Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Ngapain sih lu ke tempat ini, Rei?" sinisnya pada diri sendiri. Reiga menghela napas agak kuat.
Dirinya sendiri pun mengakui apa yang dilakukannya sekarang sungguh konyol. Belum pernah dia begini. Sesinting ini sampai membuang kewarasannya dan berakhir di rumah Hana.
Iya.
Tepat di depan rumah Hana! Reiga memarkirkan Ferrari merah miliknya. Selepas pulang dari dinner dengan Lana. Setelah ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan memilih Lana. Dan secara tersirat mengatakan kalau Reiga menyukai Hana.
Apa dia memang suka?
Sepertinya iya. Karena saat Reiga bertanya pada dirinya. Semua komponen, entah itu hati, jiwa, logika, dan pemikirannya, mereka semua dengan kompak mengiyakannya.
Terbukti dari suasana hatinya yang masih terus buruk bak daerah yang dilanda becana. Tanpa bantuan. Kekurangan makan dan minum. Sama halnya juga dengan negara yang diserang musim kemarau panjang. Kering kerontang tanpa air sebagai sumber kehidupan. Reiga baru tahu kalau dia masih bisa merasakan perasaan merana seperti ini lagi. Waktu dengan Cyila, ia sungguh maklum. Mental anak SMA belum sebagus mentalnya sekarang. Pemikiran dalam mengambil keputusan pun masih terburu-buru. Masih sesuka hati. Lalu, apa yang terjadi kini padanya sungguh di luar prediksi Reiga? Hebat sekali Adrianne Hana sampai membolak-balikkan hati Reiga yang sulit tersentuh setelah era Cyila berakhir. Hati yang begitu antipati dalam mempercayai cinta.
TUNG!
Reiga meraih handphone lalu melihat nama si pengirim pesan. Zidane. Reiga menghela napas. Sungguh lancang hatinya yang menginginkan Hana
sebagai si pengirim. "Harga diri lu kemana, Rei?" ketusnya pada diri sendiri.
Zidane
Lagi di mana, Rei?
"Tempat di mana seharusnya tidak gue datangi, Dane," jawab Reiga bersuara.
Belum sempat dibalas, Zidane sudah mengirim pesan untukknya lagi.
Zidane
Lu beneran pacaran sama Hana??? Damn, dude! Kok gue nggak dikasih tahu? Selama ini lu pasti ketawain gue kan?? Karena ngefans berat sama cewek lu!
Reiga mendengus. "Aamiinin aja kali ya," gumamnya. Dokter spesialis jantung itu kembali mengirim pesan.
Zidane
Kok bisa lu sepelit itu, Rei? Kan bisa kali gue titip tanda tangan! Kenalin kali!
Zidane
Eh lu udah tahu belum? Niyo masukin nama gue dan Hana. jadi satu tim di event olahraganya.
Reiga mengerutkan kening. Jadi Hana ikut event itu juga. Lengkap ya kekacauan hidup ini, Reiga berujar dalam hidupnya. Akan ada Lana dan Arnold dalam satu tim juga di event itu. Dalam kepusingan hatinya.
Zidane
Njir! Pesan gue dibaca doang!
"Sori ya, Dane. Gue lagi males ngomong," gumam Reiga.
Zidane
Rei? Are you okay?
Dari sekian banyak orang. Hanya Zidane yang menanyakan perasaannya. Bibir Reiga tersenyum tipis. "You're still caring as always, Dane," ucap Reiga. Ia menghela napas panjang. Melepas seatbelt lalu mengatur kursinya agar ia bisa berbaring. Tangannya menyetel sebuah lagu milik Justin Timberlake berjudul My Love. Lagu yang cocok untuk menggambarkan perasaannya saat ini.
If I wrote you a symphony/Just to say how much you mean to me (what would you do?) / If I told you you were beautiful / Would you date me on the regular (tell me, would you?)//
TUNG!
Zidane kembali mengirimi Reiga sebuah pesan.
Pertemanan mereka yang sejak SD memang paling kental dibanding dengan kelima orang lainnya. Sahabat pertama dan satu-satunya Reiga yang melihat betapa menyedihkannya hidup Reiga saat perpisahan kedua orangtuanya terjadi.
Zidane
Reiiiiiiii, jawab bisa kali! Masih napas kan lu!
Jangan bikin gue senewen deh!
Zidane terlihat mulai emosi. Reiga terkekeh dan kini sudah berniat membalasnya.
Zidane
Share loc buruan! Gue samperin juga nih!
Tawa Reiga kian berderai.
Zidane... Zidane... Bahkan dalam kesuraman menyedihkan malam ini, lu masih bisa buat gue ketawa, Reiga berujar dalam hatinya.
