Awalnya, kisah ini adalah tentang janji dua hati untuk membangun masa depan yang indah bersama. Namun takdir berputar kejam ketika rahasia dan ambisi besar keluarga mulai terungkap. Kini, perjuangan mereka berubah arah. Di persimpangan jalan yang perih, Brant dan Luca dipaksa mempertaruhkan perasaan dan kisah cinta mereka demi melindungi keluarga masing-masing. Ketika kesetiaan diuji, akankah cinta mereka bertahan, atau justru menjadi korban yang paling tragis?
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Di depan cermin, Luca merapikan pakaiannya dengan senyum yang tidak luntur sejak pagi. Hari yang dinantikannya akhirnya tiba—Brant akan mendarat di Jakarta beberapa jam lagi. Mengingat sudah seminggu berlalu hubungan mereka sempat menegang. Luca merasa sangat lega. Untungnya, komunikasi mereka sudah membaik setelah Brant meneleponnya malam itu, menjelaskan semuanya dengan nada lembut yang sangat dirindukan Luca, dan meminta maaf atas sikapnya. Ketulusan Brant di telepon waktu itu sudah cukup untuk menghapus semua keraguan di hati Luca.
Kini, yang tersisa di dada Luca hanyalah letup semangat untuk menyambut pelukan hangat sang kekasih di restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu sekalian nanti makan siang bersama.
•
Pesawat yang membawa Brant akhirnya mendarat di Jakarta. Langkah kakinya yang lebar dan tegas langsung menuju ke apartemennya, ditemani oleh Leo yang setia membawa koper di belakangnya. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma maskulin yang familier langsung menyambut indra penciumannya. Semuanya masih tampak sama. Sudut-sudut ruangan itu seketika memanggil kembali memori indah kebersamaannya dengan Luca yang sangat dia rindukan. Namun, kilasan pekerjaan di kepalanya memaksa rasa rindu itu bersembunyi sejenak.
"Leo, tolong carikan jasa pembersih online untuk merapikan apartemen ini," ucap Brant seraya melangkah menuju kamarnya.
"Baik, Brant," jawab Leo sigap.
"Dan sebaiknya lu istirahat juga,"sambung Brant sebelum pintu kamarnya tertutup.
Rasa lelah akibat penerbangan belasan jam dari London terasa begitu menumpuk. Setelah membersihkan diri dengan banyuran air dingin, Brant langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, mencoba memejamkan mata untuk tidur sejenak.
Tak lama kemudian, seorang wanita petugas pembersih online datang. Leo yang membukakan pintu langsung mengarahkannya untuk membersihkan area ruang tamu dan dapur. Merasa tugasnya mengawasi sudah aman, Leo berjalan menuju kursi panjang di sudut ruangan yang sudah bersih, lalu menjatuhkan diri di sana untuk ikut melepas lelah.
Bzzzt... Bzzzt...
Keheningan apartemen itu terpecah saat ponsel Leo bergetar di saku jasnya. Leo langsung menegakkan tubuh dan mengangkatnya. Itu telepon dari informan yang disewa untuk melacak keberadaan Junior Willey.
"Ya, bagaimana? Sudah ada titik terang?" tanya Leo setengah berbisik. Ia mendengarkan penjelasan di seberang telepon dengan saksama. "Baiklah, terima kasih atas informasinya."
Leo memutus sambungan tepat saat pintu kamar terbuka. Brant keluar dari sana, penampilannya sudah lebih segar meski gurat lelah belum sepenuhnya hilang. Ia melangkah menuju dispenser untuk mengambil segelas air minum.
Leo segera mendekat dengan tatapan serius. "Brant, alamat Junior Willey sudah ditemukan."
" lu bisa bersiap sekarang, kita akan langsung ke sana."
Mendengar nama itu disebut, tatapan mata Brant langsung menajam penuh kilat rasa penasaran yang membara. Tanpa membuang waktu, kedua pria itu langsung bersiap dan bergegas pergi meninggalkan apartemen menuju lokasi yang diberikan. Ambisi untuk mengungkap kebenaran telah mengaburkan segalanya, termasuk janji makan siang yang sempat terucap.
