NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Action / Fantasi
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

🏆GOLD NOVEL🏆
...

"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."

Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.

Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.

"Aku adalah..."

GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 009: Ketakutan Qu Long

Fajar perlahan menyingsing di atas Sekte Pedang Giok.

Cahaya matahari pagi yang pucat menembus sela-sela jendela asrama murid luar, jatuh membentuk garis-garis tipis di lantai kayu yang sunyi. Udara pagi masih terasa dingin, namun jauh lebih nyaman dibanding hawa lembap gubuk tua tempat Qin Xiang dulu tinggal seorang diri.

Di atas ranjang tingkat bagian atas, Qin Xiang perlahan membuka matanya.

Sepasang pupil hitam itu tampak jauh lebih jernih dibanding sebelumnya. Tenang… namun dalam. Seolah ada sesuatu yang perlahan terbangun semakin sempurna di balik tatapannya.

Ia mengembuskan napas panjang.

Seluruh rasa lelah yang sempat menumpuk selama beberapa hari terakhir akhirnya menghilang sepenuhnya. Tidur semalam membuat tubuhnya terasa jauh lebih ringan, sementara energi spiritual di dalam meridiannya mengalir semakin stabil dan halus.

Sudah lama sekali ia tidak tidur setenang ini.

Sejak ingatan masa lalunya terbuka kembali, pikirannya hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Terlalu banyak hal memenuhi kepalanya—kenangan ribuan tahun, pengkhianatan berdarah, jalan kultivasi yang pernah ia pijak hingga puncak langit, lalu kembali pada kenyataan bahwa dirinya sekarang hanyalah seorang murid sekte luar yang dulu dipandang seperti sampah.

Aneh rasanya.

Namun Qin Xiang tidak membenci semua itu. Karena bagaimanapun juga… kehidupan ini tetap miliknya.

Ia memang Qin Xiang.

Anak yang tumbuh di Sekte Pedang Giok. Anak yang dihina sejak kecil karena meridiannya cacat. Anak yang pernah kelaparan berhari-hari di gubuk bocor tanpa seorang pun peduli.

Hanya saja, sekarang ia kembali mengingat siapa dirinya dahulu, dan itu akan mengubah segalanya.

Qin Xiang turun dari ranjang perlahan.

Hari ini ia berniat turun gunung untuk mengasah pedang barunya sekaligus mencari tempat tenang untuk bermeditasi. Setelah mencapai puncak Pemurnian Qi Tahap 9, ia bisa merasakan bahwa gerbang menuju Qi Fondasi sudah semakin dekat.

Namun baru saja tangannya membuka pintu kamar, sesosok tubuh bulat langsung terlihat berdiri tegak di depan sana.

“Selamat pagi, Kakak Qin!”

Qu Long menyeringai lebar sambil melambaikan tangan dengan gugup. Wajah bulatnya tampak sedikit berkeringat meski udara pagi masih cukup dingin.

Entah kenapa, setiap kali berdiri di dekat Qin Xiang, ia selalu merasa seperti sedang berdiri di depan seekor binatang buas yang tertidur.

"Hm." Qin Xiang meliriknya sekilas.

Hanya gumaman pendek, namun Qu Long justru langsung menghela napas lega diam-diam.

Syukurlah… sepertinya suasana hati monster ini lumayan bagus pagi ini.

“Ada apa?” tanya Qin Xiang santai. “Mengapa kau berdiri di depan pintu seperti penjaga makam?”

“Eh?” Qu Long tersedak sendiri. “Ka-Kakak Qin, ucapanmu terlalu kejam…”

Qin Xiang hanya menatapnya datar.

Qu Long pun buru-buru berdeham lalu mendekat dengan wajah misterius. “Kakak Qin… apa kau punya rencana pergi ke Aula Kultivasi hari ini?” tanya pelan.

“Aula Kultivasi?” Qin Xiang sedikit mengangkat alis. “Apa istimewanya tempat itu?”

Melihat Qin Xiang benar-benar tertarik, Qu Long langsung bersemangat. Tubuh gemuknya bergerak mendekat sambil mulai berbicara setengah berbisik.

“Aula Kultivasi dibangun tepat di atas urat energi spiritual gunung utama sekte. Tempat itu dibagi menjadi dua zona.”

