NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Malam Pertama yang Sunyi

Resepsi selesai tepat pukul sebelas malam.

Ballroom yang sejak sore dipenuhi lebih dari seribu tamu perlahan mulai lengang. Musik instrumental yang sejak tadi mengiringi acara akhirnya berhenti. Para staf hotel mulai merapikan meja hidangan, menggulung karpet tambahan, dan memindahkan beberapa rangkaian bunga dari sisi pelaminan.

Bunga-bunga segar bernuansa pink, putih, dan dusty pink masih terlihat cantik, tetapi suasana megah itu kini berubah menjadi lelah.

Semua orang tampak kehabisan tenaga.

Reza dan Zahra memutuskan menginap di hotel bersama Abizar. Begitu pula Aditya dan Aruna. Mereka semua sudah terlalu lelah untuk pulang malam itu. Apalagi keluarga besar masih banyak yang menginap, dan besok pagi masih ada acara kecil bersama keluarga inti.

Jenna dan Shaka pun menginap di hotel yang sama.

Di kamar pengantin yang sudah disiapkan khusus oleh pihak hotel.

Kamar itu luas, mewah, dan hangat. Rangkaian bunga putih menghiasi meja kecil di dekat jendela. Di atas ranjang besar, kelopak mawar disusun membentuk pola hati yang rapi. Lampu kamar dinyalakan redup, memberi kesan romantis yang seharusnya membuat pasangan pengantin baru merasa nyaman.

Namun tidak bagi Jenna.

Begitu pintu kamar tertutup, suasana canggung langsung terasa.

Terlalu canggung.

Terlalu sunyi.

Shaka berdiri di dekat meja, melepas jam tangannya dengan gerakan tenang. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Dingin. Sulit ditebak. Seolah hari panjang yang baru saja mereka lalui tidak meninggalkan apa pun dalam dirinya.

Jenna berdiri beberapa langkah darinya.

Gaun hijau emerald yang ia kenakan sejak resepsi terasa semakin berat di tubuhnya. Kakinya pegal, bahunya lelah, dan hatinya jauh lebih lelah daripada tubuhnya.

Seharian ia tersenyum.

Seharian ia menerima ucapan selamat.

Seharian ia berdiri di samping Shaka, berpura-pura menjadi pengantin bahagia di hadapan keluarga, tamu undangan, karyawan perusahaan, bahkan wartawan.

Namun sekarang, ketika hanya ada mereka berdua, Jenna tidak punya tenaga untuk berpura-pura.

Ia menunduk.

“Jenna mau ganti baju dulu,” ucapnya pelan.

Shaka menoleh singkat. “Hm.”

Hanya itu.

Jenna menarik napas kecil, lalu mengambil tas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Jenna berdiri diam di depan cermin.

Pantulan dirinya terlihat asing.

Gaun emerald itu masih indah. Riasan wajahnya masih rapi. Cadar dan jilbabnya masih terpasang dengan baik. Tetapi matanya tampak lelah. Sangat lelah.

Jenna menyentuh dadanya pelan.

Hari ini ia menikah.

Hari ini ia seharusnya merasa bahagia.

Namun yang ia rasakan justru campuran antara lelah, sedih, dan kecewa.

Ucapan Shaka setelah akad terus terulang di kepalanya.

Saya menikah karena keinginan Mama.

Kamu tidak berhak mengatur hidup saya.

Saya tidak percaya cinta.

Jenna memejamkan mata.

Ia tidak meminta Shaka langsung mencintainya. Ia juga tidak meminta diperlakukan seperti ratu. Ia hanya berharap diberi awal yang lembut. Sedikit saja.

Tetapi Shaka bahkan tidak memberinya itu.

Jenna mengganti gaunnya dengan pakaian tidur panjang yang longgar dan tertutup. Ia tetap mengenakan jilbab dan cadarnya. Meski Shaka kini suaminya, hatinya belum cukup tenang untuk membuka batas yang selama ini ia jaga.

Bukan karena ia menolak status mereka.

Tetapi karena ia terluka.

Dan luka membuatnya ingin menjaga jarak.

Setelah memastikan dirinya rapi, Jenna keluar dari kamar mandi.

Shaka yang sudah berganti pakaian lebih sederhana menoleh ke arahnya.

Tatapannya berhenti sebentar pada cadar dan jilbab yang masih Jenna kenakan.

Namun ia tidak berkomentar.

Jenna tidak menatapnya lama. Ia berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela, mengambil bantal kecil, lalu merebahkan diri di sana.

Shaka mengernyit.

“Apa yang kamu lakukan?”