Sementara itu, dalam kamarnya Luca sedang didera kegelisahan yang hebat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, namun ponselnya masih sepi tanpa ada kabar lanjutan dari Brant. Luca berulang kali menatap layar benda pipih itu, jemarinya ragu di atas tombol panggil. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap hatinya—ketakutan akan penolakan atau ingatan saat Brant mengeluhkan intensitas teleponnya dulu kini menjelma menjadi trauma kecil yang menahan keinginannya untuk menghubungi Brant. Luca lebih memilih untuk mendatangi apartemen Brant. Mungkin Kak Brant ketiduran karena jetlag, hiburnya dalam hati.
Saat berjalan menuruni tangga rumah, Luca berpapasan dengan Lea yang baru saja pulang sekolah dengan seragam yang sedikit berantakan.
"Senyum-senyum sendiri, awas gila," cetus Lea dengan wajah juteknya yang khas, menatap sang kakak yang tampak rapi dari atas sampai bawah.
Luca tidak marah, dia justru tertawa renyah dengan pipi merona. "Ihh, orang lagi senang tahu! Aku mau ketemu Kak Brant hari ini!"
Lea memutar bola matanya malas. "Ketawa lagi, awas ntar nangis."
"Kenapa harus nangis,? Udah ah aku lapar mau makan siang traktiran pak bos dulu, tu ojeknya udah nunggu di depan. Kakakmu pergi dulu ya, bye!" pamit Luca ceria, mengabaikan maksud perkataan Lea yang sebenarnya hanya meledek. Luca pasti akan menangis haru karena menumpahkan rasa kangennya nanti.
Sesampainya di apartemen Brant, Luca mendapati pintu depan tidak dikunci rapat. Dengan jantung yang berdebar halus, ia melangkah masuk secara perlahan. Sorot matanya menatap sekeliling ruangan, bernostalgia dengan setiap jengkal kenangan yang pernah tercipta di sana. Namun, langkahnya terhenti saat dikejutkan oleh seorang wanita berseragam petugas pembersih.
"Siang. Ada yang bisa dibantu?" sapa wanita itu sopan.
Luca berkedip sesaat, lalu tersenyum canggung. "Siang, apa Kak Brant—maksud aku, apa ada orang lain di dalam?"
"Oh, tidak ada, Dek. Dua orang yang di rumah ini sudah pergi sejak tadi," jelas wanita itu.
Senyum Luca sedikit menyusut. Kak brant nggak datang sendirian, Luca baru tau. "Oh... Ibu tahu mereka pergi ke mana?"
"Wah, kalau itu saya kurang tahu, Dek," jawab si petugas.
"Mmm, ya sudah. Terima kasih ya, Bu. Aku permisi dulu," ucap Luca, melangkah keluar dengan perasaan yang mulai campur aduk.
Meski begitu, Luca mencoba tetap berprasangka baik. Mungkin Kak Brant sedang keluar sebentar untuk urusan penting, pikirnya. Malas jika harus bolak-balik pulang ke rumah di bawah terik matahari siang yang menyengat, Luca memutuskan untuk langsung menuju restoran tempat mereka janjian makan siang. Setidaknya, jika Brant menelepon nanti, dia sudah bersiap di sana.
Luca kembali memesan ojek menuju restoran tersebut. Jaraknya tidak terlalu jauh. Begitu sampai, ia memilih meja di sudut, memesan segelas lemon tea dingin untuk menyejukkan dahaganya, dan mulai menunggu sambil terus mengecek ponselnya yang tetap bergeming.
Di saat yang sama, mobil yang di kemudikan Brant berhenti di sebuah kompleks perumahan yang lumayan besar, namun jauh dari kesan mewah. Mereka melangkah masuk ke salah satu rumah dan memperkenalkan diri dengan sopan demi menggali informasi. Kini, mereka duduk di ruang tamu bersama seorang wanita paruh baya berusia sekitar 50 tahun yang diketahui sebagai pengasuh anak bernama Junior Willey.
"Junior sedang bermain di rumah temannya, Tuan," ujar wanita itu ramah.
"Di mana kedua orang tuanya?" tanya Brant dengan nada suara yang dingin namun tenang.
"Ibunya bekerja di luar negeri, mungkin sebagai tenaga kerja di sana," jawab si ibu polos.
"Ayahnya?" kejar Brant lagi.
Wanita itu tampak berpikir sejenak. "Ayahnya? Saya kurang tahu, jarang sekali terlihat datang ke sini."