Reiga
Masih napas, Dane. Cuma agak sesak aja di dada.
Zidane dengan cepat membalasnya.
Yeah, because I can see us holding hands/Walking on the beach, Our toes in the sand/Ican see us on the countryside/Sitting on the grass, laying side by side / You could be my baby, let me make you my lady//
Zidane
Sesak? Putus?
Reiga
She's pussed me away
Zidane
Karena gosip?
Reiga
Kayaknya iya
Zidane
Aneh juga ya si Hana. Bukannya semua cewek berlomba-lomba supaya bisa diakui sebagai cewek seorang Reiga Reishard?
Reiga diam tak jadi mengetik apa yang tadi terbersit dalam pikirannya. Ia menimbang untuk cerita sama Zidane.
Reiga
She loves someone else, Dane.
Zidane
What!? Serius! Terus kenapa masih lu kejar, Nyet!? Sejak kapan Reiga Reishard kehilangan
logikanyaaaaa!???? Astaga, Rei!!
Reiga tersentak dengan pernyataan Zidane barusan. "Hilang logika," gumam Reiga dalam pikirannya yang membawa kalimat Papa-nya. "Papa ingin lihat kamu hilang logika, Rei."
Reiga
Ini nggak se-telenovela yang lu pikir di kepala lu sekarang, Dane.
Zidane
So explain to me! Jelasin! Tenangggg... Gue udah selesai operasi. Lagi makan tongseng nih. Kan cerita telenovela lu bisa menemani makan gue.
Reiga terkekeh membacanya. Mood-nya sedikit membaik.
Reiga
Sialan!
Zidane
Reiga mulai mengetik curhatannya dengan serius.
Reiga
Jadi selama 4 tahun ini, Hana suka sama seseorang yang sebenarnya tahu dia suka tapi pura-pura nggak tahu.
Zidane
Arnold ya? Emang kampret tuh orang!
Reiga
Kok lu bisa tahu?
Zidane
Yailah, Rei. Semua fans berat Hana udah tahu.
We just keep silent, dude. Pengen aja lihat Hana bahagia. Nggak tahunya kelakuan si Arnold malah tai banget yak.
Reiga
Setuju! Emang kampret banget tuh orang.
Pengen gue kasih pelajaran. Sayangnya Hana ngelarang gue.
Zidane tersenyum meledek membaca jawaban Reiga. Baru kali ini, Zidane menyaksikan Reiga menaikkan tensi emosi.
Zidane
Dan lu ikutin mau-nya Hana? Udah kena pelet lu
yak, Rei! Dikasih air?
('')
Reiga tertawa sendiri. Ah, dia kebawa suasana kan kalau cerita sama Zidane.
Reiga
sih Baru sampai tahap dimasakin mie instant doang
Zidane
Njirrr! Udah dimasakin mie!!
Reiga kembali terkekeh.
Reiga
Mie instant paling enak yang pernah gue
makan.
Zidane
Tai-lah! Pakai segala dipamerin ke gue.
Zidane tertawa pelan. Rasa lelahnya sehabis
mengoperasi jantung seseorang perlahan berkurang.
Zidane
Terus lu nekat deketin Hana, walau tahu dia suka sama orang lain? Nekat sih!
Reiga
Hana deserves someone better than that asshole!
Zidane
Setuju! Dia suka sama Lana kan!? Emang bangke sih tuh laki satu!
Reiga
Lu tahu hal itu juga?
Zidane berdecak. Lalu, mengetik dengan semangat.
Zidane
Sudah jadi rahasia umum RS Kalau tiap dua minggu sekali, Arnold Selalu kirim buket mawar merah besar buat Lana, Nyet!
Reiga
Anjing banget kelakuannya. Pengen gue abisin tuh orang!
Kini Reiga benar-benar panas.
Zidane
Woi ... Woi ... Santai, brother! Masih punya
bapak-ibu tuh orang.
Reiga
Terus karena Hana cuma punya ibu! Jadi tuh kampret bisa seenaknya?
Zidane mengerutkan kening. Jika Reiga benar-benar niat menghancurkan orang. Maka tamatlah sudah.
Zidane
Jangan memperkeruh suasana. Diamuk Hana baru tahu rasa.
Zidane dengan pintarnya menyebut mantra ajaib yang mampu menghentikan emosi dendam Reiga.
Reiga
The one and only yang membuat gue menahan kiamat kecil buat si Arnold.
Zidane
Wkwkwkwk Hana gue memang hebat kan!?
Entah kenapa Reiga dengan kekanakkannya merasa cemburu dengan perkataan 'Hana gue' yang diucapkan Zidane. Yang normalnya diucapkan semua fans berat Hana.
Reiga
She is not yours, surgeon.
