Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Transformasi Si Belang
Kilau sehat dari bulu Si Belang kontras dengan tubuh satu sapi afkir yang terbujur kaku di sebelahnya.
Tujuh hari. Hanya tujuh hari sejak Saskia meneteskan Air Suci ke lidah Si Belang, dan perubahan pada sapi lokal jantan itu hampir tidak bisa dipercaya oleh logika kedokteran hewan manapun.
Bulu-bulu di sekitar moncongnya yang dulu kering dan pecah-pecah, sekarang tumbuh kembali dengan tekstur halus dan warna hitam pekat yang mengilap. Kulitnya yang tadinya mengelupas dan dipenuhi bercak merah, sekarang mulus, kenyal, dan bebas dari infestasi lalat. Matanya yang dulu sayu dan setengah tertutup kotoran, sekarang bersinar jernih dengan refleks pupil yang normal.
Tapi yang paling mengejutkan adalah ototnya.
Saskia berdiri di samping Si Belang dengan buku catatan kecil di tangannya, sebuah buku tulis sekolah bekas yang ia beli seharga tiga ribu rupiah di warung desa. Jemarinya meraba tulang belikat sapi itu, menelusuri kontur otot trapezius yang mulai terbentuk.
"Dalam tujuh hari, massa otot meningkat sekitar lima belas sampai dua puluh persen," gumamnya, pensilnya menari di atas kertas. "Itu tidak mungkin terjadi hanya dengan perbaikan pakan. Bahkan dengan steroid anabolik sekalipun, pertumbuhan secepat ini..."
Ia berhenti. Pensilnya terdiam.
Air Suci tidak menyembuhkan dengan cara yang ia kenal. Air itu tidak membunuh bakteri, tidak membasmi parasit, tidak menambal kekurangan nutrisi. Air itu melakukan sesuatu yang lebih fundamental. Sesuatu yang membuat tubuh Si Belang memperbaiki dirinya sendiri dengan kecepatan yang melampaui batas-batas fisiologis normal.
"Regenerasi seluler yang dipercepat," bisiknya. "Peningkatan sintesis protein. Perbaikan DNA yang rusak. Atau mungkin... aktivasi jalur metabolik yang sebelumnya dorman."
Si Belang melenguh pelan, moncongnya yang basah menyentuh lengan Saskia. Nafasnya hangat, tapi tidak lagi berbau asam seperti tujuh hari lalu. Nafas sapi sehat. Nafas sapi yang sistem pencernaannya bekerja dengan normal.
"Kau sudah jadi sapi ganteng sekarang, Belang."
Sapi itu mengibaskan ekornya, mengusir lalat yang masih bandel beterbangan di sekitar kandang. Gerakan ekornya kuat, bertenaga. Bukan gerakan lemah seperti dulu.
Saskia tersenyum kecil. Lalu matanya beralih ke sudut kandang, dan senyum itu lenyap.
Sapi PO betina.
Satu dari tiga sapi afkir yang ia beli di Pasar Dampit.
Tubuhnya terbaring miring di atas jerami. Keempat kakinya kaku, menunjuk ke arah yang sama seperti tiang-tiang kecil yang patah. Matanya terbuka, tapi tidak ada lagi cahaya di dalamnya. Hanya bola mata coklat yang mulai mengeruh, ditutupi lapisan tipis debu kandang.
Saskia berjalan mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti mendekati pasien yang sedang tidur. Tapi sapi ini tidak tidur. Dadanya tidak naik-turun. Tidak ada hembusan nafas dari cuping hidungnya. Tidak ada kedutan otot di sekitar telinganya.
Sudah mati. Mungkin sejak subuh tadi.
Ia berlutut di samping bangkai sapi itu. Tangannya terulur, menyentuh leher yang sudah mulai dingin. Rigor mortis sudah mulai terjadi, otot-ototnya mengeras dalam kontraksi terakhir.
"Kalian berdua," panggilnya pada Ndut dan Limosin satunya yang berdiri di sudut lain. "Jangan lihat."
Tapi sapi-sapi itu tetap menatap. Mereka mungkin tidak mengerti kematian seperti manusia, tapi mereka tahu sesuatu yang tidak beres. Ndut melenguh rendah, suara yang lebih mirip erangan.
