NovelToon NovelToon
Simpanan CEO Muda

Simpanan CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.

Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.

Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.

“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”

Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.

Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Tak mau memikirkan ada apa dengan Zian, Amira memilih untuk segera masuk dan mulai kerja. Meski hanya bekerja sebagai OG, kegiatan Amira setiap harinya cukup sibuk. Apalagi setelah libur dua hari, Bu Mis benar-benar memberikan hukuman pada Amira. Tak seberat sebelumnya, kali ini hanya disuruh membersihkan seluruh toilet di gedung ini.

"Sekarang tinggal lantai empat dan lima, ayo semangat Amira!"

Totalnya ada sepuluh toilet dalam satu gedung dan baru Amira bersihkan lima toilet di lantai satu, dua, dan tiga. Sisanya masih lima lagi, yaitu di lantai empat dan lima.

Waktu istirahat makan siang tiba, Amira pergi ke kantin kantor untuk makan siang. Tempatnya ada di lantai satu, jadi Amira harus turun dari lantai tiga ke lantai satu menggunakan lift.

Pintu lift terbuka. Amira sedikit terkejut saat melihat Zian ada di dalam lift tersebut. Gadis itu tiba-tiba salah tingkah dan menggigit bibir bawah tanpa sadar.

"Kamu tidak jadi masuk?" ucap Zian dengan wajah datar. Dia masih sama seperti sebelumnya, terlihat dingin pada Amira.

"Jad-i, Pak," Amira segera masuk.

Zian sekarang sangat berbeda. Amira bahkan tidak mengerti mengapa dia berubah secepat ini. Selama di dalam lift, keduanya hanya diam. Tidak ada yang membuka suara, bahkan ketika sampai di lantai satu pun mereka masih saling diam.

Amira jelas merasakan perbedaan itu. Ia pun bertanya-tanya ada apa dengan Zian, mengapa tiba-tiba mendiamkannya. Bukan hanya sekarang, tapi juga pagi tadi. Yah, pagi tadi Amira sempat menanyakan sesuatu, tapi pria itu hanya menjawab dengan singkat. Beberapa kali Amira mengajak ngobrol, dia juga tidak merespons. Awalnya Amira pikir dia sedang tidak bad mood, tapi setelah di lift tadi, agaknya Zian memang marah.

"Apa karena aku mengatainya museum, ya?" gumam Amira menebak-nebak kesalahan apa yang dia perbuat hingga membuat pria itu marah. "Tapi masa sih?" sambungnya lagi.

"Kamu lagi apa, Mir? Kok kayak ngomong sendiri gitu?" Amel tiba-tiba datang dan duduk di depan Amira.

Amira menggeleng. Dia tidak mungkin menceritakan pada Amel. "Tidak apa-apa, Mel. Aku cuma lagi ngitung pengeluaran bulan ini," ucap Amira tak lupa dengan senyum simpul.

Amel mengangguk paham. "Ngomong-ngomong, terima kasih ya, Mir. Waktu itu kamu sudah mengganti shift malamku. Tapi aku dengar kamu tidak masuk dua hari. Ke mana tuh?"

Deg!

Amira menelan ludahnya dalam-dalam saat mendengar kalimat terakhir yang Amel katakan. Akibatnya Amira jadi tersedak makanan. "Eh, kenapa? Ini cepat minum!" Amel langsung memberi Amira air minum.

"Kamu kenapa, Mir? Bisa sampai kesedak gitu?" tanya Amel kembali, saat melihat sahabatnya selesai minum.

"Pedes banget semur tahunya, Mel. Jadi keselek deh," bohong Amira. Tidak mungkin kan dia berkata apa yang sebenarnya terjadi kalau dia kaget dengan pertanyaan Amel.

"Masa sih?" Amel segera mencicipi menu makan siang yang sama dengan Amira itu. "Ehm... iya, beneran pedas."

Kenyataannya memang begitu. Semur tahunya pedas, Amira tidak mengada-ada. Tapi masalah tersedak itu beda lagi. Amira juga suka pedas, jadi semur tahu itu bukan masalahnya.