Zidane yang masih ada diruangannya tersenyum membaca pesan balasan Reiga yang memperlihatkan kecemburuan CEO Reishard Corporation itu. Sudah lama tidak melihat atau mendengar sahabatnya itu cemburu.
Zidane
Ih, takut! Wkwkwkwk
"Sialan!" umpat Reiga dengan senyum tipis memikatnya.
Zidane
It's nice to see you're in love again, Rei. Anak baik dapatnya memang yang istimewa kan.
Senyum Reiga berubah muram kembali. Mempertanyakan kalimat itu.
Reiga
Will you be there, dude? If this time doesn't work anymore.
Zidane menghela napas. Reiga memang tidak pernah sukses jika itu bersentuhan dengan yang namanya cinta. Tapi Zidane tetap tidak suka dengan sikap putus asa yang diucapkan Reiga.
Zidane
Anytime, bruh. Anytime.
Reiga tersenyum. "Lu memang yang terbaik sih, Dane," gumamnya. Handphone Reiga berdering.
Kali ini Dimas yang meneleponnya.
Reiga
See you soon, dude. Gue angkat telepon Dimas dulu.
Zidane
Oleh-oleh jangan lupa!
(人)
Reiga tersenyum. Lalu mengangkat telepon dari Dimas.
"Ya, Dim?"
"Hanya ingin mengingatkan Pak Reiga, 2 jam lagi kita sudah harus stand by di bandara untuk bersiap ke Paris, Pak," ucap Dimas.
"Iya, saya ingat kok," jawab Reiga tak bersemangat.
"Kalau boleh tahu, Pak Reiga lagi di mana, Pak? Tadi Capt bilang begitu turun langsung pergi naik mobil sendiri. Bu Lana juga diantar pulang sama Pak Hanif," tanya Dimas mencemaskan suasana hati Reiga yang uring-uringan sejak pulang dari rumah Adrianne Hana.
"Sejak kapan kamu mulai ikut campur urusan pribadi saya, Dim?"
Dimas mengkeret.
"Ma ... Maaf, Pak. Saya bertanya karena cemas sama Pak Reiga. Dari kemarin wajahnya sedih," ucap jujur Dimas.
Reiga menghela napas. Apa dia sebegitu tampak menyedihkannya?
"Saya di depan rumah Ibu Hana," aku Reiga.
Dimas terkaget.
"Serius, Pak?"
"Kenapa saya harus bohong?"
Ah, Dimas sekarang paham mengapa muka Reiga muram sejak kemarin. Kemungkinan besar karena bertengkar dengan Hana.
""
"Dim."
"Ya, Pak?"
"Saya harus gimana ya?"
"Gimana apanya, Pak?"
"Menyingkirkan perasaan suka yang ganggu ini," jawab Reiga.
"Kenapa harus disingkirkan, Pak?"
"Karena ganggu, Dim."
"Maaf sebelumnya, Pak. Tapi yang saya lihat, Pak Reiga sangat cocok dengan perasaan suka itu," ungkap Dimas memberanikan diri memberitahu pemikirannya mengenai hubungan Reiga dan Hana yang bagi Dimas pun masih menjadi misteri.
"Kenapa? Kok bisa bilang gitu?"
"Selama ini saya selalu lihat Pak Reiga sibuk kerja. Sibuk mengurus perusahaan. Mengabaikan kehidupan pribadi, Pak Reiga. Jujur saya ingin melihat Pak Reiga bahagia," ucap Dimas tulus.
Reiga tersenyum. Dia tahu Dimas memang orang baik.
"Kirain agar kamu bisa malam minggu dengan tenang tanpa gangguan saya," ledek Reiga.
Dimas terkekeh.
"Enggak gitu, Pak. Eh, iya sih," ujar Dimas.
Mereka tertawa bersama.
"Selamat menunggu. Semoga berhasil ya, Pak.
Saya yakin Bu Hana juga suka sama Pak Reiga," ucap Dimas lalu pamit dan telepon itu pun terputus.
Reiga tersenyum. "Hmm, suka juga ya. Boleh di-aamiin-kan?"
Tak lama handphone itu kembali berdering. Reiga menghela napas.
"Kenapa lagi si Dimas?" ujar Reiga bersiap mengangkat telepon kembali.
Namun kedua matanya malah terpekur. Ini bukan telepon dari Dimas.
Ini Adrianne Hana.
Beberapa menit sebelumnya...
