"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11.Rahasia gelap Reno.
Halaman belakang rumah keluarga Wijaya sangat luas dan tertata rapi. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma bunga kamboja dan rumput hijau yang segar. Namun suasana di sana terasa berat dan hening.
Salsa berdiri di dekat sebuah tungku pembakaran sampah yang terbuat dari batu bata. Di tangannya, ia menggenggam kotak kayu kecil itu erat-erat. Di sebelahnya, Reno berdiri mematung menatap kotak itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa malu, takut, dan lega.
"Kak Reno..." panggil Salsa pelan. "Isinya apa sih sebenernya? Kenapa harus dibakar? Kalau Kak cerita, mungkin aku bisa ngerti."
Reno menggeleng cepat, wajahnya memerah menahan rasa malu yang luar biasa. "Jangan tanya apa isinya, Sal. Tolong... bakar saja sekarang juga. Ini adalah rahasia tergelapku yang nggak boleh ada satu orang pun yang tahu. Kalau ini ketemu orang lain, harga diriku sebagai kakak akan hancur lebur. Tolong bantu aku menghilangkan ini supaya aku bisa tenang."
Melihat ketulusan dan keputusasaan di mata Reno, Salsa menghela napas panjang. "Ya sudah... kalau itu permintaan terakhir Kak. Aku bakar sekarang."
Salsa mengambil korek api dari saku celananya. Krit... kr..et! Api kecil menyala, menerangi wajah mereka berdua. Ia siap menjatuhkan api itu ke atas tumpukan kertas kering yang sudah ia siapkan di dalam tungku bersama kotak itu.
TAPI...
"HEEEYYYY!!! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?!!"
Suara melengking dan penuh amarah itu memecah keheningan sore. Salsa dan Reno sama-sama terlonjak kaget.
Di ambang pintu kaca menuju teras, berdiri Rani dengan napas memburu. Wajahnya merah padam, matanya memancarkan api kemarahan yang luar biasa.
"PENCURI!! JAHAT!! BERANI-BERANINYA KAU KakUK KAMARKU DAN MAU MEMBAKAR BARANG MILIKKU?!!" teriak Rani sambil berlari kencang menghampiri mereka.
Salsa buru-buru mematikan korek apinya. "Bukan! Aku bukan pencuri, Ran! Dengerin penjelasanku dulu!"
"Ngapain denger?! Pelayan sudah lihat dengan mata kepala sendiri kau mencuri kotak ini dari kamar ku! Dasar gadis desa tidak tahu malu! Mau cari sensasi apa lagi sih kau?!" cerca Rani tanpa ampun.
"Aku nggak mencuri! Aku disuruh!" bantah Salsa keras. "Aku disuruh sama Kak Reno! Dia yang minta aku ambil kotak ini dari kamarmu supaya dia bisa membakarnya dan pergi dengan tenang!"
Rani terhenti sejenak, lalu tertawa sinis penuh cemoohan. "Hahaha! Alasan yang sangat konyol! Kak Reno? Kakakku sudah meninggal enam tahun yang lalu, Salsa! Enam tahun! Jangan berani-beraninya kau bawa nama almarhum kakakku dengan omong kosongmu itu! Kau gila ya?!"
"AKU NGGAK GILA! DIA ADA DI SANA! DI SAMPING AKU!" Salsa menunjuk tepat ke arah Reno yang berdiri di sampingnya.
Rani menoleh ke arah yang ditunjuk Salsa, tapi yang ia lihat hanyalah udara kosong dan taman yang sepi. "Lihat! Nggak ada siapa-siapa! Berhenti berbohong! Kau pembohong! Kau psikopat!"
Tanpa basa-basi, Rani langsung menyambar dan merampas kotak kayu itu dari tangan Salsa.
"KEMBALIKAN! ITU MILIK KU BUKAN MILIKMU!" teriak Rani.
"JANGAN! JANGAN DIBUKA! ITU RAHASIA KAK RENO!" Salsa ikut menarik kotak itu dengan kuat.
"Ambil itu, Sal! Ambil dan bakar sekarang! Jangan biarkan dia buka!" suara Reno berteriak panik di telinga Salsa, wajahnya pucat pasi ketakutan. "Kalau dia lihat isinya, aku malu banget selamanya!"
"Berikan sini!!" Rani menarik sekuat tenaga.
"Jangan!!" Salsa juga tidak mau kalah.
KR..A..AK!!!
