NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:960
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Motor tua Joni menderu pelan memasuki halaman rumahnya yang berpagar bambu. Dari luar, suasana rumah terlihat agak remang-remang, tapi ada yang aneh. Suara ketukan palu dan aroma adukan semen yang menyengat langsung menyambut hidung Joni begitu dia mematikan mesin motor.

Joni melangkah ragu-ragu melewati pintu depan. Benar saja, di ruang tamu, emaknya sedang sibuk memegang sendok semen dengan daster macan tutulnya yang kini penuh bercak putih abu-abu. Tembok kamar Joni yang tadinya open space bolong segede gaban, sekarang sudah setengah tertutup susunan batu bata baru yang cukup rapi.

"Baru pulang lo, anak kampret?" tegur emaknya tanpa menoleh, tangannya dengan lihai meratakan semen di sela batu bata.

"Iya, Mak. nyari modal buat nambal ini rumah," sahut Joni sambil melepas ranselnya dan menaruhnya di atas kursi plastik yang tersisa.

Emaknya langsung menancapkan sendok semen ke dalam ember, lalu berbalik sambil berkacak pinggang. Sepasang matanya yang tajam langsung mengunci ke arah jam tangan pintar di pergelangan tangan kiri Joni yang sedang memancarkan pendar cahaya emas tipis—tanda bahwa ada lonjakan status baru.

"Heh, Jon. Sini lo," panggil emaknya, nadanya mendadak serius.

Joni mendadak gemetaran lagi. Dia melangkah maju dengan ragu. "N-napa lagi, Mak? Joni kagak pacaran beneran dah, tadi cuma makan bareng doang ama Gondrong ama Laras di kantin..."

"Siniin tangan lo! Jangan banyak bacot!"

Joni pasrah menyodorkan tangan kirinya. Emaknya langsung mencengkeram pergelangan tangan Joni, lalu menutup matanya. Sebagai mantan Brawler tipe Full Power tingkat tinggi, emaknya punya kemampuan pasif untuk mendeteksi kepadatan aura energi dalam tubuh seseorang tanpa perlu melihat layar status.

Satu detik... dua detik... mata emaknya tiba-tiba terbuka lebar.

"Buset... Level 17?!" Emaknya melongo, mencengkeram tangan Joni lebih kencang sampai Joni meringis. "Kepadatan Defense lo... melompat jadi sekokoh ini? Lo beneran habis masuk Dimensi Monster atau pasang susuk Badak Jawa, Jon?!"

"Ya masuk dimensi lah, Mak! Mana ada susuk instan begini," protes Joni sambil menarik tangannya kembali. "Joni tadi siang panen raya bareng kelompok. Malah dapet bonus poin banyak banget dari Master Johan gara-gara kerja sama tim kita dinilai paling kompak."

Mendengar nama Johan disebut, ekspresi emaknya sedikit melunak. "Oh, si Johan kapak gede itu masih jadi instruktur? Bagus deh kalau dia yang ngawasin. Terus, gimana soal amanat Emak semalem?"

Joni langsung menghela napas berat. "Udah Joni sampein ke si ninja senior itu, Mak. Tadi pas di loket logistik, Joni ketemuan sama Kak Tian. Pas dia liat Joni udah Level 17, mukanya langsung pucat kayak mayat babi hutan. Terus Joni tantang dia duel resmi di arena kampus kalau level kita udah selaras."

Mendengar cerita itu, wajah emaknya mendadak berubah cerah. Sebuah senyuman bangga yang sangat langka terukir di wajah sang singa betina. Dia menepuk pundak Joni dengan keras sampai Joni hampir terjungkal ke depan.

PLAKK!

"Nah, gitu dong! Itu baru anak gue!" seru emaknya lantang, auranya kembali meledak-ledak. "Gak sia-sia gue jebolin tembok kamar lo semalem! Ternyata mental lo beneran mental Brawler sejati. Kagak ada sejarahnya keturunan kita ciut sama faksi tukang sembunyi di genteng begitu!"

"Tapi ya kagak usah pake ngebobol tembok kamar Joni juga kali, Mak... angin malamnya dingin banget ini," gerutu Joni sambil menunjuk sisa lubang yang belum ditambal.

"Halah, manja amat lo! Level 17 masa takut masuk angin," cibir emaknya, lalu mengambil kembali sendok semennya. "Nih, buruan bantuin gue aduk semennya. Keburu kering nih adukan di ember. Habis ini kita makan, Emak udah beliin sate kambing pakai duit transferan poin lo tadi sore."

Joni langsung semringah mendengar kata sate kambing. Dia buru-buru menggulung lengan kaus seragamnya yang robek, mengambil sekop, lalu mulai mengaduk sisa pasir dan semen dengan penuh semangat.

Sambil mengaduk, pikiran Joni kembali melayang pada bayangan wajah Laras yang merona merah di kantin tadi sore, serta koin perak Sacred Gate yang masih tersimpan rapi di inventori jam tangannya. Langkah awalnya untuk menegakkan harga diri di kampus sudah dimulai dengan sangat baik, dan malam ini, di bawah atap rumahnya yang masih setengah bolong, Joni merasa masa depannya di Akademi Sacred Gate bakal jauh lebih menarik.

TOK! TOK! PROKK!

Joni menyeka keringat di dahinya, lalu meletakkan cetok semen ke dalam ember kosong. Tembok kamarnya akhirnya rapi tegak berdiri, menutup rapat lubang menganga yang semalaman membuatnya masuk angin.