Hana berjalan bolak-balik di dalam kamarnya. Hatinya resah sambil terus bertanya pada diri sendiri. Haruskah ia mengirim pesan permintaan maaf? Hana menimbangnya. Lantas ia berakhir di atas kasurnya sambil mengangkat handphone dengan dua tangannya. Kini tekadnya sudah bulat. Hana duduk lalu mulai mengetik pesan. Beberapa kali ia menghapus rangkaian kalimat yang sudah rapi. Diulangnya lagi dari awal. Agar tampak sempurna. Lalu setelah 10 menit berlalu, Hana mengirimnya pada Reiga. Dengan jantung yang berdebar, Hana menunggu reaksi Reiga. Kedua matanya nyaris mencuat saat centang pesan berubah warna, pertanda Reiga telah membacanya. Namun tidak ada jawaban. Tidak ada juga tulisan typing sebagai informasi pelega hatinya. Hana mendengus sebal.
Hana
Dear, Reishard. Aku minta maaf atas salah tuduh yang aku layangkan tanpa pikir panjang
sama kamu. I was wrong. Sungguh memalukan.
Jauh dari dalam lubuk hati aku yang terdalam. Aku memohon maaf kamu. Aku nggak seharusnya bersikap arogan. Apalagi sampai menampar kamu. Aku terima kalau kamu nggak bisa maafin aku. Tapi kamu harus tahu, Rei. Betapa aku menyesali memperlakukan kamu sekasar malam itu. Maafin aku.
Ah, kenapa Hana jadi senewen sendiri?
Mengapa ia berharap Reiga membalas pesannya?
Padahal kalau dia adalah Reiga. Hana juga akan bersikap hal yang sama. Hana tidak akan membalas pesan tadi. Malah ia akan menge-blok nomor Reiga. Ini Reiga masih membaca pesannya. Walau pesan yang dibaca namun tidak dibalas itu lebih menyakitkan dari apapun.
Gadis itu memejamkan mata. Pasrah. Dalam hening yang mencekik Hana dalam sebuah ketidaksabaran dan prasangka. Handphone miliknya yang berdering mengagetkannya setengah mati.
Reiga.
Asam lambung Hana naik seketika. Panik setengah mati hanya karena sebuah telepon. Ia mengatur napasnya sebelum mengangkat telepon dari Reiga. Telepon yang tidak pernah ada dalam ekspektasi Hana sebagai reaksi Reiga atas pesan permohonan maafnya.
"Halo, Re-i," ucapnya terbata.
"Aku mau dengar langsung permintaan maaf kamu," ucap Reiga tanpa awalan.
"Ha?"
"Kamu aja memaki dan menampar aku langsung. Permintaan maafnya juga harus langsung," ucap Reiga dengan nada suara datar meski faktanya kini hatinya sangat berbahagia atas permintaan maaf Hana.
Hana bingung. Ia melihat kearah jam dindingnya. Yang lurus tepat di depan kasurnya. Sudah pukul 11.30 malam. Yang benar saja?
"Minta maafnya nggak serius?"
"Bukan nggak serius. Tapi ini jam berapa, Rei?
Dan bukannya kamu lagi di Singapore?" ucap Hana mengingat jadwal dinner perjodohan.
"Aku ada di depan rumah kamu," ujar Reiga.
Hana terhenyak.
"Ha? Serius?" Hana takut salah dengar.
"Aku cuma punya waktu 30 menit untuk mendengar maaf kamu sebelum terbang ke Paris," ucap Reiga.
Hana kian tertegun.
"Oke. Aku ke sana," ujar Hana bergegas lalu keluar kamarnya.
Setengah berlari menuruni tangga. Lengangnya rumah ini yang sebagian lampunya dimatikan tidak mengurangi tekad Hana untuk keluar. Padahal biasanya si paling takut hantu ini tidak akan berani keluar kamar jika sudah jam segini.
Hana terengah sendiri begitu sudah sampai area teras depan rumahnya. Ia berhenti melangkah untuk mengatur napas dengan dua tangan di pinggang. Kedua matanya sungguh terkejut melihat Ferrari Reiga benar-benar terparkir di depan rumahnya. "Ini cowok satu sungguh sungguh di luar nalar sih, Han, "ucap Hana dalam hati.
Hana berjalan turun, menghampiri Ferrari Reiga. Pria itu menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Masuk," dingin Reiga mengucap sedingin raut wajahnya sejak kaca jendela mobil diturunkan.
Hana menelan ludah lalu masuk ke dalam mobil Reiga. Jantungnya berdebar cepat. Salah tingkah.
"Jadi gimana?" ucap Reiga sambil menoleh.
Lantunan lagu my love milik Justin Timberlake yang diputar ulang oleh Reiga. Tidak mampu menenangkan Hana yang tengah kikuk sendiri.
Now, if I wrote you a love note/And made you smile with every word I wrote (what would you do?) / Would that make you want to change your scene/And wanna be the one on my team (tell me, would you?)//
Hana diam, mengatur napas, lalu bersiap mengucapkannya.
"Aku minta ma ..."
"Aku maafin," potong Reiga.
