Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 17 Salah Paham|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Pintu logam itu cukup berat, tapi Bara dapat mendorongnya dengan satu tangan tanpa usaha yang berarti. Gerakannya mulus, nyaris tanpa suara. Ia bahkan sempat menahan pintu untuk memberi jalan agar Nana dapat masuk lebih dulu.
Nana melangkah masuk—lalu tanpa sadar memperlambat langkahnya.
Tangga darurat ini terasa seperti ruangan yang telah ditinggalkan oleh waktu. Dinding beton ruangan itu tampak kusam, seolah tak pernah tersentuh cat baru sejak gedung ini pertama kali berdiri. Retakan tipis menjalar di lantai semen, samar tapi cukup jelas kalau diperhatikan.
Pintu logam itu menutup di belakang mereka. Bunyi klik-nya memantul di ruang sempit, terdengar lebih nyaring dari seharusnya.
"Om," suara Nana turun setingkat, hampir seperti berbisik, "ini tangga darurat. Ngapain kita ke sini?"
"Iya."
Bara berbalik menghadapnya. Jarak di antara mereka kira-kira satu meter—cukup dekat untuk bicara tanpa meninggikan suara, tapi tetap terasa terlalu dekat untuk ruangan sekecil ini.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Bara.
Nana mengangguk pelan. Matanya terbuka sedikit lebih lebar dari biasanya. Ia menimbang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bara sempat membuka mulutnya. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah tersusun rapi di dalam kepalanya, pertanyaan tentang siapa ayah Nana, asal-usul keluarganya, dan sejauh apa ia mengenal nama Adama.
Namun kata-kata itu tertahan di ujung lidah. Suara Davian kembali muncul di kepalanya, tenang dan menyebalkan. "Jangan terburu-buru, Wakadanna...." Dan, sialnya, Bara tahu itu benar.
Yang terjadi setelah itu bukan lah bagian dari rencana siapa pun.
Bara sempat terdiam, ia mencoba menyusun kalimat dan mencari kata-kata yang cukup aman untuk diucapkannya di depan gadis yang masih terlihat terlalu polos di hadapannya.
Di sela jeda itu, Nana yang berdiri dengan tas masih menggantung di bahunya, tiba-tiba menangkap sesuatu.
Tatapannya berhenti di bahu kiri Bara. "Ada sesuatu di bahu Om," gumam Nana tiba-tiba, memecah keheningan.
Bara tidak bergerak, matanya mengunci mata Nana. "Apa?"
"Benang. Membuat Om... maksudku, membuatmu kelihatan kurang rapi."
Nana melangkah maju tanpa sadar. Jarak yang tadinya aman kini menyusut secara drastis. Tangannya terangkat, mendarat ringan di bahu kiri kaus polo Bara.
"Di sini... ada benang yang mencuat."
Fokus Nana mengerucut pada jahitan kain itu. Ia menjepit ujung benang dengan hati-hati, sementara napasnya yang hangat menerpa leher Bara. Bara terdiam, otot-otot tubuhnya menegang karena tak biasa berada di situasi seperti ini. Ia sekarang bisa mencium aroma stroberi dari sampo Nana yang bercampur dengan bau parfum beraroma manis.
"Nah," gumam Nana puas. Ia mendongak, dan seketika dunianya berhenti berputar.
Wajahnya kini sejajar dengan tulang selangka Bara. Sedikit saja Bara menunduk, bibir mereka mungkin akan bersentuhan. Keheningan di antara mereka mendadak berubah menjadi sebuah kecanggungan. Mata Nana membelalak, rona warna merah padam merayap dari leher hingga ke pipinya saat menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini.
"Ya ampun..." suara Nana nyaris hilang.
Ia mundur dua langkah dengan tergesa-gesa. Namun, tumit sepatunya tersangkut pada bibir anak tangga di belakangnya.
"Ah!"
Refleks Bara bekerja lebih cepat dari logikanya. Tangannya menyambar lengan Nana, menarik gadis itu kembali ke arahnya untuk menjaga keseimbangan. Tarikan itu terlalu kuat membuat tubuh Nana menghantam dada bidang Bara, dan napas keduanya tersentak secara bersamaan.
Tangan Bara kini melingkar di pinggang Nana, sementara tangan Nana menempel di dada Bara, Nana merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang—sama liarnya dengan detak jantungnya sendiri.
Bara menundukkan kepalanya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter lagi dari wajah Nana. Tatapannya jatuh pada bibir Nana yang sedikit terbuka, lalu kembali ke mata gadis itu yang tampak berkaca-kaca karena luapan emosi.
Nana memejamkan matanya perlahan, tubuhnya condong ke depan seolah menyerahkan diri pada gravitasi yang tak terlihat. Ia pikir, di tengah sunyinya tangga darurat ini, Bara mungkin akan segera menciumnya.
Namun, tepat sebelum jarak itu lenyap, Bara berbisik dengan nada yang sangat rendah dan serak.
"Hati-hati. Kamu tidak memperhatikan langkahmu."
Nana membuka matanya, mengerjap bingung. Bara perlahan melepaskan pelukannya, meski tangannya masih terasa panas di pinggang Nana.
"Ma-makasih," ucap Nana, ia buru-buru merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan. "Tadi... benangnya sudah beres."
"Terima kasih," balas Bara datar, meski matanya masih sesekali terpaku pada bibir Nana yang terkatup.
"Om mau bicara apa tadi?"
Bara menghela napas, memasukkan tangan ke saku celana untuk menyembunyikan jemarinya yang sedikit gemetar.
"Pertama, jangan panggil aku Om."
Nana mendongak, alisnya bertaut. "Ha?"
