NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Tamu Tak Diundang dari Ibu Kota

Setelah pembersihan massal di ruang rapat lantai tiga puluh, atmosfer di dalam Gedung Wijaya Tower berubah total. Tidak ada lagi kasak-kusuk meremehkan di koridor maupun lobi kantor. Semua karyawan kini berjalan dengan punggung tegak dan wajah serius, sadar bahwa Direktur Utama yang baru, Kirana Wijaya, bukanlah boneka pajangan yang bisa dikelabui dengan mudah.

Hendra Wijaya langsung dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Keuangan dan diwajibkan mengembalikan seluruh dana lima miliar rupiah dalam waktu tiga hari jika tidak ingin mendekam di sel tahanan. Sementara Bibi Siska diturunkan pangkatnya menjadi staf biasa tanpa tunjangan jabatan. Tindakan tegas yang didukung penuh oleh Kakek Bramasta ini berhasil mengunci mulut semua oposisi di dalam perusahaan.

Siang itu, di dalam ruang kerja Direktur Utama yang sangat luas dan mewah, Kirana duduk di balik meja jati besarnya. Di hadapannya, tumpukan draf laporan audit keuangan dan rencana ekspansi bisnis terhampar rapi. Meskipun penampilannya tampak sangat anggun dan berwibawa, begitu pintu ruangan terkunci rapat, dia langsung mengembuskan napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas.

"Adrian... kepalaku rasanya mau pecah," keluh Kirana sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Dia menatapku yang sedang duduk santai di sofa kulit sambil menikmati secangkir kopi hitam. "Aku masih merasa semua ini seperti mimpi. Paman Hendra dan Bibi Siska... mereka adalah orang-orang yang paling kutakuti sejak kecil karena sifat mereka yang sangat dominan. Tapi hari ini, mereka bahkan tidak berani menatap mataku."

Aku meletakkan cangkir kopi ke atas meja kaca, lalu berjalan mendekat ke arah mejanya. Aku mengulurkan tangan, mengelus rambut panjangnya dengan lembut untuk menyalurkan energi ketenangan. "Itu karena kamu memiliki kebenaran dan kekuatan hukum di tanganmu, Kirana. Ditambah lagi, mereka tahu bahwa mereka tidak lagi memiliki pelindung di perusahaan ini. Kakek sudah berada di pihak kita."

Kirana memegang tanganku yang berada di bahunya, menatapku dengan mata yang dipenuhi rasa penasaran yang dalam. "Ini semua berkat data yang kamu berikan di dalam lift tadi, kan? Adrian... dari mana kamu bisa mengetahui rahasia sedalam itu tentang rekening Swiss Paman Hendra? Bahkan Kakek pun tidak mengetahuinya selama bertahun-tahun."

Aku tersenyum tipis, menyimpan misteri tentang Sistem Penguasa Dewa rapat-rapat di dalam hatiku. "Anggap saja aku memiliki mata-mata profesional yang bekerja di bawah bayang-bayang, Kirana. Tugasmu sekarang hanyalah fokus memimpin Wijaya Group menjadi perusahaan nomor satu di kota ini. Sisanya, biar aku yang urus."

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang cukup keras dan terkesan tidak sabaran tiba-tiba memotong percakapan kami. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka tanpa menunggu izin dari dalam. Sekretaris pribadi Kirana masuk dengan wajah yang sangat pucat dan tubuh yang sedikit gemetar karena panik.

"M-maaf, Direktur Kirana... saya sudah mencoba menahan mereka, tapi... tapi mereka memaksa masuk," ucap sekretaris itu dengan suara terbata-bata.

Tepat di belakang sekretaris tersebut, melangkah masuk tiga orang pria dengan setelan jas desainer internasional yang sangat mewah dan mahal. Pria yang berjalan di paling depan adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan gaya rambut klimis, wajah tampan namun dipenuhi aura keangkuhan yang luar biasa. Sepatu kulitnya yang mengkilap mengeluarkan bunyi ketukan yang berat di atas lantai ruangan. Di kanan dan kirinya, dua orang pria berbadan tegap dengan ekspresi dingin berjaga seperti perisai hidup—jelas sekali mereka adalah pengawal pribadi tingkat tinggi.

Aku menyipitkan mataku, langsung mengaktifkan 'Mata Penilai Dewa' untuk membaca identitas pria asing yang sangat sombong ini. Sebuah panel layar biru semi-transparan mendadak berkedip di atas kepalanya.

[Nama Target: Nicholas Baskoro]

[Status: Putra Mahkota Baskoro Group (Konglomerat Tingkat 1 dari Ibu Kota)]

[Status Finansial: Kekayaan pribadi Rp 800 Miliar (Aset keluarga mencapai Rp 15 Triliun)]

[Tujuan: Memaksa Wijaya Group melakukan merger secara sepihak untuk menguasai jalur logistik pelabuhan, serta memiliki obsesi pribadi untuk merebut Kirana.]

Membaca data tersebut, senyuman dingin kembali terukir di sudut bibirku. Baskoro Group? Rupanya ada ikan yang lebih besar dari ibu kota yang mencoba memancing di air keruh.

