NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 21. Rapat tahunan perusahaan

Suasana Ballroom pabrik kopi milik keluarga ini terasa begitu formal pagi ini. Aroma kopi premium berpadu dengan wewangian mewah dari para petinggi perusahaan yang duduk rapi di meja oval besar.

Di barisan depan, jajaran direksi dan komisaris utama duduk dengan wajah serius, siap membedah laporan performa tahunan dari seluruh anak perusahaan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dada. Sebagai General Manager untuk lini bisnis Food and Beverage khususnya jaringan coffee shop milik anak perusahaan, hari ini adalah panggungku.

Berbeda dengan divisi lain yang kudengar tampak tegang karena target mereka meleset, aku justru merasakan debaran penuh antisipasi.

"Selanjutnya, mari kita dengarkan laporan dari divisi Coffee Shop yang akan disampaikan oleh General Manager kita, Ibu Dea. Kepada Ibu Dea, dipersilakan," suara moderator menggema lewat pengeras suara.

Tanpa persiapan matang, aku dengan begitu yakin untuk menghadiri rapat tahunan ini. Karena aku merasa hasil kerjaku benar-benar memuaskan. Bukan hanya perasaanku saja, tapi dari keluarga mas Barraq banyak yang mengakuinya dan memuji hasil kerjaku.

Aku berdiri, merapikan sedikit blazer kerjaku, lalu melangkah mantap menuju podium. Saat aku berdiri di depan, semua mata langsung tertuju padaku. Layar proyektor besar di belakangku menyala, menampilkan logo coffee shop yang selama setahun terakhir ini kupimpin dengan seluruh peluh dan air mata.

Aku bekerja selama enam belas jam setiap hari, hanya demi berada di titik ini. Bahkan hari liburku diganti dengan lembur.

"Selamat pagi yang terhormat jajaran direksi, komisaris, dan rekan-rekan sekalian," bukaku dengan suara yang kuusahakan tetap tenang namun bertenaga. Senyum profesional sengaja kulemparkan untuk mencairkan suasana ruangan yang tadinya kaku.

"Tahun ini, Saya dengan bangga berdiri di sini untuk melaporkan bahwa divisi coffee shop kita tidak hanya mencapai target, tetapi tengah berada di puncak kejayaan tertinggi sejak pertama kali didirikan," lanjutku, dan aku bisa mendengar bisik-bisik kagum mulai terdengar di antara peserta rapat.

Aku menekan tombol clicker di tanganku. Grafik di layar seketika melonjak tajam ke atas.

"Dalam dua belas bulan terakhir, kita berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar seratus delapan puluh persen," ujarku lugas. Aku memaparkan setiap data dengan sangat lancar. "Kuncinya ada pada tiga strategi utama yang kami terapkan. Yang pertama, konsistensi kualitas bahan baku lokal. Kemudian, ekspansi agresif sebanyak lima belas cabang baru di kota-kota strategis, dan efisiensi sistem operasional digital yang memotong waktu tunggu pelanggan hingga setengahnya."

Suasana rapat tahunan yang diceritakan mas Barraq biasanya sarat dengan ketegangan, perlahan berubah menjadi sesi apresiasi. Aku melirik ke arah Komisaris Utama, seorang pria paruh baya yang disebut ialah saudara tertua keluarga ini. Beliau tampak mengangguk-angguk puas sambil mencatat sesuatu di tabletnya.

Jantungku berdesir lega.

"Bukan hanya soal angka," aku melanjutkan dengan nada penuh percaya diri, "Inovasi menu musiman yang kami luncurkan kuartal lalu juga berhasil memenangkan penghargaan Best Coffee Concept tahun ini. Brand awareness kita di media sosial naik drastis, menjadikan coffee shop kita sebagai tempat singgah utama bagi generasi muda maupun profesional."

Saat aku menutup presentasiku dengan rencana proyeksi tahun depan yang tak kalah optimistis, ruangan yang tadinya senyap langsung bergemuruh oleh tepuk tangan.

Direktur Utama bahkan berdiri, memberikan anggukan hormat ke arahku. "Presentasi yang luar biasa, Dea. Anda dan tim telah membuktikan bahwa dengan eksekusi yang tepat, lini bisnis ini bisa menjadi tulang punggung baru bagi perusahaan. Pertahankan."

