NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi mata (Revisi)

"Naya, kamu beneran nggak mau bareng?"

Suara Billy memecah keheningan malam saat mereka melangkah keluar dari pintu belakang toko. Billy menunjuk ke langit malam yang pekat tanpa bintang. "Lihat deh, udah lewat tengah malam. Anginnya juga sekencang ini, kayaknya mau badai."

Nayara menggeleng sambil mempererat pegangan pada tali tas selempangnya. "Nggak usah, Bil. Makasih banyak. Jarak rumahku dekat kok dari sini, lewat gang samping juga cuma sepuluh menit."

"Tapi ini udah jam satu malam, Nay. Nggak aman buat cewek jalan sendirian," Billy bersikeras, wajahnya tampak cemas di bawah temaram lampu jalan.

"Beneran nggak apa-apa, Billy. Aku nggak enak kalau harus ngerepotin, rumah kita kan berlawanan arah," tolak Nayara halus sambil melempar senyum menenangkan. "Kamu duluan aja, keburu hujan."

Billy menghela napas pasrah. "Ya sudah kalau kamu maksa. Hati-hati, Nay. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku!"

"Sip. Duluan ya, Bil!"

Nayara berbalik dan mulai melangkah cepat. Sialnya, baru berjalan sekitar dua blok, langit seolah runtuh. Rintik hujan langsung turun dengan derasnya, berubah menjadi badai dalam hitungan detik. Angin malam yang sedingin es menusuk menembus kardigan tipisnya. Tubuh Nayara mulai menggigil hebat.

"Sial, malah hujan deras lagi," umpatnya lirih.

Pandangannya mengedar di antara remang-remang jalanan yang sepi. Di depan sana, ada emperan toko tua yang sudah tutup. Nayara segera berlari kecil ke sana, berlindung di bawah kanopi kain yang bergoyang hebat ditiup angin. Ia berdiri merapat ke dinding toko, memeluk lengan sendiri untuk menghalau dingin yang kian menyiksa.

Slruhh... Byurr!!

Suara hantaman air hujan begitu pekak. Namun, di antara deru air dan gemuruh petir, telinga Nayara menangkap sesuatu yang ganjil. Suara serak yang tercekik dari arah gang gelap tepat di samping tempatnya berteduh.

"Argh... to-tolong... am-ampun..."

Bulu kuduk Nayara langsung berdiri. Itu suara rintihan pria. Sarat akan rasa sakit dan ketakutan yang teramat sangat. Rasa penasaran yang mendesak menuntunnya melongokkan kepala secara perlahan, mengintip ke dalam gang yang hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip redup.

Di sana, di atas aspal yang basah dan bergenang air, seorang pria paruh baya sedang berlutut. Wajahnya hancur, babak belur, dan bersimbah darah yang terus terbasuh air hujan. Ia menyatukan kedua tangan di depan dada, tubuhnya gemetar hebat menghadapi kematian.

Dan di hadapannya... berdiri seorang pria lain.

Nayara tertegun. Pria itu memakai setelan jas hitam yang sangat rapi, seolah badai di sekelilingnya sama sekali tidak mengganggunya. Bahunya begitu lebar, rahangnya tegas seolah dipahat dengan sempurna. Ia sangat tampan—visualnya mutlak seperti dewa yang turun dari langit. Namun, ketampanan itu terasa mengerikan karena sepasang matanya yang menatap lurus ke bawah dengan ekspresi yang... sangat tenang. Kosong. Dingin. Seperti seorang psikopat sejati.

"Saya janji akan bayar semuanya, Tuan Moretti! Tolong... demi Tuhan, beri saya satu hari lagi!" pria paruh baya itu melolong, air mata dan darah bercampur di pipinya.

Pria tampan yang dipanggil Moretti itu tidak berkedip. Ia mengangkat tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan kulit hitam. Sebuah pistol hitam pekat kini terarah tepat ke dahi pria yang memohon di bawahnya.

"Terlambat."

Suaranya bariton, sangat datar, dan begitu tenang tanpa ada riak amarah sedikit pun. Seolah-olah mencabut nyawa manusia hanyalah rutinitas biasa baginya.

Dor!

Suara letupan itu diredam, namun gema peluru yang menembus tengkorak terasa nyata di telinga Nayara. Detik itu juga, pria paruh baya itu roboh ke aspal. Darah segar menyembur, mengalir deras bersama air hujan.

