JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi mata
"Naya, kamu beneran gak mau bareng?"
Suara Billy memecah keheningan malam saat kami melangkah keluar dari pintu belakang toko. Dia menunjuk ke langit malam yang pekat tanpa bintang. "Lihat deh, udah lewat tengah malam. Anginnya juga sekencang ini, kayaknya mau badai."
Aku menggeleng sambil mempererat pegangan pada tali tas selempangku. "Gak usah, Bil. Makasih banyak. Jarak rumahku dekat kok dari sini, lewat gang samping juga cuma sepuluh menit."
"Tapi ini udah jam satu malam, Nay. Gak aman buat cewek jalan sendirian," Billy bersikeras, wajahnya tampak cemas di bawah temaram lampu jalan.
"Beneran gak apa-apa, Billy. Aku gak enak kalau harus ngerepotin, rumah kita kan berlawanan arah," tolakku halus sambil melempar senyum menenangkan. "Kamu duluan aja, keburu hujan."
Billy menghela napas pasrah. "Ya sudah kalau kamu maksa. Hati-hati, Nay. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku!"
"Sip. Duluan ya, Bil!"
Aku berbalik dan mulai melangkah cepat. Sialnya, baru berjalan sekitar dua blok, langit seolah runtuh. Rintik hujan langsung turun dengan derasnya, berubah menjadi badai dalam hitungan detik. Angin malam yang sedingin es menusuk menembus kardigan tipisku. Tubuhku mulai menggigil hebat. 🥶
"Sial, malah hujan deras lagi," umpatku lirih.
Pandanganku mengedar di antara remang-remang jalanan yang sepi. Di depan sana, ada emperan toko tua yang sudah tutup. Aku segera berlari kecil ke sana, berlindung di bawah kanopi kain yang bergoyang hebat ditiup angin. Aku berdiri merapat ke dinding toko, memeluk lengan sendiri untuk menghalau dingin yang kian menyiksa.
𝚂𝚕𝚛𝚞𝚑𝚑... 𝙱𝚢𝚞𝚛𝚛!!
Suara hantaman air hujan begitu pekak.
Namun, di antara deru air dan gemuruh petir, telingaku menangkap sesuatu yang ganjil. Suara serak yang tercekik dari arah gang gelap tepat di samping tempatku berteduh.
"Argh... to-tolong... am-ampun..."
Bulu kudukku langsung berdiri. Itu suara rintihan pria. Sarat akan rasa sakit dan ketakutan yang teramat sangat. Rasa penasaran sialan mendesakku untuk melongokkan kepala secara perlahan, mengintip ke dalam gang yang hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip redup.
Di sana, di atas aspal yang basah dan bergenang air, seorang pria paruh baya sedang berlutut. Wajahnya hancur, babak belur, dan bersimbah darah yang terus terbasuh air hujan. Dia menyatukan kedua tangannya di depan dada, tubuhnya gemetar hebat menghadapi kematian.
Dan di hadapannya... berdiri seorang pria lain.
Aku tertegun. Pria itu memakai setelan jas hitam yang sangat rapi, seolah badai di sekelilingnya sama sekali tidak mengganggunya. Bahunya begitu lebar, rahangnya tegas seolah dipahat dengan sempurna. Dia sangat tampan— visualnya mutlak seperti dewa yang turun dari langit. Namun, ketampanan itu terasa mengerikan karena sepasang matanya yang menatap lurus ke bawah dengan ekspresi yang... sangat tenang. Kosong. Dingin. Seperti seorang psikopat sejati.
"Saya janji akan bayar semuanya, Tuan Moretti! Tolong... demi Tuhan, beri saya satu hari lagi!" pria paruh baya itu melolong, air mata dan darah bercampur di pipinya.
Pria tampan yang dipanggil Moretti itu tidak berkedip. Dia mengangkat tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan kulit hitam. Sebuah pistol hitam pekat kini terarah tepat ke dahi pria yang memohon di bawahnya.
"Terlambat."
Suaranya bariton, sangat datar, dan begitu tenang tanpa ada riak amarah sedikit pun. Seolah-olah mencabut nyawa manusia hanyalah rutinitas biasa baginya.
