Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Gaun Merah.
Malam itu, Thalia tidak tidur nyenyak.
Tubuhnya memang berbaring di sisi ranjang yang sama seperti biasa. Selimut menutup sampai pinggang. Lampu tidur menyala remang di meja kecil sebelahnya. Rendra tidur membelakangi dirinya dangan napas teratur, seolah tidak ada percakapan tajam di dalam mobil beberapa saat lalu.
Thalia menatap langit-langit kamar dengan pikiran penuh.
Bangga atau memanfaatkan?
Kalimat Arkana menggema berulang kali di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi.
Thalia sudah lama tahu ada sesuatu yang salah dalam pernikahannya. Ia merasakannya dari cara Rendra mengoreksi pakaiannya. Dari cara Rendra memotong kalimat yang akan ia katakan. Dan dari cara Rendra tersenyum manis di depan orang lain, lalu berubah dingin begitu mereka hanya berdua.
Tapi selama ini, Thalia menepisnya dan mencari alasan.
Mungkin Rendra lelah. Mungkin pekerjaan suaminya berat. Mungkin suaminya hanya ingin yang terbaik. Mungkin begitulah cara pria ambisius mencintai.
Namun setelah mendengar Arkana mempertanyakan Rendra secara langsung, semua alasan itu terasa rapuh. Jika orang asing saja bisa melihat ada yang tidak benar, bagaimana mungkin Thalia terus berpura-pura tidak tahu?
Di sebelahnya, Rendra menggeliat pelan. Punggung pria itu tetap menghadapnya.
Dulu, punggung itu sering ia peluk dari belakang. Ia suka meletakkan pipi di bahu Rendra ketika pria itu bekerja larut malam di ranjang. Dan Rendra akan tertawa pelan, mencium jemarinya, lalu berkata,
“Sebentar lagi, Sayang. Setelah ini aku temani tidur.”
Sekarang, punggung itu terasa seperti dinding. Tinggi. Dingin. Dan tidak bisa ditembus.
Thalia menarik napas perlahan. Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi yang muncul justru wajah Arkana.
Tatapan mata pria itu saat di ruang makan privat.
Tenang. Tajam. Seolah pria itu tidak hanya melihat apa yang tampak di depan mata, tetapi juga apa yang disembunyikan Thalia dengan susah payah.
Thalia membuka mata lagi.
“Jangan,” bisiknya nyaris tanpa suara.
Ia tidak boleh memikirkan Arkana. Tidak boleh mencari pembenaran dari perhatian pria lain hanya karena suaminya gagal memberi rasa aman. Tidak boleh membiarkan satu tatapan membuatnya merasa lebih bernilai dari seluruh janji pernikahan yang pernah ia ucapkan.
Ia masih istri Rendra.
Dan itu seharusnya menjadi garis batas yang jelas.
Namun garis batas itu terasa semakin buram setiap kali Rendra sendiri yang mendorongnya ke dekat Arkana.
.
.
Pagi harinya, Thalia bangun lebih lambat dari biasanya.
Rendra sudah tidak ada di kamar. Tempat tidurnya rapi setengah, bagian yang ia pakai masih sedikit kusut. Di meja nakas, ponsel Thalia berkedip. Satu pesan dari Rendra muncul di layar.
Rendra: "Nanti sore ada acara investor di hotel. Aku jemput jam enam. Kenakan gaun merah yang kemarin belum kamu pakai."
Thalia menatap pesan itu lama.
Gaun merah.
Ia bahkan belum benar-benar bangun, tapi dadanya sudah terasa sesak.
Gaun merah itu pilihan Rendra. Beberapa hari lalu, pria itu membelinya tanpa bertanya terlebih dahulu. Potongannya indah, tentu saja. Mahal. Anggun. Berkelas. Tapi terlalu mencolok. Bagian punggungnya terbuka cukup dalam, belahan dadanya halus tapi tetap membuat Thalia merasa tidak sepenuhnya nyaman.
Saat pertama kali mencobanya, Rendra menatapnya dengan senyum puas.
“Ini yang harus kamu pakai kalau ingin orang-orang ingat kamu.”
Saat itu ia hanya diam. Sekarang ia mengerti, Rendra memang ingin orang-orang mengingatnya. Terutama Arkana.
Thalia meletakkan ponsel tanpa membalas. Ia bangkit dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi, lalu berdiri lama di bawah guyuran air hangat.
