NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:129.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 8

Kini, ruangan itu hanya menyisakan mereka berdua. Mahesa duduk di tepi ranjang. Keangkuhannya sebagai Direktur Utama Dirgantara Group runtuh total. Pria tegap itu menunduk, menatap wajah Inara yang sangat tirus.

Dia meraih jemari Inara yang terbebas dari jarum infus, mengecup pergelangan tangan yang dingin itu berkali-kali. Entah apa dia sadar atau tidak melakukan hal itu. Karena dari wajahnya terlihat masih panik.

Drrrrrtttttt

Drrrrrtttttt

Ponsel Mahesa di saku celananya bergetar. Dia merogohnya dengan kesal. Nama Clarissa kembali berkedip di layar. Mahesa menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan nada suara yang teramat sangat dingin. Bukan lagi nada lembut yang biasa dia berikan pada mantan istrinya itu.

"Ada apa, Clarissa?"

"Mas! Kamu di mana sih? Kok tiba-tiba pulang? Tim strategi dan vendor sudah nungguin di restoran dari tadi?" suara Clarissa terdengar merengek manja sekaligus menuntut.

Mahesa menatap wajah pingsan Inara, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa muak yang tiba-tiba muncul terhadap Clarissa membuat dadanya bergemuruh.

"Rapat hari ini batal. Cari jadwal lain," jawab Mahesa pendek.

"Lho, gak bisa gitu dong, Mas! Ini kan proyek miliaran! Lagian kamu kenapa sih? Apa karena wanita pembawa sial itu? Mana dia? Awas saja biar aku yang memberi dia pelajaran. Apa dia mencoba berakting di depan kamu lagi?" kesal Clarissa saat tahu jika Inara juga tak ada di kantor.

"Diam, Clarissa!" bentak Mahesa, suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi, namun dia langsung menurunkan volumenya karena takut mengganggu Inara.

"Lakukan pekerjaanmu. Dan bilang kepada Ana, untuk mencarikan jadwal lain dengan klien dan Vendor! Aku sedang ingin sendiri dan butuh istirahat!!"

Kliiik

Mahesa mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia melempar ponselnya ke sofa setelah mematikan saya ponselnya.

Pria itu kembali menatap Inara. Dia mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Inara yang dingin. Air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari mata seorang Mahesa Dirgantara, hari itu jatuh menetes, mengenai pipi pucat istrinya.

"Inara... Bangun dan jangan terlalu lama tidur! Jangan buat aku merasa bersalah karena yang terjadi padamu!" bisik Mahesa parau, suaranya pecah di tengah sunyi.

Perlahan, setelah igauan menyakitkan itu mereda, kelopak mata Inara terbuka dengan sangat lambat. Manik matanya yang biasanya bersinar cerah kini tampak begitu redup, kosong, dan tidak fokus. Dia menatap langit-langit kamar yang asing, sebelum akhirnya pandangannya bergulir jatuh pada sosok Mahesa yang berada di sampingnya.

Keheningan kembali merayap. Inara menatap Mahesa tanpa ekspresi. Mahesa menatap kedua manik Inara dalam. dia hanya menemukan luka di dalam sana.

"Mas..." panggil Inara, suaranya sangat datar, sedatar garis kematian.

"Iya, Inara? Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Biar saya panggilkan Dokter Tirta," tanya Mahesa bertubi-tubi dengan raut wajah yang luar biasa cemas.

Inara menarik napasnya perlahan, merasakan dadanya yang masih terasa nyeri luar biasa. Dia melirik selang infus yang menancap di tangannya, lalu kembali menatap Mahesa. Sudut bibirnya yang terluka terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman. Bukan senyum manis sandiwara, melainkan senyum kepasrahan yang teramat menyedihkan.

"Kenapa Mas menyelamatkan aku?" tanya Inara lirih.

