Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Jantung Rizal masih berdetak sangat cepat. Beruntung ia mendengar sang istri berteriak memanggil namanya
Beruntung permainannya bersama Arum telah selesai, tadi keduanya masih bersantai sambil berpelukan, jika tidak maka habislah sudah
Rizal keluar dan mendapati sang istri yang masih terjaga "Kenapa belum tidur?"
"Aku mau dipeluk!" Rizal tersenyum dan ikut naik keatas tempat tidur lalu memeluk istrinya itu
"Selamat malam mas"
"Selamat malam sayang!" Rizal lebih dulu mengecup puncak kepala istrinya "I Love You"
Hanna mengeratkan pelukannya, ia suka aroma segar dari tubuh suaminya. Entah kenapa kehamilan kali ini membuatnya sedikit manja, mungkin karena ia tengah mengandung bayi perempuan
***
Keluarga Rizal sarapan seperti biasanya, Arum duduk berhadapan langsung dengan Rizal yang terlihat begitu perhatian dengan istrinya
Rizal tengah menambahkan lauk pada piring istrinya itu membuat Arum sedikit merasa cemburu, namun ia sadar dimana posisinya
Rizal yang tengah melayani sang istri tersentak saat merasakan kakinya disentuh. Pandangannya tertuju pada wanita yang tersenyum miring dihadapannya
Arum memang memainkan kakinya dibawah meja membuat Rizal membeku. Ia menatap wanita simpanannya itu dan Arum hanya tersenyum miring
Ponsel Hanna berdering, ia meraih benda pipih itu lalu menggeser tanda hijau "Halo Ras"
"Halo Han, aku ada kabar baik. Suami wanita itu sudah tertangkap, besok kamu bawa dia kekantor polisi untuk memberi keterangan lebih lengkap!"
Hanna terlihat sumringah, Rizal hanya menatap istrinya itu dengan tatapan bingung
"Beneran Ras? Syukurlah!"
"Ada apa sayang?" Rizal bertanya namun Hanna memberi isyarat lewat gerakan tangannya
"Makasih banyak ya Ras! Makasih karena kamu udah mau bantu" Ujar Hanna
"Sama-sama Hanna, kamu kayak sama siapa aja" Laras sahabat Hanna yang suaminya seorang anggota polisi itu terdengar tertawa
Hanna menutup sambungan teleponnya saat Laras telah menjawab salamnya. Ia kembali duduk dikursinya lalu menatap Arum dengan wajah berbinar
"Ada apa?"
"Tadi Laras yang telepon, katanya suaminya berhasil menangkap suami Arum dari persembunyiannya"
Rizal dan Arum saling menatap. Wajah keduanya mengisyaratkan jika berita yang Hanna berikan bukan berita yang baik
"Ada apa? Kamu gak seneng, Rum?" Tanya Hanna karena melihat wajah Arum yang tidak senang
"Bukan gitu mbak, mungkin aku cuma trauma aja denger nama mas Daru" Arum memberi alasan
"Mungkin saja" Kata Hanna mengiyakan "Tadi Laras bilang kalau besok kamu harus kekantor polisi untuk memberi keterangan!"
"Tidak masalah Arum, saya akan menemani kamu besok" Ucapan Rizal membuat sang istri menatap penuh tanya
"Maksud kamu? Kan Ipul bisa nganterin Arum kekantor polisi!" Rizal terlihat panik namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya
"Mas kan saksi sayang, jadi mas bisa bantu Arum untuk memberikan keterangan" Hanna mengangguk, apa yang suaminya ini katakan juga ada benarnya
"Ya udah, tapi aku gak bisa ikut. Aku ada janji sama Hanin di toko" Hanna terlihat merasa bersalah
"Tidak masalah sayang, nanti kalau ada berita atau apapun mas akan langsung kasih tau kamu" Rizal berusaha meyakinkan istrinya itu
"Ya udah, semoga masalah ini cepet selesai yaa mas! Kasian Arum sampai gak bisa kemana-mana" Arum tersenyum, namun pikirannya masih bekerja dengan keras bagaimana agar dirinya tetap tinggal dirumah ini bersama Rizal
"Semoga saja"
Keesokan harinya Rizal dan Arum tengah dalam perjalanan menuju kantor polisi, sesuai arahan jika Arum akan membuat laporan atas KDRT yang suaminya lakukan
"Apa kamu benar-benar ingin aku pergi dari rumah kamu?" Tanya Arum saat keduanya berada didalam mobil yang tengah melaju
"Apa maksud kamu? Bukannya itu adalah kesepakatan kita dari awal?" Rizal sebenarnya juga tidak ingin Arum pergi, tapi Hanna akan curiga jika dirinya mempertahankan Arum
"Mas, aku ingin terus bersama kamu! Aku suka disini. Tapi kamu kayaknya seneng karena aku mau pergi" Arum terlihat merajuk
"Lalu kamu ingin apa?"
"Aku ingin tetap dirumah kamu, tugas kamu untuk meyakinkan mbak Hanna!" Arum mendesak kekasih gelapnya itu
"Baiklah, kita akan pikirkan itu nanti! Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari rumah"
Arum terlihat senang, wanita cantik itu melingkarkan tangannya pada lengan Rizal yang tengah mengemudi lalu memberikan satu kecupan di pipi pria itu
Sementara itu Hanna tengah bersama sang adik di toko pakaian milik keluarga mereka. Keduanya tengah duduk sambil bersantai
"Perempuan itu masih dirumah kakak?" Tanya Hanin pada sang kakak
"Iya, memangnya mau kemana lagi?" Jawab Hanna dengan santai
"Kak, apa kakak gak mikir kalau suatu hari dia bisa menghancurkan rumah tangga kakak dan mas Rizal?"
Menurut Hanin, kakak perempuannya ini terlalu berpikir positif. Arum adalah wanita yang cantik terlebih begitu seksi, pria mana yang tidak tertarik dengan wanita seperti itu
"Kemarin kakak sempat menaruh curiga pada mas Rizal dan Arum, tapi terbukti kecurigaan kakak itu salah. Mereka tidak melakukan apapun dibelakang kakak" Jelas Hanna
Karena ucapan semua orang membuat Hanna sampai mencurigai suaminya sendiri. Dan hal itu membuatnya merasa bersalah
"Mungkin sekarang memang belum, tapi semakin lama perempuan itu mungkin akan menjadi racun untuk rumah tangga kakak"
Hanin berusaha meyakinkan sang kakak, ia tau bagaimana Hanna begitu mencintai suaminya, Rizal
Hanna hanya menjalin kasih dua kali, pertama bersama mantannya yang memilih untuk kuliah diluar negeri lalu Rizal yang bertahan hingga keduanya menikah
Hanin tidak bisa membayangkan akan sehancur apa kakaknya jika benar suaminya selingkuh dibelakangnya
"Kamu tenang saja, suami Arum sudah tertangkap. Jadi Arum tidak perlu takut lagi untuk keluar rumah" Ujar Hanna mencoba meyakinkan adik perempuannya ini
"Apa setelah itu dia akan keluar dari rumah kakak?"
Hanna mengangguk "Tapi sebelum itu kakak mau pastiin Arum punya tempat tinggal dan pekerjaan untuk dia menghidupi dirinya dan anaknya"
Hanin tampak berpikir "Gini aja kak, Biarkan Arum kerja di toko kita. Didekat sini juga ada kontrakan kan? Jadi dia bisa tinggal disana"
"Kontrakannya, Bu Tia?"
Hanin mengangguk "Iya, jaraknya deket. Jadi Arum gak perlu mikirin soal biaya transportasi kan?"
"Kamu benar dek, dengan begitu Arum bisa menghemat kan?" Hanna terlihat senang
"Nanti aku minta ibu untuk bicara sama Bu Tia supaya Arum bisa dapat setengah harga" Ujar Hanin
"Memangnya bisa?"
"Ya kita kan usaha dulu kak!"
Hanna mengangguk, ini jauh lebih baik. Akhirnya Arum bisa hidup lebih baik setelah ini
Ia tidak perlu memikirkan masa depan Hafiz serta kekhawatiran semua orang tentang rumah tangganya
semoga byk yg baca