Jenna memejamkan mata sebentar. “Tidur.”

“Di sofa?”

“Iya.”

Shaka menatapnya beberapa detik.

“Sofa itu tidak nyaman.”

“Tidak apa-apa.”

“Tidur di ranjang.”

Jenna membuka mata dan menatapnya.

“Jenna di sini saja.”

Nada suaranya pelan, tetapi jelas menolak.

Shaka menghela napas pendek. “Kamu sudah berdiri berjam-jam di resepsi. Jangan tidur di sofa.”

Jenna memalingkan wajah ke arah jendela.

“Mas tidak perlu peduli.”

Kalimat itu membuat Shaka terdiam.

Lagi-lagi Jenna mengembalikan ucapannya sendiri dengan cara yang tidak kasar, tetapi cukup tajam.

Shaka berdiri dari sisi ranjang.

“Jenna.”

Jenna tidak menjawab.

“Kalau kamu tidak mau tidur di ranjang karena saya, saya yang tidur di sofa.”

Jenna langsung menoleh.

“Tidak perlu.”

“Jenna.”

“Jenna bilang tidak perlu, Mas.”

Kali ini suaranya sedikit lebih tegas.

Shaka menatapnya. “Kamu istriku. Tidak pantas saya membiarkan kamu tidur di sofa sementara saya tidur di ranjang.”

Jenna tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Lebih seperti tawa pahit yang tertahan.

“Tadi Mas bilang Jenna hanya tanggung jawab. Sekarang Mas sedang menjalankan tanggung jawab itu?”

Rahang Shaka mengeras.

Ia tahu Jenna masih terluka.

Dan ia tahu dirinya pantas menerima sikap dingin itu.

“Saya tidak ingin kamu sakit,” ucapnya rendah.

“Jenna tidak akan sakit hanya karena tidur di sofa.”

“Jenna, jangan keras kepala.”

Jenna duduk perlahan, menatap Shaka dengan mata lelah.

“Mas Shaka tidak perlu bingung. Jenna tidak akan meminta apa pun. Jenna tidak akan mengganggu Mas. Jenna tidak akan mengatur hidup Mas. Malam ini pun Jenna tidak akan mengambil tempat Mas.”

Shaka diam.

Setiap kata Jenna terasa seperti jarum yang menusuk perlahan.

Bukan karena Jenna berteriak.

Justru karena ia berbicara dengan tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang jelas sedang kecewa.

Shaka menarik napas, mencoba menahan sesuatu dalam dadanya yang mulai terasa tidak nyaman.

“Kalau begitu kita tidur di ranjang yang sama,” katanya akhirnya.

Jenna terdiam.

Shaka melanjutkan dengan nada tetap dingin, meski maksudnya tidak sekeras itu.

“Saya janji tidak akan melakukan apa pun selain tidur. Kamu bisa tidur di sisi kanan, saya di sisi kiri. Tidak perlu ada yang tidur di sofa.”

Jenna menatapnya lama.

Bagi orang lain, tawaran itu mungkin terdengar wajar. Mereka sudah suami istri. Ranjang itu memang disiapkan untuk mereka berdua.

Tetapi bagi Jenna, masalahnya bukan sekadar ranjang.

Masalahnya adalah jarak hati.

Bagaimana mungkin ia tidur di samping laki-laki yang beberapa jam lalu berkata bahwa ia tidak berhak mencampuri hidupnya?

Bagaimana mungkin ia merasa aman di dekat seseorang yang memulai pernikahan mereka dengan tembok sedingin itu?

“Tidak, Mas,” jawab Jenna pelan. “Jenna di sofa saja.”

“Jenna—”

“Jenna lelah.”

Dua kata itu menghentikan Shaka.

Jenna kembali merebahkan dirinya di sofa, membelakangi Shaka. Ia menarik selimut kecil yang tersedia di sana hingga menutupi tubuhnya.

“Selamat malam, Mas.”

Shaka berdiri diam.

Lampu kamar yang redup membuat bayangan tubuh Jenna tampak kecil di atas sofa besar itu. Ia terlihat begitu lelah. Begitu jauh. Begitu berbeda dari Jenna yang ia lihat pertama kali di kafe—perempuan lembut yang merangkai bunga dengan tenang dan memberi senyum hangat kepada pelanggan.

Dan semua jarak itu muncul karena dirinya.

Shaka tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia mematikan sebagian lampu, menyisakan lampu tidur di dekat ranjang. Lalu ia duduk di tepi ranjang, menatap Jenna dari kejauhan.

Malam pertama mereka tidak berisi percakapan hangat.

Tidak ada canda.

Tidak ada doa bersama.