Dengan senyum menawannya yang biasa. Tidak ada lagi raut wajah dingin Reiga. Atau intonasi yang asing di telinga Hana.
Hana tercengang. Terhenyak. Lalu ia sadar kemudian kalau ia tengah dikerjai.
Merasa dikerjai habis-habisan. Ekspresinya berubah sebal. Tanpa sadar tangan kanan Hana meraih hidung mancung milik Reiga saking gemasnya.
"Jahat banget sih! Aku dikerjain!" sebal Hana.
Tangan itu ditangkap Reiga.
"Baru minta maaf udah mau kdrt aku lagi?"
"Kamu pantas di kdrt, Reishard!" sewot Hana.
Reiga terkekeh.
Mereka saling menatap dengan tangan kanan Reiga yang menggenggam tangan kiri Hana.
"Maafin aku ya, Han," ujar Reiga membuat Hana berekspresi bertanya.
"Maaf kena.."
Pertanyaan yang belum usai itu dipotong aksi Reiga yang meraih Hana dalam sebuah pelukan. Pelukan yang begitu erat. Begitu hangat. Sampai rasanya menyentuh hati Hana. Paling dalam. Hingga ia lupa diri lalu balas memeluk Reiga. Dan waktu seakan berhenti. Yang jelas, Hana kian merasa bersalah.
"Maafin aku ya. Udah tuduh kamu nggak jelas.
Udah tampar kamu. I'm so stupid," aku Hana pelan.
"Setuju," sahut Reiga.
"Dihh!" sebal Hana berusaha melepaskan pelukan itu namun Reiga menahannya. Pria itu tertawa pelan.
"Makasih ya, Han. Sudah mengaku salah dan minta maaf," ucap Reiga just like he really blessed about it. Karena dalam sejarah hidupnya, semua manusia yang bersalah padanya tidak pernah kembali, apalagi sampai meminta maaf. Mereka memilih mengubur perasaan malu itu dan mengabaikan kesedihan yang dirasakan Reiga atas sikap buruk mereka. Tapi malam ini Hana menjadi sebuah pengecualian. Hana menorehkan sebuah sejarah berbeda dalam hidup Reiga.
Girl, you amaze me/Ain't gotta do nothing crazy/See, all I want you to do is be my love (So don't give away)/My love //
"Sudah seharusnya," ucap Hana menyadari kesalahannya.
"Sebagian orang di muka bumi ini nggak se-gentle kamu yang bisa mengakui salah dan meminta maaf dengan gamblang, Han,"ucap Reiga dalam hati.
Pelukan mereka makin erat. Bagai sepasang kekasih yang habis berantem lalu saling memaafkan.
"So now, are we friend?" gumam Hana dalam pelukan yang sudah renggang.
"I don't wanna be your friend, sweetheart," ucap Reiga seraya mengulum senyum.
Kedua mata Hana menyipit mendengar kata sweetheart.
"Mulai kumat kan hobi gombalnya," ujar Hana seakan ia sebal padahal faktanya Hana rindu.
Reiga terkekeh.
"Kangen nggak digombalin sama aku?" tanya Reiga dengan tatapan yang memaku Hana. Sampai ia lupa bahwa pria didepannya ini bisa membaca pikiran dan tanpa sadar Hana berkata, "Nih orang sadar nggak sih kalau dia ganteng banget."
Reiga tersenyum mendengar pikiran Hana.
Berkat senyuman itu pun Hana menyadari keceplosannya.
"Pasti baca pikiran aku kan!" sebal Hana.
"Belum pernah aku sesenang ini dibilang ganteng sama orang lain," ujar Reiga mengiyakan tebakan Hana.
Kedua pipi Hana merona merah. Kontras dengan wajah betenya sekarang.
"I'll be miss you so fucking hard in these 3 days, Adrianne Hana," ucap Reiga dengan tatapan penuh rasa sayang.
Tatapan yang membuat Hana tertegun.
Terpana. Membuatnya mengingat seseorang yang biasanya memberikan tatapan sayang ini padanya. Sampai tanpa sadar kedua bola mata Hana sudah berkaca. Lalu, mulutnya meluncurkan kalimat yang tidak seharusnya ia katakan sembarangan pada pria. Apalagi pria yang baru dikenalnya seperti Reiga. Namun apa daya, detik ini mulutnya bergerak lebih cepat dari otaknya.
"I'll be miss you too," ucap Hana pelan.
Reiga menariknya kembali dalam sebuah pelukan yang Hana tidak sanggup untuk menolaknya.
"Ikut aku aja yuk ke Paris," ajak Reiga.
"Mau bikin gosip tambah memanas? Semua tetangga aku udah mengira kamu adalah calon mantu ibu aku loh," sahut Hana.
