Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14
Beberapa menit kemudian, mobil Riven meluncur keluar dari area mansion keluarga Chamron.
Pagi itu jalanan masih relatif lengang. Riven mengemudikan mobilnya dengan santai, sementara Oakley duduk di kursi penumpang depan seperti biasa. Suasana di dalam mobil sempat hening.
Namun tiba-tiba Oakley mengernyit. Ia merasakan sesuatu menyentuh ujung sepatunya.
Pria parih baya itu menunduk dan menemukan sebuah tas kecil wanita yang terselip di bawah kursi.
Dengan rasa penasaran, ia mengambil tas tersebut lalu mengamatinya beberapa saat.
“Tuan,” panggil Oakley.
“Hm?”
“Apakah akhir-akhir ini Anda membawa seorang gadis ke suatu tempat?”
Riven bahkan tidak menoleh.
“Tidak.”
Oakley menyipitkan kedua matanya tidak percaya.
“Kalau begitu, mungkin Anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang?”
Kali ini Riven melirik sekilas ke arahnya.
“Apa hubungannya?”
Oakley menghela napas panjang.
“Karena jika Tuan Thomas mengetahui hal itu, kemungkinan besar situasinya tidak akan berjalan baik. Jadi saya menyarankan agar Anda tidak terlibat dengan gadis mana pun untuk sementara waktu.”
Riven terkekeh pelan.
“Apa sebenarnya yang sedang kau bicarakan?”
Sebagai jawaban, Oakley mengangkat tas wanita tersebut hingga terlihat jelas.
“Inilah yang saya maksud.”
Ekspresi Oakley begitu serius seolah baru saja menemukan barang bukti penting dalam sebuah kasus besar.
Riven mengernyitkan alis.
Riven menoleh dan memperhatikan benar-benar tas yang dipegang oleh Oakley.
Tanpa banyak bicara, ia menepikan mobil ke sisi jalan. Mesin masih menyala ketika Riven mengulurkan tangan.
“Berikan.”
Oakley menyerahkan tas itu.
Riven membukanya dan mulai memeriksa isi di dalamnya.
Di sana terdapat sebuah iPhone, beberapa barang pribadi wanita, serta sebuah dompet.
Saat membuka dompet tersebut, pandangannya langsung tertuju pada kartu identitas yang tersimpan di dalamnya.
Riven terdiam sesaat.
Angelina Angie.
Nama itu langsung membuatnya mengingat gadis yang ditemuinya semalam.
Perlahan, ia mengangkat kepala dan menatap Oakley.
Sementara itu, Oakley memiringkan kepalanya sedikit, menunggu penjelasan dari sang tuan muda.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu Oakley kembali angkat bicara.
“Tolong jangan katakan bahwa tas itu milik Nona Elena.”
“Kenapa?”
“Karena saya mengenal selera Nona Elena dengan sangat baik.” Suara Oakley sedikit meninggi penuh penekanan.
Oakley menunjuk tas tersebut.
“Nona Elena tidak mungkin menggunakan tas seperti ini.”
Riven mengangkat sebelah alis.
“Begitu?”
“Tentu saja.”
Oakley berbicara dengan keyakinan penuh.
“Beliau tidak menyukai barang-barang kelas menengah, apalagi yang dibeli di pasar atau toko biasa. Jika tas itu milik Nona Elena, saya bersedia mengundurkan diri dari jabatan hari ini juga.”
Riven hampir tertawa mendengar kesimpulan berlebihan tersebut.
“Tenang saja.” Riven menutup kembali dompet itu dan memasukkan seluruh isinya ke dalam tas.
“Ini bukan milik Elena.”
Oakley mengangguk pelan.
“Saya sudah menduganya.”
Tatapan pria tua itu kemudian berubah tajam.
“Kalau begitu, milik siapa?”
Riven menatap tas itu beberapa saat sebelum menjawab singkat.
“Milik seseorang yang tidak sengaja kutemui semalam.”
Begitu kalimat itu keluar, Oakley langsung memalingkan wajah perlahan ke arah Riven.
Ekspresinya datar.
Terlalu datar.
Justru itulah yang membuatnya terlihat mencurigakan.
Riven langsung tahu isi kepala pria tua itu sedang bekerja terlalu jauh.
“Jangan berpikir macam-macam.”
“Saya belum mengatakan apa-apa, Tuan.”
“Itulah masalahnya.”
Oakley tersenyum tipis.
Sementara Riven hanya menggelengkan kepala.
Namun jauh di dalam pikirannya, muncul pertanyaan yang belum sempat ia pikirkan sedari tadi. Bagaimana tas Angelina Angie bisa tertinggal di mobilnya?
Riven menatap tas milik Angelina Angie beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ia menekan beberapa tombol pada layar monitor mobil. Tak lama kemudian, panggilan video tersambung.
Wajah Elena langsung muncul di layar.
“Musang!”
Suara gadis itu begitu nyaring hingga membuat Riven refleks mengernyitkan dahi.
