Di Daejeon, dua polisi dengan masa lalu rumit dipertemukan kembali sebagai partner kerja. Kim Da Eun yang dingin dan tegas harus bekerja sama dengan Lee Hyejin yang ceroboh namun cerdas.
Di tengah hubungan mereka yang penuh pertengkaran dan rahasia masa lalu, muncul kasus pembunuhan berantai misterius dengan jejak sepatu pendaki bertanda api sebagai petunjuk utama. Saat penyelidikan semakin berbahaya, keduanya mulai kembali dekat dan menyadari bahwa perasaan lama belum benar-benar hilang.
PARTNER OF JUSTICE adalah novel kriminal romantis tentang misteri, kepercayaan, dan dua polisi yang harus menghadapi penjahat sekaligus perasaan mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eun_Byeol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA HARUS DIA?
Sementara Hyejin yang masih kesal karena tidak bisa menangkap pria itu, di kantor kepolisian Daejeon.
"Isshhh apa-apaan mereka semua… sok tau banget tentang percintaan.." Da Eun yang masih kesal pada rekan setimnya.
"Akhh kenapa pipi ku masih saja sakit padahal sudah ku kompres dan ku beri salep agar tidak bengkak… apakah tinjuan Hyejin terlalu keras?" Da Eun terus bertanya-tanya mengapa pipinya terus sakit walau sudah di obati.
Tiba-tiba Wakil kepala Nam mengetuk pintu ruangan kepala Kim Da Eun untuk menyerahkan berkas yang diminta nya beberapa hari lalu.
"Pak kepala bolehkah saya masuk?" Tanya wakil kepala Nam.
"Eng masuklah.. kenapa?" Da Eun bertanya apa yang membawa wakil kepala Nam ke dalam ruangannya.
"Ini berkas yang anda minta beberapa hari lalu." Wakil kepala Nam memberikan berkas nya dan tanpa sengaja menumpahkan air minum di meja Kepala Kim Da Eun.
"Ah maafkan saya pak kepala Kim…." Wakil kepala Nam panik.
"Aishh Kya Lee Hyejin…" tiba-tiba Da Eun menyebutkan nama Hyejin.
"Ya?" Wakil kepala Nam bertanya-tanya karena hanya ada dia dan kepala Kim di dalam ruangan itu tapi kenapa dia menyebut Lee Hyejin.
"Oh ehem maaf maksudku wakil kepala Nam.." Da Eun langsung sadar karena tanpa sengaja menyebut nama Lee Hyejin.
"Ah ya.. kalau begitu saya pamit…" ucap wakil kepala Nam.
Da Eun hanya mengangguk kan kepalanya tanda mengiyakan ucapannya.
"Kya Kim Da Eun sadarlah.. kenapa kau menyebut orang lain sebagai Lee Hyejin? Jangan sampai kau begitu lagi,ya?" Ucapnya pada dirinya sendiri.
Sementara di luar ruangan kepala Kim.
"Wah… ternyata benar ucapanmu petugas Park dan petugas Choi." Ucap wakil kepala Nam dengan menghampiri mereka berdua.
"Kenapa?apa yang benar?" Tanya petugas Choi.
"Itu,.. kepala Kim sekarang sedang memikirkan kapten Lee.." ucap wakil kepala Nam dengan semangat.
"Benarkah? Wah benar bukan ucapanku dia tidak akan bisa kalau tidak memperdulikannya sedetik pun karena mereka sebenarnya pernah berkencan sebelumnya.." petugas Park mulai berlagak lagi.
"Kya jika tembakan mu salah bagaimana?" Tanya petugas Choi pada petugas Park.
"Tebakan? Yang mana? Tentang mereka pernah berkencan? Tidak, pasti aku benar.." petugas Park dengan percaya diri mengatakan nya.
"Ohoo jika memang benar bahwa mereka pernah berkencan aku akan mentraktir kalian makan seokgabli dan juga minum Soju.." ucap wakil kepala Nam yang ingin bertaruh.
"Oke jika aku benar kau akan mentraktirku bukan? Dan jika aku kalah maka aku yang akan mentraktir kalian berdua makan…" petugas Park juga ikut terpancing untuk bertaruh.
"Wah kalian memang benar-benar wahh gila.." petugas Choi tidak percaya dengan taruhan mereka berdua.
"Apakah kau tidak ingin bertaruh bersama kami petugas Choi?" Ucap wakil kepala Nam dengan melirik petugas Choi.
"Cih tentu aku tidak akan… tidak akan menolak untuk pertaruhan ini… hahaha.." tawa petugas Choi.
"Benar sekali keputusan yang bagus… oke kita akan bertaruh dan akan memancing mereka untuk mengatakannya…" ucap wakil kepala Nam dengan semangat yang membara.
"Bagaimana saat pekan depan saat kita berlibur ke danau Daecheong?" Saran petugas Choi.
"Ohhh benar.. di sana saja.." tambah petugas Park.
"Bagus… " semua bersorak..
"Apa yang bagus?" Da Eun tiba-tiba muncul dan bertanya kepada mereka semua sehingga mereka terkejut mendengar suaranya.
"Y-y-ya.. ah i-i-tu.." petugas Park gugup saat di lirik oleh Kim Da Eun.