"Amira, ya?" ucap seorang pria bersetelan rapi dengan kemeja putih dan celana hitam.

Amira mengangguk. Dia rasa tidak mengenal pria ini.

"Maaf, siapa ya?"

"Perkenalkan, saya Kevin, asisten pribadinya Pak Zian," ucap pria itu. "Pak Zian bilang kamu disuruh ke ruangannya sekarang," sambungnya.

"Mau apa?"

Kevin menggeleng. "Saya juga kurang tahu. Silakan kamu ke sana dulu saja."

Amel yang menyimak itu pun penasaran. Tumben sekali Pak Zian menyuruh OG seperti Amira untuk menemuinya. Biasanya jika urusan penting selalu melewati Bu Mis selaku ketua OG.

Tak banyak bertanya lagi, Amira mengikuti Kevin hingga ke ruang Zian yang ada di lantai empat. Tidak lupa dia juga sekalian membawa alat untuk membersihkan toilet.

"Tuan, Mbak Amira sudah di depan," ucap Kevin.

"Kenapa di luar? Suruh masuk."

"Tapi, Tuan, dia tidak mau."

Zian menghela napas lalu beranjak dari kursi kerja, menghampiri Amira yang menunggu di pintu depan dengan alat-alat pembersih itu. "Masuk dulu," ucap Zian yang langsung mendapatkan gelengan dari Amira.

"Di sini saja, Pak. Baju aku bau habis bersihin toilet. Kalau aku masuk, nanti ruangan Bapak jadi bau."

Tidak peduli dengan ucapan gadis itu, Zian justru menarik tangan Amira begitu saja untuk masuk ke dalam. "Susah banget disuruh masuk doang. Sudah, duduk!" tegas Zian.

Nyali Amira seketika menciut. Keberanian tiba-tiba menghilang kala pria ini kembali bersikap tegas seperti biasanya.

"Kamu sudah makan?" tanyanya.

"Sudah, tapi baru setengah," jawab Amira.

Ya begitulah. Baru beberapa suap, asisten Zian datang dan menyuruhnya ke sini. Lagi enak makan malah diganggu. Amira menghela napas saat membayangkan semur tahu kesukaannya harus mubazir.

"Kenapa setengah?"

"Kan Bapak yang suruh aku ke sini. Jadi, ada apa? Kenapa aku disuruh ke sini?" kata Amira tanpa basa-basi.

Berani sekali. Satu kata itu yang kini selalu terlintas di benak Zian. Padahal sebelumnya, untuk menatap matanya saja Amira tidak berani. Entah sejak kapan dia menjadi berani.

"Yasudah, lupakan. Sekarang kamu masih lapar?"

"Menurut Bapak? Ya iya dong. Bapak tahu tidak, tadi itu makanan terenak aku, tahu."

"Ayo, aku ganti. Aku ganti sama yang paling enak."

"Beneran, Pak? Eh, tapi sudah jam setengah satu. Istirahat makan siang mau selesai, Pak. Kalau aku pergi, nanti Bu Mis marah lagi," ucap Amira saat melihat jam dinding.

"Kamu lupa suami kamu siapa?" Zian menatap Amira.

1
Blu Lovfres
lampir sinting😁🤣
Blu Lovfres
nyesek y ternyata nasibnya zian
Blu Lovfres
hadehh amira terlalu lebay banget 😁🤣
Blu Lovfres
😁🤣
Blu Lovfres
next thor
Blu Lovfres
ceo tolol o'on lebih tolol lagi astinnya, 😁
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care
Blu Lovfres
y udah datangkan saja mba kunti bibir merah untuk zian thor 🤣🤣🤣🤣
Blu Lovfres
ga tau kelanjutannya pernikahan amira dn zian
Ni Cristi
yuk yukk pernah baca dimana nihh alur yang mirip nya
Blu Lovfres
Kayak nya ada pernah baca deh alur novel ini ,
Blu Lovfres
mampir kesini thor 😘
Ni Cristi: Welcome 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!