“Ada apa?” tanya Elena penuh semangat.
“Kemeja yang tadi.”
“Oh, iya. Aku ingat. Tenang saja, aku akan mengantarkannya dengan sangat hati-hati.”
“Tak perlu.”
Elena berkedip.
“Hah?”
“Aku yang akan mengantarkannya sendiri.”
Sesaat ruangan di balik layar terlihat hening. Lalu…
“YEEEEEEEESSSSS!”
Pekikan bahagia Elena langsung menggema. Riven sampai berdecak. Sedangkan Oakley bersikap datar. Biasa saja. Sudah biasa. Walaupun Riven sudah terbiasa dengan semua tingkah adiknya namun ia benar-benar tidak menyukai teriakan adiknya yang seperti terompet.
“Kecilkan suaramu.”
“Itu berarti aku tidak perlu keluar rumah!”
“Kau memang malas sekali.”
“Tentu saja. Terima kasih atas pengertian dan kasih sayangmu sebagai kakak terbaik di dunia.”
“Kau bahkan baru menyebutku kakak terbaik setelah tugasmu dibatalkan.”
“Itu detail yang tidak penting.”
Riven menggelengkan kepala sebelum memutus sambungan telepon.
Begitu layar kembali mati, suasana di dalam mobil menjadi hening. Namun hanya untuk beberapa detik. Karena ia bisa merasakan tatapan seseorang dari kursi penumpang.
Oakley.
Sekretaris pribadi sang ayah itu masih menatapnya dengan ekspresi tenang, tetapi jelas sedang menunggu penjelasan. Riven menghela napas panjang.
“Ada apa lagi?”
“Saya hanya menunggu penjelasan, Tuan.”
Riven menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kau benar-benar tidak akan menyerah, ya?”
“Saya belajar dari Tuan Thomas.”
Riven mendesah sekali lagi.
“Ada sedikit insiden semalam.”
Oakley langsung memasang ekspresi serius.
“Kemejaku terkena tumpahan kopi.”
“Begitu saja?” Tanya Oakley semakin penasaran.
“Lalu seorang wanita memberikan kemejanya kepadaku.”
Oakley berkedip, sedangkan Riven terdiam beberapa saat. Saat kemudian Oakley terus tetap saja menunggu. Beberapa detik berlalu.
“Tunggu sebentar.” Riven mengangkat sebelah alis.“Untuk apa aku menjelaskan semuanya padamu?”
Oakley tidak menjawab.
Sebaliknya, pria tua itu justru terlihat semakin tertarik. Riven langsung menggeleng.
“Tidak. Cari tahu sendiri.”
“Saya?”
“Ya. Bukankah kau ahli dalam hal seperti itu?”
“Saya tidak mengerti maksud Tuan.” Kata Oakley berpura-pura.
“Tentu saja kau mengerti.”
Riven menunjuk Oakley.
“Kalau Ayah menugaskanmu, kau bahkan bisa mengetahui apa yang kumakan tiga hari lalu.”
“Itu bagian dari pekerjaan saya.”
“Persis.”Riven terkekeh pelan. “Kalau begitu, periksa saja rekaman CCTV di kafe milik Jack. Semua jawabannya ada di sana.”
Oakley mengangguk pelan.
“Saya mengerti. Nanti akan saya periksa.”
“Ayolah. Aku bukan anak kecil lagi.” Kesal Riven.
“Ini sudah tugas saya Tuan Muda. Agar tidak timbul rumor-rumor yang tak perlu di lingkaran Chamron.” Namun beberapa saat kemudian, pria tua itu kembali bertanya. “Jadi… Anda tidak menginap di rumah Nona Nana semalam?”
Riven langsung menutup mata. Kesabarannya benar-benar diuji pagi ini. Ia menghela napas panjang penuh kepasrahan.
“Oakley.”
“Ya, Tuan?”
“Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku seperti merasa di tempeli.”
Oakley tersenyum tipis.
“Itu sebuah pujian, bukan?”
“Bukan.”
Riven menyalakan kembali lampu sein dan menginjak pedal gas.
“Sudahlah. Kita pergi ke perusahaan dulu.”
“Tapi—”
“Nanti kau cari tahu sendiri.”
“Tuan…”
“Aku malas menjelaskan.”
Oakley akhirnya terdiam. Sementara itu, mobil hitam mewah tersebut kembali bergerak meninggalkan bahu jalan.
Raungan mesin terdengar halus namun bertenaga. Mobil itu melesat membelah jalan raya menuju kantor pusat Chamron Group.
Di dalam kabin, Riven memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Hari ini adalah hari pertamanya kembali ke perusahaan induk.
Namun dalm benaknya yang paling dalam, ia memikirkan sesuatu dan ia tak nyaman. Ponsel milik Angelina harus segera di kembalikan, karena pasti dengan ponselnya lah gadis itu bekerja. Jika ponselnya tidak ada dia pasti akan kerepotan.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor