NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat dan Pesan terakhir

BAB 8 — FIRASAT DAN PESAN TERAKHIR

Aku tidak pulang malam itu. Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa rumah yang kutinggali bersama Arga bukan lagi tempat yang aman. Jika selama ini aku hanya diliputi rasa curiga yang tumbuh perlahan, kini semuanya telah berubah menjadi kepastian yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Aku tahu siapa mereka sebenarnya, aku tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan di balik senyum manis dan sikap sopan yang selama ini mereka tunjukkan, dan yang paling membuat hatiku mencelos—aku sadar bahwa nyawaku sendiri sedang terancam bahaya yang nyata. Namun sayangnya, kesadaran itu datang terlambat, jauh lebih terlambat dari yang aku bayangkan.

Aku duduk termenung di samping tempat tidur rumah sakit, menggenggam erat telapak tangan Papa yang terasa dingin dan lemas di genggamanku. Suasana di ruangan itu sunyi senyap, hanya terdengar suara detak jantung yang teratur dari alat monitor yang terpasang di samping tempat tidur. Air mataku mulai menetes tanpa bisa kutahan, membasahi punggung tangan Papa yang telah berbaring tak berdaya selama dua tahun terakhir.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Pa,” ucapku pelan, suaraku bergetar tertahan oleh tangis yang ingin meledak. “Dunia rasanya terbalik, dan aku merasa tidak punya tempat untuk berlindung.”

Aku mendekatkan telapak tangan Papa ke pipiku, merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar, seolah berusaha mencari kekuatan yang selama ini selalu aku dapatkan darinya.

“Seandainya saja dulu aku tidak begitu keras kepala memilih Arga. Seandainya saja sejak awal aku mau mendengarkan nasihatmu dan melihat sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi. Aku begitu bodoh, Pa. Aku terlalu buta oleh kata-kata manis dan janji-janji indah yang ternyata hanyalah topeng belaka.”

Air mataku mengalir semakin deras, jatuh membasahi selimut tempat tidur. Rasa sesak di dadaku terasa semakin berat, seolah ada batu besar yang menindih paru-paruku hingga sulit untuk menarik napas.

“Aku baru menyadari semuanya ketika semuanya sudah terlambat. Aku benar-benar menyesal pernah bersikeras mempertahankan hubungan ini, bahkan saat banyak orang sudah memberikan peringatan padaku. Andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah membiarkan orang asing itu masuk ke dalam hidup kita dan merusak segalanya.”

Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan rasa sesal dan takut bercampur menjadi satu. Di saat seperti ini, hanya di samping Papa-lah aku merasa sedikit lebih tenang, meski aku tahu bahwa ketenangan itu hanyalah semu.

 

Ketika cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat celah jendela rumah sakit, menandakan pagi telah tiba, aku segera membereskan diri dan melangkah keluar dengan langkah tergesa-gesa. Aku tahu aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan secepatnya, sebelum waktu habis dan aku kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan kebenaran. Sambil berjalan menuju tempat parkir, aku segera mengangkat telepon genggamku dan menghubungi Dimas.

“Dimana kamu sekarang?” tanyaku segera begitu telepon terhubung, nada suaraku terdengar tergesa dan penuh ketegangan.

Aku terus berjalan cepat, melewati lorong-lorong rumah sakit yang mulai ramai oleh pengunjung dan petugas medis.

“Aku baru saja keluar dari kantor dan sedang dalam perjalanan menuju tempat yang biasa kita gunakan untuk bertemu,” sahut Dimas dari seberang telepon, nadanya tenang namun aku bisa merasakan keseriusan di baliknya.

“Kalau begitu, temui aku di sana secepatnya. Ada hal penting yang harus kita bicarakan dan serahkan,” jawabku tegas, tidak mau membuang waktu lebih lama lagi.

“Baiklah, saya akan segera sampai di sana.”

Panggilan telepon pun berakhir. Aku masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan melaju menuju lokasi pertemuan dengan perasaan yang campur aduk—antara harapan agar semuanya bisa berjalan lancar, dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Beberapa puluh menit kemudian, aku sudah duduk berhadapan dengan Dimas di sebuah kafe yang agak sepi dan jauh dari keramaian. Aku mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi salinan rekaman percakapan, foto-foto bukti, serta dokumen-dokumen penting yang telah aku kumpulkan dengan susah payah selama berminggu-minggu ini. Aku mendorong amplop itu ke arahnya dengan hati-hati, seolah benda itu adalah nyawaku sendiri.

“Simpan semua bukti ini dengan sangat aman,” ucapku sungguh-sungguh, mataku menatapnya lekat-lekat. “Jangan sampai hilang, rusak, atau jatuh ke tangan orang yang salah. Jangan pernah berikan kepada siapa pun selain petugas kepolisian yang bisa dipercaya, hanya jika situasinya benar-benar mendesak.”

Dimas mengambil amplop itu dan memeriksanya sekilas, lalu menatapku dengan pandangan yang berusaha menenangkan.

“Jangan khawatir, Violet. Saya akan menyimpannya di tempat yang sangat aman, dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menemukannya. Kita akan mengumpulkan bukti lain yang masih kurang, dan begitu semuanya lengkap, kita akan segera melaporkan mereka ke pihak berwajib agar mereka bisa bertanggung jawab atas perbuatan kejam mereka.”

Namun aku justru menggelengkan kepalaku dengan cepat, senyum pahit terukir di bibirku. Ada firasat buruk yang terus bergemuruh di dalam hatiku, firasat yang membuatku merasa waktu yang aku miliki mungkin tidak akan cukup lama.

