"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Siasat Baru Elena
Kemenangan mutlak di ruang rapat pleno Pradipta Tower menyisakan gema yang panjang di koridor lantai eksekutif. Aroma ketegangan yang sempat pekat kini mengendur, menyisakan keheningan sore yang tenang saat matahari ibu kota mulai tenggelam di balik deretan gedung pencakar langit. Warna langit berubah menjadi jingga keunguan, memantul sempurna pada dinding kaca ruang kerja Arkananta.
Ayana berdiri di dekat jendela besar, memandangi kemacetan Jakarta yang perlahan mulai merayap di bawah sana. Ia telah melepas blazer hitamnya, menyisakan kemeja putih berkerah kaku yang lengannya kini digulung hingga sebatas siku. Rasa lelah yang teramat sangat mendadak menghantam seluruh persendiannya begitu adrenalin pertempuran korporat tadi surut.
"Minum ini. Kamu terlihat seperti pasien yang butuh rawat inap, bukan dokternya."
Suara berat Arka memecah keheningan. Pria itu berjalan mendekat dengan dua cangkir keramik hitam yang mengepulkan uap tipis. Arka telah menanggalkan jas abu-abu tiganya; kini ia hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan yang jauh lebih santai dan membumi.
Ayana menoleh dan menerima cangkir tersebut. Begitu aromanya terhirup oleh hidungnya, matanya langsung berbinar. "Teh chamomile dengan madu hutan? Sejak kapan seorang CEO kapitalis yang biasanya memesan espresso pahit menyimpan stok teh penenang di ruang kerjanya?"
Arka mendudukkan dirinya di langkan jendela yang lebar, satu kakinya tertekuk santai. Ia menyesap kopi hitamnya sendiri sebelum menjawab dengan nada datar yang menyembunyikan rasa gengsi. "Saya menyuruh Karina membelinya saat skorsing sepuluh menit tadi. Saya rasa dokter pribadi saya yang rewel ini butuh pasokan glukosa dan penenang syaraf agar tidak pingsan saat mengomeli saya besok."
Ayana tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang membuat keletihan di wajah manisnya seolah menguap begitu saja. Ia ikut mendudukkan dirinya di seberang Arka, membiarkan punggungnya bersandar pada bingkai jendela kaca yang kokoh. "Terima kasih, Pak Bos. Ternyata Anda punya sisi peka juga, ya. Saya kira isi kepala Anda hanya grafik saham dan laporan akuisisi."
"Isi kepala saya jauh lebih rumit dari itu, Ayana," sahut Arka, pandangannya mendadak beralih menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Ayana. Tatapan elangnya kali ini tidak dingin, melainkan dipenuhi oleh kedalaman emosi yang membuat Ayana refleks menahan napasnya sejenak. "Terutama setelah apa yang kamu lakukan di ruang rapat tadi. Kamu tahu... tindakanmu itu sangat berbahaya?"
"Berbahaya bagi siapa? Bagi Tante Elena yang hampir terkena serangan stroke ringan karena kalah berargumen?" balas Ayana jenaka, mencoba mencairkan intensitas tatapan Arka yang mulai membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Berbahaya bagi dirimu sendiri," ujar Arka serius, mengabaikan candaan Ayana. Pria itu meletakkan cangkir kopinya di samping tempat duduknya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Kamu menantang Elena Pradipta di depan seluruh dewan komisaris. Kamu memojokkannya menggunakan dokumen Kakek. Elena bukan tipe wanita yang akan diam saja setelah dipermalukan seperti itu. Dia memiliki jaringan, dia memiliki media, dan dia tidak akan segan-segan mencari tahu setiap jengkal latar belakang kehidupanmu untuk menghancurkanmu."
Ayana menurunkan cangkir tehnya, meletakkannya di atas lututnya yang terlipat. Ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih tenang dan dewasa. "Pak Arka, sebelum saya memutuskan untuk menandatangani kontrak tiga bulan dari kakek Anda di Megamendung, saya sudah memikirkan semua risiko itu. Saya tahu dunia Anda penuh dengan harimau berkemeja mahal. Tapi seperti yang saya katakan semalam... saya adalah dokter Anda. Jika saya takut pada gertakan tante Anda, maka saya tidak layak memegang stetoskop ini."
Ayana menepuk saku kemeja putihnya tempat pulpen gel hitamnya berada. "Dan asal Anda tahu, saya ini keturunan keluarga Sheenaz. Kami mungkin bukan konglomerat yang memiliki gedung setinggi lima puluh lantai, tapi kami dididik untuk tidak pernah mundur satu langkah pun jika berada di pihak yang benar secara medis. Jadi, biarkan Tante Elena mencoba. Saya siap menghadapinya."
Arka menatap garis rahang Ayana yang menunjukkan keteguhan murni seorang wanita pejuang. Rasa kagum yang mengakar di dadanya sejak semalam kini semakin tumbuh subur, menjelma menjadi sebuah dorongan protektif yang teramat kuat. Perlahan, Arka mengulurkan tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah takut memecahkan sesuatu yang berharga—ia menyentuh jemari tangan kiri Ayana yang bebas.