Reiga terkekeh.
"It's a honour," ujar Reiga dengan senyum jahil.
"Reiiiiiii," gemas Hana.
"Let's make it real, not just a gossip," ujar Reiga.
"Reigaaaaa," Hana makin gemas.
"Secinta itu sama Arnold?"
Reiga sengaja bertanya karena ingin melihat reaksi hati Hana.
"Kok jadi Arnold?" bingung Hana seraya merenggangkan pelukan mereka.
Reiga tersenyum atas jawaban hati Hana yang memang serius kaget ketimbang mengiyakan tuduhan Reiga barusan. Yang berarti ia punya kesempatan itu.
"Ya kali aja kamu takut Arnold cemburu," ujar Reiga.
"Kalau dia punya rasa cemburu liat aku sama cowok lain, yang digosipkan sama aku bukan kamu, tapi dia, Rei," sahut Hana setengah tersenyum geli.
Semakin lama, Hana semakin sadar betapa bodohnya ia selama 4 tahun ini berpikir bahwa Arnold akan membalas cintanya. Sungguh naif dan menyedihkan.
"Is it over now?" tanya Reiga dengan sorot mata serius namun senyum menawan itu membuat pertanyaan ini terdengar bagai bualan.
"Maksudnya?"
Hana takut salah memahami maksud pertanyaan Reiga. Ia tidak ingin terjerumus pada perjuangan semu untuk yang ke sekian kalinya.
Wait!
What?
Perjuangan apa sih? Hana heran. Kenapa tiba-tiba ia ingin memperjuangkan Reiga? Wah, udah gila sih lu, Han! pikirnya. Sekali lagi dia lupa kalau Reiga Reishard bisa baca pikiran dan setiap ingat pada detik berikutnya, Hana jengkel melihat Reiga tersenyum geli menanggapi pikirannya.
"I hate when you read my mind," cetus Hana.
Reiga terkekeh.
"Bukannya semua perempuan berharap cowok itu bisa baca pikiran mereka," sahut Reiga.
"Ya itu karena mereka nggak tahu akibat kalau cowok bisa baca pikiran," balas Hana.
"Ini membuktikan kalau perempuan suka menginginkan sesuatu yang sebenarnya nggak siap mereka hadapi," timpal Reiga atas analogi dadakannya.
"Kok jadi gitu?"
Hana yang memiliki gen debat yang begitu kental tentu tak mau kalah. Alhasil mereka tanpa sadar jadi memulai debat terbuka.
"Terus gimana kalau nggak begitu?"
Reiga menikmati perdebatan tidak bermanfaat yang hanya membuang waktunya percuma. Tapi jika itu Hana maka ia tidak akan melewatkannya, satu detik pun. Masa bodo kalau ia harus ketinggalan pesawat sekalipun.
"The problem is you make this becomes jokes, Rei," ujar Hana serius.
"Banyak mau-nya ya perempuan itu," timpal Reiga.
Hana menunjukkan muka nggak setuju. Reiga terkekeh.
"Laki-laki juga banyak maunya. Penuntut. Patriarki. Suka ngatur. Nggak mau kalah pula!" keras Hana.
Tawa Reiga pecah. Semakin membuat Hana jengkel.
"Apa yang lucu?!" seru Hana sewot.
"Kita yang lucu," jawab Reiga.
Hana memasang wajah bertanya. Tangan kiri Reiga membelai kepala Hana lembut. Penuh sayang. Sekali lagi mengejutkan Hana. Menggugah hati gadis itu. Mewujudkan apa yang selalu diimpikannya dalam dunia nyata akan sosok pria. Yang biasanya hanya ada dalam adegan film yang dilakoninya.
"So, is it over, Han?" tanya ulang Reiga.
"Apanya?" tanya balik Hana.
Reiga menggenggam tangan kanan Hana. Erat. Elusan pelan dan perlahan ibu jari kiri Reiga pada jari-jemari Hana yang digenggamnya sungguh membuat pikiran Hana melambung jauh entah kemana tak menentu. Kedua matanya terpaku.
"Perasaan kamu sama Arnold. Udah selesai belum?"
Hana tersentak mendengarnya.
"Kenapa emangnya?"
Genggaman tangan Reiga mengerat. Tidak percaya akan desakan diri yang ingin mengatakan kalimat ini pada Hana. Kalimat yang ia kira tidak akan pernah dikatakannya lagi pada perempuan manapun setelah Cyila menghancurkan kepercayaan terakhirnya.
"Aku mau menitipkan hati aku sama kamu," jawab Reiga membuat mata Hana membelalak.
"Reishard....," ucap Hana terkejut.
Bibir Reiga tersenyum dengan dua mata berbinarnya. Reiga berhasil membuat Hana terperangah kaget. Kehilangan daya untuk berkata.