"Apa?" Da Eun bertanya dengan tatapan mata yang tajam.
"Tidak ada pak kepala Kim… hanya saja kami berencana setelah pulang akan ke karaoke.. apakah anda ingin ikut?" Elak petugas Choi.
"Ah benar kami akan pergi ke karaoke hahaha.." wakil kepala Nam tertawa.
"Tidak.. aku hanya ingin istirahat nanti malam sehabis dari sini." Da Eun merasa lelah dengan semua nya.
"Ah ya.. kalau begitu.." ucap wakil kepala Nam.
"Ah benar juga… kemana Lee Hyejin pergi?" Da Eun bertanya kepada mereka semua.
"Bukankah anda sudah tidak perduli dengan kapten Lee?" Tanya petugas Park sembari memancing nya untuk mengatakan hal yang berkaitan dengan Hyejin.
"Benar…aku berencana seperti itu tetapi entah mengapa dia terus berada di pikiran ku.." ucapnya dengan wajah dinginnya.
"Wah… sepertinya anda memang memiliki perasaan pada kapten Lee pak kepala Kim?" Goda wakil kepala Nam.
"Aisshh kenapa aku malah membahas ini dengan kalian?" Da Eun mulai kesal pada dirinya yang mulai membahas Hyejin di depan rekannya.
"Ayolah pak kepala Kim tenang saja kami akan menjaga rahasia ini dari kapten Lee.." ucap petugas Choi sembari meyakinkan pak kepala Kim Da Eun.
"Benar sekali pak kepala Kim.." sahut petugas Park.
"Ishh sudahlah aku pergi…" Da Eun meninggalkan semua orang untuk pergi mencari Hyejin.
"Kemana anda pergi pak kepala Kim?" Tanya wakil kepala Nam.
"Mencari anak hilang." Jawab Da Eun yang menuju ke luar kantor dan yang dimaksud dari anak hilang adalah Hyejin.
Da Eun mulai menyusuri jalanan untuk mencari Lee Hyejin dan untuk meminta maaf kepadanya.
Tetapi ia belum juga mendapati Hyejin di manapun, sampai akhirnya Da Eun kesal sendiri.
"Auchh kenapa juga aku mencarinya? Arghh apa yang salah dengan ku dan mengapa harus dia yang dipikiran ku." Da Eun kesal pada dirinya sendiri.
"Aisshhh tetapi jika tidak kutemukan dia maka hal ini akan menyiksa ku karena pikiranku akan penuh dengan nya." Ucapnya karena ia memikirkan konsekuensinya.
Da Eun kembali mencari Hyejin hingga ia datang di daerah yang ramai dengan orang dan akhirnya mendapatkan Hyejin di sana.
Da Eun berusaha mendekati Hyejin tetapi Hyejin berlari tanpa melihat Da Eun yang berusaha mendekati nya.
"Apa? Kenapa dia lari?aishhh,..." Da Eun ikut berlari karena Hyejin berlari entah mengejar apa.
"Aishhh kau yang memakai baju hitam dan sepatu tanda api cepat berhenti itu perintah terakhir ku…" ucap Hyejin dengan mengejar pria itu.
"Aishhh…" gerutu pria misterius itu.
"Kya kau …" Hyejin terus mengejarnya.
"Ha? Dia mengatakan pria sepatu tanda api?" Da Eun bertanya-tanya.
Hyejin mengejarnya terus tetapi ia kehilangan jejak karena Hyejin dan pria tersebut melewati jalan raya yang padat akan kendaraan, sehingga Hyejin kehilangannya karena pandangannya tertutup oleh truk muatan yang besar.
"Arghhh aku tak bisa melihatnya.." Hyejin semakin kesal karena kehilangan dia lagi.
Da Eun dari kejauhan memanggilnya.
"Kya Lee Hyejin.." bentak Da Eun.
"Aishh kenapa sih bodoh ini di sini?" Hyejin semakin kesal.
"Kenapa? Anda masih ingin bertengkar dengan saya? Atau ingin melanjutkan pertarungan kita?" Tanya Hyejin tanpa henti sedangkan Da Eun masih terengah-engah karena mengejarnya.
"Kya kau… kenapa kau berlari secepat itu?" Da Eun terengah-engah.
"Ishh tentu saja untuk mengejar penjahat bukan untuk bermain kejar-kejaran dengan anak kecil.." Hyejin kesal dan langsung meninggalkan nya.
"Kya kemana kau pergi?aku belum selesai berbicara… Kya Lee Hyejin.." Da Eun berteriak tetapi Hyejin tidak menghiraukannya.
"Kya Hyejin-ah tolong dengarkan aku.." Da Eun terus mengikutinya sampai akhirnya Hyejin berhenti berjalan.
"Maaf bukan maksudku untuk berkata begitu saat di restoran tadi…" Da Eun berusaha meminta maaf ke Hyejin
"Ya.. tidak usah dipikirkan.." jawab Hyejin dengan datar.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya kepala Kim Da Eun.
"Tidak sama sekali.." Hyejin melanjutkan berjalan.
"Ha? Dia bahkan tidak merasa bersalah saat sudah meninjuku seperti itu?" Da Eun menggerutu.