NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pengkhianat

Plak! Bugh!

"Arghhh! Ampun, Tuan Lorenzo... Ampun!"

Seorang pria paruh baya dengan pakaian yang sudah robek-robek tergantung dengan kedua tangan terikat rantai besi ke langit-langit gudang. Wajahnya sudah tidak berbentuk lagi—hancur, membiru, dan bersimbah darah segar. Dia adalah salah satu kepala logistik kepercayaan faksi Moretti yang ternyata menjadi tikus yang membocorkan rute perjalanan Dante.

Lorenzo Moretti berdiri beberapa langkah di depan pria itu. dengan memancarkan aura matang yang luar biasa intimidatif—sosok pria kejam yang ketampanannya justru kian tajam dan berbahaya seiring bertambahnya usia itu menatap sang pengkhianat dengan tatapan membunuh.

Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan guratan otot lengan yang kokoh. Tidak ada percikan darah di bajunya, karena sejak tadi, dia hanya berdiri tenang sambil mengisap cerutu, membiarkan Marco yang melakukan bagian eksekusi kasar.

"Kau tahu, kejahatan apa yang paling aku benci di dunia ini, Bram?" tanya Lorenzo, suaranya yang berat dan beratribut kebapakan terdengar sangat tenang, namun justru karena itulah terdengar seperti bisikan malaikat maut.

Pria yang dipanggil Bram itu terbatuk, memuntahkan dua siung giginya yang patah bersama gumpalan darah. "T-Tuan... saya... saya terpaksa... mereka menyandera keluarga saya..."

Lorenzo berjalan mendekat, ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai semen yang dingin terdengar seperti hitung mundur kematian. Dia berhenti tepat di depan Bram, lalu meniupkan asap cerutunya langsung ke wajah pria yang sekarat itu.

"Alasan yang klise," desis Lorenzo dingin. Pria itu mengulurkan tangannya ke samping tanpa menoleh. "Marco. Berikan pisaunya."

"Ini, Tuan," sahut Marco patuh, langsung menyerahkan sebuah pisau belati kecil yang sangat tajam dengan gagang berlapis perak.

Lorenzo menerima pisau itu, memainkannya sebentar di antara jemarinya sebelum ujung mata pisau yang berkilat itu ditempelkan ke pipi Bram. "Dante hampir mati malam ini. Anak kandungku, penerus tunggal Moretti, hampir kehilangan nyawanya karena keserakahanmu menerima uang dari faksi luar. Dan kau pikir, alasan 'keluarga' bisa menyelamatkan nyawamu di hadapanku?"

"A-Ampun, Tuan Lorenzo... Saya mohon... jangan bunuh saya," ratap Bram, seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga rantai yang mengikatnya berdenting riuh.

"tenang saja, Aku tidak akan membunuhmu dengan cepat, Bram." ucap Lorenzo dengan suara rendah yang membuat bram tanpa sadar semakin menggigil ketakutan.

" Karena itu... Terlalu mewah untuk seorang pengkhianat," ucap Lorenzo, matanya berkilat kejam.

Jleb!

"ARGHHHHHHH!!!"

Bram menjerit histeris saat Lorenzo dengan sengaja menusukkan pisau itu perlahan ke paha kanannya, lalu memutarnya di dalam daging hingga darah segar menyembur keluar, membasahi ujung sepatu Lorenzo.

"Katakan padaku," bisik Lorenzo, mendekatkan wajahnya ke telinga Bram yang menangis kesakitan. "Siapa bajingan dari faksi luar mana yang menyewamu? Siapa yang memberikan perintah untuk menghabisi Dante?"

"S-Saya tidak tahu namanya... demi Tuhan, Tuan! Saya hanya dihubungi lewat telepon rahasia... Arghhh! S-Sakit, Tuan!"

Lorenzo menarik pisaunya kasar, lalu tanpa belas kasihan kembali menghujamkannya ke bahu kiri Bram. "Jawaban salah. Coba lagi."

"AGHHH! D-Dia... dia menyebut dirinya 'The Viper'! Dia bilang dia orang suruhan... orang suruhan dari musuh lama Anda! Mereka ingin menghancurkan Anda dengan memancing Dante keluar!" jerit Bram dalam tangisnya, menyerah sepenuhnya karena tidak tahan dengan siksaan yang begitu menyiksa sarafnya.

Lorenzo terdiam. Dia menarik pisaunya, lalu menyeka noda darah yang menempel di bilah besi itu menggunakan saputangan sutra putihnya. Matanya menyipit, otaknya langsung memproses informasi tersebut. Rupanya musuh lamanya sengaja memanfaatkan Dante.

"The Viper... Jadi tikus-tikus tua itu mulai berani keluar dari lubangnya," gumam Lorenzo dingin. Dia berbalik membelakangi Bram, berjalan mendekati Marco.

"Bagaimana dengan keluarga pria ini, Marco?" tanya Lorenzo pelan.

"Sudah diamankan oleh orang-orang kita di kediaman lama, Tuan," jawab Marco tegas.

Bram yang mendengar hal itu langsung mendongak dengan sisa tenaganya, matanya melebar horor. "Tuan Lorenzo... saya mohon! Jangan sentuh keluarga saya! Mereka tidak tahu apa-apa! Saya yang salah! Bunuh saya saja, jangan mereka!"

Lorenzo menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dengan tatapan kosong yang paling mematikan. Sebagai seorang ayah yang hampir kehilangan putra semata wayangnya, batas toleransinya sudah habis. "Kau salah menilai aku, Bram. Aku bukan Dante yang terkadang masih memiliki belas kasihan jika menyangkut wanita dan anak-anak."

Lorenzo melempar pisau perak itu ke lantai, lalu memasang kembali jas hitamnya dengan rapi, mengancingkannya dengan gerakan lambat yang elegan.

"Marco, potong kedua tangan pengkhianat ini dan kirimkan ke faksi 'The Viper' sebagai surat sambutan dariku. Setelah itu, buat dia lenyap dari dunia ini tanpa sisa," perintah Lorenzo mutlak. "Dan untuk keluarganya... pastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."

"Baik, Tuan Lorenzo. Segera dilaksanakan," jawab Marco dengan patuh, langsung mencabut pistol berperedam suara dari balik jasnya.

" TIDAKK... Lorenzo Aku mohon!! Jangan, Tuan Maafkan aku!!! ARGHHH—"

Phut! Phut!

Suara jeritan Bram teredam oleh dua tembakan yang bersarang di kedua lututnya sebelum eksekusi sebenarnya dimulai. Lorenzo melangkah keluar dari gudang tua itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di bawah langit malam Surabaya yang pekat, ekspresi wajah sang ketua mafia itu mengeras. Mereka telah salah melangkah karena berani mengusik ketenangan harimau tua dan mencoba melukai anak kandungnya.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!