NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: LANGKAH ANGGUN MENJEMPUT FAJAR BARU

Waktu berlalu bagai air yang mengalir tenang, membasuh sisa-sisa debu luka yang sempat singgah di hati Aini. Sore itu, atmosfer di dalam kamarnya terasa begitu hidup. Di atas tempat tidur, terhampar setelan pakaian yang akan menjadi saksi bisu transformasi dirinya. Bukan lagi gaun malam yang rapuh, Aini memilih mengenakan celana dasar bermaterial premium yang jatuh dengan sempurna, dipadukan dengan blazer berpotongan tegas yang memeluk tubuhnya dengan sangat pas. Untuk menyempurnakan penampilannya, selembar hijab sutra dililitkan dengan sangat rapi dan erat di lehernya.

Ketika Aini berdiri di depan cermin, pantulan dirinya memancarkan aura wanita karier yang mandiri, elegan, dan berkelas mahal. Tidak ada lagi sisa-sisa Aini yang dulu kurus, tertekan, dan jarang mandi akibat dirundung kesedihan. Kini, sepasang netranya memancarkan binar ketegasan seorang wanita yang telah berhasil meruntuhkan jeruji masa lalunya.

Ibu Naya melangkah masuk ke dalam kamar, menghentikan kegiatannya sejenak saat memandangi putrinya yang tampak begitu memesona. Air mata haru menggenang di sudut mata sang ibu, bangga melihat permata hatinya kembali mekar setelah sempat layu dihantam badai.

"Anakku," bisik Ibu Naya sambil merapikan sedikit kerah blazer Aini. "Malam ini kamu pergi bukan untuk membuktikan apa pun kepada orang-orang yang pernah merendahkanmu. Kamu pergi untuk merayakan dirimu sendiri, merayakan jiwamu yang berhasil bertahan dan bangkit dengan terhormat. Ingatlah, kamu adalah wanita yang teramat berharga."

Aini tersenyum tulus, memeluk ibunya erat sebelum melangkah keluar rumah untuk berpamitan dengan Bapak Farhan dan Natan. Karena jarak tempuh menuju pusat kota provinsi memakan waktu sekitar empat jam perjalanan, dan tidak ada armada transportasi yang beroperasi bolak-balik saat larut malam, Aini memutuskan untuk berangkat sejak sore hari. Dia tidak membawa kendaraan sendiri; sebuah mobil travel antar-kota menjadi pilihannya untuk mengantarkannya menjemput takdir baru.

Aini sudah merencanakan dengan matang bahwa dia akan menginap semalam di kota, sebab travel untuk jalan pulang ke kampungnya baru akan tersedia kembali pada jam lima sore keesokan harinya.

Setibanya di hotel bintang lima tempat acara berlangsung, kemewahan langsung menyambut langkah kaki Aini. Lampu kristal yang bergantungan di langit-langit ballroom memantulkan cahaya keemasan, seolah ikut menyambut kehadirannya. Aini melangkah masuk ke ruang Gala Dinner dengan kepala tegak. Di dalam ruangan yang dipenuhi oleh para penulis sukses dan jajaran manajemen aplikasi tersebut, Aini menjadi pusat perhatian. Pakaian blazer-nya yang elegan dan caranya berbicara yang cerdas membuat banyak orang berdecak kagum.

Malam itu, Aini menikmati setiap detiknya dengan hati yang lapang. Dia menerima penghargaan atas meledaknya karya novelnya, sebuah pencapaian besar yang menjadi bukti bahwa dari air mata terdalamnya, lahir sebuah karya yang dicintai ribuan manusia.

Ketika jarum jam sudah merangkak larut dan acara megah itu akhirnya berakhir, para tamu mulai membubarkan diri. Aini melangkah keluar menuju lobi hotel, berniat untuk segera mencari penginapan terdekat karena tubuhnya sudah mulai mengirimkan sinyal lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan mengikuti acara yang padat.

Namun, saat langkah kaki celana dasarnya baru saja menyentuh lantai marmer lobi, sebuah suara bariton yang ramah menghentikan pergerakannya.

"Permisi, apakah kamu penulis novel 'luka dalam rumah tangga'?" Ujar lelaki yang berada di belakang Aini sentak membuat stop langkah kakinya.

Aini berbalik, mendapati seorang pria muda bertubuh jangkung yang mengenakan setelan kemeja rapi sedang berdiri dengan senyuman hangat di wajahnya. Pria itu memiliki tatapan mata yang teduh namun memancarkan wibawa yang kuat.

"Iya, benar. Saya Aini," jawab Aini dengan ramah namun tetap menjaga batas kesopanan.

