AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapu gila
Siang yang ceria. Setelah sarapan, Deon Key tidak membuang waktu. Ia kembali ke halaman tengah, tepat di depan batu-batu zamrud yang bersinar.
"Oke, sekarang waktunya latihan," gumam Deon sambil merentangkan tangan. "Ilmu Pedang Hujan Beringin tadi harus dilatih supaya gerakannya jadi refleks. Jangan cuma ada di kepala doang."
Ia mulai bergerak.
Wush! Wush! TING!
Gerakannya cepat, indah, dan penuh gaya. Angin berputar mengikuti aliran tangannya. Rasanya sudah cukup hebat menurut standar biasa.
Tiba-tiba...
BRUUMMMM...
Dari teras gubuk, Sapu Naga Penyapu Langit yang tadi diletakkan di sudut dinding tiba-tiba bergetar! Gagang kayu hitam itu bersinar samar.
SYUUUUUU!!!
Tanpa dipegang siapa pun, sapu itu melesat terbang cepat seperti roket!
PLAK!
ADUH!!
Deon yang sedang fokus menendang angin tiba-tiba dipukul keras di pantatnya!
"Wah! Sapa tuh?!" Deon kaget, langsung menoleh.
Tapi sapu itu tidak diam. Ia berputar di udara, lalu menyerang lagi!
PLAK! PLAK! BUK!
"Duh! Duh! Jangan! Jangan!" Deon berteriak panik. Ia mencoba menghindar, tapi sapu itu gerakannya jauh lebih cepat dan akurat!
Sapu itu memukul punggung, memukul lengan, bahkan menyabet pelan di kepala kalau gerakan Deon terlihat kurang rapi atau malas.
"Lebih cepat! Lebih rendah! Jangan congkak! Fokus!" seolah ada suara teriakan pelatih galak di udara.
Di dalam dapur, Kakek Genpo sedang asyik mengaduk panci besar berisi teh manis hangat dan gorengan pisang. Suasananya damai dan tenang.
Tiba-tiba...
"AAAAADUUUUUUHH!!! PANTATKU!! JANGAN PUKUL KEPALA!! WOY SAPU GILA!!"
Suara teriakan Deon menggema keras sekali, terdengar sangat panik dan lucu!
BRAK!
Genpo langsung menjatuhkan sendok sayur ke lantai. Air teh tumpah kemana-mana.
"ASTAGA! ADA PERAMPOK! ADA SILUMAN! DEONNN!!"
Genpo langsung lari terbirit-birit keluar dari dapur, tangan memegang sendok besar sebagai senjata darurat.
Tapi apa yang dilihat matanya?
Bukan perampok, bukan monster.
Yang ada adalah Deon yang lari terbirit-birit keliling halaman, dan di belakangnya... Sapu ajaib milik Kakek yang terbang mengejar-ngejar sambil memukuli tubuh Deon tanpa ampun!
PLAK! PLAK! WUSH!
"Aduh! Aduh! Sakit Kek! Sapunya gila! Sapunya nyerang aku!" teriak Deon sambil lari zig-zag menghindari serangan.
Genpo melongo, mulutnya menganga lebar, sendok di tangannya jatuh lagi.
"Eh?! Itu kan sapu kesayangan Kakek?!" seru Genpo bingung. "Kenapa dia galak gitu sama kamu?!"
"Gak tau! Tiba-tiba nyerang! Mukulnya sakit lho! Bukan main-main!" Deon berteriak sambil berhasil melompat ke atas batu zamrud besar, tapi sapunya langsung terbang ke sana juga siap memukul lagi!
"HENTI!!" teriak Genpo keras-keras ke arah sapu itu.
Sapu itu berhenti di udara, berhenti bergetar sedikit, lalu melayang turun perlahan ke tangan Genpo dengan patuh, seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan.
Deon langsung jatuh duduk di atas batu, napasnya terengah-engah, badannya gemetar, dan memegangi pantatnya yang terasa panas.
Genpo memeriksa sapu itu, lalu menepuk-nepuk gagangnya pelan.
"Kamu ini ya... nakutin orang aja," omel Genpo pelan, lalu ia mendekati Deon yang tampak masam dan kesakitan.
"Kenapa dia mukul aku Kek? Aku kan cucu kesayangan?" rengek Deon kesal.
Genpo tersenyum misterius, lalu memutar gagang sapu itu. Tiba-tiba muncul tulisan kecil bercahaya di gagang sapu:
"PENGAWAS KEDISIPLINAN DAN KEBERSIHAN. AKAN MEMBENTUK PEMILIK KUNCI AGAR TANGKAS DAN TIDAK SOMBONG."
Genpo tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.
"Hahaha! Jadi gitu toh maksudnya Nak!"
"Maksudnya apa?!"
"Sapu itu bukan cuma buat nyapu debu. Dia itu Pelatih Pribadi otomatis!" Genpo menunjuk sapu itu bangga. "Dia punya akal sendiri. Kalau dia lihat gerakan kamu kurang cepat, kurang sigap, atau kamu mulai malas dan pamer gaya... dia bakal kasih 'hukuman'!"
Deon mengerjap-ngerjap tidak percaya. "Jadi... dia mukul aku karena sayang? Karena mau ngajarin aku?"
"Betul! Itu namanya didikan keras! Biar kamu jadi kuat dan tangguh!" Genpo menepuk punggung Deon keras-keras. "Dulu Kakek belajar silat juga sering dipukul guru kalau salah gerakan. Nah, sekarang giliran kamu. Tapi gurunya pakai sapu terbang!"
Deon mengusap-usap lengannya yang memerah sedikit. Wajahnya masam tapi ia tahu itu benar.
"Jahat banget sih caranya..." gumam Deon. "Tapi... tadi pas dipukul, tubuhku jadi refleks bergerak sendiri lho Kek. Jantung jadi deg-degan, pikiran jadi jernih, dan gerakanku jadi lebih cepat dari biasanya."
"Kan sudah kubilang! Itu ilmunya leluhur!"
"Jadi mulai sekarang," Deon berdiri, menepuk debu di celananya, lalu menatap sapu itu dengan tatapan waspada. "Sapu ini adalah Bos Besar yang kedua setelah Kakek ya?"
"Hahaha! Persis! Kalau dia marah, lebih baik kamu nurut saja Nak. Daripada dipukul seharian penuh."
"Ya sudah... ayo lanjut latihan! Tapi tolong bilang ke sapunya, pukulnya yang pelan-pelan dikit ya! Nanti aku jadi babon lagi!"
"SIAP KOMANDAN! SAPU DENGAR ITU! PUKULNYA PAKAI CINTA YA!"
Dan latihan pun dilanjutkan.
Kali ini Deon lebih serius, lebih waspada, dan lebih gesit.
Dan sapu legendaris itu pun kembali bertugas, terbang berputar-putar, siap memberikan "pujian" berupa pukulan kalau ada gerakan yang kurang pas.