"Udah saatnya kamu menikmati perjuangan seseorang buat kamu, Han. And let me take that honour, please. Just give me a permission. An access to be yours," tambah Reiga.
"Kamu sadar nggak kalau keputusan kamu ini impulsif, terburu-buru, dan mengandung banyak resiko, tanpa persentase keuntungan yang jelas," ujar Hana mengingatkan Reiga seakan ia adalah perempuan brengsek yang hanya akan mempermainkan anak semata wayangnya Rahardian Reishard ini.
"Sadar banget. But i can't help my self. Aku nggak bisa benci sama kamu. I try it. Udah aku coba dan aku berakhir di sini. Di depan rumah kamu," jawab Reiga.
"Ini gila sih? Kamu serius? Nggak isengin aku kan?" Hana masih sulit percaya. Tidak ingin percaya begitu saja.
Bibir Reiga tersenyum.
"Setuju! Aku memang udah gila. Tapi aku serius dan nggak lagi isengin kamu," jawabnya.
Hana memindai wajah Reiga. Berharap menemukan jawaban asli dari balik wajah teduh itu. Sayangnya, ia tidak punya kemampuan membaca pikiran seperti Reiga.
"You don't need to read my mind just to know me so damn well, Han," ujar Reiga kembali membaca pikiran Hana.
Kepercayaan yang besar ini. Ingatan Hana tentang peristiwa tidak mengenakkan yang Reiga rasakan mengenai cinta di masa lalu. Hana takut berbuat salah dan mengacaukan semua. Lebih mengacaukan semua.
"Aku takut," aku Hana.
"Ya. Sama," ujar Reiga.
Hana terkesiap.
"Terus kenapa dipaksain?"
"Karena aku udah nggak waras."
"Enggak lucu, Reishard."
"Kamu aja yang lihat aku merasa ini semua nggak lucu. Gimana aku, Han?" curhat Reiga tak berdaya atas desakan hatinya yang sejak ketemu Hana sulit dikendalikannya.
Hana terkekeh.
"Kasian banget sih, Reiga Reishard," ledek Hana.
"Jadi kasihani aku dan bilang iya. Please," pinta Reiga mencari celah.
Hana memeletkan lidah.
"Kamu tuh pintar banget bersilat lidah ya," ujar Hana tersenyum.
"Namanya juga usaha," tukas Reiga.
Dan mereka berdua tertawa berkat kalimat Reiga barusan.
"Udah lewat 30 menit," gumam Hana melirik jam tangan dipergelangan tangan kanan Reiga.
"Selamanya juga nggak masalah," sahut Reiga.
Hana menatap Reiga dengan bola mata membuka dan bibir yang tersenyum.
"Astaga, Reishard!" seru Hana geregetan.
Lengan kiri Reiga begitu luwes meraih pinggang Hana. Sampai Hana tak menyadarinya dan kadung mengizinkannya.
"Aku jadi mau ketemu sama sahabat kamu yang namanya Brandon deh. Kamu pasti belajar hal kayak gini dari dia kan?" ujar Hana.
Reiga terkekeh. Tidak mengiyakan. Tidak juga membantahnya.
"You will meet all of them very very soon. Mereka lebih dari sekedar sahabat buat aku. Mereka bagian dari keluarga. Jejeran manusia-manusia paling penting di dunia Reiga Reishard. The best part. The happiest part," ujar Reiga dengan senyum menawannya.
Ah, cara bicaranya yang hangat itu membuat Hana terbawa. Arus yang diciptakan Reiga begitu deras. Sepandai apapun Hana berenang. Tahu-tahu tanpa sadar Hana sudah terbawa dan berulang kali nyaris tenggelam. Dan Hana mengakuinya jika ada kala di mana ia memang membiarkan dirinya tenggelam dalam arus tersebut.
Bolehkah?
"Bagian dari keluarga? Jejeran manusia paling penting? The best part? The happiest part? I wanna meet them," ujar Hana.
"Haruslah. Kamu bagian dari mereka," ucap Reiga.
"Maksudnya?"
"Kamu termasuk ke dalam bagian the happiest part."
"Jadi makin takut."
Reiga terkekeh.
"Apa yang ditakutin?"
"Aku takut semua ini hanya memperburuk kepercayaan kamu mengenai cinta."
"Anak baik," puji Reiga.
Hana menyipitkan mata.
"Enggak pada tempatnya memuji aku sekarang!"
Hana menatap Reiga. Lalu menghela napas.