"Saya tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, Ayana," ucap Arka, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang sarat akan janji mutlak. "Kamu sudah menjadi perisai saya di ruang rapat tadi. Maka mulai detik ini... saya yang akan menjadi pedang yang memastikan tidak ada satu pun orang dari keluarga Pradipta yang bisa mengusik karier atau hidupmu."
Sentuhan kulit mereka terasa hangat di tengah AC ruang kerja yang dingin. Ayana merasakan pipinya mendadak merona merah, sebuah sensasi menggelitik yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun fokus di dunia kedokteran. Ia buru-buru menarik tangannya perlahan, berpura-pura meminum kembali teh chamomile-nya untuk menutupi salah tingkahnya.
"Ehem... kalau begitu, pastikan 'pedang' Anda tidak berkarat ya, Pak Bos," seloroh Ayana dengan mata yang berbinar jenaka, meskipun detak jantungnya di dalam dada masih berantakan. "Jangan lupa, besok sore kita punya janji temu dengan volume lima belas persen. Jika Anda gemetar lagi seperti tadi pagi, saya akan menambahkan dosis sayuran hijau di menu makan malam Anda."
Arka mendengus pelan, seulas senyuman tampan terukir di wajahnya. "Kamu benar-benar kejam, Dokter Ayana."
Sementara itu, di sebuah restoran mewah bernuansa privat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, atmosfernya justru berbanding terbalik dengan kedamaian di Pradipta Tower.
Elena Pradipta duduk di dalam ruangan VIP yang tertutup, menggenggam sebuah gelas kristal berisi minuman anggur merah dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih. Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian safari hitam—kepala tim investigasi swasta yang sering ia gunakan untuk menyingkirkan lawan-lawan bisnisnya.
"Bagaimana hasilnya? Apa kamu sudah menemukan sesuatu tentang dokter sialan itu?" tanya Elena dengan nada suara yang bergetar menahan amarah yang teramat masif. Bayangan saat Ayana mengempaskan dokumen hak veto di depan wajahnya tadi pagi masih terus membakar harga dirinya.
Pria bersafari hitam itu membungkuk hormat, lalu meletakkan sebuah map dokumen berwarna cokelat tebal di atas meja marmer. "Kami sudah melacak seluruh latar belakang Dokter Ayana Sheenaz, Ibu Elena. Dia adalah lulusan terbaik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, memiliki rekam medis yang bersih di Rumah Sakit Utama Jakarta, dan tidak memiliki catatan kriminal atau utang finansial apa pun. Singkatnya... dia adalah dokter yang sempurna."
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini!" bentak Elena, memukul meja hingga gelas kristalnya berdenting keras. "Pasti ada celah! Cari tahu tentang keluarganya, hubungannya di masa lalu, atau apa saja yang bisa kita gunakan untuk menekan rumah sakit tempatnya bekerja agar mencabut izin praktiknya!"
Pria itu terdiam sejenak, lalu membuka halaman terakhir dari dokumen di dalam map. "Ada satu hal, Bu. Berdasarkan data aktivitas digitalnya, Dokter Ayana akhir-akhir ini sering melakukan riset mendalam dan konsultasi klinis anonim dengan seorang profesor neuropsikiatri senior di Singapura terkait... metode penanganan trauma PTSD akut tanpa obat-obatan."
Mendengar kata 'PTSD', sepasang mata Elena seketika melebar. Sebuah senyuman culas dan licik perlahan-lahan mulai terkembang di wajahnya yang penuh riasan tebal.
"PTSD..." gumam Elena, memutar-mutar gelas anggurnya dengan seringai kemenangan yang mengerikan. "Jadi... keponakan saya yang agung itu ternyata benar-benar menderita gangguan mental akibat kematian ibunya belasan tahun lalu. Dan dokter muda itu sedang mencoba menyembuhkannya secara rahasia di dalam penthouse."
Elena berdiri dari kursinya, berjalan menuju dinding ruangan dengan binar mata yang dipenuhi oleh rencana jahat yang baru. "Bagus sekali. Jika Arkananta mengira surat hak veto dari ayah saya bisa melindunginya... dia salah besar. Dunia korporat tidak akan pernah menerima seorang pemimpin yang bisa mendadak histeris hanya karena suara bising."
Elena menoleh ke arah mata-matanya. "Siapkan tim dokumentasi dan kamera pengintai jarak jauh. Cari tahu kapan sesi terapi berikutnya akan dilakukan di penthouse atau di luar gedung. Saya ingin bukti rekaman visual saat Arkananta Pradipta mengalami serangan panik total. Kita akan menyebarkannya langsung ke media massa tepat pada hari rapat umum pemegang saham bulan depan. Mari kita lihat... apakah dokter kecil itu bisa menyelamatkan karier keponakan saya saat harga saham Pradipta Group anjlok ke titik nol."
Pertempuran baru yang jauh lebih kotor dan berbahaya telah resmi dirancang di bawah kegelapan malam Menteng, bersiap untuk menguji seberapa kuat pertahanan dan komitmen sumpah medis yang dipegang teguh oleh Ayana Sheenaz untuk melindungi pria yang mulai mencuri hatinya tersebut. Rencana menuju delapan puluh babak kehidupan mereka kini memasuki fase yang teramat krusial.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