NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|11|Dokter Bayu

Andre menggendong tubuh Aruna memasuki penthouse dan meletakkannya diatas ranjang Aruna. Devara hanya mengamati dari pintu kamar Aruna, matanya terus mengawasi Aruna, namun tak tau dengan isi pikirannya.

"Dokter Mahesa Hospital, panggil ke sini" Titah Devara sambil berjalan keluar, meninggalkan kamar Aruna.

Setelah menunggu setengah jam, Dokter akhirnya datang, Devara hanya melihat dari depan kamar Aruna, sementara dokter itu mendekati Aruna yang masih belum sadar, memeriksanya dengan telaten.

Bayu Dirgantara, dokter di Mahesa Hospital sekaligus dokter keluarga Mahesa. Berkulit putih dan hidung mancung, kacamata selalu terpasang seperti seorang profesor. Bayu tersenyum setelah melihat gadis yang ada didepan matanya. 'Aruna' -batinnya.

Perlahan Bayu menyentuh pergelangan tangan Aruna, dingin dan sangat lemas. Alisnya berkerut, menatap Devara sekilas. Lalu memasang termometer. Setelah beberapa detik, tertera angka 39.5 . "Demam tinggi" Ujar Bayu pelan.

Bayu memasang selang infus, karena cukup lama berdiri Devara akhirnya beralih, pergi dari kamar Aruna, "Saya kebawah sebentar ya dok" ujar Andre lirih, lalu berjalan keluar.

Saat itulah Bayu bisa bernafas lega, Ia memegangi pipi Aruna. Bibir Aruna yang masih pucat. "Run, kita ketemu lagi. Tapi ditempat yang tidak seharusnya kamu berada" Ujar Bayu lirih.

5 tahun yang lalu...

Bayu adalah dokter keluarga Wijaya. Tahun pertama Bayu menjadi dokter dan diangkat sebagai dokter pribadi keluarga Wijaya. Bahkan Ia sangat bangga kepada dirinya karena Wijaya sangat terkenal masa itu. Wijaya sering sekali sakit ringan, hingga Bayu lumayan sering berkunjung kerumah.

Pertama kalinya Ia bertemu dengan Aruna, saat Aruna berumur 16 tahun. Senyum manisnya yang sangat Bayu ingat, setiap Bayu datang Aruna memberi Bayu coklat, begitu terus setiap saat, satu kalimat Aruna yang Bayu masih ingat "Dokter Bayu ganteng. Mau sama Aruna?", saat itu Bayu hanya tertawa dan menganggap sebagai candaan karena usia Aruna baru 18 tahun.

Sampai Wijaya bangkrut dan mereka tak bertemu kembali, hal yang membuat Bayu menyesal karena telah terlanjur menyukai Aruna, namun pernyataan cintanya tak sampai.

Saat ini, tangannya masih memegang jemari Aruna. Sebenatar, tak lama. Sebagai pengobat rindunya setelah 3 tahun tak bertemu. Bayu tau dia ada dimana, jelas Ia tau siapa dirinya didepan Devara. Dan benda yang berkedip serta memandanginya terus menerus itu juga Bayu tau. Namun, rasa rindu yang semakin memuncak memaksa Bayu untuk berbuat nekat seperti itu.

Diruangan lain, ada mata yang sedang mengintai perbuatan dari Dokter Bayu. Devara, menyenderkan badannya di sofa empuk miliknya, matanya terus mengintai gerak-gerik Bayu sambil memainkan lighter motif naga emas miliknya.

"Selidiki Dokter itu saat jadi dokter wijaya, kenapa nama dia gak ada di daftar hitam saya" Titah Devara kepada Andre yang berada diruangan yang sama dengannya saat itu.

Devara beranjak dari duduknya dan segera datang ke kamar Aruna. Langkahnya sedikit cepat dari biasanya. Tangannya masih memainkan lighter dengan santai. Didekat kamar Aruna, Devara memperlambat langkahnya. Ia menyenderkan tubuhnya dikusen pintu.

"Sudah?" Satu kata Ia lontarkan kepada Bayu, Bayu langsung mengemasi peralatannya kedalam tas miliknya.

Saat itu juga mata Aruna mulai terbuka, Pandangan pertama yang Ia lihat saat siuman adalah Bayu. Aruna tersenyum saat melihat siapa yang ada didepan matanya. Senyuman yang sama seperti 5 tahun yang lalu saat Aruna memberi Bayu coklat. "Bu Aruna sudah siuman Pak" Ujar Bayu sambil melirik kearah Devara.

Devara berjalan mendekat. Aruna masih tersenyum kepada Bayu. "Nunggu apa?" Ujar Devara saat melihat Bayu yang berdiri diam menatap Aruna.