Dor!
Suara letupan itu diredam, namun gema peluru yang menembus tengkorak terasa nyata di telingaku. Detik itu juga, pria paruh baya itu roboh ke aspal. Darah segar menyembur, mengalir deras bersama air hujan.
"Aakh!"
Pekikan lolos begitu saja dari mulutku. Aku terkesiap, syok luar biasa menyaksikan nyawa seseorang hilang dalam sekejap mata.
Sial! Pria berjas hitam itu menoleh perlahan. Gerakannya begitu santai saat matanya yang setajam elang langsung mengunci posisiku di ujung gang. Tatapan kami bertemu.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku langsung membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan. Tubuhku kaku seperti es, seluruh sendiku lemas. Di seberang sana, melihatku yang menyaksikan seluruh aksinya, pria itu tidak panik. Dia justru menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman miring yang sangat dingin dan mematikan.
Dia mulai melangkah ke arahku.
'𝙶ak! Aku harus lari!'
Kesadaranku kembali. Aku langsung berbalik dan memacu kakiku sekuat tenaga menembus hujan deras. 🏃♀️
"Heii! Berhenti!" Suara beratnya terdengar samar di belakangku, disusul suara langkah kaki yang berat dan cepat mengejarku.
Plak! Plak! Plak!
Langkah sepatuku menghantam genangan air. Napas drafku memburu, tenggorokanku terasa terbakar. Aku tidak berani menengok ke belakang, ketakutan setengah mati bahwa pria psikopat itu sudah berada tepat di belakangku dengan pistolnya.
"Tolong! Siapa saja tolong!" teriakku, namun suaraku langsung tertelan oleh suara badai yang mengamuk. Jalanan benar-benar mati dan sepi.
Aku berbelok asal ke sebuah tikungan, melewati deretan ruko kosong. Napas makin sesak, kakiku yang gemetar nyaris membuatku tersandung beberapa kali di atas jalanan yang licin. Langkah kaki di belakangku tidak melambat, ritmenya begitu konstan dan terus mendekat. Dia memburuku seperti predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya.
'Tuhan, tolong aku!'
Melihat sebuah celah sempit di antara dua bangunan yang dipenuhi tumpukan papan kayu bekas, aku langsung merosotkan tubuhku masuk ke sana. Aku meringkuk di sudut paling gelap, melipat lututku ke dada.
Aku membekap mulut dan hidungku sendiri sekencang mungkin, mencoba meredam suara napas yang terengah-engah. Keringat dingin bercucuran deras di dahi, bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Detak jantungku berdegup begitu kencang dan keras, sampai-sampai aku takut pria itu bisa mendengarnya dari luar.
Plak... plak... plak...
Suara langkah sepatu pantofelnya berhenti tepat di depan celah tempatku bersembunyi.
Aku memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa apa saja yang kuingat dalam hati. Tubuhku bergetar hebat sampai gigiku bergelatuk. Melalui celah papan, aku bisa melihat ujung sepatu hitamnya yang basah. Dia berdiri di sana selama beberapa detik yang terasa seperti neraka.
Hening. Hanya ada suara hujan.
Lalu, suara langkah kaki itu kembali terdengar, perlahan bergerak menjauh perlahan-lahan sampai akhirnya benar-benar hilang ditelan suara badai.
Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Bahuku merosot lega. Air mataku luruh bersama rasa syukur yang luar biasa karena masih bisa lolos dari malaikat maut itu.
Kucoba menenangkan detak jantungku yang masih bertalu. Setelah merasa situasi di luar benar-benar aman, aku menurunkan tangan dari mulutku. Perlahan dan sangat hati-hati, aku mulai merangkak keluar dari tempat persembunyian, mencoba menegakkan tubuhku yang lemas.
Baru saja satu langkah kakiku menapak keluar dari celah...
𝐒𝐬𝐫𝐞𝐭𝐭!!
Sebuah tangan kekar berbalut sarung tangan kulit hitam menyergap dari belakang, membekap mulutku dengan sangat kencang hingga napas dan teriakan ketakutanku tertahan di tenggorokan.