NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28.

malam hari - 20:00. Di rumah mewah pak badi, mereka sedang berkumpul di ruang tamu.

" papih denger denger kamu kena masalah ya di sekolah? kok bisa? kamu kan guru kenapa malah kena masalah?" sambil menggulir ipad di tangannya.

mamih mengoles kutek di kuku jari tangannya dengan santai. " emang kamu kena masalah apa?"

Bastian yang asik bermain game di HP nya menyeletuk. " Bela di fitnah melakukan hal kotor sama bang Arga budhe, gosip dari anak Kepala sekolah."

mata papih dan mamih melotot bareng dan mukanya menegang saat mendengar ucapan keponakannya.

sedangkan Arga sendiri hanya duduk lemas di sofa sambil menutup matanya. " masalahnya udah beres pih."

" wah macem-macem sama cucu pak Hendra." kepala papih geleng-geleng.

Bastian selesai bermain game langsung menoleh ke arah pakdenya. " maksudnya pakde?"

Arga yang masih setia pada posisinya ikut menjawab. " Bela itu cucu dari pemilik sekolah SMA MAJU TERUS."

Bastian terperangah sampai tangannya menutup mulut dengan mata melotot. "serius bang? kok ayahnya Bela kelihatan seperti orang biasa aja."

papih menyeruput kopi dengan nikmat lalu dengan gerakan santai menaruh gelas di meja sampai berbunyi "tak". "pak rudi itu memang orang yang sederhana walaupun hartanya ngga habis tujuh turunan."

Bastian termenung, -kayaknya emang gue harus mundur buat dapetin Bela, dia lebih cocok sama bang Arga daripada gue.- ucap hatinya. Bastian mencoba mengikhlaskan perasaannya untuk berhenti mencintai Bela.

Di sisi lain rumah sederhana pak rudi. di ruang kerja, pak rudi marah besar mendengar kabar bahwa anaknya diperlakukan tidak baik oleh anak dari kepala sekolah, mukanya memerah, urat lehernya terlihat, giginya bergemeletuk. tanpa basa basi dia menelpon orang kepercayaannya.

" selesaikan semuanya." matanya tajam menahan amarah yang menggebu, suaranya dingin dan penuh ketegasan.

"baik pak." suara jawaban dari telpon. KLIK. telpon terputus.

"Anakku... anakku yang selalu aku didik untuk baik sama semua orang, anakku yang nggak pernah nyakitin siapa pun, malah dipermalukan, difitnah, disakiti sama orang-orang yang seharusnya jadi teladan," geram Pak Rudi pelan, suaranya rendah namun penuh getaran amarah yang tertahan. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.

Ia ingat betul pesan ayahnya dulu, tentang harta dan kuasa. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan kekuasaannya sembarangan, hidup sederhana, berbaur dengan warga biasa, mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri dan rendah hati. Tapi ternyata, kebaikan itu disalahartikan sebagai kelemahan. Kesederhanaan itu dianggap kemiskinan. Dan ketenangan itu dianggap ketidakberdayaan.

"Pak Samsul mengira dia raja di sana. Mengira jabatan yang dia pegang itu miliknya selamanya. Mengira dia bisa berbuat seenaknya, merusak nama baik orang, berselingkuh di tempat kerja, menyalahgunakan dana, dan mendidik anaknya jadi penindas... semuanya bakal dibayar lunas hari ini juga," gumamnya lagi, matanya menatap tajam ke arah jendela yang terbuka sedikit, memandangi kegelapan malam.

Tak butuh waktu lama, perintahnya mulai berjalan. Di kantor yayasan pendidikan pusat, orang kepercayaan Pak Rudi yang sudah bertahun-tahun menangani urusan administrasi dan hukum keluarga itu, sudah bergerak cepat. Semua rekaman, bukti foto, laporan saksi, data penyalahgunaan wewenang, hingga rincian keuangan yang tak beres selama Pak Samsul menjabat, semuanya dikumpulkan dan disusun rapi menjadi berkas pelanggaran berat.

