Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI YANG MENJADI ALASAN
Beberapa hari berlalu sejak pertemuan di teras rumah itu. Sejak saat itu, setiap kali Angkasa sendirian di ruang kerjanya, bayangan wajah Arum tak pernah lepas dari ingatannya. Gadis itu, dengan segala kesederhanaan dan ketenangannya, telah mengisi seluruh ruang hatinya yang selama ini kosong.
Buku catatan milik Arum yang sengaja ia simpan, kini tersimpan rapi di laci meja kerjanya bukan sekadar benda, tapi penanda janji untuk kembali bertemu.
Pagi itu, udara di Yogyakarta terasa sejuk dan cerah. Angkasa berpakaian rapi, mengenakan kemeja berwarna biru dongker yang membuatnya tampak semakin tampan,berwibawa namun tetap lembut. Di saku bagian dalamnya, terselip buku catatan miliknya yang dulu tertukar, dan di tangannya kini menggenggam buku milik Arum yang sebenarnya sudah ia bawa ke mana-mana sejak hari pertama, namun ia katakan "ketinggalan" demi sebuah alasan indah.
"Kita ke mana, sa?" tanya Dewa sambil menyalakan mesin mobil, sudah hafal betul ke mana arah tuan mudanya ini.
"Ke rumah Pak Bimo," jawab Angkasa singkat, namun ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
"mau mengembalikan buku? Aku udah Janji jadi harus ditepati."
Dewa hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia tahu betul, alasan buku itu hanyalah cara Angkasa menutupi rasa rindunya yang sudah tak tertahankan lagi.
Perjalanan tak memakan waktu lama. Sesampainya di sana, gerbang rumah besar itu sudah terbuka lebar, seolah sudah tahu ada tamu istimewa yang akan datang. Angkasa turun dengan tenang, melangkah masuk dengan hati-hati, disambut oleh Pak Bimo dan Bu Saras yang sudah menunggu di beranda depan dengan wajah gembira.
"Mas Angkasa! Sugeng rawuh, Nak. Senang sekali rasanya kamu datang lagi," sapa Bu Saras ramah, menyentuh bahu pemuda itu dengan penuh kasih sayang seolah menyambut anak sendiri.
"Sugeng enjang, Bu, Pak. Matur nuwun atas sambutannya," jawab Angkasa menunduk hormat, tutur katanya halus dan sopan seperti biasa.
"Maaf sekali kalau datang tiba-tiba, tidak memberi kabar lebih dulu."
"Ah, ngomong apa sih kamu ini," potong Pak Bimo sambil tertawa renyah.
"Rumah ini kan rumahmu juga. Kapan saja boleh datang, tidak perlu sungkan atau minta izin dulu. Ada urusan lagi ya?"
Angkasa tersenyum, matanya berkelana pelan mencari sosok yang dicarinya. "Bukan urusan bisnis, Pak. Ada sedikit hal pribadi yang harus diselesaikan. Waktu itu sempat tertukar barang sama Mbak Arum, jadi hari ini saya sengaja datang untuk mengembalikannya."
"Oalah, begitu rupanya," Pak Bimo mengangguk paham, lalu menunjuk ke arah taman belakang yang asri.
"Kalau Arum ada di belakang, Nak. Biasanya kalau pagi begini dia suka duduk di bawah pohon mangga, baca buku atau sekadar menikmati udara. Kamu cari saja ke sana, tidak usah malu-malu."
"Inggih, Pak. Terima kasih," jawab Angkasa lembut.
Dengan langkah yang tenang namun berdebar, Angkasa berjalan menyusuri jalan setapak menuju taman belakang. Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma bunga yang harum dan menenangkan. Dan benar saja, di bawah rindangnya pohon mangga tua itu, Arum ada di sana.
Gadis itu duduk di bangku kayu, mengenakan pakaian sederhana berwarna putih bersih, rambut panjangnya terurai dibiarkan dibelai angin.
Di pangkuannya ada sebuah buku tebal yang sedang dibacanya dengan serius. Cahaya matahari pagi yang menembus celah daun jatuh tepat di wajah dan bahunya, membuatnya tampak bercahaya, damai, dan begitu indah di mata Angkasa.
Angkasa berhenti sejenak, menatapnya dari kejauhan, mengagumi gadis itu. Bagi Angkasa, pemandangan ini adalah hal terindah yang pernah ia temukan seumur hidupnya. Dia menghela napas panjang, memberanikan diri melangkah mendekat, membuat suara langkah kakinya terdengar agar tidak mengejutkan.
Arum mendengar langkah kaki itu, ia menoleh dan matanya langsung bertemu dengan manik mata Angkasa yang teduh. Wajahnya yang tadi tenang, seketika berubah sedikit merah merona, terkejut sekaligus bahagia melihat kedatangan pemuda itu.
"Mas Angkasa...?" sapa Arum pelan, menutup bukunya perlahan.
"Mas... kok datangnya pagi-pagi sekali? Ada perlu apa ya?"
Angkasa berhenti tepat di hadapannya, lalu duduk sopan di ujung bangku kayu itu, menjaga jarak namun cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain. Tatapannya dalam, menatap lurus ke manik mata Arum seolah ingin menelusuri setiap sudut jiwa gadis itu.
