NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Setara

Seyila menyunggingkan senyumnya.

"Ini dari neneknya neng. Nenek mertuanya abang."

"Lagian bisa-bisanya ngeledek adiknya sendiri begitu. Begini-begini juga pasti ada yang suka."

Hanif duduk di hadapan adiknya.

"Serius ada yang suka sama kamu?"

"Abang.... udah deh!" protes Seyila.

Hanif tersenyum tipis. Lelaki itu memang sering sekali meledek adiknya. Apalagi memang Seyila bukan tipikal wanita yang gila dengan kasih sayang lelaki.

Waktu masa remajanya, ia bergaul dengan Riyani dan beberapa teman lainnya yang berbeda pergaulan dengan gadis-gadis yang lebih sering berdandan dan nongkrong di cafe. Melainkan lebih sering bermain di rumah.

...----------------...

"Bang!?"

"Hm?"

"Yila boleh gak awal abang lihat Neng dimana? Kan abang jarang di rumah waktu itu."

Hanif memutar ingatannya.

"Abang sering lihat dia baca buku di ruang baca abang dulu. Tanpa sengaja abang lama-lama ngerasa seneng kalau lihat dia."

"Abang belum pernah suka sama cewek selain neng?"

Hanif menggeleng.

"Gak pernah."

"Wah..... Neng pinter banget lelehin es kutub."

"Apa kamu bilang?"

Seyila menggeleng. Dengan cepat ia melahap makanan di kotak bekalnya lalu pergi bekerja. Sedangkan Hanif bersih-bersih lalu kembali ke ruangan Riyani.

Wanita yang masih terinfus itu langsung menyembunyikan sesuatu di balik selimutnya. Tatapannya gugup saat Hanif masuk ke ruangan.

"Nenek sama kakek mana?" tanya Hanif sembari duduk pada kursi di samping ranjang pasien.

"Mereka udah pulang. Katanya kakek ada urusan di pabrik teh, terus nenek ada pesanan kue."

Hanif mengangguk paham.

Ia menaruh kotak bekal kosong itu di nakas, sembari lirikan matanya pada selimut yang masih dipegang kuat oleh Riyani.

Dengan cepat ia membuka selimut riyani, terlihat ada beberapa potong nanas yang ia sembunyikan dibalik selimut itu.

Tatapan meminta penjelasan pada pasien sekaligus wanitanya.

"Aku bisa jelasin," ucap Riyani sembari mencubit lengan kemeja yang Hanif pakai.

Hanif terus menatapnya tanpa ada satu kata pun keluar dari bibirnya.

"Tadi aku buka bingkisan dari bapak sama mamah. Terus ada nanas potong, makanya aku coba."

"Tapi gak semua makanan yang dikasih orang itu harus kamu coba. Nanas itu asem, dan lambung kamu masih belum pulih. Kamu emangnya mau sampe iritasi?"

Riyani menunduk.

Perlahan lirihan tangisnya mulai terdengar.

Hanif menghela napasnya.

"Neng."

"Aa gak bermaksud bentak kamu, marahin kamu. Tapi kayaknya kalau gak keras kamu gak bakal nurut."

"Baru aja tadi pagi Aa bilang jangan ini dan itu. Sekarang? malah makan nanas."

"Neng, kamu gak tau khawatirnya orang-orang yang sayang sama kamu kemarin gimana? Nenek sama kakek kamu udah pucat, Seyila yang baru aja selesai jadwal nungguin kamu, terus Aa yang baru aja selesai mandi langsung pake baju ke sini."

"Kalau mau lanjutin makan nanasnya, makan aja sampai habis. Habis itu pulang."

Hanif beranjak dari kursinya.

Dengan cepat, Riyani menahan tangannya—merangkul tangan laki-laki itu.

"Neng minta maaf. Neng janji gak bakal ulangi lagi, gak bakal penasaran sampe coba-coba lagi."

"Maafin neng ya!"

Hanif melepaskan tangan riyani pelan.

"Terserah kamu."

Lelaki itu pergi dari ruangan.

(Dia marah sampe segitunya)

(Dia khawatir banget ya sama aku?)

(Aku udah salah banget kayaknya)

Riyani turun dari ranjangnya. Dengan langkah pelan, sembari menahan perut yang masih terasa perih itu keluar dari ruangan.

Tapi langkahnya terhenti, ia lihat lelakinya sedang berbincang dengan rekan kerjanya—wanita cantik dengan balutan dress putih dengan jas dokter yang dipakainya.

(Mereka keliatan cocok banget)

"Mereka cocok kan?"