"Aku cinta sama Arnold itu 4 tahun, Rei. Aku punya banyak kenangan. Harapan yang tinggi tentang dia. Bahkan sekarang aku terjebak dengan dua kontrak film sama Arnold. Aku nggak bisa kabur dan nggak mau kabur. Aku mau menang dan sembuh dari cinta sendiri ini. And i think, itu nggak adil buat kamu, kalau aku masih ada di dekat Arnold. Itu cuma akan buat kamu curiga dan berprasangka," ucap Hana logis.
Reiga terhenyak.
Hana memang beda. Pemikiran brilian yang berbanding lurus dengan kecerdasan emosional-nya. Hana tidak egois, apalagi serakah dengan kesempatan yang ada didepannya.
"I'm so proud of you," puji Reiga.
"Reisharddd, aku serius loh ngomong begini. Nggak mudah menghapus kenangan. Kamu pasti paling tahu itu kan?" gemas Hana seraya memegang tepi jas hitam milik Reiga agak kuat.
Hana ingin Reiga serius.
Reiga memandangi Hana. Perempuan ini benar-benar mencuri jiwanya. Dan rasanya Reiga belum pernah sesenang ini.
"Boleh cium nggak?" tanya Reiga keluar topik dan sungguh membuat mata Hana melotot.
"Idih! Apa sih!? Malah minta cium!" seru Hana
Reiga terkekeh.
"Habis aku gemas banget sama kamu."
"Oh jadi selama ini kalau gemas sama perempuan langsung pengen dicium!?"
Reiga terkekeh.
"Baru kamu doang sih, Han. Perempuan pertama yang bikin aku gemes," aku Reiga.
Hana menyipitkan mata curiga.
"Aku tuh ..." Hana ragu bercerita. Salah satu rahasianya yang hanya diketahui orang-orang terdekatnya. "Aku tuh belum pernah ciuman, Rei," ucap Hana pada akhirnya.
Reiga diam. Lalu terkekeh.
Kemampuan anehnya itu membuatnya mudah untuk mengetahui seseorang bohong atau tidak. Dan Hana memang tidak bohong.
"Malah diketawain. Tapi ini memang memalukan sih," komen Hana.
Tawa Reiga berhenti.
"Di usia segini belum pernah ciuman. Kalau fans atau wartawan tahu, aku yakin beritanya bakal jadi viral," ujar Hana dengan bibir tersenyum tipis.
"Nggak ada kesempatan?"
Ganti Hana yang tertawa dengan pertanyaan Reiga.
"Lebih kepada nggak ada yang mau sama aku sih," ujar Hana.
Reiga tentu saja memasang raut tidak percaya.
"Bohong ah," ucap Reiga.
"Serius."
Reiga tetap memasang wajah bertanya.
"Dari dulu, nggak pernah ada cowok yang benar-benar deketin aku. Mereka terlalu takut akan superior, hobi debat, dan kemandirian aku," aku Hana jujur.
"I'm always all alone. Beda sama Lana atau Nana yang mudah banget gonta ganti cowok. Aku iri sama mereka," sekali lagi Hana jujur.
"Ini serius nih?"
Hana mengangguk.
"Mau tahu nggak hal yang lebih memalukan?"
"Apa?"
"Aku belum pernah officially nge-date sama siapapun," jawab Hana dramatis lalu tertawa sendiri.
Reiga tertegun dengan dua bola mata membuka.
"Bercanda!?"
"Serius! Aku belum pernah pacaran. Cowok-cowok tuh terlalu takut sama aku," curhat Hana.
Reiga tertawa renyah.
"Asal kamu tahu ya, makanya aku tuh nggak pernah mau ambil adegan ciuman di film. Beberapa orang menganggap hal itu eksklusivitas aku. Padahal ya itu, aku belum pernah ciuman dan aku nggak mau ciuman pertama aku sama rekan kerja dan demi uang pula," ujar Hana.
Reiga mengangguk-angguk.
Hana menatap Reiga.
"Aku mau ciuman pertama aku sama orang yang aku sayang, yang sayang banget sama aku, respect me, want me, in a silence moment, bukan dalam adegan yang dimulai kata action sama cut," ujar Hana membayangkan ciuman pertamanya yang tadinya dia kira orang itu Arnold.
Reiga tersenyum.
"Kenapa!? Malah senyam-senyum! Bikin malu tahu!" sebal Hana jadi malu hati.
"Senang."
"Karena?"
"Aku akan jadi orang pertama yang pacarin kamu, yang cium bibir kamu. It feels so fucking good, Adrianne Hana .... Reishard," ucap Reiga membuat mata Hana membuka.
"Idih! Ge-er banget!" seru Hana dengan muka berlagak jengkel meski ia jadi kepikiran atasnya.
Adrianne Hana Reishard?
Hana Reishard?
Reiga benar. Ayah juga benar. Nama belakang itu lebih cocok menjadi nama belakangnya ketimbang Soediro.