NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Happy reading guys

------------------------------

Bab 26: Peluru Penebusan Dosa

Bau mesiu yang menyengat seketika memenuhi seisi ruang ICU terisolasi, bercampur dengan aroma anyir darah yang mendadak menyeruak di tengah kegelapan.

Gema suara letusan senjata api tunggal itu perlahan menyusut, menyisakan keheningan yang teramat pekat dan mencekam.

Anastasia Wijaya perlahan membuka sepasang matanya, napasnya memburu satu-satu dengan jantung yang berdegup kencang laksana genderang perang.

Ia masih meringkuk di atas lantai marmer, mendekap erat tubuh Arka dan Alta di bawah perlindungan punggungnya.

Sambil menahan getaran hebat di sekujur tubuhnya, Anastasia memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang.

Bruk!

Sesosok tubuh dengan seragam narapidana oranye yang robek ambruk dengan hantaman keras di atas lantai, tepat di depan pecahan kaca balkon yang berserakan.

Senjata api jenis FN di genggaman tangan Siska Amalia terlepas seketika, berdenting pelan di atas lantai marmer.

Peluru kaliber sembilan milimeter yang ditembakkan oleh Devan Mahendra telah melesat lebih cepat, menembus tepat di ulu hati Siska sebelum wanita ular itu sempat menarik pelatuk senjatanya sendiri.

Siska terkapar dengan sepasang mata bulatnya yang melotot sempurna, memancarkan sisa kegilaan dan rasa tidak percaya yang amat sangat bahwa pria yang selama lima tahun ini melindunginya, kini telah menembakkan peluru kematian untuknya.

Darah segar berwarna merah pekat mengalir deras dari dadanya, menodai lantai ruang medis yang steril.

"Siska..." gumam Anastasia, suaranya tercekat di tenggorokan.

Namun, sebelum Anastasia sempat menegakkan tubuhnya, sebuah erangan parau yang sarat akan rasa sakit yang teramat luar biasa terdengar dari arah ranjang perawatan Devan.

"A-Anya..."

Pip-pip-pip-pip-pip!

Mesin patient monitor darurat kembali bergetar hebat, mengeluarkan bunyi alarm pendek yang memekakkan telinga.

Anastasia menoleh dengan cepat dan seketika menjerit histeris saat melihat kondisi mantan suaminya.

Devan Mahendra tergeletak telentang dengan senjata taktis Rian yang terlepas dari cengkeramannya.

Wajah tampannya kini benar-benar pias tanpa sepeser pun darah, bibirnya memucat laksana mayat hidup.

Kain seprai putih yang menutupi bagian perut kiri Devan kini telah berubah warna menjadi merah pekat yang mengerikan.

Aksi nekat Devan memaksakan otot perut dan lengannya untuk menembak Siska telah membuat seluruh jahitan operasi besar dalam tubuhnya robek total.

Pendarahan dalam skala masif kembali terjadi di depan mata mereka.

"Devan! Bertahanlah! Jangan memejamkan matamu!" raung Anastasia penuh kepanikan yang teramat pekat.

Ia melompat berdiri, mengabaikan mayat Siska di bawah, lalu menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang Devan.

Jemarinya yang gemetar hebat mencoba menekan luka di perut Devan yang terus mengalirkan darah hangat.

"Dokter! Masuk! Selamatkan dia!"

Sekretaris Hendra berteriak histeris melalui interkom radio, memanggil tim medis Wijaya Corps yang berada di luar koridor depan setelah pertempuran taktis melawan tentara bayaran Siska mereda.

Tiga dokter spesialis bedah saraf dan dua perawat senior merangsek masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah yang dipenuhi horor yang nyata.

Mereka langsung mendorong tubuh Anastasia mundur demi memasang formasi darurat penahan pendarahan.

"Nona Anastasia, mohon maaf! Pendarahan dalam pasien terlalu ekstrem! Kami harus membawanya kembali ke ruang operasi utama sekarang juga!"

raung dokter kepala sembari memasangkan masker oksigen darurat berskala tinggi ke wajah Devan yang mulai kehilangan kesadaran seutuhnya.

"Ayah... Ayah jangan tidur lagi..."

Arka menangis histeris di pelukan Hendra, sepasang tangan kecilnya menggapai-gapai ke udara.

Sementara itu, Alta berdiri mematung di samping adiknya.

Sepasang netra elang bocah berusia empat tahun itu menatap lekat-lekat ke arah noda darah Devan yang membasahi lantai marmer.

Jemarinya mengepal kuat di dalam saku celananya, menyembunyikan badai emosional yang teramat besar.

Pria berwajah mirip dengannya itu telah menepati janjinya sebagai seorang ksatria—ia telah menembak monster masa lalu mereka dengan taruhan nyawanya sendiri.

------------------------------

Dua jam kemudian, koridor luar ruang operasi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta diliputi oleh keheningan fajar yang dingin.