“Zona pertama terbuka untuk semua murid luar. Energi spiritual di sana tiga kali lebih murni dibanding dunia luar. Banyak murid menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk berkultivasi di sana. Dan zona kedua...”

Ia berhenti sejenak dengan wajah muram, membuat Qin Xiang terusik kesabaran.

"Zona dua apa?"

“Zona kedua…” suaranya mengecil perlahan, “itu wilayah para monster.”

“Monster?” Qin Xiang mengerutkan keningnya.

“Maksudku senior!” Qu Long buru-buru mengoreksi. “Zona kedua berisi ruang kultivasi tertutup dengan energi spiritual yang dikompresi secara ekstrem. Kultivasi satu hari di sana setara beberapa minggu di luar.”

“Namun biaya sewanya sangat mahal. Seratus poin sekte hanya untuk sehari.”

“Dan itu belum yang paling parah…” lanjut Qu Long dengan wajah getir. “Tempat itu sudah lama dikuasai kelompok murid senior. Murid biasa yang masuk tanpa perlindungan biasanya keluar sambil berdarah-darah. Beberapa bahkan dipukul sampai tidak bisa bangun selama berminggu-minggu…”

Mendengar itu, mata Qin Xiang justru sedikit menyipit penuh minat.

Energi spiritual yang dipadatkan…tempat seperti itu memang cocok untuk memperkokoh fondasi kultivasinya sebelum menerobos ke ranah berikutnya.

“Berapa poin yang kau punya?” tanya Qin Xiang tiba-tiba.

Qu Long langsung refleks memeluk plat identitas di pinggangnya dan memandang pihak lain dengan penuh waspada.

“Kakak Qin…” suaranya bergetar, “kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh, kan?”

“Aneh?” Qin Xiang memandangnya malas. “Dengan tubuhmu itu, apa sebenarnya yang perlu kurebut darimu?”

“…”

Qu Long langsung merasa tertusuk.

“Empat ratus poin…” jawabnya lesu. “Itu hasil tabunganku bertahun-tahun. Aku sampai rela makan sayur asin dan roti keras demi menyimpan sebanyak itu…”

“Empat ratus?” Qin Xiang mengangguk tipis. “Cukup.”

“Hah?”

Sebelum Qu Long sempat memahami maksudnya, Qin Xiang sudah berjalan melewatinya begitu saja.

“Ayo.”

“Eh?”

“Daripada poin itu membusuk di platmu seperti harta orang mati, lebih baik digunakan.”

Qu Long membelalak panik.

“Tunggu dulu!” Ia buru-buru mengejar. “Ka-Kakak Qin! Jangan bilang kau benar-benar mau masuk zona kedua?!”

Aula Kultivasi berdiri megah di pusat sekte luar.

Bangunannya sebagian tertanam ke dalam gunung batu, memancarkan energi spiritual yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa lebih berat dibanding tempat lain.

Begitu Qin Xiang melangkah masuk, aliran energi alam langsung menyapu tubuhnya seperti ombak hangat.

Puluhan murid luar tampak duduk bersila di zona pertama. Suara napas panjang, aliran Qi, dan diskusi pelan memenuhi aula yang luas itu.

Namun Qin Xiang bahkan tidak melirik mereka. Langkahnya terus maju lurus menuju lorong batu besar di ujung aula.

Lorong menuju zona kedua.

Beberapa murid mulai menoleh saat menyadari arah langkahnya, tatapan mereka perlahan berubah aneh.

“Apa dia mau masuk ke sana?”

“Murid baru?”

“Gila…”

Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut aula.

Namun Qin Xiang tetap berjalan tenang. Punggungnya tetap lurus dan langkahnya stabil, seolah semua tatapan itu bahkan tidak layak membuatnya melambat setengah langkah.

Sampai akhirnya... Ia menyadari suara langkah di belakangnya menghilang.

Qin Xiang menoleh.

Qu Long ternyata sudah tertinggal jauh di belakang.

Pemuda gemuk itu berdiri kaku di batas zona pertama dan lorong menuju zona kedua. Wajahnya pucat pasi, sementara kedua kakinya tampak gemetar kecil.

Tatapannya menatap pintu batu besar di depan Qin Xiang seperti sedang melihat gerbang neraka.

“Kakak Qin…” suaranya terdengar kering. “Apa kau benar-benar serius?”

