"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Hadiah Misi Dari Sistem!
Puji syukur yang teramat mendalam dipanjatkan di dalam hati. Sepanjang perjalanan membelah keheningan rimba malam, kekhawatiran Dinda tentang gangguan binatang buas maupun kawanan bandit hutan sama sekali tidak terbukti. Hutan malam itu terasa begitu bersahabat, mengantar langkah mereka hingga akhirnya sepasang kaki mereka kembali berpijak di halaman bawah rumah pohon.
Suasana di luar sudah gelap gulita sepenuhnya, namun rumah panggung di atas tampak sudah menyala remang, memancarkan cahaya kuning hangat dari beberapa lampu pelita minyak kelapa yang dinyalakan oleh Mbok Ginem.
Wira mematikan obor bambunya, lalu bersama Dinda perlahan menaiki satu per satu anak tangga kayu yang kokoh.
"Mbok...! Kami sudah kembali," seru Wira mengetuk pintu bambu, memberi tanda agar wanita tua itu membukakan palang pintu dari dalam.
"Ya, tunggu sebentar!" seru Mbok Ginem dari arah dalam.
Klek!
Palang pintu kayu digeser, dan daun pintu pun terbuka lebar, menampilkan sosok Mbok Ginem yang langsung mengembuskan napas lega melihat anak dan menantunya pulang dengan selamat.
"Aduh, Gusti... Ayo, ayo cepat masuk! Kasihan Cah Ayu, harus berjalan menembus gelapnya hutan malam-malam begini," ucap Mbok Ginem penuh rasa khawatir sembari menarik pelan dan lembut pergelangan tangan Dinda untuk segera masuk ke dalam kehangatan rumah.
Keduanya lantas melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang beralaskan tikar pandan.
"Capek sekali ya, Nduk? Pasa' di perbatasan itu memang terhitung sangat jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki," ucap Mbok Ginem menatap wajah lelah Dinda dengan guratan iba.
Dinda menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyuman tulus yang teramat manis. "Tidak kok, Mbok. Aku malahan merasa sangat senang hari ini, rasanya seperti sekalian jalan-jalan melihat daerah baru."
"Ya sudah kalau begitu. Kamu duduk dan beristirahatlah dulu di amben. Si Mbok mau ke dapur sebentar, mau merebus ubi jalar untuk mengganjal perut kalian yang pasti lapar," ucap Mbok Ginem bersiap membalikkan badannya.
Namun dengan cepat, tangan halus Dinda terulur untuk menahan pergelangan tangan Mbok Ginem. "Mbok, tunggu dulu..." cegah Dinda lembut.
"Ada apa lagi, Nduk?" tanya Mbok Ginem heran sembari menghentikan langkahnya.
Dinda tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya melemparkan pandangan penuh arti ke arah Wira yang berdiri di belakangnya. Seolah sudah sangat paham dengan jalan pikiran wanitanya, Wira lantas menurunkan keranjang anyaman dari punggungnya, lalu mengeluarkan buntalan kain yang di dalamnya berisi keranjang kecil berisi beras utuh, beras hancur, serta tewel yang mereka beli tadi.
"Walah... apa ini, Nduk? Banyak sekali bawaan kalian," tanya Mbok Ginem bingung saat melihat isi buntalan kain tersebut.
Dinda tertawa kecil, suara renyahnya memenuhi ruangan yang remang. Ia mendekatkan tubuhnya pada Mbok Ginem lalu berucap dengan nada manja yang menggemaskan, "Mbok... malam ini tolong masakkan makanan yang enak untuk kita ya? Dinda ingin sekali makan Nasi Singkong buatan Si Mbok."
Mbok Ginem tertegun sesaat memandangi beras utuh yang putih bersih di dalam keranjang—sebuah bahan makanan mewah yang jarang sekali bisa mampir ke dapur sederhana mereka. Wanita tua itu menatap wajah jelita Dinda dengan binar mata yang dipenuhi rasa sayang dan haru yang mendalam.
"Walah, Wir... kamu benar-benar tidak salah dalam memilih calon istri. Beruntung sekali kamu bisa mendapatkan gadis sepertinya..." ucap Mbok Ginem beralih menatap anak asuhnya dengan senyuman lebar penuh rasa bangga. "Iya, Nduk... nanti Si Mbok masakkan Nasi Singkong yang paling pulen dan enak untukmu ya."
Wira yang berdiri bersedekap dada sembari menyaksikan pemandangan hangat di hadapannya itu tidak bersuara. Namun, sepasang matanya melembut, dan sebuah senyuman tulus yang teramat tampan perlahan terukir di wajah tegasnya, merasa sangat bahagia melihat betapa Dinda sudah begitu menyatu dengan kehidupan barunya di sini.