Lampu indikator merah di atas pintu operasi masih menyala konstan, menandakan pertempuran medis di dalam sana masih berlangsung dengan sangat sengit.

Anastasia duduk di kursi besi ruang tunggu dengan posisi tubuh membungkuk, kedua telapak tangannya menutupi wajah cantiknya yang kini sembab akibat air mata.

Pakaian blazer formal hitamnya kini telah dinodai oleh sisa bercak darah kering milik Devan.

Di sampingnya, Alta duduk dengan tenang sembari merangkul pundak Arka yang telah kelelahan menangis hingga tertidur lelap di pangkuannya.

‘Kenapa takdir kita harus sekejam ini, Devan...?’ batin Anastasia menjerit parau dalam keputusasaan yang mendalam.

‘Aku baru saja mengatakan kata maaf itu... Anak-anak baru saja menerimamu sebagai pelindung mereka. Kenapa kamu harus mengorbankan dirimu sampai sejauh ini setelah semua penderitaan yang kita lewati?’

Langkah kaki yang terburu-buru terdengar menggema di lorong selasar, membuyarkan lamunan Anastasia.

Rian, asisten pribadi Devan, berjalan mendekat bersama dua pria berjas hitam dari unit intelijen bawah tanah Mahendra Group.

Wajah Rian tampak sangat tegang, memegang sebuah dokumen manifes rahasia yang baru saja diamankan dari ponsel milik Siska Amalia di ruang ICU tadi.

"Nona Anastasia,"

Rian membungkuk hormat sedalam-dalamnya, suaranya terdengar serak menahan beban emosional yang berat.

"Saya membawa laporan darurat terkait jaringan hitam Keluarga Amalia yang tersisa di luar negeri."

Anastasia menegakkan tubuhnya, menyeka sisa air mata di pipinya dengan gerakan yang kembali dingin dan tegas khas penguasa Wijaya Corps.

"Ada apa lagi, Rian? Siska sudah tewas. Samuel dan Paman Kornelius juga sudah berada di sel tahanan. Siapa lagi yang tersisa?"

"Ini mengenai ayah kandung Siska dan Samuel, yaitu Abraham Amalia,"

Rian menyerahkan dokumen tersebut dengan tangan yang gemetar.

"Abraham Amalia ternyata tidak berada di Swiss selama konspirasi ini berlangsung. Pria tua itu diam-diam telah mendarat di pelabuhan swasta Singapura dua jam yang lalu menggunakan paspor diplomatik palsu. Manifes data satelit menunjukkan bahwa ia sedang menggalang sisa kekuatan kartel senjata internasional miliknya untuk melakukan aksi balas dendam berskala militer terhadap seluruh aset Wijaya Corps di Asia Tenggara karena kematian Siska."

Anastasia menyipitkan sepasang netra indahnya yang tajam, memancarkan kilat kemurkaan yang teramat pekat.

Penguasa Wijaya Corps itu menyadari bahwa kematian Siska bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan sumbu ledak baru yang memicu perang fisik berskala internasional yang jauh lebih mematikan.

"Abraham Amalia..."

desis Anastasia, suaranya merendah hingga ke titik beku, memancarkan dominasi mutlak yang mengerikan.

"Dia ingin bermain api dengan Keluarga Wijaya? Baik. Kita layani kegilaannya."

Anastasia berdiri tegak, menoleh ke arah Sekretaris Hendra yang sejak tadi berdiri siaga di dekat dinding.

"Hendra! Hubungi Kakek Angga di Singapura sekarang juga. Informasikan pergerakan Abraham Amalia kepada otoritas militer perbatasan. Dan untuk tim keamanan di sini... perketat seluruh penjagaan rumah sakit ini menjadi status Black Protokol. Jangan biarkan ada satu lalat pun masuk tanpa pemeriksaan sidik jari retina!"

"Baik, dimengerti, Nona Anastasia!"

Hendra membungkuk hormat penuh kepatuhan sebelum melangkah cepat melaksanakan titah.

Benang takdir di fajar hari itu kini benar-benar telah bergeser menuju medan pertempuran fisik yang jauh lebih luas dan berdarah.

Di dalam ruang operasi, Devan Mahendra masih bertaruh nyawa di ambang kematian akibat pendarahan dalam, sementara di luar, Anastasia Wijaya kini harus berdiri tegak memimpin garis depan pertempuran demi membentengi nyawa sepasang anak kembarnya dari ancaman balas dendam Abraham Amalia.

------------------------------

Bersambung......

1
Iffanaya 😽
perasaan ujian mereka gk ada habisnya, semoga mereka semua selamat gk ada yg terluka 🥺
Mboke Pratama
jadi kayak cerita mafia🤭
Finus Ina
baca bab selanjutnya yaa
Mboke Pratama
lanjut
fia ss
bukannya di bab sebelumnya, Siska udah mati yaaa Thor??
Iffanaya 😽
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!