Dia harus tahu yang sejelas-jelasnya tentang ayah dan ibunya dari Ki Anom, sebelum berangkat menuju kerajaan Sanggawana.
Setelah mengemasi barang-barangnya, Wira keluar dari gubuk kecil tersebut. Namun pemuda itu tidak langsung berjalan, dia membalikkan tubuhnya dan menatap gubuk kecil itu cukup lama. Bagaimanapun juga, pemuda itu merasa gubuk tersebut adalah rumahnya yang sebenarnya. Di gubuk itu pula dia banyak belajar dari Arisuta tentang hakikat kehidupan.
"Kakek, terima kasih atas semua ilmu yang sudah kakek berikan padaku. Aku berjanji, semua pelajaran berharga yang telah kakek berikan, akan aku amalkan dalam kehidupanku," ucapnya dalam hati. Pemuda itu memejamkan matanya cukup lama. Dia merasa sangat berat untuk meninggalkan gubuk kecil itu. Meskipun waktunya singkat, namun banyak kenangan terukir selama dia hidup dengan Arisuta.
Setelah bisa menguasai perasaannya, Wira berjalan meninggalkan gubuk tersebut dan kembali ke desa.
Cukup jauh dari gubuk kecil itu, sepasang mata mengawasi Wira dari atas sebuah pohon besar.