Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kabar ke Jakarta & Rencana Jahat Rian
Berita tentang kebangkitan Bagas perlahan namun pasti menembus batas wilayah, menyebar hingga ke kota Jakarta.
Tempat di mana semuanya bermula, tempat di mana ia pernah bekerja sebagai petugas kebersihan, dan tempat di mana hati serta janjinya tertambat erat.
Di berbagai media bisnis maupun percakapan antar pengusaha, nama Bagas sering disebut-sebut.
Pemuda yang berangkat dari nol, jujur dalam berusaha, teguh memegang prinsip, dan berhasil membangun perusahaan besar bernama PT Mitra Sejahtera yang kini menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak pengusaha kecil di daerahnya.
Kabar itu pun sampai ke telinga Pak Ardiansyah, mantan pemilik kantor tempat Bagas pernah bekerja bertahun-tahun silam. Saat membaca artikel yang memuat profil dan perjalanan hidup Bagas, pria itu terdiam lama, wajahnya dipenuhi rasa sesal yang mendalam. Ia teringat kembali kejadian masa lalu. Saat Bagas difitnah mencuri, saat ia membiarkan pendapat orang lain menilai rendah pemuda itu tanpa menyelidiki kebenaran, saat ia membiarkan Bagas pergi dengan hati yang terluka dan rasa tidak adil yang membekas.
“Ternyata aku salah besar…” gumam Pak Ardiansyah lirih sambil menghela napas panjang. “Laki-laki yang dulu aku anggap biasa saja, yang pernah aku ragukan kejujurannya, ternyata memiliki hati yang mulia dan ketangguhan yang luar biasa. Andai saja dulu aku lebih percaya padanya, andai saja aku memberinya kesempatan lebih banyak. Mungkin jalan ceritanya akan berbeda. Namun kini, melihatnya sukses dengan cara yang bersih dan bermanfaat bagi banyak orang, setidaknya aku tahu bahwa ia tidak pernah membiarkan penghinaan masa lalu menghancurkan masa depannya.”
Berbeda dengan rasa sesal dan kekaguman Pak Ardiansyah, di sudut lain kota Jakarta, kabar itu justru membakar amarah dan rasa iri yang sudah lama terpendam. Rian, pria yang sejak dulu memendam benci dan cemburu buta pada Bagas, mendengar berita itu dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal erat. Selama ini ia merasa puas mengira Bagas hanyalah orang miskin yang hilang entah ke mana, tak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan. Namun kenyataan yang didengarnya kini membalikkan segalanya. Bagas tidak hanya hidup, tapi ia menjadi orang sukses, disegani, dan bahkan masih terus menjalin hubungan dengan Naya, wanita yang selama ini Rian inginkan namun tak pernah bisa ia miliki.
“Tidak mungkin…” desis Rian dengan suara penuh kebencian. “Orang rendahan seperti dia bisa sukses besar? Bisa hidup layak dan bahkan tetap dekat dengan Naya? Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan dia bahagia. Apa yang dia miliki harus hancur, sama seperti dulu aku berusaha menjatuhkan namanya.”
Dipenuhi api dendam yang membutakan akal sehat, Rian mulai bergerak mencari celah untuk menghancurkan segala yang telah dibangun Bagas. Melalui koneksi di dunia usaha, ia berhasil menjalin hubungan dengan salah satu pimpinan perusahaan raksasa yang selama ini menjadi pesaing berat Bagas. Pihak yang beberapa waktu lalu sempat melancarkan serangan fitnah namun gagal menjatuhkan nama baik PT Mitra Sejahtera. Keduanya memiliki tujuan yang sama. Menghapus keberadaan Bagas dari peta bisnis, maka mereka pun bersekongkol menyusun rencana yang jauh lebih berbahaya dan mematikan.
“Kita tidak bisa menyerang dari luar lagi,” ujar Rian dalam pertemuan rahasia itu dengan senyum licik. “Bagas terlalu berhati-hati, laporan keuangannya rapi, dan masyarakat percaya penuh padanya. Kalau kita menyerang lewat jalur hukum atau opini publik lagi, kita hanya akan malu sendiri. Tapi ada satu cara yang lebih ampuh, hancurkan dia dari dalam.”
Rian menjelaskan rencana jahat itu dengan rinci. Ia akan menyusupkan orang kepercayaannya untuk menjalin kerja sama seolah-olah sebagai mitra investasi besar. Orang itu akan menawarkan proyek pengembangan skala besar yang terlihat sangat menguntungkan, lengkap dengan dokumen yang dipalsukan sedemikian rupa hingga tampak sah dan meyakinkan. Jika Bagas tergiur dan menyetujui kerja sama itu, dana besar perusahaan akan dialirkan ke rekening yang telah disiapkan, lalu uang itu akan lenyap dalam sekejap meninggalkan utang dan kerugian yang sangat besar. Jumlah yang cukup untuk membuat PT Mitra Sejahtera gulung tikar dalam waktu singkat.
“Begitu dia bangkrut dan namanya akan tercoreng karena kasus penipuan,” lanjut Rian dengan sorot mata yang dingin.
Pihak pesaing itu menyetujui rencana tersebut tanpa ragu. Bagi mereka, ini adalah kesempatan emas untuk menyingkirkan pesaing terberat sekaligus tanpa harus mengotori tangan mereka secara langsung. Mereka bersedia menanggung biaya dan segala persiapan agar penyamaran itu terlihat sempurna.
"Tidak lagi hanya menjadi debu yang di lewati."
oh iya, saran aja thor, klo di platform mending paragrafnya dipecah biar enak bacanya. semangat!/Determined/