Riyani menoleh pada perawat yang baru saja akan masuk ke ruangannya.

"Dia siapa?"

"Dokter Velia. Dia dokter gigi yang baru masuk ke sini kemarin. Katanya sih demi ngejar dokter hanif," jelas perawatnya, "tapi katanya dokter hanif udah punya calon. Gak tau cewek yang kayak gimana bisa dapetin dokter hanif, harusnya sih yang setara ya. Soalnya kan secara dokter hanif itu ganteng, pinter lagi."

Riyani terdiam.

Perawat itu terus membicarakan Hanif dan Velia sembari mengganti cairan infus riyani.

...----------------...

Malamnya,

Sebelum memulai bekerja, Hanif kembali ke ruangan Riyani. Tapi...... wanita itu sudah tidak ada, bahkan barang-barangnya pun sudah lenyap.

(Kemana dia?)

(Bukannya belum dibolehin pulang)

Hanif langsung menghubungi Seyila untuk menanyakannya.

(Loh Abang gak tau ya kalau Neng minta pulang dan dirawat jalan aja?)

Panggilannya langsung ia matikan.

Helaan napasnya terdengar.

(Dia beneran pulang?)

(Karena omongan gw tadi siang?)

Selama shift malam itu, Hanif terus melirik jam di tangannya. Berharap pagi segera datang.

...----------------...

Keesokan paginya, Nek Aminah membangunkan Riyani. Dengan jalan lemas wanita itu membuka pintu kamarnya pelan.

Tapi raut wajahnya berubah ketika ia lihat Hanif berdiri di belakang neneknya.

"Hanif daritadi nungguin kamu bangun. Katanya mau bicara sesuatu sama kamu."

"Gak usah, Nek. Neng mau istirahat lagi," ucap Riyani kembali menutup pintunya.

Tapi Hanif lebih cepat menahan pintu kamarnya.

"Tolong kasih aku kesempatan buat bicara, Neng!"

Riyani menghela napasnya.

Ia lepaskan pintu itu lalu duduk pada tepian kasur yang masih terlihat berantakan.

Hanif berjongkok di hadapannya.

"Neng, kamu keluar gitu aja dari rumah sakit karena omongan Aa?"

"Gak usah so tau. Aku keluar dari rumah sakit karena emang bosen aja,"

"Tapi kamu harus jalani perawatan, Neng. Lagian kamu juga pasien Aa, kenapa gak minta pulang sama Aa? Malah sama dokter jaga."

"Kamu ke sini cuman mau mempertanyakan hal itu? Gak penting tau gak," ucap Riyani dengan wajah sinis nya.

"Penting. Karena kamu keluar gitu aja tanpa keputusan dari Aa,"

"Dokter gak bisa paksa pasiennya buat terus diem di rumah sakit ya. Pasien juga punya keputusan, lagian aku juga udah tandatangan surat kok,"

"Bukan masalah itu. Tapi kenapa tiba-tiba keluar dari rumah sakit?"

Riyani mengedarkan pandangan darinya.

"Karena aku gak mau liat kamu. PUAS?"

"Alasannya?"

"Gak mungkin hanya karena dimarahin waktu itu kan?"

Riyani menghela napasnya.

"Karena aku gak mau berurusan lagi sama kamu. Aku gak mau lanjut perkenalan kita."

"Maksudnya? Kamu gak bisa dong memutus gitu aja. Tanpa alasan yang masuk akal."

"Gak perlu alasan yang banyak. Kita itu emang udah gak setara dari awal dan harusnya aku gak pernah setuju dengan usulan Seyila tentang dekat dengan kamu."

"Gak setara? Dalam hal apa? Kita sama-sama manusia biasa, lahir di keluarga biasa juga. Apa istimewanya?" tanya Hanif.

Riyani tidak berani menatapnya.

Tangannya dengan lembut, meminta Riyani menatapnya.

Ia tangkup wajah kecil riyani.

"Tidak setara dalam hal apa? hm?"

"Lagipula dari awal saya yang deketin kamu bukan kamu duluan kan? Saya yang tertarik sama kamu duluan."

"Tapi kita gak cocok, A."

"Aku bukan dokter yang nantinya bisa kamu banggain ke temen-temen kamu. Aku juga bukan wanita cantik, bukan wanita karir."

Hanif terdiam.

Ia genggam kedua tangan riyani.

"Kata siapa kamu gak bisa dibanggain? Kata siapa harus jadi dokter dulu baru bisa dibanggain? Dan kata siapa kamu gak cantik?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!