NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Ketahuan

“Ami?” Suara salah satu ibu petani membuatnya tersadar. “Kamu nggak apa-apa?”

Ami cepat mengangguk. “Iya… nggak apa-apa.”

"Tadi itu kalian ngapain?" tanya ibu itu lagi.

Ami langsung pucat.

"Kelihatan dekat sekali, kayak ...."

"Berdebat!" jawab Ami spontan. Ternyata mereka tak sadar kalau Rasyid memeluk Ami sebab tubuhnya tertutup tubuh Rasyid yang jauh lebih tinggi darinya. "Masalah bantuan pupuk subsidi," jawab Ami ngasal.

"Masih belum ada kesepakatan juga? Ya ampun, kenapa sih bantuan untuk petani seperti kita ini sulit sekali." ibu itu kembali menimpali.

Sesaat mereka membahas masalah pupuk yang langka dan kemungkinan tidak disubsidi.

Begitu mereka akhirnya pergi, Ami langsung terduduk lemas di pematang kebun. Tangannya menutup wajah sendiri. “Ya Allah…” Semua makin kacau. Ia ingin menjauh dari Rasyid demi kebaikan bersama. Tetapi laki-laki itu justru terus datang menghancurkan pertahanan yang susah payah ia bangun. Dan yang paling membuat Ami takut bukan lagi soal omongan orang. Melainkan karena hatinya sendiri mulai terlalu sulit melepaskan Rasyid.

***

Begitu mobil Rasyid memasuki halaman rumah, suasana langsung terasa tidak nyaman. Beberapa anggota tim sukses terlihat mondar-mandir dengan wajah tegang. Dan di teras depan, Paman Badri sudah berdiri menunggu dengan ekspresi penuh amarah.

Begitu Rasyid turun dari mobil, pria itu langsung menghampiri. “Kamu ke mana saja?!” Nada suaranya tinggi, jelas menahan emosi sejak tadi. “Kita sudah tiga jam menunggu!” lanjutnya geram. “Harusnya kamu kunjungan ke kecamatan hari ini, Syid. Malah berkeliaran nggak ada kabar!”

Andre yang ikut turun langsung memilih diam. Ia tahu situasinya buruk. Namun Rasyid sendiri terlihat jauh lebih dingin dari biasanya. Ia melepas jaketnya pelan lalu menatap pamannya lurus. “Paman menemui Ami?”

Paman Badri sedikit tersentak.

“Untuk apa?” lanjut Rasyid dengan suara rendah namun tajam. “Aku sudah bilang jangan ikut campur urusanku.”

Beberapa orang tim sukses mulai saling pandang canggung. Karena selama ini, Rasyid jarang sekali berbicara setajam itu pada keluarganya sendiri.

Paman Badri justru tertawa kecil penuh sindiran. “Oh…” Ia mengangguk pelan. “Jadi kamu dari tempat perempuan itu?” Tatapannya mulai penuh kekesalan. “Pantas saja hilang nggak ada kabar.”

Rahang Rasyid mengeras. “Paman datang ke rumahnya dan memperingatkan keluarganya?”

“Saya cuma menjaga masa depan kamu!”

“Dengan membuat mereka ketakutan?”

“Syid!” suara Paman Badri meninggi sekarang. “Sadar diri kamu itu siapa!” Suasana halaman mendadak sunyi. “Kamu calon pemimpin!” lanjutnya penuh tekanan. “Jangan egois cuma memikirkan perasaan sendiri!”

Rasyid tertawa kecil hambar. “Egois?”

“Iya!” Paman Badri melangkah mendekat. “Ribuan orang menggantungkan harapan sama kamu. Keluarga kita mempertaruhkan nama besar.”

“Tim sukses kerja siang malam.”

“Dan kamu malah sibuk mengejar perempuan kampung!”

Kalimat terakhir itu membuat tatapan Rasyid berubah dingin.

Namun Paman Badri belum berhenti. “Kamu pikir masyarakat akan diam?” katanya keras. “Orang-orang akan mempertanyakan kualitas calon pemimpinnya!”

“Karena saya mencintai rakyat kecil?”

“Karena kamu memilih perempuan yang tidak selevel!”

Lalu perlahan, Rasyid menatap pamannya lurus. “Kalau pemimpin hanya boleh menikah dengan orang kaya dan berpendidikan tinggi…” suaranya tenang tetapi menusuk, “Lalu kapan rakyat biasa dianggap pantas?”

Paman Badri terdiam sesaat. Namun emosinya masih terlalu tinggi untuk mundur. “Ini bukan dongeng cinta, Syid.”

“Memang bukan.” Tatapan Rasyid berubah jauh lebih serius sekarang. “Karena saya serius dengan dia.”