Saskia menunduk. Jemarinya masih menempel di leher sapi PO itu. Kulitnya yang tadinya penuh bercak dermatofilosis, sebenarnya sudah mulai membaik. Bercak-bercak itu mengering, keropengnya mulai mengelupas. Air Suci bekerja. Tapi tidak cukup.
"Infeksinya sudah terlalu dalam," bisik Saskia. Suaranya datar, seperti sedang mendikte catatan medis. "Bukan cuma dermatofilosis. Ada septisemia. Bakteri sudah masuk ke aliran darah sebelum aku memberikan Air Suci. Mungkin sudah menyebar ke organ-organ vital. Ginjal. Hati. Jantung."
Ia menarik nafas panjang.
"Air Suci mempercepat regenerasi sel. Tapi kalau infeksinya sudah sistemik, regenerasi sel tidak bisa mengejar kecepatan kerusakan yang disebabkan oleh toksin bakteri. Sapi ini... kalah cepat."
Dua setengah juta.
Itu harga sapi ini di Pasar Dampit. Dua setengah juta rupiah yang sekarang terbaring sebagai bangkai di kandangnya. Uang dari hasil menjual perhiasan emas ibunya.
Tapi bukan itu yang membuat dadanya terasa sesak.
"Saya sudah mencoba," suaranya bergetar sedikit. "Saya beri satu tetes. Dua tetes. Bahkan tiga tetes di hari ketiga. Saya ganti jeraminya setiap hari. Saya bersihkan lukanya dengan air hangat dan garam. Saya kasih pakan terbaik yang bisa saya beli."
Sapi itu tidak menjawab. Hanya tubuhnya yang semakin kaku.
Saskia duduk di samping bangkai itu, punggungnya menyandar ke dinding kandang. Matanya menatap langit-langit genting yang retak. Posisi yang sama seperti tujuh hari lalu, ketika ia pertama kali terbangun di tubuh ini.
Tapi kali ini tidak ada Bibi Laras yang mendobrak pintu. Tidak ada Paman Harto yang menagih uang. Hanya ada Saskia, seekor sapi mati, dan kenyataan pahit yang harus ia telan.
Air Suci bukan sihir.
Air Suci adalah alat. Seperti pisau bedah. Seperti obat. Seperti semua alat kedokteran yang pernah ia gunakan di kehidupan sebelumnya. Ada batasannya. Ada harganya. Dan ada pasien yang tidak bisa diselamatkan meskipun alatnya sudah digunakan dengan benar.
"Kau tahu," gumamnya pada sapi mati itu. "Dulu, waktu aku masih jadi dokter hewan beneran, ada satu kasus yang tidak pernah bisa aku lupakan. Anjing golden retriever. Umur empat tahun. Kena parvovirus. Pemiliknya datang terlambat. Aku sudah lakukan semua yang bisa kulakukan. Infus. Antibiotik. Antiemetik. Bahkan transfusi plasma."
Ia menghela nafas.
"Anjing itu mati di meja operasi. Pemiliknya nangis histeris. Suaminya marah-marah, bilang aku dokter yang tidak kompeten. Padahal aku sudah tidak tidur dua hari buat jagain anjing itu. Padahal parvovirus yang sudah menyebar ke sumsum tulang hampir tidak mungkin disembuhkan. Tapi mereka tetap marah."
Jemarinya mengepal di atas pangkuan.
"Dan aku tetap merasa bersalah."
Si Belang melenguh pelan dari sudut kandangnya. Mungkin kebetulan. Tapi Saskia memilih untuk percaya bahwa sapi itu meresponnya.
"Kau kenapa, Belang? Kau ngerti aku ngomong apa?"
Tentu saja tidak. Sapi tidak mengerti bahasa manusia. Tapi Si Belang menatapnya dengan mata coklat yang tenang, dan entah kenapa itu sedikit membantu.
Saskia bangkit. Lututnya gemetar sedikit, efek samping dari penggunaan Air Suci yang masih terasa. Tiga sapi baru, masing-masing satu sampai tiga tetes, selama tujuh hari berturut-turut. Hidungnya sudah mimisan tiga kali. Pingsan satu kali. Tapi ia masih berdiri.
"Aku harus kuburkan sapi ini," katanya pada diri sendiri. "Tidak bisa dibiarkan membusuk di kandang. Bisa menyebarkan penyakit ke yang lain."