Leo menyambung, "Bisa kami tahu siapa nama ayah dan ibu Junior?"
"Ibunya bernama Julia. Kalau bapaknya... saya tidak terlalu ingat namanya. Ibu Julia sering memanggilnya 'Tuan'. Beliau sangat jarang datang, jadi saya tidak terlalu mengingat namanya bahkan wajahnya."
"Jadi hanya Anda dan Junior yang tinggal di sini?" tanya Leo memastikan.
"Benar, Tuan."
Rasa penasaran dan kecurigaan yang kental Membuat Brant yakin, ada rahasia yang di sembunyikan dengan rapi. Dengan napas yang tertahan, Brant mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap wanita paruh baya itu dengan sorot mata yang tajam.
"Sudah berapa lama Anda mengasuh Junior?" tanya Brant dingin,"apa Anda mengasuhnya sejak dia masih bayi?"
Wanita paruh baya itu tampak gelisah, ia meremas ujung bajunya saat berhadapan dengan aura intimidasi Brant yang begitu kuat. "Tidak, Tuan. Saya baru menjaga Junior ketika usianya sudah dua tahun lebih. Sebelumnya, setahu saya Junior dirawat sendiri oleh ibunya."
Merasa informasi dari wanita ini terlalu abu-abu dan sengaja ditutupi, Brant memberi kode pada Leo saat mereka pamit undur diri. "Kau segera hubungi tim kita lagi, selidiki siapa pemilik asli rumah ini," bisik Brant ketat saat melangkah keluar ke halaman.
Tepat di depan pintu pagar, sebuah mobil keluarga yang sederhana berhenti. Brant tetap melangkah maju, namun gerakannya terkunci saat seorang anak kecil melompat turun dari mobil dan berlari melewatinya begitu saja masuk ke dalam rumah.
Jantung Brant seolah berhenti berdetak sesaat. Wajah anak itu... sangat mirip dengan seseorang.
Saat Brant akan memalingkan mukanya untuk memastikan kembali, seluruh tubuhnya menegang sempurna. Seorang pria paruh baya turun dari pintu kemudi mobil tersebut.
"Pak Andi?" desis Brant.
Pria itu adalah Pak Andi, sopir pribadi sekaligus orang kepercayaan Tuan Lodrik setiap kali ayahnya berada di Indonesia. Pak Andi langsung terdiam kaku di tempatnya, wajahnya pias mendapati anak dari bos besarnya berdiri di depan rumah itu.
"Siapa Junior Willey sebenarnya, Pak Andi?" tanya Brant. Suaranya terdengar sangat tenang, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Pak Andi menelan ludah dengan susah payah. Lidahnya mendadak kelu. Dia tahu, bicara jujur artinya berkhianat, namun berbohong di depan Brant yang bermata tajam itu adalah kesalahan yang lebih besar. "Maaf, Tuan Muda... saya..."
"Sebutkan namanya!" perintah Brant tegas, urat-urat di lehernya mulai menegang menahan amarah yang bergejolak di dadanya.
"Saya mohon maaf, Tuan... saya tidak bisa..."
"Halo, Papa Lodrik! Iya, Junior baru pulang main!"
Suara nyaring anak kecil yang sedang duduk di ayunan halaman rumah sambil memegang ponsel itu seketika memotong perdebatan mereka. Kalimat polos yang keluar dari mulut anak itu menghantam kesadaran Brant seperti godam berat. Lodrik, nama yang sama secara kebetulan adalah sosok yang di curigai Brant selama ini adalah ayahnya sendiri dan benarkah orang tua dari Junior Willey? Jika benar, maka suatu kebetulan Dia menelepon anak itu di waktu yang bersamaan.
Brant menatap tajam menunggu jawaban pak Andi yang mematung panik didepanya, dan saat itu juga beliau hanya bisa menganggukan kepala untuk membenarkannya.
Rahang Brant mengeras, napasnya memburu hebat menahan badai kemarahan dan rasa muak yang luar biasa. Pengkhianatan ayahnya terpampang nyata di depan matanya sendiri.
Melihat situasi yang semakin berbahaya, Leo segera menarik lengan Brant. "Ayo kita pergi. Urusan kita sudah selesai di sini. Kita sudah mendapatkan jawabannya."
