Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Bukan Cuma Sapi
Lantai marmer Hotel Tugu memantulkan bayangan kebaya putih lusuhnya dengan sangat jelas.
Saskia berdiri di lobi hotel bintang lima itu, merasakan dingin AC yang terlalu dingin untuk kulitnya yang terbiasa dengan angin kandang. Di sekelilingnya, tamu-tamu hotel berlalu lalang dengan pakaian mahal. Laki-laki dengan setelan jas. Perempuan dengan gaun sutra dan sepatu hak tinggi. Turis asing dengan ransel besar dan kamera menggantung di leher.
Ia menggenggam map plastik di tangannya. Map bekas yang ia beli di toko alat tulis dekat terminal. Di dalamnya, proposal tulisan tangan di atas kertas HVS, beberapa lembar foto Si Belang sebelum dan sesudah perawatan, dan catatan data pertumbuhan yang ia susun selama tiga minggu terakhir.
Pakaiannya sendiri adalah yang terbaik yang ia punya. Kebaya putih warisan ibunya, yang sudah ia cuci dengan sabun cuci piring karena tidak punya deterjen. Jarit coklat dengan motif batik sederhana. Sandal jepit yang ia bersihkan dengan lap basah sebelum masuk. Rambutnya disanggul sederhana, tanpa riasan, tanpa perhiasan.
Ia berjalan ke meja resepsionis. Perempuan muda di balik meja menatapnya dari atas sampai bawah, dari bawah sampai atas.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
Suara resepsionis itu sopan. Terlalu sopan. Nada yang biasa dipakai untuk menolak pengemis yang nyasar ke hotel mewah.
"Saya ingin bertemu dengan kitchen manager. Atau head chef. Atau siapapun yang bertanggung jawab atas pembelian daging di hotel ini."
Resepsionis itu mengerjapkan matanya. "Mbak punya janji?"
"Tidak. Tapi saya punya proposal yang..."
"Maaf, Mbak. Kalau tidak ada janji, tidak bisa."
"Saya hanya minta lima menit."
"Maaf, Mbak. Peraturan hotel."
Saskia tidak bergeming. Ia sudah menduga ini. "Kalau begitu, tolong sampaikan ini ke kitchen manager. Saya tunggu."
Ia meletakkan map plastik itu di atas meja marmer. Resepsionis menatap map itu seperti menatap sampah yang tidak tahu harus dibuang ke mana.
"Mbak, ini bukan tempat..."
"Di dalam map itu ada data pertumbuhan sapi dengan kenaikan massa otot empat puluh persen dalam tiga minggu." Suara Saskia tetap tenang, tapi setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang presisi. "Kalau kitchen manager anda serius tentang kualitas daging, dia akan tertarik. Kalau tidak, buang saja map itu. Tapi saya yakin dia akan menyesal."
Resepsionis itu membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Matanya menatap map plastik lusuh itu dengan ekspresi antara jijik dan penasaran.
"Apa urusan Mbak dengan daging sapi?"
"Saya peternak."
Peternak. Kata itu terasa asing di lidahnya sendiri. Tapi itulah dirinya sekarang.
Resepsionis itu mendesah panjang. Jemarinya yang berkuku merah menyentuh map itu dengan ujung jari, seolah-olah takut kena kuman. "Saya tidak janji apa-apa. Nama Mbak siapa?"
"Saskia Utami."
"Saya catat. Silakan tunggu di lobi."
Saskia mengangguk dan berjalan ke sofa di sudut lobi. Sofa berbahan beludru merah dengan ukiran kayu di sandarannya. Ia duduk dengan hati-hati, takut mengotori kain mahal itu dengan debu yang mungkin masih menempel di jaritnya.
Lima belas menit. Tiga puluh menit. Empat puluh lima menit.
Saskia menunggu. Tangannya terlipat di pangkuan. Punggungnya tegak. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah koridor yang mengarah ke restoran hotel. Tamu-tamu berlalu lalang. Beberapa meliriknya dengan tatapan aneh. Mungkin bertanya-tanya apa yang dilakukan gadis desa dengan kebaya lusuh di lobi hotel bintang lima.
Satu jam berlalu.
Saskia nyaris berdiri untuk pergi, ketika sesosok laki-laki berjalan ke arahnya. Tubuhnya tinggi, berkemeja putih dengan celemek hitam yang masih bersih. Wajahnya tirus dengan kumis tipis. Namanya tertulis di pin di dada kirinya: Chef Kusuma, Executive Kitchen Manager.
"Mbak Saskia?"
Saskia berdiri. "Saya."
Chef Kusuma memegang map plastiknya. Sudah terbuka. Foto-foto Si Belang di dalamnya sedikit berantakan.