Suara kayu pecah terdengar nyaring. Gagang kotak kayu itu tidak kuat menahan tarikan mereka berdua. Kotak itu hancur berantakan di tengah tarikan.
Dan seketika itu juga...
BRRRUUUSH!!
Puluhan bahkan ratusan foto berhamburan terbang terbawa angin sore, berjatuhan seperti salju kertas di halaman itu.
Salsa dan Rani sama-sama tertegun, berhenti menarik. Mata mereka mengikuti foto-foto yang jatuh perlahan ke tanah.
Reno memegang kepalanya dengan kedua tangan, wajahnya tertutup rasa malu yang luar biasa. "Tidak... Jangan... Jangan dilihat..." ratapnya lirih, tubuhnya mulai transparan karena syok berat.
Rani dengan tangan gemetar mengambil salah satu foto yang jatuh tepat di kakinya. Ia menunduk melihatnya.
Di foto itu, terlihat seorang sosok yang sangat tinggi dan berbadan tegap. Namun yang membuat dunia Rani seakan berhenti berputar adalah... sosok itu mengenakan gaun wanita yang sangat cantik, rambut palsu panjang, riasan wajah yang pas, dan tersenyum sangat manis bak seorang putri.
Wajahnya... sangat cantik. Tapi mata dan hidungnya...
Rani mengerjap-ngerjap. Matanya membelalak lebar. Ia mengambil foto lain yang jatuh di dekatnya. Lagi-lagi sosok wanita yang sama, berpose dengan berbagai gaya, anggun, feminin, dan sangat percaya diri.
Wajah wanita itu... sangat familiar. Sangat sangat dikenalinya.
Salsa yang juga memungut satu foto, matanya terbelalak kaget. Mulutnya terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
"Ya ampun... Ini..." Salsa menatap Reno yang kini menunduk malu tak berani menatap mereka. "Ini kan Kak Reno sendiri?! Tapi kok... pakai baju wanita? Cantik banget sih?!"
Ucapan Salsa itu meluncur begitu saja tanpa filter.
Dan tepat saat itu, Rani yang kaku mematung menatap foto di tangannya, perlahan mengangguk kecil dengan suara bergetar.
"Benar..." bisik Rani pelan, nyaris tak terdengar. "Ini... ini Kak Reno..."
Rani menatap foto itu lekat-lekat. Wajah cantik di foto itu memiliki lekuk alis, bentuk mata, dan senyuman yang persis sama dengan kakak laki-lakinya yang sudah meninggal. Hanya saja, di foto-foto ini, Kak Reno terlihat begitu bahagia, bersinar, dan... menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya.
"Jadi... selama ini Kak Reno menyimpan foto-foto ini..." Rani menatap foto-foto yang berserakan itu. Ingatan kecilnya mulai berputar. Ia teringat sering melihat Kakak sulungnya mengunci diri di kamar lama, teringat Kakaknya yang suka diam-diam meminjam baju dan make up ibunya.
Reno berdiri di tengah puing-puing foto dirinya, wajahnya penuh air mata yang tak kasat mata. "Maaf... Maafkan aku, Ran... Aku memang aneh... Aku suka berpakaian seperti ini... Aku merasa jadi diriku sendiri saat memakainya... Aku takut kalian akan benci dan malu punya kakak kayak aku... Makanya aku sembunyikan..."
Salsa menatap Reno dengan haru. Ia mengerti sekarang. Rahasia gelap itu bukan kejahatan, melainkan identitas tersembunyi yang ditindas karena takut akan penilaian orang lain.
"Kak Reno tidak aneh..." kata Salsa lembut. "Kak Reno cantik kok di foto-foto ini. Fotonya sangat bagus dan percaya diri banget."
Rani diam. Tangannya memegang foto itu erat-erat. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya, tapi bukan air mata kemarahan atau jijik.
"Sal, apa benar kakak ku ada disampingmu?" Tanya Rani kearah tempat Salsa bicara sendiri.
"Iya, dia ada di sampingku" Sambil menunjuk kearah Reno berada.
"Kakak..." panggil Rani pelan, matanya menatap ke arah di mana ia tahu Reno berdiri meski tak terlihat. "Kenapa... kenapa Kakak nggak pernah cerita sama aku? Aku kan adikmu... Aku nggak akan benci kok..."
Suasana di halaman belakang itu menjadi sangat emosional. Rahasia terbesar Reno akhirnya terbongkar setelah bertahun-tahun terkubur bersama kematiannya.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