Sebelum memasuki mobil, Brant sempat melirik anak kecil itu dengan tatapan tajam dan dingin—bukan benci pada si anak, melainkan pada kebusukan Tuan Lodrik yang teramat rapi.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, keheningan terasa mencekam. Leo melirik Brant yang masih mengepalkan tinjunya. "Tenanglah, Brant. Semua topengnya hampir terbuka. Bagaimana kalau kita cari tempat makan dulu? Energimu terkuras habis."
Brant tidak menjawab, dia hanya berdehem pendek seraya membuang muka ke luar jendela.
•
Waktu berputar, dan sore pun tiba.
Luca akhirnya melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan tubuh lemas dan hati yang hancur berkeping-keping. Hari ini, dia bahkan rela mengorbankan waktu dan meminta izin tidak bekerja demi menyambut pria yang dirindukannya. Namun, penantiannya berakhir dengan kepedihan yang luar biasa.
Luca tidak bisa menahannya lagi. Rasa lapar yang ditahannya berjam-jam tenggelam oleh rasa sakit yang menusuk dadanya. Saat ojek yang ditumpanginya dalam perjalanan pulang tadi melewati sebuah restoran, mata Luca menangkap pemandangan yang membuat hatinya mencelos: Brant dan Leo sedang duduk bersama, menikmati makan siang mereka dengan tenang.
Hari ini di bawah terik matahari yang membakar kulitnya, di tengah rasa lapar dan lelahnya menanti, Luca menyadari satu hal yang teramat pahit. Pria itu sudah mendarat, pria itu punya waktu untuk makan, namun pria itu memilih untuk melupakan keberadaannya. Rasanya sakit sekali mengetahui bahwa hanya dirinya yang berjuang menahan rindu sendirian di sini.
Cklek.
"Luca?" Pintu kamar terbuka. Lea melangkah masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu, ekspresi wajahnya masih terlihat datar dan jutek seperti biasa. Namun di tangannya, ada sebungkus makanan yang masih hangat. "Nih, gue beliin nasi goreng. Makan dulu," ucap Lea, meletakkan bungkusan itu dan segelas air di atas meja.
Luca tidak bergeming. Dia menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut tebal, menekan bantal kuat-kuat ke wajahnya demi menyembunyikan suara isak tangis yang terus lolos dari bibirnya.
"Makan ya, jangan sampai lu sakit," sambung Lea lagi dengan nada ketus yang melembut, sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kamar.
Pesan singkat Luca yang meminta dibelikan makanan karena kelaparan sudah cukup bagi Lea untuk paham segalanya. Padahal siang tadi, kakaknya pergi dengan binar bahagia demi janji makan bersama Brant. Lea tahu persis tabiat Luca—jika sudah dijanjikan sesuatu, dia akan bodohnya menunggu dengan setia, membiarkan dirinya kelaparan demi sebuah traktiran yang berakhir sia-sia.
Malamnya, suasana di rumah Luca tampak sedikit sibuk. Ibu Lana harus segera berangkat ke luar kota untuk menjalani pengobatan rutin bulanannya. Proses pengobatan yang memakan waktu empat hingga lima hari itu biasanya membuat kondisi fisik Ibu Lana melemah, dan hal itulah yang membuat Luca bersikeras untuk ikut mendampingi sang ibu.
"Luca, kamu itu punya pekerjaan dan tanggung jawab di sini. Nggak boleh seenaknya izin gitu aja," tegur Ibu Lana, mengingatkan putranya yang begitu ngotot ingin ikut.
Luca tersenyum tipis, mencoba meyakinkan ibunya. "Aku sudah izin, Ma. Tim agensi juga sudah setuju. Mereka bahkan sudah mengirimkan produknya supaya aku bisa buat video review sendiri dari sana. Lagian Mama lagi sakit, masa pergi sendiri? Lea juga kan harus sekolah, nggak bisa ditinggal."
Ibu Lana menatap putranya dengan pandangan lembut, menyerah pada perhatian Luca. "Ya sudah... barang-barangmu sudah siap semua?"
"Udah, Ma, dari tadi," jawab Luca seraya merapikan ranselnya.