“Aku takut... aku takut kita tidak akan memiliki waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan semuanya dengan cara yang teratur,” gumamku pelan.

Dimas mengernyitkan dahinya, raut wajahnya langsung berubah menjadi serius dan penuh kekhawatiran.

“Kenapa bicara begitu? Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa terancam?”

Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungku yang berdebar kencang.

“Dengarkan aku baik-baik, Dimas. Jika sesuatu yang buruk terjadi padaku—entah itu aku hilang secara tiba-tiba, mengalami kecelakaan yang tidak wajar, atau sesuatu yang membuatku tidak bisa berbicara lagi—berikan semua bukti ini langsung kepada polisi. Jangan menunggu lebih lama lagi.”

Dimas mengangkat kepalanya, matanya menatapku dengan pandangan yang mulai dipenuhi rasa khawatir yang nyata.

“Jangan bicara seperti itu, Violet. Tidak akan ada yang terjadi padamu. Kita akan berhati-hati dan melindungi dirimu.”

“Tolong dengarkan aku,” potongku tegas, suaraku bergetar namun tetap tegas. “Ini bukan perasaan sembarangan. Aku merasa ada mata yang terus mengawasi setiap langkahku. Aku tidak tahu seberapa banyak yang sudah diketahui Arga dan Eliana tentang penyelidikanku. Aku tidak tahu sejauh mana mereka berani melanggar batas, dan aku tidak tahu siapa saja orang-orang yang mereka sewa untuk mengawasiku. Yang aku tahu hanyalah satu hal: aku tidak boleh lengah sedetik pun, karena nyawaku mungkin sedang menjadi taruhan.”

“Apakah mereka sudah mengetahui bahwa kamu sedang mengumpulkan bukti ini?” tanya Dimas dengan nada rendah namun serius.

“Aku tidak yakin,” jawabku jujur. “Dan itulah yang paling menakutkan. Ketidaktahuan itu yang membuatku merasa terjebak. Aku tidak tahu kapan mereka akan bertindak, dan aku tidak tahu seberapa dalam jaringan mereka. Tapi aku merasa, semakin lama aku menunda, semakin besar risikonya.”

Setelah memastikan Dimas memahami pesanku dan menyimpan bukti itu dengan aman, aku pun berpamitan dan kembali melanjutkan kegiatanku sehari-hari. Namun rasa waspada itu tidak pernah hilang, ia terus melekat di hatiku sepanjang hari.

Malam harinya, aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Kepalaku terasa sangat berat dan berdenyut hebat karena sudah berhari-hari aku hampir tidak bisa tidur nyenyak, pikiranku terus dipenuhi oleh ketakutan dan dugaan yang membuatku gelisah. Begitu mobilku memasuki area parkir bawah tanah kantor pusat, tiba-tiba aku merasakan suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Ruangan itu terasa terlalu sunyi, terlalu sepi, bahkan hembusan angin pun terasa mencekam. Biasanya, meski sudah larut malam, masih ada beberapa kendaraan karyawan yang terparkir rapi di sana, namun malam ini hampir seluruh area parkir terlihat kosong melompong, hanya diterangi oleh lampu-lampu remang yang membuat bayangan terlihat menyeramkan.

Aku mencoba mengabaikan firasat buruk yang mulai menyelinap masuk ke dalam hatiku, meyakinkan diri bahwa mungkin saja semua karyawan memang sudah pulang lebih awal. Aku mematikan mesin mobil, mengambil tas kerja dan barang-barang pentingku, lalu melangkah keluar menuju arah pintu lift. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba sebuah sosok besar muncul dari balik tiang penyangga yang gelap, diikuti oleh sosok lain, lalu satu lagi, hingga akhirnya empat orang pria bertubuh kekar berdiri menghalangi jalanku, memotong jalan keluar yang bisa aku tuju. Tubuhku langsung menegang kaku, bulu kudukku meremang merasakan bahaya yang sangat dekat.

“Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?” tanyaku dengan suara bergetar, berusaha terlihat berani meski hatiku sudah berpacu sangat kencang.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka hanya menatapku dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi, seolah aku bukan manusia melainkan sekadar target yang harus disingkirkan. Salah satu dari mereka mulai melangkah maju perlahan, tangannya dikepal erat di samping tubuhnya. Aku langsung menyadari niat jahat mereka, dan tanpa berpikir panjang aku segera berbalik arah berusaha berlari kembali menuju mobilku, namun semuanya terjadi terlalu cepat. Sebuah tangan besar dan kasar tiba-tiba membekap mulutku dengan kuat, mencegahku berteriak meminta tolong, sementara tangan lainnya menarik tubuhku dengan paksa hingga aku tidak bisa bergerak bebas.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk memberontak, menendang-nendang kaki ke udara, mencoba mencakar tangan yang menahan mulutku, dan meronta sekuat tenaga agar bisa lepas, namun usahaku sia-sia belaka. Jumlah mereka terlalu banyak, dan tenaga mereka jauh lebih besar dibandingkan tenagaku yang sudah lemah karena kurang tidur dan beban pikiran. Napasku mulai terasa sesak, pandanganku perlahan mulai kabur, dan rasa pusing yang hebat mulai menyerang kepalaku. Perlahan, kekuatanku habis, dan sebelum aku sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, seluruh pandanganku berubah menjadi gelap pekat, dan kesadaranku pun hilang ditelan kegelapan.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!