Belum ada satu jam berlalu sejak telepon itu ditutup, pesan berantai dan surat panggilan resmi sudah menyebar. Di rumah mewah Pak Samsul yang tidak terlalu jauh dari situ, suasana justru sedang riuh rendah namun penuh ketakutan. Pak Samsul mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah pucat pasi, keringat dingin mengucur deras di dahinya. Bu Ratna duduk membeku di sofa, wajahnya kusut dan tak berdaya. Sela duduk di pojok, menangis tersedu-sedu, ketakutan luar biasa karena baru saja mendapat pesan dari teman-temannya bahwa nama baiknya hancur total di sekolah, semua orang membencinya, dan dia kini dijauhi semua teman.

"Pih... Pih gimana ini?! Kenapa tiba-tiba yayasan nelpon dan bilang jabatan Papih ditinjau ulang?! Katanya ada bukti lengkap pelanggaran berat?! Bukti apa Pih?! Bukti apa?!" jerit Sela histeris di sela tangisnya.

Pak Samsul berhenti berjalan, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. "Bukti semua kelakuan kita sel! Semuanya ada! Foto kita di sekolah, rekaman suara kamu sama teman-temanmu pas nyebar fitnah, laporan keuangan, semuanya... Semuanya ada di tangan Pak Rudi. Dia nggak main-main, dia bener-bener mau hancurin kita!"

Bu Ratna mengerang pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "nggak mungkin. a-aku nggak nyangka orang tua Bela punya kekuatan sebesar ini. Dia diam saja selama ini ternyata cuma mengamati. bahkan Kita cuma semut buat dia..."

Bel pintu rumah mereka berbunyi nyaring dan panjang, membuat ketiganya tersentak kaget seolah ada petir yang menyambar di depan pintu. Di luar sana, ada mobil dinas yayasan dan beberapa kendaraan petugas yang datang membawa surat keputusan resmi. Babak baru dalam kehancuran mereka sudah dimulai, persis seperti perintah singkat Pak Rudi tadi: Selesaikan semuanya.

Sementara itu, di rumah Pak Badi, Arga yang diam-diam menerima pesan singkat dari Pak Rudi, menghela napas panjang lalu tersenyum tipis. "Mereka sudah dapat balasannya," ucapnya pelan, cukup terdengar oleh Papih dan Mamih.

"Pak Rudi bertindak ya?" tanya Pak Badi yakin.

Arga mengangguk. "Ya. Dia nggak menyakiti fisik, tapi dia merampas apa yang paling mereka banggakan: jabatan, nama baik, dan kekuasaan. Itu hukuman yang paling pas buat orang yang hidupnya cuma buat gengsi."

Bastian yang mendengar itu, hatinya lega sekaligus makin sadar. Ia menatap Arga dan berkata dengan suara tenang, tulus, dan penuh keikhlasan, "Bang Arga... jaga Bela baik-baik ya. Dia gadis paling hebat yang pernah gue kenal. Dan kayaknya... cuma Abang yang paling pantas buat dia. Gue mundur, gue ikhlas. Gue cukup jadi sahabat dia aja."

Arga sedikit terkejut ternyata Bastian menyukai Bela. Arga menatap mata keponakannya itu, melihat ketulusan di sana. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat. "Makasih, Bas. Makasih udah jadi sahabat yang baik buat dia. Apapun yang terjadi, kita tetap keluarga dan tetap teman."

Malam itu berakhir dengan keadilan yang ditegakkan. Di satu sisi ada kehancuran bagi mereka yang berniat jahat, di sisi lain ada kedamaian yang utuh bagi mereka yang menjunjung kebenaran. Dan di tengah semuanya, Bela yang sedang tidur lelap di kamarnya, tak sadar bahwa ayahnya telah memindahkan gunung hanya untuk memastikan putri kecilnya itu bisa bangun dengan senyum bahagia esok paginya, aman, dicintai, dan dilindungi sepenuhnya.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!