"Saya sudah janji, kan? Kalau akan datang lagi untuk mengembalikan buku," jawab Angkasa pelan, suaranya rendah dan mendayu, terdengar begitu tulus dan hangat. Ia mengeluarkan buku catatan bersampul cokelat itu dari tangannya, lalu mengulurkannya perlahan ke arah Arum.
"Ini buku punya Mbak. Sudah saya jaga baik-baik, tidak ada satu lembar pun yang hilang atau rusak."
Arum menerimanya dengan hati-hati, jari-jarinya menyentuh sampul buku itu sejenak sebelum menatap wajah Angkasa kembali. Ada rasa aneh yang memenuhi dadanya.rasa senang, rasa lega, namun juga rasa berdebar yang tak bisa dijelaskan.
"Terima kasih banyak, Mas. Masih ingat saja sama janjinya," ucap Arum sambil tersenyum malu. "Padahal... saya kira Mas bohong waktu itu."
Angkasa tersenyum tipis, senyum yang penuh makna. Ia menatap Arum lebih lekat, matanya berbinar jujur.
"Memang benar, Mbak," ucap Angkasa tiba-tiba, membuat Arum sedikit tertegun dan bingung.
"Waktu itu... saya bilang bukunya ketinggalan. Padahal aslinya saya bawa."
Arum mengerutkan kening, matanya membulat sedikit kaget. "Loh? Terus... kenapa Mas bilang begitu?"
Angkasa menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali, menatap Arum dengan pandangan yang begitu dalam dan serius, pandangan yang seolah ingin mengatakan segalanya tanpa kata-kata.
"Karena... saya belum ingin mengembalikannya begitu saja," jawab Angkasa pelan namun tegas, setiap katanya terdengar jelas dan menyentuh hati.
"Kalau waktu itu saya kembalikan, mungkin kita sudah tidak punya alasan untuk bertemu lagi. Dan... sejujurnya, Mbak Arum... saya belum siap untuk berpisah lagi. Sekalipun hanya sebentar."
Hening. Hanya ada suara angin yang berhembus dan detak jantung keduanya yang saling bersahutan. Wajah Arum memerah merona sempurna, jantungnya berdegup kencang sekali sampai rasanya bisa terdengar oleh orang di sebelahnya. Ia menundukkan wajahnya, tak sanggup lagi menatap ketulusan di mata Angkasa yang begitu jujur dan terbuka.
"Saya... saya tidak mau pertemuan kita selesai begitu saja," lanjut Angkasa lagi, suaranya makin lembut dan penuh perasaan.
"Bagi saya, buku ini bukan sekadar barang. Ini adalah jembatan. Alasan indah yang saya buat-buat, supaya saya punya alasan untuk datang ke sini, berdiri di hadapan Mbak, dan melihat wajah Mbak lagi. Saya butuh alasan apa pun... asalkan bisa dekat dengan Mbak."
Arum diam, dadanya terasa penuh oleh rasa bahagia yang luar biasa. Ia mengerti sekarang. Alasan "ketinggalan" itu bukan kebohongan buruk, melainkan cara Angkasa menyimpan rasa dan ingin terus ada di dekatnya. Cara yang sederhana, namun ternyata maknanya begitu dalam dan romantis.
"Ternyata... begitu alasannya ya, Mas," ucap Arum pelan, suaranya terdengar bergetar menahan bahagia. Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap Angkasa dengan mata yang berbinar lembut.
"Kalau begitu... Mas tidak perlu alasan apa-apa lagi mulai sekarang."
Angkasa sedikit tertegun, menunggu lanjutan ucapan gadis itu.
Arum tersenyum manis, senyum yang paling tulus dan indah yang pernah dilihat Angkasa.
"Karena... mulai sekarang, Mas boleh datang ke sini kapan saja. Tanpa alasan buku, tanpa alasan urusan bisnis. Cuma sekadar datang, duduk bicara, atau sekadar ada di dekat saya. Rumah ini, dan saya... selalu menunggu kedatangan Mas," ucap Arum pelan namun jelas, menyampaikan isi hatinya yang sama besarnya dengan perasaan pemuda di hadapannya itu.
Di bawah pohon mangga tua itu, di bawah sinar pagi yang hangat, keduanya saling menatap dalam diam. Tidak perlu banyak kata-kata untuk mengerti, bahwa rasa yang ada di antara mereka sudah terjalin erat, sama kuatnya dengan akar pohon yang menancap dalam ke bumi.
Buku kecil itu sudah kembali ke pemiliknya, tapi benang merah di antara keduanya kini terikat jauh lebih kuat, jauh lebih dalam, dan siap membawa mereka pada kisah yang lebih indah lagi.
Angkasa tersenyum lega dan bahagia, senyum yang paling tulus yang pernah ia miliki sejak lama. Di sini, di hadapan Arum, ia tahu... aksara di balik tato di lengannya itu, akhirnya menemukan arti sejatinya: rumah dan cinta yang abadi.
"Terima kasih, Mbak Arum... Terima kasih banyak," bisik Angkasa pelan, cukup untuk didengar oleh angin dan hati mereka berdua.