"Aku tidak merasa setua itu sampai kau harus memanggilku begitu setiap menit," kata Bara dengan sedikit penekanan sarkas. "Panggil namaku saja."
Nana mengerucutkan bibir. "Bara? Langsung nama gitu? Tapi kan kamu lebih tua—"
"Aku tidak bilang aku lebih tua," potong Bara tegas.
Nana menelan ludah, mencoba membiasakan lidahnya. "Oke... B-Bara. Jadi, ada apa?"
Bara menatap dinding beton sejenak sebelum kembali menatap Nana. "Kamu baik-baik saja? Soal Vina tadi."
Nana tertegun. Ia tidak menyangka pria sekaku Bara akan menanyakan hal itu. "Aku baik-baik saja kok. Ka-kamu tidak perlu khawatir gitu."
"Kamu terlihat gugup," desis Bara, melangkah mendekat lagi, ia memojokkan Nana ke dinding beton.
"Kenapa? Kamu takut karena tempat ini sepi? Atau karena kamu takut aku akan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menangkapmu saat jatuh?"
Nana menahan napas, dadanya naik turun dengan cepat. "Tempat sepi itu... aneh kalau aku tidak tahu situasinya. Dan aku tidak tahu kamu maunya apa. Kamu seperti... sedang menyembunyikan sesuatu yang besar di balik wajah datarmu itu."
Bara menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang terlihat sangat tampan sekaligus mengancam di bawah lampu remang tangga darurat.
"Semua orang punya rahasia, Nana. Bedanya, rahasiaku tidak akan membuatmu bosan."
Nana menatapnya berani, meski hatinya bergetar. "Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Bara? Tidak mungkinkan cuma soal benang di bahu atau soal Vina, kan?"
Bara terdiam, menatap dalam ke mata kecokelatan itu. Ia selangkah lagi dari tujuannya, namun ia sadar, melangkah lebih jauh berarti ia tidak hanya akan mengungkap rahasia Adama, tapi juga mungkin akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
...***...
Di balik pintu logam yang tidak menutup rapat, tersisa celah sempit tak lebih dari dua sentimeter. Cukup untuk satu lensa ponsel merekam secara diam-diam.
Dari sudut sempit itu, yang terlihat hanyalah siluet yang menyesatkan dan dua tubuh yang berdiri terlalu dekat. Lensa kamera itu adalah saksi yang buta nada; ia tak mampu membedakan antara gerakan refleks menahan seseorang yang hampir jatuh dengan sebuah pelukan yang intim. Baginya, gestur Bara yang mencengkeram pinggang Nana adalah sebuah skandal yang siap digoreng.
Vina menghentikan rekaman itu. Cahaya dari layar ponsel memantul di bola matanya, memancarkan kilat kepuasan yang dingin.
Jari-jarinya menari di atas layar, menggeser timeline video dengan presisi seorang editor profesional. Ia membuang bagian awal yang dianggapnya tak berguna—bagian di mana Nana hampir terjungkal dan hanya menyisakan detik-detik saat wajah mereka nyaris bersentuhan.
Beberapa detik kemudian, ia menambahkan teks provokatif dengan kata-kata yang mencolok.
"Ups! Akhirnya ketahuan juga kedoknya si 'polos'"
Ia menatap hasil editannya sejenak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tajam. Tanpa ragu, ia menekan tombol send ke grup WhatsApp fakultas yang berisi ratusan mahasiswa.
Keheningan sesaat melanda, seolah seluruh anggota grup sedang menahan napasnya serentak. Lalu, ledakan notifikasi terjadi secara bertubi-tubi.
"OMG! Itu Nana?! Seriusan?!" tulis salah satu mahasiswi dengan emoji kaget berderet.
"Cowok ganteng yang tadi sempat ngusir Vina kan? Kok bisa dia sama si Nana sih? Gua kira dia punya selera tinggi," sahut yang lain, mulai menaburkan bumbu-bumbu kebencian.
"Pantesan tadi di kelas Nana sok akrab dan sok berani... ternyata emang udah ada 'main' di belakang!"
"Cih, sok polos banget mukanya, ternyata jago juga ya main di tangga darurat. Kecewa banget gua sama si cowok, ternyata seleranya mahasiswi yang pura-pura polos dan terzalimi."
Vina melirik arus pesan yang mengalir deras seperti air bah di layarnya. Rasa puas merayap di dadanya, sebuah kemenangan manis setelah dipermalukan di depan kelas tadi. Ia mengunci ponselnya dengan satu ketukan singkat.
"Kita lihat saja siapa yang akan tertawa paling akhir, Nana... dan kau, Tuan Sombong," gumam Vina pelan.
Ia merapikan tali tas di bahunya, menyesuaikan posisinya dengan gerakan yang anggun namun penuh akan rasa puas. Dengan raut wajah yang kembali tenang seolah tak ada badai yang baru saja ia ciptakan, ia melangkah menjauh dari pintu itu.
Di koridor, beberapa mahasiswi yang tadinya memuja Bara mulai berkumpul dalam lingkaran kecil, berbisik dengan nada sinis sambil menatap layar ponsel masing-masing.
"Gue kira dia berwibawa karena emang tegas, ternyata cuma mau ngelindungi simpanannya ya?" celetuk seorang gadis berambut panjang dengan nada iri yang kental.
"Sumpah, gue benci banget liat muka Nana sekarang. Sok suci, padahal gatel juga."
Vina berjalan melewati mereka, membiarkan kebencian itu tumbuh subur di belakang punggungnya. Baginya, satu video singkat sudah cukup untuk menghancurkan reputasi seseorang. Dan bagi Bara, ini hanyalah awal dari kekacauan yang tak pernah ia duga akan datang dari sebuah tangga darurat.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