NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7:Sepasang Mata yang Mengawasi

Dua hari pun berlalu dengan cepat. Chen kini sudah tidak lagi bekerja memeras keringat di pasar grosir sebagai kuli angkut. Dengan uang yang didapatkannya dari Liu kemarin, ia mulai merubah penampilannya. Ia membeli pakaian baru yang bersih dan rapi, namun tetap memilih model yang sederhana karena ia tidak suka pamer atau menjadi pusat perhatian.

Aktivitas sehari-harinya kini berubah total. Chen mulai sering mendatangi pasar batu mulia untuk membeli batu-batu mentah yang murah, mengandalkan penglihatan tembus pandangnya untuk mencari giok tersembunyi, lalu menjualnya kembali demi melipatgandakan modal. Nama 'Chen' perlahan mulai berbisik di antara para pedagang kecil sebagai pemuda yang selalu beruntung.

Sampai suatu hari, saat Chen sedang berada di salah satu pusat pemotongan batu terbesar, pandangannya tertuju pada keributan di dekat mesin pemotong utama.

Seorang bapak tua dengan pakaian yang begitu lusuh dan wajah penuh gundah sedang memeluk sebuah batu mentah berukuran sedang. Di hadapannya, beberapa pekerja pemotong batu melambaikan tangan dengan wajah masis dan mengusirnya.

"Sudah kubilang, uangmu tidak cukup! Jasa potong di sini menggunakan mesin modern, tarifnya mahal. Kalau tidak punya uang, bawa pulang saja batumu!" bentak salah satu pekerja dengan ketus.

Bapak tua itu hampir menangis, memohon agar batunya bisa dibelah karena ia sangat membutuhkan uang untuk keperluan mendesak. Melihat pemandangan yang mengingatkan akan masa lalunya yang sulit, hati Chen tergerak. Ia melangkah maju dengan tenang dan menepuk pundak sang operator mesin.

"Masukkan semua tagihan bapak itu ke dalam tagihan saya,"

ujar Chen dengan suara tegas, memecah ketegangan. Ia kemudian menunjuk bagian tepi batu yang dipegang si bapak tua. "Dan tolong potong tipis-tipis saja di bagian luarnya."

Pekerja itu tertegun, namun karena Chen yang membayar, ia segera mengangguk patuh. Bapak tua itu menatap Chen dengan mata berkaca-kaca, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

Zzzzzzt!

Mesin mulai mengikis permukaan batu luar seperti instruksi Chen. Begitu lapisan tipis itu terkelupas dan disiram air, kilauan hijau zamrud yang pekat langsung merekah dari dalam batu.

"Astaga! Ini Giok Tipe A berkualitas tinggi!"

"Batu ini sangat padat, ini termasuk batu yang cukup mahal!"

Seketika, orang-orang di sekitar tempat pemotongan yang melihat kilauan itu langsung heboh. Para makelar dan kolektor kaya yang ada di sana langsung merubung, berteriak saling sahut menawarkan harga yang tinggi untuk membeli batu milik si bapak tua. Dalam waktu singkat, batu yang tadinya hampir dibuang itu terjual dengan harga ratusan ribu yuan.

Setelah menerima uang hasil penjualan yang sangat banyak, bapak tua itu langsung menghampiri Chen dengan tangan gemetar karena emosi yang meluap. Ia mengambil seikat uang kertas dan menyodorkannya.

"Anak muda, ini uang untuk membayar jasa potong yang kamu tanggung tadi, dan ini ada sedikit bagian untukmu karena telah menyelamatkanku," ucap bapak tua itu tulus.

Chen tersenyum hangat dan melambaikan tangannya. "Tidak usah, Pak. Simpan saja uangnya, saya tulus membantu."

Meskipun sebenarnya Chen tidak mau menerima sepeser pun, tetapi bapak tua itu tetap memaksa dengan wajah yang sangat memohon, menyatakan bahwa ia tidak akan tenang jika tidak membalas budi. Melihat keteguhan hati sang bapak, Chen akhirnya mengalah dan menerima uang tersebut dengan anggukan hormat.

Tatapan Sang Master

Tanpa disadari oleh Chen maupun kerumunan orang yang heboh, sejak awal insiden itu terjadi, ada seorang bapak tua lain yang sedang berdiri di lantai dua koridor VIP. Pria tua itu memiliki rambut yang lumayan beruban, mengenakan jubah tradisional yang elegan, dan memancarkan aura seorang ahli yang sangat dihormati di dunia batu mulia.

Ia sejak tadi memperhatikan bagaimana Chen melangkah maju, menjamin pembayaran, dan yang paling membuat jantungnya berdesir: bagaimana Chen dengan sangat akurat meminta operator memotong tipis-tipis di bagian luar—seolah-olah pemuda itu sudah tahu persis di mana letak giok itu bersembunyi agar tidak merusak isinya.

Pria beruban itu mengelus janggut tipisnya, matanya yang tajam mengunci sosok Chen yang sedang tersenyum ramah di bawah sana.

"Menarik... sangat menarik," gumam pria beruban itu dengan senyuman misterius yang sarat akan teka-teki. "Aku sangat penasaran dengan anak muda ini. Apakah itu hanya keberuntungan, atau dia memiliki rahasia besar?"

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!