Ketika keluar dari kamar mandi, ia membungkus tubuhnya menggunakan handuk, lalu berjalan ke walk in closet. Gaun merah itu tergantung indah di sana. Seolah sengaja dirancang untuk menarik mata siapa pun yang melihat.
Thalia menyentuh kainnya perlahan. Lembut. Mahal. Licin di ujung jari. Dulu, ia mungkin akan merasa cantik mengenakannya.
Tapi sekarang... ia hanya merasa seperti alat yang dipoles untuk kepentingan orang lain.
Ponselnya kembali bergetar, dan pesan dengan perintah sama kembali masuk.
Rendra: "Jangan lupa. Yang merah."
Thalia menatap layar ponsel. Jarinya bergerak mengetik sebelum ia sempat berpikir terlalu lama.
"Kenapa harus yang merah?"
Balasan Rendra datang kurang dari satu menit.
Rendra: "Karena kamu terlihat paling menarik dengan warna itu."
Thalia menggigit bibir bawahnya, satu tangannya terkepal.
"Menarik untuk siapa?"
Kali ini, balasan Rendra tidak langsung datang, balasan itu masuk lima belas menit setelahnya.
Rendra: "Jangan cari masalah pagi-pagi."
Thalia menutup matanya sebentar, ternyata pertanyaan sederhana darinya selalu dianggap masalah. Ia meletakkan ponsel di meja dan menatap gaun merah itu lagi.
Sesuatu dalam dirinya ingin menolak. Ingin memilih pakaian yang membuatnya nyaman.Tapi bagian lain dari dirinya tahu, penolakan hari ini akan menjadi pertengkaran panjang. Dan setelah pertengkaran, Rendra tetap akan memaksanya hadir.
Thalia menarik napas panjang.
“Satu kali ini saja,” gumamnya pelan.
Entah ia sedang berbicara kepada gaun itu, kepada dirinya sendiri, atau kepada sisa kesabarannya.
.
.
Sore datang bersama angin basah dan langit yang tertutup awan kelabu.
Thalia berdiri di depan cermin besar dengan gaun merah gelap melekat di tubuhnya. Kain halusnya jatuh mengikuti lekuk tubuh tanpa terlalu ketat, tetapi bagian punggung yang terbuka membuat kulitnya terasa seperti terlalu mudah dilihat. Rambutnya ia biarkan terurai untuk menutupi punggungnya, menyapukan riasan tipis wajah, dan memoleskan lipstik merah cerah di bibirnya, bukan merah pekat seperti yang biasa disukai suaminya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Rendra masuk tanpa mengetuk, lalu berhenti beberapa langkah di belakang Thalia. Tatapannya menyapu dari kepala sampai kaki sang istri, sesaat kemudian senyum puas terbit di bibirnya.
“Nah,” kata Rendra. “Begini baru benar.”
Rendra mendekat. Kedua tangannya naik ke bahu Thalia dari belakang, lalu turun perlahan ke lengan istrinya. Gerakan itu lembut, tetapi tubuh Thalia justru menegang mendapatkan sentuhan dari suaminya sendiri.
“Kamu kenapa?” tanya Renda menatap wajah istrinya melalui cermin.
“Tidak apa-apa,” jawab Thalia cepat.
“Jangan kaku begitu.” Rendra menunduk, bibirnya menyentuh rambut Thalia, tangannya semakin turun dan meremas lembut pinggang Thalia. “Kamu sangat cantik malam ini."
Thalia menatap mata suaminya melalui cermin. “Cantik untuk dipamerkan?”
Senyum Rendra memudar. “Thalia.”
“Aku bertanya,” ucap Thalia.
“Kamu mau bertengkar lagi?” tanya Rendra.
“Tidak. Aku hanya ingin tahu alasanmu,” ucap Thalia.
“Alasanku sederhana.” Rendra memutar tubuh Thalia agar menghadapnya. “Malam ini banyak orang penting. Aku ingin kamu terlihat pantas di sisiku.”
Rendra meraih kalung berlian yang ia beli di aniversary pertama mereka dari meja rias dan memasangkannya ke leher Thalia.
“Bagus,” kata Rendra puas. “Sempurna.”
Thalia menatap pantulan mereka di cermin.
Pasangan sempurna.
Suami tampan dengan setelan mahal. Istri cantik dengan gaun merah. Rumah mewah. Mobil mewah. Undangan eksklusif. Kehidupan yang tampak begitu penuh keberuntungan.
Dan tidak ada yang tahu jika malam ini akan menjadi awal dari membesarnya keretakan rumah tangga mereka.
. . . .
. . . .
To be continued...