Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
"Kak Rama. Kamu akan menikah satu minggu lagi, bukan?" Risa berucap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Risa."
"Selamat, kak. Akhirnya, kamu menikah dengan nona Sinta. Setelah satu minggu ini, kita pasti gak akan bisa bertemu lagi."
"Ris, kok ngomongnya gitu sih? Aku menikah, kita akan tetap jadi teman, bukan?"
Risa menggelengkan kepalanya. Air matanya jatuh melintasi pipi. Eitc, tentu saja itu air mata buaya. Sayangnya, Rama langsung tertipu karena air mata tersebut.
"Risa .... " Rama berusaha menenangkan Risa dengan wajah yang sedikit panik.
Gadis bermuka dua itu sangat pintar memainkan sandiwara. Dia berusaha untuk terlihat tegar sesaat setelah menjatuhkan air mata.
Risa seka air mata itu dengan cepat. Lalu berusaha menyungingkan bibir untuk tersenyum. "Maaf, kak Rama. Aku hanya kelilipan. Jadinya, air mata jatuh deh."
"Jangan bohong, Ris. Aku tahu apa yang sedang kamu alami. Tolong, jangan sedih ya."
Gadis itu menundukkan wajah. "Sedih? Hiks, aku gak sedih kok, kak. Aku bahagia. Kamu akan menikah dengan orang yang sepadan. Aku juga ikut senang."
"Apa maksudnya sepadan? Gadis manja kek Sinta yang hanya bisa cemburuan, yang taunya hanya merengek saja. Menikah dengan nya adalah cobaan buat aku," ucap Rama tanpa pikir panjang lagi.
"Kak Rama, hiks." Risa semakin menjadi-jadi sekarang. "Jangan bicara seperti itu. Pernikahan ini sudah direncanakan sejak lama. Aku, hiks, turut bahagia. Hanya saja ... aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Jauh di dalam hatiku, aku sangat sedih saat memikirkan setelah pernikahan, kita akan berpisah."
Rama memegang kedua bahu Risa. "Ris, dengarkan aku! Kita akan tetap jadi teman setelah aku menikah. Jangan sedih begini ya."
Risa menatap wajah Rama dengan tatapan lekat. "Gak akan lagi, kak Rama. Gak akan."
"Kenapa tidak? Aku menikah, semua gak akan berubah. Kamu tetap teman aku."
"Nona Sinta tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kak Rama. Dia tidak akan mengizinkan kamu dan aku bertemu setelah kalian menikah," ucap Risa pelan.
Risa berusaha untuk tetap tegar. Namun, tentu saja itu hanya akting gadis itu saja. Dia seolah sangat sedih saat ini. Seperti, sedang sangat takut kehilangan, juga takut akan ancaman yang seseorang berikan padanya.
Malangnya, Rama termakan oleh akting tersebut. Wajahnya sangat kesal saat ini.
"Risa. Aku gak akan mendengarkan apa yang Sinta katakan. Kita akan tetap jadi teman setelah aku menikah. Aku akan tetap ada buat kamu nanti. Percayalah padaku."
'Hm ... kamu pikir, pernikahan itu mudah?' Risa berucap dalam hati. 'Mana mungkin hubungan kita bisa sama seperti saat kamu masih belum punya ikatan. Lagian, aku gak akan pernah rela kamu menikah dengan gadis lain. Karena posisi nona muda yang sudah aku incar sejak lama, tentu harus aku pertahankan.'
"Aku ingin percaya padamu, Kak. Sayangnya aku .... " Risa langsung mengeluarkan ponselnya. Di layar ponsel terdapat banyak chat yang dikirimkan oleh seseorang.
"Aku takut, kak Rama. Aku takut kalau aku benar-benar akan kehilangan kamu. Karena nona Sinta, tidak akan pernah membiarkan kita berteman lagi setelah kalian menikah. Katanya, ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Kamu milik dia yang tidak akan pernah rela dia biarkan untuk berteman dengan wanita manapun."
Mata Rama semakin melebar saat membaca pesan-pesan yang ada di layar ponsel Risa. Benar saja, pesan itu seperti pesan ancaman yang datang dari Sinta untuk menekan Risa.