"Aakh!"

Pekikan lolos begitu saja dari mulut Nayara. Ia terkesiap, syok luar biasa menyaksikan nyawa seseorang hilang dalam sekejap mata. Sial! Pria berjas hitam itu menoleh perlahan. Gerakannya begitu santai saat matanya yang setajam elang langsung mengunci posisi Nayara di ujung gang. Tatapan mereka bertemu.

Jantung Nayara rasanya berhenti berdetak. Ia langsung membekap mulut sendiri dengan kedua tangan. Tubuhnya kaku seperti es, seluruh sendinya lemas. Di seberang sana, melihat Nayara yang menyaksikan seluruh aksinya, pria itu tidak panik. Ia justru menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman miring yang sangat dingin dan mematikan.

Pria itu mulai melangkah ke arahnya.

'Gak! Aku harus lari!'

Kesadaran Nayara kembali. Ia langsung berbalik dan memacu kakinya sekuat tenaga menembus hujan deras.

"Kamu mau kemana?!" Suara beratnya terdengar samar di belakang, disusul suara langkah kaki yang berat dan cepat mengejarnya.

Plak! Plak! Plak!

Langkah sepatu Nayara menghantam genangan air. Napasnya memburu, tenggorokannya terasa terbakar. Ia tidak berani menengok ke belakang, ketakutan setengah mati bahwa pria psikopat itu sudah berada tepat di belakangnya dengan pistolnya.

"Tolong! Siapa saja tolong!" teriaknya, namun suara itu tertelan oleh suara badai yang mengamuk. Jalanan benar-benar mati dan sepi. Nayara berbelok asal ke sebuah tikungan, melewati deretan ruko kosong. Napas makin sesak, kakinya yang gemetar nyaris membuatnya tersandung beberapa kali di atas jalanan yang licin. Langkah kaki di belakangnya tidak melambat, ritmenya begitu konstan dan terus mendekat. Pria itu memburunya seperti predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya.

'Tuhan, tolong aku!'

Melihat sebuah celah sempit di antara dua bangunan yang dipenuhi tumpukan papan kayu bekas, Nayara langsung merosotkan tubuhnya masuk ke sana. Ia meringkuk di sudut paling gelap, melipat lutut ke dada. Ia membekap mulut dan hidungnya sendiri sekencang mungkin, mencoba meredam suara napas yang terengah-engah. Keringat dingin bercucuran deras di dahi, bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Detak jantungnya berdegup begitu kencang dan keras, sampai-sampai ia takut pria itu bisa mendengarnya dari luar.

Plak... plak... plak...

Suara langkah sepatu pantofelnya berhenti tepat di depan celah tempat Nayara bersembunyi. Nayara memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa apa saja yang diingat dalam hati. Tubuhnya bergetar hebat sampai giginya bergelatuk. Melalui celah papan, ia bisa melihat ujung sepatu hitam pria itu yang basah. Pria itu berdiri di sana selama beberapa detik yang terasa seperti neraka.

Hening. Hanya ada suara hujan.

Lalu, suara langkah kaki itu kembali terdengar, perlahan bergerak menjauh sampai akhirnya benar-benar hilang ditelan suara badai. Nayara mengembuskan napas yang sedari tadi ditahan. Bahunya merosot lega. Air matanya luruh bersama rasa syukur yang luar biasa karena masih bisa lolos dari malaikat maut itu.

nayara menenangkan detak jantungnya yang masih bertalu. Setelah merasa situasi di luar benar-benar aman, ia menurunkan tangan dari mulutnya. Perlahan dan sangat hati-hati, Nayara mulai merangkak keluar dari tempat persembunyian, mencoba menegakkan tubuh yang lemas.

Baru saja satu langkah kakinya menapak keluar dari celah...

𝐒𝐬𝐫𝐞𝐭𝐭!!

Sebuah tangan kekar berbalut sarung tangan kulit hitam menyergap dari belakang, membekap mulutnya dengan sangat kencang hingga napas dan teriakan ketakutannya tertahan di tenggorokan.

1
Muhamad Nazril
lanjutt
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: siap💪
total 1 replies
Muhamad Nazril
👍👍👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih🤗
total 1 replies
HamdanR M
Makin kesini semakin seru😍
Lanjutt min, Semangat 💪💪💪
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih kak🤗
total 1 replies
Padil
👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
siap
Nazwan Nazwan
Bagus😍😍😍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!