"Perkenalkan, saya Egi," ucap pria itu sambil mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai bentuk penghormatan. "Saya juga salah satu penulis di aplikasi yang sama. Sejak tadi di dalam ruangan, saya sangat tertarik dengan caramu memaparkan sudut pandang ceritamu. Tulisanmu memiliki nyawa yang sangat kuat, dan saya ingin sekali berteman serta bertukar pikiran lebih dekat denganmu." Puji Egi

Aini tersenyum tipis, merasa dihargai sesama rekan profesi. "Terima kasih banyak, Mas Egi. Sebuah kehormatan bagi saya jika karya sederhana itu bisa diapresiasi." Jawab Aini merendah.

Keduanya pun terlibat dalam perbincangan yang mengalir hangat di sudut lobi. Egi, yang ternyata berusia 27 tahun—dua tahun lebih tua dari Aini—memiliki tutur kata yang sangat santun dan dewasa. Di tengah obrolan, sebuah fakta mengejutkan terungkap. Saat membahas latar belakang tempat tinggal, kedua bola mata Egi membelalak tidak percaya.

"Tunggu, kamu tinggal di Pesisir Selatan? Desa di dekat desa X?" tanya Egi antusias.

"Iya, benar, Mas," jawab Aini heran.

"Luar biasa! Kita ternyata berasal dari satu kecamatan yang sama! Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan penulis sehebat kamu yang ternyata adalah tetangga sekecamatan saya sendiri," seru Egi dengan binar kegembiraan yang jujur di wajahnya.

Setelah cukup banyak berbincang tentang dunia literasi, Egi mengeluarkan ponselnya dengan sopan.

"Aini, jika tidak keberatan, bolehkah kita bertukar nomor WhatsApp? Agar ke depannya kita bisa saling menanyakan seputar perkembangan novel atau berdiskusi tentang naskah baru."Aini menimbang sejenak, melihat ketulusan dan kesantunan Egi, dia akhirnya mengiyakan.

Setelah nomor tersimpan, Aini melirik jam dinding lobi dan mengembuskan napas pelan. Melihat gurat kelelahan di wajah wanita di depannya, Egi segera menangkap situasi.

"Kamu setelah ini langsung pulang ke kampung, Ai? Kebetulan saya membawa mobil sendiri malam ini, dan saya berencana langsung pulang ke Pesisir Selatan sekarang. Jika kamu mau, dengan senang hati saya menawarkan untuk pulang bersama. Di luar sudah larut, tidak ada lagi travel yang beroperasi jam segini," tawar Egi dengan penuh niat baik.

Aini terdiam sejenak, namun logikanya langsung menolak dengan halus. Tubuhnya sudah terlalu remuk untuk dipaksa duduk di dalam mobil selama empat jam lagi membelah malam.

"Terima kasih banyak atas tawaran baiknya, Mas Egi. Tapi sepertinya saya tidak ikut. Tubuh saya sudah terlalu lelah untuk menempuh perjalanan pulang malam ini. Saya berencana untuk menginap dulu di sekitar sini, dan baru akan pulang besok sore menggunakan travel," tolak Aini dengan sangat lembut namun tegas.

Egi mengangguk paham, menghormati keputusan dan batasan yang dibuat oleh Aini.

"Baiklah, kalau begitu, biarkan saya membantu mencarikan penginapan atau hotel terdekat yang aman untukmu malam ini. Sebagai sesama orang sekampung, saya tidak mungkin membiarkanmu berjalan sendirian mencari tempat bermalam di kota asing ini jam segini."Melihat ketulusan yang murni dari pria berusia 27 tahun itu, Aini akhirnya menerima bantuan tersebut.

Egi dengan sigap menemani Aini memesan kamar di sebuah hotel penginapan yang terletak tidak jauh dari lokasi acara, memastikan bahwa tempat tersebut bersih, nyaman, dan memiliki sistem keamanan yang terjamin.

Setelah memastikan Aini mendapatkan kunci kamar dan dirasa posisinya sudah benar-benar aman, Egi berpamitan dengan sangat sopan.

"Istirahatlah yang cukup, Ai. Selamat atas suksesnya novelmu. Sampai jumpa lagi di WhatsApp," ucap Egi sebelum melangkah pergi, membiarkan deru mobilnya berlalu membelah keheningan malam kota.

Aini berdiri di ambang pintu kamarnya yang hangat, menatap kepergian pria itu dengan perasaan yang tenang. Malam itu, di dalam kamar penginapan yang asing namun damai, Aini menarik napas sedalam-dalamnya. Dia menyadari satu hal yang teramat indah:

Sebab, saat kamu berhenti menggantungkan kebahagiaanmu pada manusia yang salah, semesta tidak hanya akan membasuh air matamu, melainkan juga akan mempertemukanmu dengan orang-orang baru yang dikirim Tuhan untuk menghargai setiap jengkal langkah kakimu.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!