"Alhamdulillah, kelar juga nih tembok, Mak. Romannya malam ini gue bisa tidur tenang tanpa ditemenin nyamuk kebun," ujar Joni sambil merenggangkan pinggangnya yang pegal.

Emaknya mengangguk puas sambil berkecak pinggang, memandangi hasil kerja keras mereka. "Nah, cakep. Kerapian semennya dapet, poin pertahanan temboknya juga naik jadi—"

Belum sempat emaknya menyelesaikan kalimatnya, hawa angin kencang yang sangat tipis namun bertekanan tinggi mendadak berembus dari arah pintu depan.

SWWIIIIINGGGG!

Sebuah bayangan melesat secepat kilat, melewati ruang tamu, dan sedetik kemudian... sebuah tendangan memutar berkecepatan tinggi menghantam dada Joni tanpa ampun.

GABRUKKKKKKK!!!

"KUKKK?!"

Joni bahkan belum sempat mengaktifkan Tokkan Punch atau menyilangkan tangannya. Tubuhnya melayang lurus ke belakang bagai peluru kendali, menghantam susunan batu bata yang baru saja semennya mengering.

KABOOOOMMM!!

Tembok yang baru kelar ditambal satu menit yang lalu itu hancur lebur kembali menjadi puing-puing berdebu untuk yang keempat kalinya. Joni telentang di tengah reruntuhan, matanya berputar-putar melihat langit-langit rumah.

Di bekas posisi berdiri Joni, tampak seorang pria paruh baya berambut klimis dengan jaket kulit hitam dan celana jins ketat sedang berdiri dengan satu kaki terangkat. Dia menurunkan kakinya santai, lalu meniup ujung sepatunya yang berdebu.

"Yaaah, payah! Katanya udah Level 17 dan dapet skill Tokkan Punch. Masa gue pake setengah Power sama Speed tipe DEX aja lo udah mental begitu, Jon?" ejek pria itu sambil terkekeh meremehkan.

Dia adalah Paman Remon, kakak kandung emaknya Joni. Berbeda dengan emaknya yang menganut aliran Full Power. Paman Remon adalah seorang pensiunan Brawler tipe Full DEX (Dexterity/Kelincahan) Level Atas yang kerjaannya emang hobi menguji fisik orang tanpa permisi.

Melihat tembok kamar yang baru selesai dilem semennya hancur lebur lagi dalam sekejap, aura di dalam rumah mendadak mati total. Tekanan udara turun drastis.

Di balik kepulan debu semen, emaknya Joni berdiri diam. Rambut kuncir kudanya perlahan mandek bergerak, sementara daster macan tutulnya mulai bergetar hebat. Matanya menyala merah pekat bagaikan naga yang sarangnya diinjak maling sate.

"B-U-A-N-G-K-E LO, REMONNN!!!" raung emaknya sampai kaca jendela rumah ikut bergetar retak.

WUSSSHHH! DAR! DAR!

Tanpa babibu lagi, emaknya langsung mengaktifkan skill andalan Brawler tipe POW Level 120 yang sudah lama pensiun: [Titanium Elephant Foot]

Seketika, kaki kanan emaknya membesar tiga kali lipat menyerupai kaki gajah purba, dilapisi aura energi Ki berwarna biru pekat yang menyala terang benderang hingga menerangi seluruh ruang tamu. Emaknya berputar di tempat, memanfaatkan daya dorong bumi, lalu melayangkan tendangan kapak lurus ke arah dagu kakaknya sendiri.

SUIIIIINGGGGG! KABOOOMMM!!!

Paman Remon yang dasarnya tipe DEX sempat mencoba menghindar dengan skill dash, tapi ruang tamu yang sempit membuat ruang geraknya terkunci oleh besarnya ukuran kaki emaknya.

JEDDUUAAARRRRRR!!!

"WAAAUUUUUGHHH!!!" jerit Paman Remon melengking tinggi saat tendangan maut itu telak menghantam rahang bawahnya.

Kekuatan Full Power Level 120 bukanlah lelucon. Tubuh Paman Remon melesat vertikal ke atas bagai roket NASA.

BRAKKK! JEDOOT! PREKK!

Genteng, kayu kaso, dan plafon rumah Joni hancur lebur tak bersisa saat dilewati tubuh Paman Remon. Pria paruh baya itu mencelat tinggi ke udara bebas, menembus awan malam, bahkan sempat berpapasan dengan seekor burung hantu yang sedang nyari tikus di langit sore.

"WAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!" teriak Paman Remon dari atas langit saat gravitasinya habis dan tubuhnya mulai nukik balik ke bawah dengan kecepatan terminal.

WUUUUUSSHHHHH!

GABRUKKKKKKKKKKK!!!

Tubuh Paman Remon jatuh berdebam lurus, mendarat darurat tepat di atas meja makan kayu jati yang tersisa di dapur, membuatnya hancur berkeping-keping menjadi abu. Paman Remon telentang di atas lantai dapur dengan posisi kaki di atas, lidahnya menjulur keluar, dan rambut klimisnya kini berubah acak-acakan penuh sarang burung.

Joni yang masih rebahan di reruntuhan tembok kamarnya cuma bisa menatap lubang raksasa di langit-langit rumahnya yang kini langsung memperlihatkan pemandangan bintang-bintang di langit malam.

"Hadeeeeh..." keluh Joni dengan sisa-sisa napasnya. "Kemarin tembok kamar *open space*. Sekarang rumah gue udah *open roof* alias planetarium. Romannya besok gue kuliah pakai baju zirah badak sekalian tidur di pos ronda bae lah."

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!