Nicholas Baskoro melangkah maju tanpa memedulikan keberadaanku di ruangan itu. Matanya langsung tertuju pada Kirana, menatap tubuh dan wajah istriku dengan pandangan yang dipenuhi rasa lapar akan kepemilikan. Dia berhenti tepat di depan meja kerja Kirana, lalu meletakkan selembar draf kontrak tebal berlapis kulit buaya ke atas meja dengan kasar.

"Lama tidak berjumpa, Kirana Wijaya. Atau... haruskah aku memanggilmu Direktur Utama yang baru sekarang?" ucap Nicholas dengan nada suara yang terdengar sangat meremehkan, lengkap dengan senyum sinis di wajah tampannya.

Kirana mengerutkan keningnya, tubuhnya refleks menegak. "Nicholas Baskoro? Apa yang kamu lakukan di kantor pribadiku? Setahu saya, Wijaya Group tidak memiliki agenda pertemuan dengan Baskoro Group hari ini."

Nicholas terkekeh pelan, melonggarkan sedikit dasi sutranya dengan gaya yang sok keren. "Agenda? Kirana, bagi Baskoro Group, kami tidak memerlukan agenda untuk mendatangi perusahaan kecil di daerah pinggiran seperti ini. Aku datang ke sini atas perintah ayahku untuk membawa dokumen kesepakatan akuisisi mutlak. Baskoro Group akan membeli delapan puluh persen saham Wijaya Group dengan harga murah, yaitu seratus miliar rupiah."

"Apa?! Seratus miliar?!" Kirana langsung berdiri dari kursinya dengan wajah memerah karena marah. "Nilai aset total Wijaya Group saat ini mencapai minimal lima ratus miliar rupiah! Menjual delapan puluh persen saham dengan harga seratus miliar sama saja dengan merampok perusahaan kami secara terang-terangan! Aku tidak akan pernah menandatangani kontrak gila ini!"

Nicholas tidak terkejut dengan penolakan keras dari Kirana. Dia justru melangkah selangkah lebih dekat, menumpu kedua tangannya di atas meja kerja Kirana dan menatapnya dengan pandangan mengancam. "Kirana, jangan naif. Kakekmu, Bramasta, saat ini sedang sekarat karena kanker dan perusahaan logistik milik kakak iparmu, Kevin, sedang berada di ujung tanduk kebangkrutan. Tanpa perlindungan dan suntikan dana dari Baskoro Group, perusahaan keluargamu ini akan hancur digilas oleh para kompetitor dalam waktu tiga bulan! Ini adalah satu-satunya jalan hidupmu, dan juga... kesempatanmu untuk mendampingiku di ibu kota."

"Dia tidak memerlukan jalan hidup dari seorang pecundang sepertimu," sebuah suara datar dan dingin tiba-tiba memotong ucapan Nicholas dari arah samping.

Nicholas tersentak. Dia perlahan membalikkan badannya, menyadari keberadaanku untuk pertama kalinya. Dia menatap penampilanku yang kasual dari atas ke bawah dengan pandangan yang penuh dengan rasa jijik. "Siapa bajingan miskin ini? Kenapa ada pelayan yang berani berbicara kasar di dalam ruangan Direktur Utama?"

"Dia bukan pelayan, Nicholas!" bentak Kirana dengan suara lantang yang dipenuhi rasa bangga. "Dia adalah Adrian Pratama, suamiku yang sah!"

"Oh... jadi kamu yang namanya Adrian? Menantu sampah yang terkenal di seluruh kota karena hidup dari belas kasihan wanita?" Nicholas tertawa terbahak-bahak, tatapan matanya dipenuhi kejengkelan dan penghinaan. Dia melambaikan tangan kanannya kepada dua pengawal kekar di belakangnya. "Pengawal, patahkan kedua kaki pengemis ini dan seret dia keluar dari gedung ini sekarang juga. Dia mengotori mataku."

Dua pengawal berbadan raksasa itu langsung melangkah maju ke arahku dengan seringai kejam di wajah mereka. Mereka mengepalkan tangan, siap menghancurkan tubuhku dalam satu gerakan.

Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam tubuhku saat ini telah mengalir kekuatan dari 'Seni Bela Diri Dewa Asura' yang baru saja diberikan oleh Sistem. Kecepatan dan kekuatan fisikku kini berada jauh di atas batas kemampuan manusia biasa.

[Ding! Misi Darurat Aktif: Berikan Pelajaran pada Putra Mahkota Ibu Kota!]

[Tugas: Lumpuhkan kedua pengawal Nicholas dalam waktu 10 detik!]

[Hadiah Misi: Kartu Informasi Rahasia Baskoro Group & Saldo Rekening senilai Rp 30 Miliar!]

Saat salah satu pengawal melayangkan pukulan tangan kanan yang sangat berat ke arah wajahku, aku tidak menghindar. Aku hanya tersenyum tipis, menggerakkan tangan kiriku dengan kecepatan kilat yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.

Prak!

Aku mencengkeram pergelangan tangan pengawal tersebut dengan sangat mudah, menghentikan seluruh momentum pukulannya yang kuat dalam sekejap. Wajah pengawal itu langsung berubah dari kejam menjadi sangat terkejut dan ketakutan saat merasakan cengkeraman tanganku terasa seperti jepitan besi raksasa yang siap meremukkan tulangnya.

"Permainan kalian... terlalu lambat," bisikku dingin, bersiap melakukan serangan balasan yang akan membuat Nicholas Baskoro menyesal telah menginjakkan kakinya di kota ini.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!