"Bukankah kalau aku ma-ti itu jauh lebih bagus untukmu, Mas! Bukankah kalau aku tidak ada, Mas bisa langsung kembali pada Mbak Clarissa tanpa harus menunggu kamu mendapatkan semua aset milik keluarga Dirgantara? Aku lelah, Mas. Lagi pula aku sudah tak punya siapa-siapa!"

Degh

Mahesa mematung. Kata-kata yang keluar dari mulut Inara yang baru saja sadar.

"Inara!"

"Aku lelah sekali, Mas," potong Inara, air matanya mengalir tanpa ada isakan fisik.

Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap pria yang teramat dia cintai namun juga menjadi sumber trauma terbesarnya.

"Tolong panggilkan pengacara Mas. Aku akan tanda tangani surat cerainya sekarang. Aku tidak akan meminta sepeser pun harta dari keluarga Dirgantara. Tapi aku mohon, biarkan aku menemani Ibu di sisa waktunya. Jangan siksa aku lagi di rumah ini. Masalah hutang Ayah, aku akan menyicilnya walau sampai sisa hidupku. Atau selamanya!"

Di bawah temaram lampu kamar utama yang mewah, Mahesa hanya bisa membisu dengan rongga dada yang terasa remuk redam. Dia tersadar, dia mungkin berhasil menahan raga Inara di rumahnya, namun jiwa wanita itu telah lama mati dan hancur berkeping-keping karena kekejamannya sendiri.

Dua hari berlalu dalam keheningan yang serba canggung. Kamar utama Mahesa diubah layaknya ruang perawatan VIP, lengkap dengan seorang perawat privat yang bersiaga di rumah itu. Selama dua hari itu pula, Mahesa tidak pernah absen menemaninya di dalam kamar.

Meski pria itu tidak banyak bicara, Inara merasakan ada perubahan yang tak biasa. Mahesa yang biasanya selalu menatapnya dengan pandangan merendahkan, kini kerap tertangkap basah sedang memandangnya dengan gurat kecemasan. Bahkan, sesekali pria itu sendiri yang menyuapkan bubur atau membantunya minum obat jika sang perawat sedang keluar.

Perlakuan hangat yang belum pernah Inara rasakan selama satu tahun pernikahan ini perlahan-lahan mulai mengikis bongkahan es di hatinya. Di sela-sela rasa sakit fisiknya, secercah harapan kecil kembali tumbuh subur di dalam dada Inara.

Apakah Mas Mahesa sudah mulai membuka hatinya untukku?

Apakah ketakutannya saat aku pingsan kemarin adalah bukti bahwa dia tidak sepenuhnya membenciku?

Pikiran-pikiran naif itu membuat Inara tersenyum tipis pagi ini. Tubuhnya sudah jauh lebih segar. Rona merah di pipinya mulai kembali, dan selang infus pun telah dilepaskan dari punggung tangannya oleh Dokter Tirta beberapa jam yang lalu.

Pukul tujuh malam, Mahesa masuk ke dalam kamar setelah seharian berada di kantor. Inara yang sedang bersandar di kepala ranjang langsung menegakkan tubuhnya, menyambut sang suami dengan senyuman tulus yang sudah lama tidak ia perlihatkan.

"Mas sudah pulang? Mau aku buatkan,"

"Tidak usah. Duduk saja," potong Mahesa datar.

Langkah kaki Mahesa terdengar tegas, mengetuk lantai dengan ritme yang sama seperti sebelum Inara jatuh sakit. Tidak ada lagi langkah ragu atau kepanikan yang Inara lihat beberapa hari lalu. Pria itu meletakkan tas kerjanya di meja, lalu berbalik menatap Inara dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

Tatapan mata Mahesa telah kembali. Dingin, tajam, dan penuh jarak.

"Saya lihat kondisimu sudah jauh lebih baik," ucap Mahesa, suaranya terdengar seperti seorang atasan yang sedang mengevaluasi kinerja bawahannya.

Hati Inara mendadak berdesir ngilu. Rasa hangat yang sempat ia pupuk selama tiga hari ini mendadak menguap, digantikan oleh firasat buruk yang mulai merayap di tengkuknya.