••••••••••••
Sembari menunggu Mbok Ginem selesai menanak Nasi Singkong di dapur, Dinda memilih untuk beristirahat di dalam kamar. Di bawah temaram cahaya pelita minyak, gadis itu tiba-tiba merasakan getaran samar dari dalam saku pakaiannya. Rupanya ponsel pintarnya bergetar, memberikan pertanda bahwa ada sebuah notifikasi penting yang baru saja masuk.
Dengan jantung yang mendadak berdebar penuh antisipasi, Dinda mengeluarkan benda pipih modern itu lalu menyalakan layarnya. Matanya berbinar saat mendapati sebuah pesan pop-up dari aplikasi Toko Online misterius miliknya.
[NOTIFIKASI SISTEM]
"SELAMAT! TUAN RUMAH TELAH BERHASIL MENYELESAIKAN MISI MINGGUAN (PENJUALAN PERDANA). ANDA BERHAK MENDAPATKAN REWARD:
10 KOIN EMAS 1 SET SKINCARE PERAWATAN WAJAH DAN TUBUH LENGKAP
[KLIK HIJAU UNTUK MENERIMA]
[KLIK MERAH UNTUK MENUNDA]
Dinda menyunggingkan senyuman lebar yang teramat senang. Tanpa niat menunda-nunda kesempatan emas ini, jemari lentiknya langsung mengetuk tombol hijau di layar sentuh ponselnya.
Sebuah tanda centang hijau berukuran besar seketika muncul berkedip di layar. Detik berikutnya, udara di depan Dinda mendadak berdesir pelan, dan secara tiba-tiba... Wush! Sebuah parsel berukuran besar yang terbungkus rapi langsung bermaterialisasi dan mendarat mulus di atas amben, tepat di hadapannya!
"Astaga...!" Dinda menjerit tertahan, cepat-cepat membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar sampai ke dapur.
Mata gadis itu membelalak takjub menatap parsel di depannya. "Wah... bagus banget! Packaging-nya mewah sekali," gumam Dinda kagum.
Ia mengulurkan tangannya, meraba permukaan wadah body mask eksklusif yang terasa begitu solid dan berkelas di jemarinya. Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya kembali pada layar ponsel yang kembali memunculkan sebaris kalimat baru.
"BARANG HADIAH TELAH DITERIMA. REWARD 10 KOIN EMAS SUDAH OTOMATIS MASUK DAN DIKREDITKAN KE DALAM SALDO AKUN ANDA."
Setelah membaca konfirmasi dari sistem tersebut, Dinda langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali ke tempat yang aman. Fokusnya kini beralih sepenuhnya pada parsel perawatan tubuh di hadapannya.
Dengan penuh kehati-hatian, Dinda membuka simpul pita pembungkus parsel. Di dalam kotak mewah tersebut berjajar rapi berbagai botol dan wadah kosmetik berkualitas tinggi. Atensi Dinda seketika tercurah pada sebuah jar kecil berisi krim malam (night cream).
Dinda perlahan memutar tutup jar tersebut hingga terbuka, lalu mendekatkan wadah itu ke hidungnya untuk mencium aroma yang menguar dari dalam.
"Hemmm... aromanya enak banget! Tidak menyengat sama sekali, tapi ada perpaduan bau rempah alami yang menenangkan dan bikin nagih," bisik Dinda pelan, benar-benar menyukai keharuman premium tersebut.
Didorong rasa penasaran yang membuncah, Dinda mencolek sedikit krim berwarna putih bersih dan bertekstur lembut itu menggunakan ujung jarinya. Ia kemudian mengoleskan krim tersebut secara merata pada permukaan kulit punggung tangannya yang kebetulan memiliki noda bekas luka gores kecil—akibat tidak sengaja tergesek ranting pohon sengon saat bermesraan dengan Wira siang tadi.
Dan sebuah keajaiban yang tak masuk akal pun terjadi tepat di depan matanya.
Begitu krim meresap sempurna, noda goresan kemerahan yang tadinya terlihat jelas di kulit mulusnya itu mendadak memudar, menutup, dan menghilang tanpa bekas dalam sekejap mata! Kulit tangannya kembali mulus, bersih, dan tampak lebih cerah dari sebelumnya.
"Wah...! Ini... ini benar-benar ajaib banget!" ucap Dinda kegirangan bukan main, membolak-balikkan telapak tangannya dengan binar mata tidak percaya. "Teksturnya sangat halus, cepat meresap, dan sama sekali tidak lengket di kulit!"
Dinda tersenyum penuh kemenangan. Dengan adanya set perawatan tubuh ajaib ini, dia tak perlu khawatir dengan perawatan tubuhnya di zaman ini.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