Ibu Lana terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada obrolan mereka dua hari lalu, saat Luca dengan mata berbinar-binar bercerita bahwa Brant akan mendarat di Jakarta hari ini. Sebagai seorang ibu, instingnya merasa ada yang janggal. Jika Brant datang, Luca pasti akan menjadi orang pertama yang menghilang demi melepaskan rindu. Namun hari ini, Luca tetap berada di rumah dengan gurat lelah yang coba disembunyikannya.
"Ca, Brant... sudah sampai di Jakarta, kan?" tanya Ibu Lana hati-hati.
Mendengar nama itu disebut, tubuh Luca sempat menegang sesaat. Ia membalikkan badan, memaksakan sebuah senyuman di bibirnya sebelum menjawab, "Iya, Ma, sudah sampai tadi siang. Tapi... sepertinya Kak Brant sibuk banget sekarang. Kita belum sempat ketemuan."
Luca mencoba terdengar biasa saja, namun getaran halus di ujung kalimatnya tidak bisa membohongi pendengaran Ibu Lana.
"Luca... ada apa lagi, hmmm?" tanya Ibu Lana dengan nada selembut beludru.
Pertanyaan itu runtuh seketika menembus pertahanan Luca. Air mata kini kembali tumpah begitu saja. Tanpa bisa berkata-kata lagi, Luca langsung menghambur ke pelukan ibunya. Ia menangis sesenggukan di pundak wanita yang melahirkannya itu.
"Nggak apa-apa... Kak Brant sibuk sendiri," isak Luca di sela tangisnya. "Aku lebih milih sama Mama sekarang. Mau temenin Mama. Mama lagi sakit, masa aku biarin pergi sendiri..."
Ibu Lana terharu mendengar ketulusan putranya. Dadanya terasa hangat sekaligus berdenyut perih melihat kerapuhan Luca. Dengan penuh kasih sayang, tangannya menggosok punggung Luca untuk memberikan ketenangan.
"Ya sudah, sama Mama aja ya. Udah, diam... Anak cowok kok rajin banget nangisnya," bisik Ibu Lana lembut, mencoba mencairkan suasana meskipun matanya sendiri ikut berkaca-kaca.
Di ambang pintu kamar, Lea yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan pemandangan itu akhirnya ikut bersuara. Wajahnya kini terlihat mengeras menahan kesal.
"Ca, lu jagain Mama aja di sana. Terus, blokir aja nomor si Brant itu!" ketus Lea, namun matanya memancarkan rasa sayang dan protektif yang tulus pada kakaknya. "Biar dia tahu rasa! Sok sibuk, sombong banget semenjak udah jadi bos besar sekarang."
"Udah, udah," potong Ibu Lana menengahi sebelum Lea makin berapi-api. "Ayo kita segera bersiap pergi sekarang, biar jalannya nggak kemalaman."
Ibu Lana kemudian menatap putri bungsunya. "Lea, jangan lupa nanti kunci pagar. Periksa semua pintu dan pastikan terkunci rapat."
"iya, Ma," jawab Lea, mendengus pelan seraya berjalan keluar untuk memeriksa rumah.
Setelah semua persiapan selesai, mobil yang dikendarai Ibu Lana pun perlahan meninggalkan halaman rumah, membelah keheningan malam menuju luar kota.
Di kursi penumpang, Luca menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin. Tatapannya kosong menatap lampu-lampu jalanan yang temaram. Jemarinya yang agak gemetar mulai mengetikkan sebuah pesan singkat di layar ponselnya, ditujukan untuk Brant.
'Kak Brant, sampai ketemu lagi ya. Nanti kalau Kakak sudah tidak sibuk lagi.'
Pesan itu terasa begitu singkat, namun di balik setiap hurufnya tertanam makna yang teramat dalam dan menyakitkan. Luca tahu persis, dari obrolan telepon mereka sebelum lepas landas dari London, Brant hanya memiliki waktu tiga hari di Indonesia sebelum harus kembali. Sementara itu, Luca akan berada di luar kota menemani ibunya selama empat hingga lima hari ke depan.
Secara otomatis, pesan itu adalah ucapan selamat tinggal terselubung. Mereka tidak akan pernah bertemu, bahkan hingga pesawat Brant kembali lepas landas meninggalkan tanah air menuju London. Janji pelukan hangat yang Luca nantikan, kini resmi terkubur oleh kenyataan yang dingin.