"Iya, Mas. Aku sudah merasa jauh lebih sehat," jawab Inara, mencoba mempertahankan senyumnya walau kini terasa kaku.

"Bagus kalau begitu," sahut Mahesa dingin.

Pria itu berjalan mendekati ranjang, namun tidak untuk duduk di samping Inara atau menggenggam tangannya seperti kemarin. Dia berhenti dalam jarak dua meter.

"Besok pagi, kamu bisa kembali pindah ke kamarmu di bawah."

Degh

1
Rahmawati Amma
seru ceritanya thor bagus🥰👍
Yam_zhie: makasih kak 😘
total 1 replies
Rahmawati Amma
di tunggu bab barunya kak😁✌️
Adi sudiro Dero
mau komen apa soal Kinara bingung!...jadi orang kok ya tolol n goblok ibarat suruh makan tapi ya pasti di makan la wong gak ada otak🤭🤭
Adi sudiro Dero
cerita pembodohan
Ambu Rinddiany Thea
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
nely_48
RIP untuk gavin 😭😭
Dew666
😭😭😭😭😭
Ilfa Yarni
aaaaaaaaa aku nangis baca pasti ini sedih banget ya Tuhan
Yam_zhie: huaaaaa... maaf kak 😭🤧🫂
total 1 replies
Arin
Amanatnya cuman Mahesa yang dikasih tau. Gak sekalian juga dengan Inara. Jadi sama-sama tau dan gak berat sebelah
Ambu Rinddiany Thea: oteh ath mak
total 3 replies
Muft Smoker
😭😭😭😭😭😭😭😭😭 ,,

yaaaa kak zieee ,,
jgn byk2 donk bawa bawaang ny ,,
kedua Kali ny inara terpuruk ,,
gx tega liat ny looo kak ,,

semoga mahesa bnr2 menjaga mereka dg baik Kali ini ,,
Muft Smoker: kk knp koq nangis juga???
sedih kah???

🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🫣🫣🫣🫣🫣🫣😁😁😁😁
total 2 replies
nely_48
gavin 😭😭😭😭
Muft Smoker
kuaat kuaat inara ,,
😭😭😭😭😭
Ambu Rinddiany Thea
yang kuat yang kuaaaat 😭😭😭😭😭
Ilfa Yarni
kasian Gavin ya nangis jg aku bacanya
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeeet tapi ku yg baca ngga asyik Thorterlalu jelimet ,apalagi bg pemersn utamanya ,ko tersiksa terus Thor...ok
Yam_zhie: kak maksih Udha mampir 🤗
total 1 replies
Ilfa Yarni
semoga saja ibarat maueneei. a mahesa kembali dalam hidupnya dan Gavin ceritakanlah keadaanmu sebenarnya pd inara
nely_48
dengarkan saran mahesa tuh gavin, jujur sm inara, trs berobat lah k luar negeri,, klau pun ajak tak bs d tolak jgn paksakan mahesa menikahi inara,,, biarkan mahesa menjadi pelindung arkha n inara dgn cara yg lain
Muft Smoker
waah kak ziee ,,
mewek aq tuuuh ,,
jd inget wakkktu suami ku juga pergi krn sakit ,,
😭😭😭😭😭😭😭

kak bisa gx ni di anggap mimpi aj ,,
pdahal Gavin sehat wal afiat ,,
gx tega loo liat ny ,,
sakit ny lebih dr si khianati ,,
😭😭😭😭
Muft Smoker: makasih kak ,,
🫰🫰🫰🫰🫶🫶🫶🫶😁😁😁
total 2 replies
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah, emang dari awal sudah firasat .. 😩
Muft Smoker: usil ap bikin meninggoy kak ,, yx kangen kgen pgen jitak kak ,, syukur2 dah ko'it sih ,,, 😂😂😂
total 6 replies
nely_48
Gavin 😭😭
nely_48: astaga dragon kk, piraku inara kawin sm mahesa lg
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!