Tidak ada perasaan manis yang biasa dibayangkan orang setelah akad.

Hanya diam.

Dan luka yang sama-sama mereka sembunyikan.

Beberapa lama kemudian, napas Jenna mulai terdengar lebih teratur.

Ia tertidur.

Mungkin karena terlalu lelah.

Mungkin karena tubuhnya tidak lagi sanggup menahan hari yang panjang.

Shaka tetap terjaga.

Ia memandangi Jenna yang tertidur di sofa. Posisi tidurnya tidak nyaman. Tubuhnya sedikit meringkuk, seolah masih mencoba melindungi dirinya sendiri bahkan dalam tidur.

Shaka menghela napas pelan.

Ia berdiri.

Dengan langkah hati-hati, ia mendekati sofa. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di sana, menatap istrinya.

Istrinya.

Kata itu masih asing, tetapi malam ini terasa lebih berat.

Shaka melihat sisa lelah di wajah Jenna yang sebagian tertutup cadar. Jilbabnya sedikit bergeser, tetapi tetap menutupi dengan rapi. Matanya terpejam. Dari dekat, ia tampak jauh lebih rapuh daripada saat berdiri di pelaminan.

Di hadapan ratusan tamu, Jenna tampak anggun dan kuat.

Namun di sini, di kamar yang sunyi, Shaka bisa melihat betapa lelahnya perempuan itu.

Pelan-pelan, Shaka membungkuk.

Ia menyelipkan satu tangan di bawah punggung Jenna dan satu lagi di bawah lututnya, lalu mengangkat tubuhnya dengan sangat hati-hati.

Jenna bergerak sedikit dalam tidurnya, tetapi tidak terbangun.

Shaka menahan napas sejenak.

Tubuh Jenna terasa ringan di pelukannya. Terlalu ringan.

Ia membawanya menuju ranjang, lalu meletakkannya di sisi kanan dengan gerakan perlahan. Setelah itu, ia menarik selimut dan menutup tubuh Jenna sampai dada.

Jenna menghela napas kecil dalam tidur, lalu kembali tenang.

Shaka berdiri di samping ranjang.

Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.

Ia menatap wajah Jenna yang tertutup cadar, lalu matanya berhenti pada jemari Jenna yang menggenggam ujung selimut.

Ada rasa bersalah yang kembali datang.

Lebih tajam dari sebelumnya.

Ia tidak tahu bagaimana meminta maaf.

Ia tidak terbiasa mengakui bahwa dirinya salah.

Namun malam itu, melihat Jenna tertidur dalam kelelahan, Shaka tahu satu hal dengan sangat jelas.

Ia sudah memulai pernikahan ini dengan buruk.

Sangat buruk.

Shaka menunduk sedikit, lalu berbisik hampir tanpa suara.

“Maaf.”

Jenna tidak mendengarnya.

Atau mungkin Shaka memang belum cukup berani mengatakannya saat Jenna terjaga.

Setelah memastikan Jenna nyaman di ranjang, Shaka mengambil bantal lain dari lemari dan berjalan menuju sofa.

Ia merebahkan diri di sana.

Sofa itu memang tidak nyaman. Terlalu pendek untuk tubuhnya yang tinggi. Bahunya terasa kaku begitu ia berbaring. Namun Shaka tidak peduli.

Ia menatap langit-langit kamar yang remang.

Di atas ranjang, Jenna tidur dengan tenang, meski hatinya mungkin belum tenang.

Di sofa, Shaka memejamkan mata, tetapi pikirannya tetap hidup.

Malam itu, mereka tidur dalam satu kamar.

Tetapi bukan seperti pasangan pengantin baru yang saling mendekat.

Mereka tidur dengan jarak.

Jenna di ranjang karena diam-diam dipindahkan oleh Shaka.

Shaka di sofa karena diam-diam memilih menanggung ketidaknyamanan yang tadinya ingin Jenna ambil sendiri.

Tidak ada yang berubah secara besar malam itu.

Shaka masih dingin.

Jenna masih kecewa.

Tetapi di antara sunyi kamar hotel dan sisa harum bunga dari pesta pernikahan mereka, ada satu hal kecil yang mulai muncul.

Bukan cinta.

Belum.

Hanya kesadaran pelan di hati Shaka bahwa menjaga seseorang tidak cukup dengan memberinya tempat tinggal, perlindungan, dan nama baik.

Menjaga seseorang berarti memastikan ia tidak merasa sendirian.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Shaka mulai memahami bahwa tanggung jawab sebagai suami jauh lebih besar daripada kalimat dingin yang ia ucapkan setelah akad.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!