Kalimat itu membuat suasana semakin tegang. Dan untuk pertama kalinya, Paman Badri benar-benar sadar Rasyid tidak akan mundur semudah yang ia kira.

“Jangan keras kepala, Syid!” bentak Paman Badri dengan emosi yang semakin meledak. “Kamu mau mengulang sejarah kelam keluarga kita?”

Rasyid mengernyit tajam. Namun kalimat berikutnya membuat suasana berubah jauh lebih dingin.

“Rupanya benar…” Paman Badri tertawa hambar penuh sindiran. “Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya.”

Tatapan Rasyid langsung mengeras.

“Kamu persis ayahmu,” lanjut pria itu tanpa menahan diri lagi. “Memilih perempuan kampungan lalu menghancurkan semua mimpi keluarga!”

“Paman!” Suara Rasyid meninggi untuk pertama kalinya. “Jangan sekali-kali menghina ayah dan ibu saya.” Halaman rumah mendadak sunyi total. Bahkan anggota tim sukses yang tadi masih berdiri mulai mundur perlahan karena ketegangan itu terasa terlalu berat.

Namun Paman Badri juga sudah terlalu emosional untuk berhenti. “Memang kenyataannya begitu!” sahutnya keras. “Dulu aku dan saudara-saudaramu mati-matian mendukung ayahmu maju jadi kepala daerah!” Tatapannya penuh kekecewaan lama yang belum benar-benar hilang. “Semua sudah disiapkan.”

“Jaringan politik.”

“Pendanaan.”

“Dukungan masyarakat.”

“Tapi semua hancur gara-gara perempuan kampungan itu!”

Rasyid mengepalkan tangannya pelan. Dan tanpa sadar, ingatannya mulai kembali pada cerita lama yang selama ini jarang dibicarakan keluarganya. Ayahnya memang pernah dipersiapkan menjadi penerus sang kakek.

Kakeknya adalah pemimpin daerah yang sangat dihormati masyarakat. Sosok kuat yang namanya masih dikenang hingga sekarang. Karena itulah, sejak muda ayah Rasyid sudah diarahkan masuk dunia politik.

Dididik keras. Disekolahkan tinggi. Disiapkan menjadi calon kepala daerah berikutnya. Sampai akhirnya, saat masa kampanye ayahnya jatuh cinta. Pada seorang perempuan desa sederhana. Ibunya.

Perempuan biasa dari kampung yang jauh dari dunia elit politik keluarga mereka. Awalnya keluarga menganggap hubungan itu hanya sementara. Namun ayah Rasyid justru semakin serius. Dan saat kabar hubungan mereka menyebar, banyak pendukung politik mulai keberatan.

Mereka menganggap calon pemimpin seharusnya menikah dengan perempuan dari keluarga besar, berpendidikan tinggi, dan punya pengaruh sosial kuat. Bukan gadis kampung biasa.

Dukungan perlahan berkurang. Relasi politik mulai menjauh. Dan situasi semakin buruk ketika ayah Rasyid memilih tetap mempertahankan ibunya.

Akhirnya pencalonan itu gagal. Kakek Rasyid murka besar. Bukan hanya karena kekalahan politik. Tetapi karena merasa dikhianati oleh anak yang sudah ia siapkan bertahun-tahun.

Dan sejak saat itu, ayah Rasyid memilih menjauh dari dunia politik sepenuhnya.

Rasyid masih ingat bagaimana ayahnya hidup sederhana setelah itu. Tanpa penyesalan. Tetap mencintai ibunya sampai akhir hayat.

“Sekarang kamu mau mengulang kesalahan yang sama?” suara Paman Badri kembali menarik Rasyid dari lamunannya. Tatapan pria itu penuh kemarahan dan ketakutan sekaligus. “Kamu mau menghancurkan masa depanmu demi perempuan kampung lagi?”

Namun perlahan, Rasyid justru menatap pamannya dengan sorot mata yang berubah sangat tenang. Dan itu jauh lebih menakutkan. “Ayah saya tidak menghancurkan hidupnya.”

Paman Badri terdiam sesaat.

Rasyid melanjutkan dengan suara rendah namun tegas, “Beliau hanya memilih perempuan yang dicintainya. Dan sampai akhir hidupnya…” tatapan Rasyid mulai melembut saat mengingat kedua orang tuanya, “…saya tidak pernah melihat ayah menyesal memilih ibu.”

Kalimat itu membuat Paman Badri membisu beberapa detik.

Sementara dalam hati Rasyid, satu keyakinan perlahan tumbuh semakin kuat mungkin memang darah keluarganya selalu memilih cinta bahkan ketika dunia politik menolaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!