Aku tersenyum lega, membungkuk hormat, lalu berjalan kembali ke kursiku dengan kepala tegak. Ketegangan berbulan-bulan, lembur hingga larut malam, dan puluhan cangkir kopi yang kuhaiskan demi menjaga kualitas rasa, semuanya terbayar tuntas di ruang rapat ini. Divisiku bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bintang utama di bawah kepemimpinanku.

Namun, aku tidak berpuas hati sampai di sini. Karena mulai hari ini, aku sudah mengemban tugas baru agar coffee shop di pulau ini pun berjaya seperti coffee shop di Pulau Jawa.

"Mati aku, belum hapal aku, Yah,” rengekan mas Barraq terdengar begitu manja pada seorang kakek yang ia panggil dengan sebutan ayah itu.

"Ayah nggak sabar di umur Ayah yang ke tujuh puluh tahun ini, Ayah pake selempang Hafidz Qur'an,” ayah Wiya tersenyum lebar dengan menaikan kakinya ke bangku depan yang kosong.

Aku akan menghampiri mereka yang tengah duduk area parkiran pabrik kopi milik keluarga ini. Banyak laki-laki muda dan pria matang di sini, sedangkan aku hanya sendirian dan aku hanya kenal akrab dengan mas Barraq saja.

“Ayah aja tujuh puluh tahun baru hapal Qur'an, aku nggak masalah khataman aja juga. Kan masih muda juga," sahut mas Barraq, ketika aku sudah berada di dekatnya.

“Maaf ganggu, Mas, Yah. Aku boleh minta tolong untuk diantarkan pulang ke penginapan dulu nggak?" ungkapku malu-malu sungkan.

Aku memang influencer, tapi kan dalam sosial media. Aku di tengah-tengah manusia tampan begini, ya kaku juga.

“Sini aja dulu duduk, Dea. Tunggu yang lain, sambil ngobrol-ngobrol sebentar." Ayah Wiya menurunkan kakinya dari bangku plastik yang ia gunakan untuk selonjoran kakinya tadi.

“Aku… canggung, Yah," akuku dengan tawa malu dan duduk di hadapan ayah Wiya.

“Hey, ini kau ya, Kak?" Tiba-tiba seorang laki-laki yang sepertinya di bawah usia mas Barraq menghampiriku dengan menunjukkan gambar dalam ponselnya.

Gila, malunya aku. Apalagi saat ia menunjukkan pada ayah Wiya. Ayah Wiya tersenyum geli dan menyenggol kaki mas Barraq. Mas Barraq melirik ke arah ponsel tersebut dan tersenyum malu.

Ia malu dengan anak buah yang seperti aku?

"Aku udah follow Kakaknya, nanti follback ya, Kak?” Laki-laki muda itu mengedipkan matanya genit.

Aku mati gaya di sini, aku amat-amat canggung dalam situasi seperti ini. Aku bingung caranya bersikap untuk mencairkan suasana.

"Cari bahan kau, Nak?” Seorang laki-laki matang datang dan langsung menutupi wajah laki-laki muda itu.

Ohh, ya ampun. Beliau direktur utama yang dikenalkan padaku pagi tadi oleh mas Barraq, beliau adalah ayah Barra.

Jadi, laki-laki muda ini adalah anak dari ayah Barra?

“Ayah, tengok si Kakaknya cantik betul.” Ia kembali menunjukkan fotoku dalam ponselnya.

Sialnya lagi, ayah Barra melirik ke arah ponsel itu. Hanya sekilas, tidak ada senyum geli atau terkesima.

"Kek baru lihat perempuan,” celetuk ayah Barra yang membuat para laki-laki di hadapanku itu tertawa renyah.

"Hijab Kakak on off ya, Kak?" ujar laki-laki muda itu dengan masih fokus pada ponselnya.

Pasti ia sedang melihat foto-fotoku yang lain.

“Ada pula hijab on off?" balas mas Barraq yang membuat para laki-laki itu lepas tertawa.

Masalahnya, orang yang tengah mereka bahas itu ada dihadapan mereka. Aku sebagai objek yang jadi bahan obrolan dan tawa mereka.

“Dea, dengerin Ayah ngomong." Ayah Barra menarik satu bangku dan duduk di dekat ayah Wiya.

Aku mengangguk cepat sebagai respon.

"Kau hati-hati sama…

1
Rini qi
kayaknya perasaan dea sama deh kek aq, deg-degan & penasaran apa ini yang terjadi selanjutnya
Miss F
kayaknya mau ad sesi tanya jawab ttg kelonan smlm tu de...🤣🤣🤣
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!