"Tunggu, apa perlu saya diperiksa lagi. Soalnya masih sakit" Ujar Aruna, sekuat tenaga Ia mengeluarkan suaranya yang nyaris hilang, lirih namun mampu didengar Devara.

"Dia sudah memeriksa semuanya, sudah hampir tengah malam" Lirikan tajam Devara mengarah kepada Aruna. Bayu sadar dengan apa yang Devara katakan, mengusir secara halus namun Ia masih belum rela meninggalkan Aruna disana.

"Besok saya datang lagi untuk kontrol keadaan Ibu Aruna" Ujar Bayu sebelum pergi.

Telinga Devara sedikit berdenyut mendengar apa yang diucapkan Bayu. Rahangnya mengeras satu detik, detik berikutnya Ia menatap Aruna. Senyumnya telah pudar.

"Datang jam 5 pagi, jam 8 dia harus ikut saya ke kantor" Balas Devara sebelum Bayu benar-benar pergi.

Rahang Bayu mengeras satu detik, namun Ia berusaha menampilkan senyumannya didepan Devara. "Baik Pak" Ucapnya setelah itu pergi berjalan menjauh.

Devara masih berdiri didepan Aruna, Ia menatap Aruna sekilas sebelum berjalan keluar. Aruna hanya diam, tak mengatakan apapun kepada Devara, gadis itu sedikit tersentak saat pintu kamarnya kembali dikunci dari luar oleh Devara.

Aruna menutup matanya, bersender lemas dikepala ranjang sambil mengatur nafasnya perlahan. "Dokter Bayu bekerja di Mahesa Hospital, Apa mungkin itu takdir aku masih bisa selamat jika minta bantuan dari Dokter Bayu?" gumam Aruna.

Pagi harinya, di Penthouse Devara Mahesa. Pukul 05.58 Bayu sudah berada didepan pintu, Karena suara bel yang terus berbunyi Devara keluar untuk membukakan pintu untuk Bayu. Pria itu mengenakan kaos hitam polos dan cenalan bahan, matanya merah. Jelas terlihat rambut masah sehabis mencuci wajahnya untuk menahan kantuk. Devara mengekor, Bayu yang berjalan didepan lebih dulu menuju kamar Aruna. Setelah sampai didepan kamar, Bayu mengetuk pintu kamar tersebut.

Dengan langkah santai Devara yang berjarak cukup jauh dibelakang Bayu mendekat, menempelkan jempolnya di alat yang terletak tersembunyi di pintu tersebut, beberapa detik berbunyi klik dua kali dan pintu terbuka otomatis, Bayu terkejut namun berusaha terlihat biasa saja.

Aruna terlihat sudah bangun dengan wajah pucat-nya yang masih jelas terlihat, sekilas Aruna terlihat melemparkan senyum tipis kepada Bayu, matanya terus mengekori pergerakan Bayu. Devara menyender di kusen pintu sambil menyilangkan tangannya.

"5 menit" Ujar Devara kemudian setelah melihat Bayu menyentuh tangan Aruna untuk melakukan tensi.

"Mungkin lebih sedikit pak, karena akan dilakukan suntik vitamin dan melepaskan infus" Ujar bayu dengan tenang tanpa menengok kearah Devara.

Setelah tensi selesai, Aruna menggenggam jari Bayu dua detik, seolah memberi petunjuk kepada Bayu, "Sabar Run, kita bakal ketemu lagi" bisik bayu pelan, sangat pelan agar tak terdengar oleh Devara.

"Waktu habis" Devara tidak melihat arlojinya, Ia melihat Bayu yang memegang tangan Aruna 5 menit sejak tadi.

Bayu tersenyum sekilas kepada Devara sebagai formalitasnya karena seorang dokter keluarga Mahesa. Ia merapikan alat medisnya dan memasukkan kedalam tas.

"Saya sudah suntikkan vitamin kepada ibu Aruna, dan ada vitamin juga yang harus diminum, obat penurun deman juga sudah ada jadi nan..."

Devara segera memotong cepat. "Baik, saya yakin dia sudah paham" Ujar Devara, sambil memberi jalan untuk Bayu keluar.

Bayu menghembuskan nafas kasar, jelas tak tahan dengan perlakuan Devara yang sangat seenaknya itu. Namun lagi-lagi Bayu tahan karena Ia hanya seorang tamu disana. Bayu keluar dan pergi menjauh.

"Cuci tangan mu yang bersih, Pakai lipstik merah dan gaun merah, jangan sampai wartawan mikir kalau kamu habis kena KDRT" Ucap Devara dengan lirih, datar dan dingin tanpa ekspresi.

"Jangan terlihat paling menderita, inget Run kamu udah nebeng nama saya" Ucap Devara kembali sebelum pergi meninggalkan kamar Aruna.

Aruna tak menjawab, bibirnya naik sedikit seolah jijik dengan apa yang Devara katakan.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!