"Saya baca proposal Mbak. Terus terang, saya panggil Mbak ke sini karena iseng." Ia tersenyum tipis. "Tapi foto-foto ini... ini beneran sapi yang sama?"
"Sapi yang sama. Tiga minggu jedanya."
"Tidak mungkin."
"Itu faktanya."
Chef Kusuma menatapnya lama. Matanya menyipit, seperti sedang menilai apakah gadis di depannya ini penipu atau orang gila.
"Kenaikan massa otot empat puluh persen dalam tiga minggu itu tidak mungkin, Mbak. Saya sudah dua puluh tahun di dapur. Saya tahu soal daging. Sapi paling bagus dengan pakan paling mahal sekalipun, kenaikan maksimalnya dua puluh persen dalam sebulan. Itu sudah bagus sekali. Empat puluh persen? Mbak yakin tidak salah hitung?"
"Saya punya datanya lengkap. Berat awal. Berat mingguan. Lingkar dada. Tinggi pundak. Tebal lemak punggung dengan ultrasonografi sederhana."
"Ultrasonografi?"
"Saya pinjam alat dari puskesmas pembantu di kecamatan."
Chef Kusuma menatapnya semakin aneh. "Mbak ini peternak atau dokter hewan?"
Saskia berhenti sejenak. "Saya banyak membaca."
Laki-laki itu menghela nafas. Map plastik itu ia tutup dan ia letakkan kembali di meja.
"Saya akui, data Mbak menarik. Foto-foto ini juga... ya, mengejutkan. Tapi saya tidak bisa percaya begitu saja. Di dunia kuliner, reputasi adalah segalanya. Saya tidak bisa asal membeli daging dari peternak yang tidak dikenal, tidak punya sertifikasi, tidak punya rekam jejak."
"Saya mengerti."
"Jadi begini." Chef Kusuma mencondongkan tubuhnya sedikit. "Saya mau adakan blind test. Mbak bawa satu ekor sapi. Saya potong di rumah potong rekanan hotel. Dagingnya saya masak tanpa bumbu, hanya garam dan lada hitam. Saya bandingkan dengan daging impor yang biasa kami pakai. Kalau kualitasnya memang sebagus data ini..." Ia mengetuk map plastik itu dengan jarinya. "...hotel kami akan jadi pelanggan tetap Mbak."
Satu ekor sapi.
Kata-kata itu menggantung di udara.
Saskia tahu persis apa artinya. Satu ekor sapi untuk blind test. Satu ekor sapi yang akan disembelih, dipotong, dimasak, dan dinilai dalam satu sesi makan. Dan satu-satunya sapi yang punya data pertumbuhan empat puluh persen dalam tiga minggu adalah...
Si Belang.
"Sapi yang di foto ini," Chef Kusuma menunjuk foto setelah di dalam map. "Yang ini yang saya mau. Datanya paling mengesankan."
Saskia tidak menjawab.
"Kenapa, Mbak? Ada masalah?"
Si Belang. Sapi lokal jantan yang pertama kali ia sentuh dengan Air Suci. Sapi yang dulu berdiri gemetar di sudut kandang dengan tulang rusuk mencuat seperti papan cuci. Sapi yang ia lindungi dari sapu lidi Bibi Laras dengan tubuhnya sendiri. Sapi yang menjilat pipinya waktu ia menangis bahagia melihat perubahan pertama.
Si Belang bukan cuma sapi.
Si Belang adalah bukti bahwa ia tidak gila. Bukti bahwa Air Suci benar-benar ada. Bukti bahwa ilmu kedokteran hewannya, yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya, bisa menyelamatkan makhluk hidup. Si Belang adalah saksi pertama dari semua yang ia perjuangkan.
Dan sekarang Chef Kusuma minta ia memotongnya.
"Tidak ada masalah," jawab Saskia akhirnya. Suaranya terdengar normal. Tidak bergetar. "Saya akan bawa sapinya minggu depan."
"Bagus." Chef Kusuma tersenyum dan menyerahkan map plastik itu kembali padanya. "Saya tunggu kabar dari Mbak."
Laki-laki itu berjalan pergi, kembali ke koridor menuju restoran. Sepatunya yang mengilap berdetak di lantai marmer, semakin lama semakin pelan.
Saskia berdiri sendirian di lobi hotel mewah itu. Tangannya menggenggam map plastik yang sekarang terasa jauh lebih berat daripada saat ia membawanya masuk. Di langit-langit, lampu kristal bergantung dengan megahnya. Di lantai, bayangannya sendiri menatap balik padanya, kecil dan lusuh di antara kemewahan yang bukan miliknya.
Keputusan itu menggantung berat di dadanya. Haruskah ia memotong Si Belang demi sebuah pembuktian?