Qin Xiang menatapnya diam.

Qu Long menelan ludah sebelum melanjutkan dengan suara lirih. “Aku tahu kau kuat. Bahkan rumor tentangmu mungkin tidak dilebih-lebihkan…tapi tempat itu berbeda!”

“Orang-orang di dalam sana punya latar belakang besar. Ada yang berasal dari keluarga kultivator ternama, ada yang punya kakak senior di sekte dalam. Sedangkan kita…” Qu Long tertawa pahit. “Kita tidak punya siapa-siapa.”

Keheningan sesaat memenuhi lorong itu.

Qin Xiang memandang Qu Long cukup lama.

Tatapannya tetap tenang.

Di kehidupan ini, Qin Xiang pernah hidup sebagai sampah yang diinjak semua orang. Ia tahu bagaimana rasanya takut… tahu bagaimana rasanya menjadi lemah hingga bahkan menundukkan kepala terasa seperti kebiasaan alami.

Namun justru karena itu, ia memahami sesuatu lebih jelas dibanding siapa pun.

Rasa takut tidak pernah benar-benar hilang.

Yang membedakan manusia hanyalah… apakah mereka tetap melangkah meski takut atau menyerah pada ketakutan.

Perlahan, Qin Xiang menggeleng kecil.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Hanya sebuah pengakuan tenang bahwa Qu Long sendiri sedang membatasi langkahnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Qin Xiang membalikkan badan lalu kembali berjalan menuju pintu batu raksasa itu.

Setiap langkahnya terdengar mantap dan tenang.

Senior?

Latar belakang?

Tekanan?

Bagi Qin Xiang, semua itu hanyalah batu pijakan yang cepat atau lambat akan ia injak dan lewati.

Tangannya terulur perlahan.

Lalu—

BRAKKK!

Pintu batu besar itu terbuka perlahan.

Gelombang energi spiritual yang jauh lebih pekat langsung menerjang keluar dari dalam, membuat pakaian Qu Long berkibar liar.

“Kakak Qin…” Qu Long mengepalkan kedua tangannya erat-erat dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajah bulatnya.

Jujur saja… ia takut setengah mati.

Namun melihat punggung Qin Xiang yang tegak tanpa sedikit pun keraguan—

Entah kenapa… Dadanya ikut bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak masuk sekte, ia merasa malu pada dirinya sendiri.

“T-Tunggu aku, Kakak Qin!”

Qu Long tiba-tiba berteriak sambil berlari panik mengejar.

Beberapa murid di sekitar langsung menoleh kaget.

“Si gendut itu ikut masuk?”

“Mereka mau cari mati?”

“Benar-benar nekat…”

Sementara itu, Qin Xiang hanya menghela napas pendek saat mendengar suara langkah tergesa-gesa dari belakang.

Ia berhenti sejenak untuk menunggu Qu Long yang berlari terbirit-birit seperti babi gemuk yang sedang dikejar serigala.

Dan tanpa sadar…senyum tipis yang sangat samar muncul di sudut bibir Qin Xiang.

Bersambung!

Jangan lupa like, komen, dan beri dukungan lainnya agar author lebih semangat, makasih :)

1
yos helmi
up hanya satu bab = menjauhkan pembaca dari cerita ini 👍👍
Qin Xiang🏆: Sabar bang, kata editor sy fokus naikin retensi dulu😭

Editor novel emang nyaranin untuk lambatin dulu sebelum memasuki bab 80. Nanti kalau 80 bab (semuanya) sudah lulus retensi baru sy berani crazy up🙏🏻
total 1 replies
Risah1112
mantap
budiman_tulungagung
gass satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
Jade Meamoure
bukan main malah d ambilkan tubuh kebo 🤣🤣🤣
New Account
Like dan vote
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹 dan satu vote
Ress
mantap💪💪👍👍👍
Ress
/Joyful//Determined//Determined//Determined//Determined/
Ress
Hajar💪👍
Sefa Silves
gass👍👍👍
yos helmi
😍😍😍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Qin Xiang🏆: si bro akhirnya mampir lagi. Thanks bro🙏/Doge/
total 1 replies
yos helmi
😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣😍😍😍😍😍💪💪💪
yos helmi
singkat padat.. 🤣🤣🤣
yos helmi
😍😍😍😍😍🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!