Rama langsung termakan amarah saat membaca satu persatu chat yang ada di layar ponsel tersebut. Wajahnya langsung berubah marah. Tangannya dia genggam erat.
"Sinta ...!"
"Kak Rama jangan marah. Apa yang nona Sinta katakan itu benar. Hanya saja, aku yang terlalu berlebihan."
"Bukan kamu yang terlalu berlebihan, Risa. Sinta yang kekanak-kanakan. Bisa-bisanya dia bicara begitu. Sinta sangat keterlaluan. Sepertinya, pertimbangan untuk menunda pernikahan harus aku lakukan."
Manik mata bahagia langsung terlihat di mata Risa. Namun, cepat-cepat wanita itu menyembunyikannya. Tentu saja, akting yang sangat totalitas harus dia perankan lagi.
"Kak, jangan. Jangan lakukan hal itu. Nona Sinta bisa makin kesal padaku. Lagian, dia akan marah padamu jika kamu menunda pernikahan kalian yang hanya tinggal satu minggu lagi."
"Biarkan saja dia marah. Kemarahannya tidak akan berpengaruh buat aku. Lagian, Sinta juga harus diberikan pelajaran biar dia sadar diri. Sadar dengan apa yang telah ia lakukan selama ini. Sikapnya yang manja, dan kecemburuannya yang kelewat batas harus di ubah supaya kedepannya, bisa menjalin hubungan yang lebih baik lagi."
"Tapi, kak."
"Sudahlah, Risa. Jangan takut. Aku akan beri Sinta pelajaran. Nantinya, dia akan tahu di mana batasannya. Dia gak akan berani ganggu kamu lagi. Kamu percaya padaku."
"Jangan, kak Rama. Aku tidak ingin hubungan kalian semakin rusak hanya gara-gara aku."
"Kenapa gara-gara kamu? Kamu tidak merusak apapun. Sebaliknya, Sinta lah yang telah merusak hubungan kita semua hanya gara-gara sikap manja yang ia miliki."
"Sudah. Kamu tenang saja di sini ya. Semua akan baik-baik saja."
Rama bangun dari duduknya setelah berucap. Risa langsung melontarkan pertanyaan dengan nada cemas, yang tentu saja itu hanya pura-pura saja. "Kamu mau ke mana?"
"Ada hal yang harus aku urus. Kamu tidak perlu cemas."
"Tapi, kak Rama. Jangan timbulkan masalah buat hubungan kalian ya."
"Kamu tenang saja, Risa. Semua akan baik-baik saja."
Rama pun beranjak pergi. Setelah pria itu hilang dari pandangan mata, Risa langsung bersorak karena bahagia. Dia hampir saja melompat-lompat karena terlalu girang akan usahanya yang sangat berhasil.
"Yes, yes, yes. Posisi nona muda keluarga kaya akan tetap jadi milik aku. Persetan dengan status. Yang penting, bisa menguasai hati tuan muda. Jika berhasil, maka akulah yang berkuasa."
Risa melempar tubuhnya ke atas sofa. Hembusan napas pelan nan panjang dia lepaskan. "Rama-Rama. Terlalu mudah untuk menguasai kamu. Sedikit saja trik, langsung berhasil. Sungguh tuan muda yang sangat lemah."
"Ha ha ha. Tapi aku suka hal itu. Dengan begitu, aku punya peluang yang sangat besar untuk jadi pasangan tuan muda keluarga kaya."
Senyum terkembang di bibir Risa. Dia kembali melepas napas lega saat memikirkan keberhasilan dari usaha kecil yang telah ia lakukan. Bukti chat yang dia tunjukkan pada Rama itu, tentu saja palsu. Dia yang mengarangnya sendiri. Tapi malangnya, Rama langsung percaya dengan hal itu.
"Ah ... aku rasa, tuan muda kaya otaknya bod*oh. Bisa langsung percaya dengan apa yang aku perlihatkan."
"Ha ha ha. Itulah keberuntungan Risa, bukan? Bertemu dengan Rama, lalu mengambil hatinya. Usaha sedikit saja, dia bisa langsung jatuh ke tangan ku. Sungguh luar biasa."
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️